|
Sang Pembuka Jendela Islam Ahmadie Thaha : Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 31 Juli 2026
|
Ia bukan
Muslim. Tapi lebih dari setengah abad hidupnya dipakai untuk membantu Barat
memahami Islam. John Esposito pergi, buku-bukunya belum. Ada orang yang tinggal di dalam rumah,
tapi tak pernah memperhatikan bentuk rumahnya. Ada pula orang yang datang
dari luar, berdiri agak jauh, lalu menggambar rumah itu dengan tekun:
pintunya, jendelanya, retaknya, bahkan cahaya yang masuk pada sore hari. John Louis Esposito termasuk orang
kedua. Ia bukan Muslim. Tapi selama lebih dari setengah abad, lelaki Katolik
keturunan Italia-Amerika itu menjadikan Islam sebagai pekerjaan intelektual
hidupnya. Ia wafat pada 15 Juli 2026 dalam usia 86 tahun akibat komplikasi
setelah operasi jantung. Georgetown University, tempat ia lama
mengajar, kehilangan salah satu profesor paling berpengaruh dalam studi agama
dan hubungan internasional. Dunia akademik kehilangan sarjana yang menulis
atau menyunting 55 hingga 84 buku dan monografi, termasuk karya-karya rujukan
besar terbitan Oxford University Press. Kita kehilangan sesuatu yang lain:
“orang luar” yang bersedia berdiri cukup dekat untuk mendengar Islam
menjelaskan dirinya sendiri. Esposito pun menguasai apa pun sisi Islam dan
umat. Karya-karyanya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa menjadi monumental
dan abadi membersamai kepergiannya. Riwayat hidupnya sendiri seperti salah
belok yang kemudian menjadi jalan raya. Esposito lahir di Brooklyn pada 1940
dalam keluarga pekerja Italia-Amerika. Ibunya Katolik yang taat, ayahnya
menanamkan kepedulian pada keadilan sosial. Esposito muda bahkan pernah ingin
menjadi pastor. Ia masuk Ordo Fransiskan Kapusin yang
terkenal ketat, sebelum akhirnya meninggalkan seminari dan memilih
universitas. Di Temple University ia meraih doktor dalam studi agama di bawah
bimbingan Ismail Raji al-Faruqi, sarjana Muslim Palestina-Amerika yang kemudian
sangat berpengaruh dalam pemikiran Islam kontemporer. Pilihan bidangnya ketika itu hampir
seperti membuka toko payung di musim kemarau. Ketika ia memasuki pasar kerja
akademik pada 1974, menurut kisah yang sering ia ceritakan, hanya ada satu
lowongan studi Islam yang diiklankan di Amerika Serikat. Keluarga dan
kawan-kawannya khawatir: mau makan apa dengan keahlian semacam itu? Sejarah rupanya mempunyai selera
humor. Lima tahun kemudian, 1979, meletus Revolusi Iran. Dunia Barat mendadak
ingin tahu apa itu Islam politik. Lalu datang 11 September 2001. Televisi,
pemerintah, lembaga keamanan, universitas, semuanya mencari orang yang bisa
menjelaskan Islam. Mereka ingin menemukan jawaban sahih:
mengapa Islam, agama yang dipeluk lebih dari semiliar manusia, itu tiba-tiba
tampil dalam berita dengan wajah yang hampir selalu marah. Mereka pergi ke
John L. Esposito, bukan sarjana Muslim sendiri, untuk menemukan jawaban yang
bisa mereka percaya. Esposito tampil di setiap peristiwa
terkait Islam. Ia pun kemudian suka bergurau bahwa kariernya berutang kepada
dua Muslim “radikal”: Ayatollah Khomeini yang Syiah dan Osama bin Laden yang
Sunni. Humor itu sebenarnya getir. Sebab perhatian Barat terhadap Islam
justru melonjak ketika Islam dianggap ancaman. Di sinilah Esposito mengambil jalan
yang berbeda. Pada masa ketika Bernard Lewis berbicara tentang “kemarahan
Muslim” dan Samuel Huntington mempopulerkan benturan peradaban, Esposito
menolak menjadikan Islam sebagai terdakwa yang sudah divonis sebelum sidang
dimulai. Ia tidak mengatakan semua yang
dilakukan kaum Muslim benar. Ia juga tidak menjadi humas Islam dengan
membahas agama ini secara berlebihan. Yang ia persoalkan ialah cara membaca:
jangan menjelaskan masyarakat Muslim hanya dengan prasangka yang dibawa
pengamat dari luar. Ia mengkritik apa yang disebutnya bias
sekuler dalam ilmu sosial Barat. Teori modernisasi lama membayangkan semakin
modern masyarakat, semakin agama mundur ke ruang pribadi. Eropa dianggap
jalur baku sejarah manusia. Negara lain tinggal menunggu giliran. Masalahnya, sejarah ternyata tidak
membaca buku teks itu. Agama tidak menghilang. Di banyak tempat justru
kembali menjadi kekuatan sosial dan politik. Esposito karena itu mengajak
sarjana membaca masyarakat Muslim dari pengalaman mereka sendiri. Politik Islam tidak cukup dijelaskan
dengan satu kata sakti: syariat. Di belakang mobilisasi agama sering terdapat
soal yang sangat duniawi: ketidakadilan, rezim otoriter, kemiskinan,
kolonialisme, intervensi asing, serta keinginan manusia untuk memperoleh
martabat dan menentukan nasib sendiri. Dengan kata lain, jangan buru-buru
memeriksa jenggot demonstran. Periksa juga harga beras, penjara politik,
korupsi penguasa, dan tank siapa yang berada di halaman rumahnya. Cara
pandang itulah salah satu warisan penting yang ditinggal abadi oleh Esposito
sesudah kematiannya. Ia membantu menggeser studi tentang
Islam dari kebiasaan melihat Muslim sebagai objek eksotis menuju usaha
memahami mereka sebagai manusia dan pelaku sejarah. Dalam ungkapan Nader
Hashemi, Esposito menantang representasi Orientalis tentang Islam pada masa
ketika polarisasi sedang dalam. Warisan itu sampai pula ke Indonesia.
Generasi mahasiswa dan pembaca Indonesia sejak 1980-an mengenal namanya
melalui buku-buku terjemahan. Islam and Politics hadir sebagai buku berjudul
Islam dan Politik melalui Bulan Bintang. Kumpulan yang disunting bersama John
J. Donohue hadir sebagai Islam dan Pembaharuan. Ada pula Dinamika Kebangunan Islam,
sementara karya Esposito bersama John O. Voll mengenai Islam dan demokrasi
diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Namanya kemudian bertebaran dalam daftar
pustaka skripsi, tesis, buku dan jurnal tentang politik Islam, negara,
demokrasi, fundamentalisme, pembaruan dan hubungan Islam-Barat. Karena itu, generasi pembaca Esposito
di Indonesia sebenarnya bukan satu angkatan. Mereka terbentang dari mahasiswa
IAIN dan fakultas ilmu sosial pada 1980-an dan 1990-an, pembaca buku-buku
pemikiran Islam masa maraknya penerbit Bulan Bintang, Rajawali, Mizan dan
Paramadina. Sampai mahasiswa UIN dan peneliti
politik Islam hari ini terus mengkaji pemikirannya. Sebagian mungkin mengenal
gagasannya tanpa lagi mengingat wajah orang yang mula-mula merumuskan
kerangka baca itu. Dan Indonesia bukan sekadar pasar
pembaca baginya. Georgetown mencatat Esposito ikut membangun Malaysia Chair
for the Study of Islam in Southeast Asia. Ini penting: ia memahami bahwa
Islam tidak boleh terus-menerus dipotret seolah dunia Muslim berhenti di
Kairo, Teheran, Riyadh dan Islamabad. Asia Tenggara dengan ratusan juta
Muslim adalah bagian penting dari cerita Islam modern. Tentu Esposito bukan nabi baru studi
Islam. Pendapatnya dapat diperdebatkan. Sebagian kritik terhadapnya juga sah:
terlalu simpatik kepada gerakan Islam tertentu, dinilai meremehkan ancaman
ekstremisme, atau terlalu optimistis melihat kompatibilitas Islam politik dan
demokrasi. Ilmu pengetahuan memang bukan majelis
taklim tempat jamaah cukup menjawab amin. Sarjana justru dihormati dengan
cara diuji. Tapi di situlah pelajaran yang lebih menarik. Esposito menunjukkan bahwa memahami
sebuah agama tidak mensyaratkan seseorang memeluk agama itu. Yang diperlukan
adalah ketekunan, kejujuran metodologis, keluasan data, dan kesediaan
menangguhkan prasangka. Seorang Katolik dapat menghabiskan
hidupnya mempelajari Islam tanpa harus menjadi Muslim; sebagaimana seorang
Muslim seharusnya dapat mempelajari Kristen, Yahudi, Hindu, Barat, komunisme
atau sekularisme tanpa takut imannya tercecer di perpustakaan. Pengetahuan memang mempunyai adab yang
aneh: ia tidak selalu datang dari pintu yang kita sukai. Al-Qur'an bahkan mengajarkan manusia
mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ukuran pertama
sebuah pengetahuan bukan paspor pembawanya, warna kulitnya, mazhabnya, atau
agama yang tertulis di kolom identitasnya. Ia harus diperiksa: benar atau
tidak, kuat atau rapuh, membawa kita lebih dekat kepada kenyataan atau justru
menjauhkannya. Di sinilah wafatnya Esposito
seharusnya menjadi cermin bagi dunia Islam. Kita mempunyai ribuan pesantren,
ratusan perguruan tinggi Islam, jutaan santri dan mahasiswa. Tapi berapa banyak karya kita tentang
Barat yang dibaca mahasiswa di Harvard, Georgetown atau Oxford untuk memahami
masyarakat Barat? Berapa ensiklopedia besar tentang Kristen, Yahudi atau
sekularisme yang lahir dari universitas Islam kita, ditulis dengan disiplin
ilmiah begitu kuat sehingga orang luar terpaksa menjadikannya rujukan? Pertanyaan itu agak mengusik. Kita
sering marah ketika Islam dijelaskan secara keliru oleh orang lain. Kemarahan
itu kadang beralasan. Tapi jawaban terbaik terhadap buku yang buruk bukan
selalu demonstrasi di depan kedutaan. Kadang jawabannya sebuah buku yang
lebih baik. Esposito memberi contoh lain tentang
umur sebuah karya. Jabatan akademik selesai ketika seseorang pensiun. Ruang
profesor akhirnya ditempati orang lain. Kartu nama masuk laci. Gelar
kehormatan menjadi baris kecil dalam obituari. Tapi sebuah buku yang sungguh-sungguh
dikerjakan dapat berjalan jauh setelah penulisnya berhenti bernapas. Lebih dari 55 buku adalah angka. Yang
lebih penting adalah daya hidup di belakang angka itu. Islam: The Straight
Path, Islam and Politics, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of
Islam, What Everyone Needs to Know About Islam. Selain itu, juga
ensiklopedia-ensiklopedia Oxford yang dipimpinnya membuat Esposito hadir di
rak perpustakaan jauh dari Brooklyn tempat ia dilahirkan. Tubuh manusia
mengenal umur biologis. Gagasan yang ditulis dengan baik mempunyai kalender
sendiri yang mungkin abadi. Mungkin itulah sebabnya kepergian
seorang sarjana tidak seharusnya kita catat seperti keberangkatan kereta:
nama, tanggal, lalu selesai. Esposito meninggalkan pelajaran
sederhana bagi umat yang kitab sucinya dimulai dengan perintah membaca.
Bacalah dunia. Bacalah orang yang berbeda. Dan jangan takut belajar bahkan
dari orang yang berdiri di luar pagar rumah kita. Kadang orang luar melihat
jendela yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian penghuni rumah. John L. Esposito telah pergi. Ia tidak
membawa Islam ke Barat, dan tentu tidak mewakili Islam. Ia melakukan sesuatu
yang mungkin lebih sederhana sekaligus lebih sulit: selama puluhan tahun ia
berusaha membuat masyarakatnya melihat Muslim sebagai manusia, bukan sekadar
masalah. Untuk pekerjaan sepanjang umur seperti
itu, rasanya sebuah ucapan terima kasih tidak akan membuat iman kita
berkurang. Justru mungkin menunjukkan bahwa kita
telah belajar sesuatu dari ilmu yang kita banggakan sendiri: hikmah tidak
pernah diwajibkan memiliki paspor yang sama dengan kita. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar