Berita Sepekan
|
Danantara Menggarap
Proyek Gasifikasi Batu Bara Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
· Danantara menggandeng Latitude Energy
untuk menggarap proyek gasifikasi batu bara. · S&P Global Ratings mempertahankan
peringkat utang Indonesia berikut prospeknya. · Freeport Indonesia memperkirakan jumlah
setoran kepada negara turun karena kerusakan tambang. BADAN
Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menggandeng perusahaan
energi asal Amerika Serikat, Latitude Energy Holdings Inc, untuk membangun
fasilitas pengolahan batu bara menjadi gas dimetil eter (DME). Kerja sama ini
menandai upaya terbaru pemerintah menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu
bara yang terhenti karena investor sebelumnya mengundurkan diri. Chief
Executive Officer PT Danantara Development Management Fund Sigit P. Santosa
pada Ahad, 12 Juli 2026, mengatakan kerja sama tersebut sejalan dengan
strategi pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan batu bara
berkalori rendah. Latitude Energy akan menerapkan teknologi transport
integrated gasification yang mampu mengubah batu bara menjadi gas sintetis,
termasuk DME sebagai substitusi liquefied petroleum gas alias elpiji. Di
Indonesia, proyek pengolahan DME digagas pada 2018 melalui kerja sama PT
Bukit Asam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemicals Inc
dari Amerika Serikat. Proyek senilai sekitar US$ 15 miliar itu ditargetkan
menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun untuk mengurangi impor elpiji. Namun rencana
tersebut terhenti setelah Air Products mengundurkan diri pada 2023. ● S&P
Pertahankan Peringkat Utang Indonesia LEMBAGA
pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia
di level BBB dengan proyeksi stabil. Dalam laporan yang dirilis pada Senin,
13 Juli 2026, S&P mengatakan proyeksi yang stabil mencerminkan harapan
mereka bahwa pendapatan pemerintah akan terus membaik pada tahun ini. S&P
juga menyatakan ada harapan pemerintah terus mempertahankan defisit Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara di bawah 3 persen dari produk domestik bruto
(PDB). “Peringkat
kami terhadap Indonesia mencerminkan prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat,
kebijakan makroekonomi yang umumnya bijaksana, serta beban utang luar negeri
dan pemerintah bersih yang relatif ringan dibandingkan dengan negara-negara
sebanding,” demikian pernyataan S&P. Meski begitu, S&P juga
menyebutkan Indonesia memiliki PDB per kapita yang moderat, basis ekspor dan
pendapatan fiskal yang sempit, serta sektor keuangan domestik yang kurang
mendalam. S&P
memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen dalam dua hingga
tiga tahun ke depan, meskipun harga minyak melonjak. Dalam analisis, mereka
menilai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia bisa mempengaruhi
sentimen investasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun hal itu tidak menjadi
skenario dasar S&P karena mereka percaya pemerintah merespons masukan
dari industri dan telah menunjukkan fleksibilitas dalam implementasi
kebijakan. ● Utang
Luar Negeri Naik BANK
Indonesia mencatat utang luar negeri pada Mei 2026 mencapai US$ 444,4 miliar,
naik 2,1 persen dari US$ 439,8 miliar pada April. “Perkembangan tersebut
dipengaruhi pertumbuhan utang luar negeri publik, baik pemerintah maupun bank
sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan utang luar negeri swasta yang lebih
rendah,” demikian pernyataan Bank Indonesia pada Rabu, 15 Juli 2026. Utang
luar negeri pemerintah pada Mei sebesar US$ 217,3 miliar, naik dari US$ 216,4
miliar pada bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun lalu,
pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai 3,7 persen. Bank Indonesia
mencatat perkembangan utang pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran
masuk pada surat berharga negara internasional. Sedangkan
peningkatan utang luar negeri Bank Indonesia didorong kenaikan porsi
kepemilikan investor asing terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank
Indonesia. Di satu sisi, utang luar negeri swasta turun 0,1 persen.
Perkembangan tersebut terutama didorong utang luar negeri kelompok peminjam
lembaga keuangan yang secara tahunan mencatatkan kontraksi 0,8 persen. ● Setoran
Freeport Anjlok 39,5 Persen PT
Freeport Indonesia memproyeksikan penerimaan negara dari kegiatan operasional
perusahaan turun sekitar 39,5 persen dari US$ 4,3 miliar pada 2025 menjadi
US$ 2,6 miliar. Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan
penerimaan negara pada 2026 terdiri atas pajak US$ 1 miliar, dividen US$ 1,1
miliar yang disalurkan kepada pemerintah melalui MIND ID, serta penerimaan
negara bukan pajak dan royalti US$ 500 juta. Menurut
Tony, turunnya penerimaan negara sejalan dengan belum pulihnya produksi
selepas tanah longsor di Tambang Grasberg, Mimika, Papua Tengah. Saat ini
Freeport masih melakukan perbaikan dan memastikan keamanan seluruh area
tambang sebelum meningkatkan produksi secara bertahap. Kapasitas produksi
dari sisi hulu pada 2026 diperkirakan hanya 65 persen dari kapasitas penuh.
"Proses ramp-up produksi berjalan lebih lambat dari yang kami
perkirakan," tutur Tony dalam rapat dengar pendapat di Komisi XII Dewan
Perwakilan Rakyat yang antara lain mengurusi energi pada Selasa, 14 Juli
2026. Produksi
bijih yang ditambang tahun ini ditargetkan rata-rata 124 ribu ton per hari,
turun dibanding realisasi pada tahun lalu yang mencapai 139 ribu ton per
hari. Penurunan tersebut dipicu terhentinya produksi di tambang Deep Mill
Level Zone setelah terjadinya tanah longsor. Freeport Indonesia menargetkan
produksi tahun ini mencapai 800 juta pon tembaga dan 700 ribu ons emas atau
sekitar 21 ton emas. Seiring dengan pulihnya operasi tambang, Freeport
memperkirakan kontribusinya kepada negara akan kembali meningkat mulai 2027.
● Garuda
Ubah Ketentuan Bagasi GARUDA
Indonesia mengubah layanan bagasi sesuai dengan rute dan kelas penerbangan.
Maskapai penerbangan pelat merah ini akan memakai basis jumlah koli atau
piece concept yang bisa memberikan tambahan bagasi hingga 64 kilogram. Direktur
Transformasi Garuda Indonesia Neil Raymond Mills mengatakan aturan ini
berlaku bagi pemegang tiket yang diterbitkan mulai 1 September 2026.
"Dengan ketentuan jumlah koli dan berat maksimum yang makin jelas,
pengguna jasa dapat mempersiapkan barang bawaannya dengan lebih mudah,”
ujarnya pada Senin, 13 Juli 2026. Pada
penerbangan domestik, penumpang kelas ekonomi memperoleh alokasi bagasi satu
koli dengan berat maksimum 23 kilogram. Adapun pengguna jasa kelas bisnis dan
first class mendapat alokasi dua koli dengan berat maksimum masing-masing 32
kilogram atau total hingga 64 kilogram. Pada
penerbangan internasional, pengguna jasa kelas ekonomi memperoleh alokasi dua
koli dengan berat maksimum masing-masing 23 kilogram atau total 46 kilogram.
Adapun pengguna jasa kelas bisnis dan first class memperoleh dua koli dengan
berat maksimum masing-masing 32 kilogram atau total 64 kilogram. ● Koperasi
Bisa Garap Tambang dan Energi MENTERI
Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pemerintah akan memperluas peran
koperasi ke berbagai sektor usaha strategis, termasuk pertambangan, energi,
dan industri pengolahan. Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari
upaya penguatan posisi koperasi sebagai salah satu penopang perekonomian
nasional di samping badan usaha milik negara dan sektor swasta. "Memperbolehkan
koperasi sekarang untuk masuk ke berbagai sektor, mengelola sumur minyak
rakyat atau sumur idle well. Koperasi sekarang sudah boleh mengelola tambang
mineral," tutur Ferry dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 di
Indonesia Arena, Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, pada Ahad, 12 Juli 2026. Pemerintah
juga mendorong koperasi masuk ke sektor penghiliran. Ferry menyebutkan
Kementerian Koperasi akan meresmikan pabrik minyak sawit mentah (CPO) milik
Koperasi Unit Desa Sejahtera di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan,
pada Agustus 2026. Pemerintah juga akan meresmikan pembangkit listrik tenaga
surya berkapasitas 0,5-1 megawatt yang dikelola koperasi di Sembur Laut,
Pulau Galang Baru, Kepulauan Riau. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/danantara-garuda-indonesia-freeport-2276694 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar