|
Purbaya 'Happy' Mancing Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 16 September 2026
|
Purbaya
Yudhi Sadewa mengaku lega setelah dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Ia
ingin pulang dan memancing. Namun, kebijakan yang ditinggalkannya, termasuk
polemik setoran Rp120 triliun dari Danantara, tidak ikut pensiun. Banyak orang yang setelah kehilangan
jabatan merasa kehilangan dunia. Tak sedikit pula orang yang justru merasa
memperoleh kembali waktu tidurnya. Purbaya Yudhi Sadewa termasuk kelompok
kedua. Setidaknya demikian menurut keterangannya kepada wartawan sehari
setelah Prabowo Subianto mencopotnya dari jabatan Menteri Keuangan tanpa
ba-bi-bu. “Happy, bebas,” kata mantan Menteri
Keuangan itu. Ia berharap malam itu bisa tidur lebih tenang. Sebab, selama
menjabat, pikirannya terus dihantui pekerjaan dan persoalan kebijakan. Kini, setelah tidak lagi menjadi
menteri alias bendahara negara, ia ingin pulang. Ia akan memancing ikan
mujair atau nila di kolam belakang rumah, lalu menikmati masa pensiun. Wartawan masih mencoba menggodanya
dengan kemungkinan menduduki jabatan lain. Menjadi menteri lagi? Menjadi
Gubernur Bank Indonesia? Purbaya menjawab tidak. Ia ingin memancing saja. Terasa ada humor kecil di antara
ceplas-ceplosnya. Seorang yang baru saja meninggalkan kursi penting tidak
berbicara tentang strategi comeback, melainkan tentang ikan di kolam. Namun, di balik kelakar itu, terdapat
kalimat yang patut direnungkan. Seorang menteri boleh merasa lega setelah
berhenti menjabat, tetapi kebijakan yang ditinggalkannya tidak ikut pensiun. Kita tahu, Purbaya diberhentikan oleh
Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026. Ia digantikan oleh Suahasil
Nazara yang selama ini menjadi wakilnya. Pergantian itu dilakukan ketika
Purbaya masih menjalankan tugas, termasuk mengikuti pembahasan APBN 2027.
Pemerintah tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan pencopotannya. Karena alasan resmi belum terang, ruang
spekulasi pun segera dipenuhi berbagai kemungkinan. Ada yang menduga, itu
berkaitan dengan hubungannya dengan Bank Indonesia, perombakan pejabat
Kementerian Keuangan, hingga polemik dengan Badan Pengelola Investasi Daya
Anagata Nusantara atau Danantara. Perkara Danantara termasuk isu yang
paling menarik perhatian karena menyangkut uang dalam jumlah besar. Pada
akhir Agustus, Purbaya menyatakan Danantara akan menyetorkan Rp120 triliun ke
APBN. Menurutnya, dana itu akan masuk
sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam APBN 2026, khususnya pos
PNBP lainnya. Ia juga menyebut bahwa angka tersebut merupakan keputusan
Presiden Prabowo Subianto. Dalam pernyataan yang sama, Purbaya
mengungkapkan bahwa pihak Danantara masih menyatakan keberatan terhadap
rencana setoran tersebut. Dalam sebuah forum ekonomi, ia
mengatakan sebagian keuntungan Danantara akan dijadikan cadangan anggaran
pemerintah, meskipun pihak Danantara masih memprotesnya. Di sinilah persoalannya menjadi lebih
besar dari sekadar perbedaan pendapat antarlembaga. Danantara dibentuk dengan
gagasan mengelola dan mengoptimalkan aset serta investasi BUMN. Pihak Danantara memiliki kepentingan
agar laba dapat diputar kembali untuk investasi dan pengembangan aset. Di
sisi lain, Purbaya bertugas menjaga penerimaan, belanja, defisit, pembiayaan,
dan kesehatan APBN. Namun, Purbaya tak mengonfirmasi bahwa
pencopotannya berkaitan dengan Danantara. Ketika ditanya mengenai kemungkinan
gesekan, ia menjawab tidak ada gesekan. Ia juga menegaskan bahwa pergantian
menteri merupakan hak prerogatif Presiden. Ia bahkan mengatakan bahwa dirinya
selalu mengikuti kebijakan Presiden. Ia tidak menuduh Presiden, tidak
menyebut adanya pertengkaran, dan tidak menyatakan bahwa dirinya
diberhentikan karena menolak suatu keputusan tertentu. Namun, Purbaya juga mengaku sudah
memperkirakan kemungkinan pencopotan sekitar 50:50. Ia baru mengetahui
kepastiannya setelah menerima telepon ketika sedang mengikuti rapat di
Senayan. Ada kesan bahwa ia tidak sepenuhnya
terkejut. Namun, mengetahui kemungkinan diganti tidak sama dengan mengetahui
alasan sebenarnya. Seseorang dapat menghitung peluang
kehilangan jabatan, tetapi belum tentu memahami seluruh kalkulasi politik
yang berada di balik keputusan tersebut. Purbaya ingin pulang, memancing, dan
tidur tenang. Tentu saja ia boleh pulang ke rumah. Itu hak pribadi yang
sangat manusiawi. Tetapi ada ironi dalam kalimatnya. Ia boleh meninggalkan kantor,
menggantung jas, memegang joran, dan menunggu ikan menyambar umpan. Namun,
kebijakan yang dibuatnya tetap berenang di kolam negara. Purbaya mungkin malam itu bisa tidur
lebih tenang. Tetapi negara tidak boleh ikut tertidur ketika uang publik
hendak dialihkan dari satu otoritas ke otoritas lainnya. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar