Selasa, 06 Oktober 2026

 

Setelah "Pakar Goblok" Terbitlah Badan Pengelola Gambut

Sultan Abdurrahman :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  05 Oktober 2026

 

 

 

·      Prabowo Subianto menerima akademikus dan peneliti di bidang ekologi serta gambut di Istana Merdeka pada 24 September 2026.

 

·      Sepekan sebelum mengundang pakar, Prabowo menyebut "pakar goblok" terhadap ilmuwan yang kerap mengkritik program kerja pemerintah.

 

·      Ilmuwan yang hadir di Istana awalnya berangkat ke Jakarta hanya untuk mengikuti diskusi di Kementerian Pendidikan Tinggi.

 

BEBERAPA hari sebelum Presiden Prabowo Subianto mengundang 22 ahli di bidang ekologi dan lahan gambut ke Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meminta anak buahnya menggelar diskusi kelompok terpumpun bersama akademikus dan peneliti di bidang ekologi serta gambut tersebut. Koordinator Penelitian Kementerian Pendidikan Tinggi Erlin Puspaputri mengatakan kementerian lantas menggelar diskusi di gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, pada Kamis, 24 September 2026.

 

Kementerian kemudian mengundang akademikus dan peneliti yang memiliki pengalaman meneliti di bidang ekosistem, pengelolaan, serta kebakaran lahan gambut. Mereka berasal dari beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Diskusi itu bertujuan menghasilkan kajian mengenai masalah kebakaran hutan dan lahan yang sedang marak terjadi di berbagai wilayah belakangan ini.

 

"Kajian tersebut direncanakan sebagai salah satu bahan masukan yang akan disampaikan secara langsung kepada Presiden," kata Erlin, Ahad, 4 Oktober 2026.

 

Saat diskusi itu berlangsung, datang undangan dari Istana. Kementerian Pendidikan Tinggi lantas memboyong akademikus dan peneliti yang hadir dalam diskusi tersebut untuk bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka.

 

Seorang peserta diskusi, Asmadi Saad, mengatakan forum pertemuan di Kementerian Pendidikan Tinggi itu dimulai pada Kamis pagi, 24 September 2026. Awalnya, Koordinator Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Reklamasi Lahan Universitas Jambi ini memperkirakan diskusi di Kementerian Pendidikan Tinggi akan berlangsung hingga Kamis sore. Namun, setelah makan siang, kata dia, kementerian mengajak para peserta diskusi untuk bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana.

 

"Akhirnya, kami berangkat ke Istana sekitar jam 2 siang," kata Asmadi, Rabu, 30 September 2026.

 

Menurut Asmadi, panggilan ke Istana itu terkesan mendadak. Meski begitu, ia menduga sejak awal kementerian sudah mendesain agenda untuk bertemu dengan Presiden Prabowo tersebut. "Sepertinya panitia sudah mengantisipasi itu," katanya.

 

Guru besar ilmu ekologi sumber daya lahan dari Universitas Tanjungpura, Pontianak, Gusti Zakaria Anshari, menggambarkan hal serupa. Awalnya, Gusti menerima undangan dari Kementerian Pendidikan Tinggi untuk datang ke Jakarta, dua hari sebelum kegiatan. Begitu mendapat undangan tersebut, Gusti langsung membeli tiket pesawat dari Pontianak menuju Jakarta. Ia tak membawa banyak bekal ke Ibu Kota. Dia hanya memboyong berkas riset soal kebakaran hutan dan lahan.

 

Gusti juga cuma membawa pakaian batik berlengan pendek untuk acara di kementerian. Namun, kata dia, pada malam sebelum forum diskusi, panitia memintanya membawa kemeja batik lengan panjang untuk kostum resmi acara.

 

Ia tak sempat lagi mencari batik lengan panjang sesuai dengan permintaan panitia tersebut. Karena tak sempat, kata Gusti, panitia membelikannya batik lengan panjang. "Akhirnya dibelikan langsung pada hari itu (saat diskusi)," kata Gusti, Ahad, 27 September 2026.

 

Seorang pejabat di Kementerian Pendidikan Tinggi menyampaikan Menteri Brian Yuliarto sejak awal sudah memberi arahan untuk membuat forum diskusi dengan akademikus dan peneliti di bidang ekologi serta lahan gambut. Rencana awal, para undangan hanya akan berdiskusi dengan Menteri Pendidikan Tinggi. Kemudian, Menteri Brian akan menyampaikan hasil diskusi dalam bentuk rekomendasi kebijakan tersebut kepada Presiden Prabowo.

 

Saat Rabu malam, 23 September 2026, atau sebelum diskusi berlangsung, kata narasumber itu, pimpinan Kementerian Pendidikan Tinggi meminta panitia menyampaikan kepada peserta diskusi untuk membawa batik lengan panjang. Namun panitia belum menyampaikan kepada peserta bahwa mereka akan diajak ke Istana. Ajakan untuk bertemu dengan Presiden Prabowo baru disampaikan saat diskusi berlangsung. Ketika itu, Kementerian Pendidikan Tinggi sudah mendapat kepastian dari Istana bahwa Presiden Prabowo bersedia menerima mereka.

 

Tempo berusaha meminta konfirmasi ihwal informasi tersebut kepada Brian, tapi ia belum membalasnya hingga berita ini ditulis. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Fauzan dan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi Fauzan Adziman membalas pesan Tempo soal agenda diskusi dengan akademikus serta peneliti tersebut. Namun keduanya belum menjawab pertanyaan Tempo yang diajukan kepada mereka.

 

Sebelumnya, setelah pertemuan di Istana Merdeka, Brian menyampaikan bahwa undangan dari Istana untuk bertemu dengan akademikus dan peneliti itu bukan bagian dari agenda awal mereka. Brian mengatakan diskusi panel ahli di Kementerian Pendidikan Tinggi sejatinya akan berlangsung dari Kamis pagi hingga sore.

 

"Ternyata kemudian Bapak Presiden memberikan arahan juga untuk mengundang para pakar ini (ke Istana)," kata Brian di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

 

Diskusi antara Prabowo dan 22 ilmuwan itu berlangsung sekitar tiga jam. Para ilmuwan mengusulkan tata kelola lahan gambut kepada Prabowo. Mereka juga mengusulkan pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove. Prabowo menyetujui usulan tersebut.

 

Pertemuan Presiden Prabowo dengan para akademikus dan peneliti ini menjadi sorotan karena Prabowo baru saja melontarkan pernyataan yang kontroversial dengan menyebut para ahli yang mengkritik program kerja pemerintah sebagai “pakar goblok”.

 

Dalam acara peringatan hari ulang tahun ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Jumat, 18 September 2026, Prabowo dalam pidatonya menyinggung program makan bergizi gratis (MBG) yang kerap dikritik oleh berbagai kalangan. Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan kritik terhadap program MBG itu tidak obyektif. Ia menilai kritik tersebut tendensius dan tak perlu diindahkan. "Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok," kata Prabowo dalam pidatonya.

 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai undangan tiba-tiba untuk para pakar ke Istana merupakan manuver Prabowo untuk mengelola opini publik setelah pidato yang kontroversial tentang sebutan “pakar goblok” tersebut.

 

“Ini gestur yang makin jelas menunjukkan insecurity, merasa tidak aman dengan pandangan publik," kata Bhima, Ahad, 4 Oktober 2026.

 

Bhima juga menyoroti agenda rapat dengan para ahli gambut yang muncul mendadak. Jika benar-benar ingin melibatkan pakar, kata dia, Prabowo seharusnya meminta pendapat mereka jauh sebelum terjadi kebakaran hutan dan lahan yang luas. Dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Jawa Timur, Fajar Junaedi, menilai Prabowo terkesan memiliki standar ganda terhadap para ilmuwan maupun peneliti. "Pola itu yang terasa pada rentetan pidato yang menyebut ‘pakar goblok', sebelum kemudian mengundang para ahli gambut ke Istana," kata Fajar, Rabu, 30 September 2026.

 

Menurut Fajar, Prabowo memang tidak membuang para ahli, tapi memilah-milah kelompok yang mau didengarkannya. Presiden hanya mendengarkan ahli yang diundang ke Istana untuk membawa solusi teknis sebagai mitra. Sementara itu, ilmuwan yang berbicara dari luar dinding Istana dianggap tak perlu didengar.

 

Fajar menduga Prabowo membutuhkan ahli hanya untuk menguatkan kebijakan pemerintah. "Ia tetap memerlukan stempel ahli agar kebijakan terasa rasional, tapi ia tidak ingin ahli itu menjadi wasit yang independen," katanya.

 

Dalam situasi tersebut, kata Fajar, kesan yang timbul adalah penguasa hanya mencari kepakaran yang sesuai dengan keinginannya. Adapun ilmuwan yang dianggap liar dan tetap keras mengkritik pemerintah diperlakukan sebagai orang yang tak perlu diindahkan.

 

Anggota Presidium Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, Herdiansyah Hamzah, mengatakan selama ini Prabowo kerap melakukan cherry-picking terhadap ilmuwan. "Jadi, dia pilih-pilih. Sains, ilmuwan, dan data-data yang digunakan adalah yang memang menguntungkan kekuasaannya," kata Herdiansyah, Rabu, 30 Oktober 2026.

 

Kecenderungan itu, kata Herdiansyah, tampak dari sikap Prabowo saat program-program unggulan lain dikritik. Presiden Prabowo sangat defensif saat ada akademikus dan masyarakat sipil yang mengkritik program MBG serta Koperasi Desa Merah Putih. "Bahkan (pengkritik pemerintah) disebut londo ireng, antek asing, hingga goblok," tutur Herdiansyah.

 

Tempo sudah menghubungi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro untuk meminta tanggapan Istana soal sikap Prabowo kepada para pakar ini. Keduanya belum merespons pertanyaan Tempo hingga berita ini ditulis. Dalam pertemuan dengan 22 ilmuwan di Istana Merdeka pada 24 September 2026, Prabowo mengklarifikasi pernyataannya yang menyinggung pakar tersebut. Ia mengatakan banyak pihak yang memelintir pidatonya itu sehingga seolah-olah dia tak menghormati pakar.

 

"Saya paling hormat sama pakar. Kenapa saya berhasil sebagai perwira? Karena saya selalu cari pakar," kata Prabowo. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/politik/prabowo-subianto-dan-pernyataan-pakar-goblok--2298746

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar