|
Rezeki yang Menular Ahmadie Thaha : Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 20 Juli 2026
|
Trofinya
bernilai US$713 ribu. Hadiahnya US$871 juta. Bisnisnya miliaran dolar. Tetapi
ekonomi Piala Dunia terbesar mungkin justru tak pernah masuk neraca. Senin dini hari itu, ketika sebagian
besar Indonesia masih terlelap, tim sepakbola Spanyol dan Argentina
menyelesaikan perjalanan panjang mereka di New York New Jersey Stadium.
Pertandingan ke-104 sekaligus laga terakhir Piala Dunia 2026 itu berakhir
dengan skor Spanyol 1 –0 Argentina. Kini Spanyol menjadi juara dunia,
sedangkan Argentina harus menerima tempat kedua. Spanyol membobol gawang
Argentina di menit 106 oleh tendangan Ferran Torres, pada partai tambahan
kedua. Argentina bermain di luar harapan.
Lionel Messi seolah terkunci. Bahkan seorang pemain mendapat kartu merah,
menyisakan sepuluh pemain. Kembang api menyala, konfeti
berhamburan, dan sebuah pesta sepak bola yang berlangsung sejak 11 Juni pun
resmi menjadi sejarah. Tetapi ketika kapten Rodrigo Hernandez
mengangkat trofi dan lampu stadion perlahan dipadamkan, ada satu pertandingan
lain yang sesungguhnya belum selesai. Pertandingan itu tidak dimainkan
sebelas lawan sebelas, tidak dipimpin wasit, dan tidak memiliki papan skor. Pertandingan itu berlangsung di
bandara, hotel, studio televisi, bursa iklan, perusahaan teknologi, pabrik
jersey, restoran, kedai kopi, bahkan warung gorengan di sebuah kampung ribuan
kilometer dari New Jersey. Media menamakannya: ekonomi Piala Dunia. Orang sering mengira hadiah terbesar
Piala Dunia adalah trofi emas yang diangkat kapten tim juara. Trofi itu
memang bukan barang murah. Tingginya sekitar 36,8 sentimeter, mengandung
hampir 11 pon emas 18 karat, dan menurut perhitungan LSEG yang dikutip Forbes,
nilai emasnya saja sekitar US$713 ribu. Namun, dibandingkan dengan sungai uang
yang mengalir di sekeliling Piala Dunia, benda emas yang diperebutkan dengan
keringat dan air mata itu nyaris seperti koin yang tercecer di bawah sofa. Piala Dunia 2026 memang dirancang
menjadi raksasa. Untuk pertama kalinya, 48 negara ikut serta, naik dari 32
peserta di Piala Dunia 2022. Sebanyak 104 pertandingan dimainkan di 16 kota
dalam tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Format baru pertandingan membagi
peserta ke dalam 12 grup, lalu 32 tim melaju ke fase gugur. Dua finalis harus
bermain delapan kali untuk mencapai pertandingan terakhir, satu laga lebih
banyak daripada format sebelumnya. FIFA tidak sekadar memperbesar
turnamen. Ia memperpanjang mesin produksi sepak bola: lebih banyak tim
berarti lebih banyak pertandingan; lebih banyak pertandingan berarti lebih
banyak tiket, penerbangan, kamar hotel, hak siar, iklan, sponsor, makanan, transportasi,
dan manusia yang membuka dompet. Mesin itu bekerja luar biasa. Pada 25
Juni saja, ketika masih tersisa 48 pertandingan, jumlah penonton langsung
sudah mencapai 3.605.357 orang, melampaui rekor sepanjang turnamen Piala
Dunia 1994. Stadion ketika itu rata-rata terisi lebih dari 99 persen. Menjelang akhir turnamen, angka
kehadiran terus membubung hingga jutaan orang. Reuters mencatat tingkat
keterisian pada fase awal mencapai sekitar 99,7 persen, meskipun harga tiket
yang sangat tinggi sebelumnya dikhawatirkan akan membuat kursi-kursi kosong. Rupanya, manusia tetap bersedia
membayar mahal untuk satu pengalaman yang tidak dapat di- replay: mengatakan
kepada anak cucunya, "Saya ada di sana." Padahal mereka datang
bukan hanya membawa bendera dan nasionalisme. Mereka juga membawa kartu
kredit. FIFA menyediakan total distribusi dana
kepada 48 peserta sebesar US$871 juta. Juara memperoleh US$50 juta, sementara
tim-tim lain mendapat bagian sesuai pencapaiannya, ditambah dana persiapan.
Jumlah keseluruhan itu hampir dua kali lipat dibandingkan kumpulan hadiah
Piala Dunia Qatar 2022 sebesar US$440 juta. Dengan kurs rupiah pada akhir
turnamen, US$871 juta bernilai sekitar Rp15 triliun lebih — angka pastinya
tentu bergerak mengikuti kurs. Uang itu pun bukan langsung masuk ke rekening
para pemain, melainkan dibayarkan kepada federasi sepak bola negara peserta. Tetapi bahkan Rp15 triliun lebih itu
hanyalah permukaan. Forbes mencatat sebuah paradoks yang menarik. Di antara
para pemain yang datang ke Piala Dunia ini, terdapat dua orang yang secara
finansial sebenarnya tidak perlu lagi mengejar apa pun: Cristiano Ronaldo,
dengan estimasi kekayaan US$1,2 miliar, dan Lionel Messi sekitar US$1,1
miliar. Namun, di luar lapangan, uang justru
berlari lebih kencang dari Mbappé, sang jagoan gol. Harga tiket adalah pintu
masuk paling kasatmata. Tiket pertandingan fase grup pada awalnya dipatok
mulai sekitar US$575, lebih dari dua kali lipat tiket kategori termahal fase
grup Qatar 2022. Dengan sistem dynamic pricing, harga
kemudian bergerak mengikuti permintaan. Untuk final, tiket premium resmi
sempat mencapai sekitar US$32 ribu per kursi. Di pasar penjualan kembali,
harga rata-rata menjelang final dilaporkan melampaui US$11 ribu. Sepak bola yang lahir sebagai permainan
rakyat akhirnya menemukan ironi kapitalismenya: semua orang boleh
mencintainya, tetapi tidak semua orang mampu duduk dekat dengannya. Bagi yang uangnya lebih tebal, masih
ada kelas di atas kelas. Bahan yang dihimpun Forbes mencatat paket tempat
duduk di sisi lapangan dapat dimulai dari US$1 juta untuk kelompok 12 orang.
Suite untuk 24 orang mulai sekitar US$1,44 juta. Bahkan kesempatan berada di lapangan
ketika trofi diserahkan ditawarkan hingga US$600 ribu per orang. Kalau
seseorang masih bertanya apakah sepak bola merupakan olahraga atau bisnis,
mungkin jawabannya sederhana: tergantung ia menontonnya dari tribun mana. Setelah membeli tiket, dompet belum
boleh istirahat. Penonton harus naik pesawat, tidur di hotel, makan, minum,
dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Forbes mencatat tarif hotel
pada hari pertandingan dapat sekitar 50 persen lebih mahal. Parkir di Los Angeles dilaporkan dapat
mencapai US$300 untuk satu pertandingan. Segelas bir di sejumlah lokasi bisa
berharga US$20 lebih. Bahkan perjalanan kereta pulang-pergi dari Penn
Station, New York, menuju stadion di New Jersey disebut mencapai US$98. Masih ada cara lain mengubah
kegembiraan menjadi transaksi. Seorang penggemar dapat membayar sekitar US$79
plus pajak agar namanya muncul di layar video stadion melalui program Super
Shoutout. Dahulu orang datang ke stadion untuk melihat pemain. Sekarang,
kalau bersedia membayar, orang juga dapat membeli kesempatan agar stadion
melihat dirinya. Begitulah "industri
perhatian" bekerja. Sebab komoditas paling berharga dalam Piala Dunia
bukan sebenarnya bola, tiket, atau trofi. Yang diperdagangkan adalah
perhatian manusia. Pada Piala Dunia Qatar 2022, hampir
1,5 miliar orang menyaksikan final. Untuk 104 pertandingan Piala Dunia 2026,
jangkauan global diperkirakan melampaui 5 miliar penonton secara kumulatif,
sementara Bank of America memperkirakan pertandingan final dapat menyedot
hingga 7 persen lalu lintas internet dunia. Di Amerika Serikat saja, laga pembuka
tuan rumah ditonton rata-rata sekitar 18 juta orang melalui Fox. Ini sebuah
rekor untuk siaran berbahasa Inggris pertandingan sepak bola putra di negara
itu pada saat angka tersebut dicatat. Bayangkan miliaran pasang mata menatap
peristiwa yang sama. Perhatian yang biasanya tercerai-berai antara TikTok,
YouTube, Netflix, Instagram, gim, podcast, dan ribuan kanal televisi
tiba-tiba berkumpul pada sebidang lapangan berukuran kira-kira 105 kali 68
meter. Bagi pengiklan, keadaan seperti itu lebih langka daripada emas yang
menjadi bahan trofi Piala Dunia. Itulah yang disebut attention economy
— ekonomi perhatian. Pertandingan memang dimainkan oleh 22 orang, tetapi
produk komersial sebenarnya adalah perhatian miliaran manusia. FIFA menjual hak siar. Televisi
membeli hak itu lalu menjual perhatian penonton kepada pengiklan. Sponsor
membeli asosiasi merek. Platform digital memperoleh lalu lintas. Operator
telekomunikasi menjual data. Media memperoleh pembaca. Kreator konten mendapatkan
views. Sebuah bola ditendang di New Jersey, jutaan mesin kasir berbunyi di
seluruh dunia. Di Indonesia, angka sekitar Rp1,3
triliun sempat ramai dibicarakan sebagai biaya hak siar yang dikaitkan dengan
TVRI. Angka itu perlu ditempatkan secara tepat: menurut penjelasan TVRI yang
beredar, nilai tersebut bukan semata-mata untuk Piala Dunia 2026. Biaya itu mencakup paket hak siar
beberapa kompetisi FIFA hingga 2027, termasuk Piala Dunia U-17 2026 dan Piala
Dunia Wanita 2027. Namun, angka itu tetap memberi gambaran betapa mahalnya
satu hak yang terdengar sederhana: hak untuk melihat orang lain menendang
bola secara langsung dari ruang keluarga kita sendiri. Bahkan ketika pemain berhenti bermain,
mesin uang tidak ikut berhenti. Piala Dunia 2026 mengenal hydration break,
jeda yang terutama diperlukan untuk melindungi pemain dari panas. Tetapi
dalam industri televisi, ruang kosong tiga menit adalah lahan yang terlalu
subur untuk dibiarkan tidak ditanami iklan. Forbes mencatat spot iklan 30 detik
selama pertandingan dapat bernilai sekitar US$200 ribu hingga US$750 ribu.
Dari total waktu jeda sepanjang turnamen, potensi komersialnya diperkirakan
mencapai ratusan juta dolar; estimasi konservatif yang disebut Forbes saja
sedikitnya US$250 juta. Pemain boleh berhenti untuk minum.
Kapitalisme rupanya tidak pernah kehausan; ia justru menjual airnya. Angka itu menjadi semakin menarik bila
dibandingkan dengan nilai hak siar. Forbes menyebut Fox dilaporkan membayar
sekitar US$485 juta untuk hak turnamen. Artinya, secara teoretis, sebagian
besar biaya hak siar itu dapat ditutup hanya dari sebuah ruang komersial yang
bahkan tidak ada dalam inti permainan: jeda minum. Dari sinilah kita memahami mengapa
Piala Dunia telah berkembang menjadi salah satu mesin bisnis olahraga
terbesar di planet ini. FIFA menganggarkan sekitar US$3,8 miliar untuk
penyelenggaraan turnamen ini. Di dalamnya terdapat biaya operasional sekitar
US$1,1 miliar, termasuk transportasi kegiatan dan layanan perangkat
pertandingan. Pada sisi pemasukan, proyeksi FIFA
untuk siklus empat tahunan yang berakhir dengan Piala Dunia 2026 mencapai
sekitar US$13 miliar, dengan porsi sangat besar berasal dari hak penyiaran,
tiket, dan hospitality. Bandingkan dengan siklus Piala Dunia
Qatar 2022 yang menghasilkan rekor pendapatan sekitar US$7,6 miliar. Bola
yang dipakai tetap bulat. Gawangnya tetap dua. Pemainnya tetap sebelas
melawan sebelas. Tetapi mesin bisnis yang mengelilinginya tumbuh seperti kota
yang tidak pernah selesai membangun gedung. Uang itu juga mengalir kembali ke
tempat asal para pemain. FIFA menyediakan sekitar US$250 juta melalui Club
Benefits Programme untuk klub-klub yang pemainnya tampil di Piala Dunia,
dengan pembayaran yang diperkirakan setidaknya sekitar US$5 ribu per pemain
per hari. Bahkan klub yang melepas pemain ke tim
nasional ikut memperoleh bagian dari pesta. Sebab, dalam ekonomi sepak bola
modern, kaki pemain memang hanya sepasang, tetapi hak ekonomi atas jasanya
dapat memiliki banyak pintu. Namun, tidak semua uang yang berputar
adalah keuntungan. Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan istilah
"dampak ekonomi". Setiap kali sebuah kota hendak menjadi
tuan rumah pesta olahraga besar, biasanya muncul presentasi yang sangat
menggembirakan. Hotel akan penuh. Wisatawan datang. Restoran ramai. Lapangan
kerja tercipta. Angka-angka berbaris rapi dalam PowerPoint seperti pasukan
yang siap memenangkan perang. Yang jarang muncul di halaman pertama
adalah tagihannya. Forbes mencatat pemerintah federal Amerika Serikat
menyalurkan sekitar US$221 juta kepada kota dan negara bagian penyelenggara
untuk membantu menghadapi ancaman drone. Dana sekitar US$625 juta lainnya
dialokasikan untuk memperkuat persiapan keamanan dan keamanan siber. Pada dua
pekan pertama turnamen saja, lebih dari 300 drone dilaporkan disita di
sekitar lokasi Piala Dunia. Pemerintah lokal pun harus membuka
dompet. Menurut angka yang dikutip Forbes, kota-kota tuan rumah di Amerika
Serikat dapat menanggung biaya hingga US$100 juta lebih untuk mengakomodasi
turnamen. Kansas City, misalnya, mengalokasikan
US$25,8 juta uang pembayar pajak untuk fasilitas penahanan sementara guna
mengantisipasi pengunjung bermasalah, sementara Jackson County mengalokasikan
US$42,5 juta dana negara bagian untuk renovasi stadion. Ada pula pendapatan yang sengaja tidak
dipungut. Analisis yang dikutip Forbes memperkirakan Florida, Georgia, dan
Missouri melepaskan potensi penerimaan pajak penjualan tiket sekitar US$57,8
juta melalui berbagai pembebasan yang diberikan dalam rangka menjadi tuan
rumah. Maka, menghitung ekonomi Piala Dunia
hanya dari berapa banyak uang yang berputar sama kelirunya dengan menentukan
pemenang pertandingan hanya dari berapa kali sebuah tim menendang bola. Yang penting bukan sekadar berapa
banyak uang bergerak, melainkan dari kantong siapa ia keluar, ke kantong
siapa ia masuk, dan berapa banyak yang tertinggal setelah pesta selesai. Ada satu contoh kecil yang hampir
jenaka. Stadion tempat final berlangsung sehari-hari dikenal sebagai MetLife
Stadium. Forbes memperkirakan perusahaan asuransi MetLife membayar sekitar
US$19 juta setahun untuk hak penamaan stadion itu sebagai bagian dari kontrak
jangka panjang. Tetapi selama Piala Dunia, karena
aturan komersial FIFA, nama sponsor stadion disingkirkan dan tempat itu
disebut New York New Jersey Stadium. Bayangkan. Anda membayar jutaan dolar
agar nama perusahaan terpampang di sebuah stadion. Ketika pertandingan paling
banyak ditonton manusia datang ke stadion itu, nama Anda justru ditutup. Dalam sepak bola, rupanya bukan hanya
pemain yang bisa terkena offside. Sponsor pun bisa. Ada lagi sungai uang yang mengalir
lebih gelap: taruhan. Forbes mencatat volume perdagangan terkait Piala Dunia
pada platform pasar prediksi Kalshi dan Polymarket mencapai sekitar US$5,4
miliar hanya dalam pekan pertama turnamen. Volume Kalshi sepanjang Piala Dunia
kemudian disebut mencapai angka jauh lebih besar, sementara sebuah firma
riset sebelumnya memproyeksikan sekitar US$4,4 miliar akan dipertaruhkan
melalui sportsbook daring di Amerika Serikat selama turnamen, naik dari sekitar
US$1,8 miliar pada 2022. Angka-angka ini harus dibaca
hati-hati. Uang taruhan bukan otomatis penciptaan nilai ekonomi baru. Sering
kali ia hanya memindahkan uang dari kantong yang kalah ke kantong yang menang
— dan selalu menyisakan bagian bagi penyelenggara. Di balik kegembiraan menebak skor, ada
pula risiko kecanduan dan kerugian rumah tangga yang tidak pernah tampil
dalam iklan. Ekonomi memang bergerak, tetapi tidak semua yang bergerak
membawa kesejahteraan. Dan di sinilah kita sampai pada
ekonomi Piala Dunia yang paling menarik. Saya menyebutnya ekonomi yang tak
pernah masuk neraca. Tidak ada laporan tahunan FIFA yang mencatat berapa
tambahan omzet warung kopi di Surabaya karena Argentina bermain pukul dua
dini hari. Tidak ada statistik turnamen yang
menghitung berapa bungkus mi instan direbus menjelang kick-off di Jakarta,
berapa liter kopi diseduh di Makassar, berapa piring nasi goreng dipesan di
Bandung, atau berapa bakwan habis di sebuah acara nobar di kampung. Tidak ada tabel FIFA yang mencatat
penyewaan proyektor, layar, pengeras suara, kursi plastik, tenda, dan genset.
Tidak dihitung berapa tukang parkir memperoleh tambahan penghasilan. Tak ada catatan berapa pengemudi ojek
mengantar orang pulang setelah adu penalti. Berapa penjual jersey mendapat
pembeli. Berapa paket data internet terjual. Berapa kreator konten memperoleh
jutaan views dari membicarakan satu gol. Di Indonesia, aliran rezeki itu bahkan
dapat dihitung hingga ke warung-warung kecil. Survei Lokadata mencatat 78,1
persen masyarakat Indonesia mengikuti nobar setidaknya sekali selama Piala
Dunia, dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp51 ribu per orang untuk sekali
nobar. Kajian Kamar Dagang dan Industri
(Kadin) Indonesia memperkirakan aktivitas tersebut menggerakkan uang hingga
Rp5,03 triliun, dengan sekitar Rp2,4 triliun di antaranya dinikmati sektor
hotel, restoran, dan kafe. Jejaknya terlihat sampai ke daerah. Di
antaranya: 221 titik nobar resmi di Nusa Tenggara Timur, lebih dari 120 titik
di Bengkulu, sementara nobar TVRI Sumatera Selatan yang semula melibatkan 18
UMKM bertambah menjadi 29 UMKM menjelang final. Angka-angka itu memberi wajah konkret
pada apa yang disebut ekonom sebagai multiplier effect, efek pengganda: Messi
atau Yamal menggiring bola di New Jersey, tetapi beberapa detik kemudian kopi
dituang, bakso dipesan, sate dibakar, dan gorengan habis di Indonesia. Kita memang belum mencetak gol di
Piala Dunia, tetapi setidaknya kali ini banyak UMKM ikut mencetak omzet. Satu
dolar yang dibelanjakan seorang penonton tidak mati setelah berpindah tangan.
Uang tiket menjadi gaji petugas
stadion. Gaji itu dibelanjakan di restoran. Restoran membeli ayam dari
pemasok. Pemasok membayar peternak. Peternak membeli pakan. Produsen pakan
menggaji pekerja. Pekerja membeli beras. Uang terus berpindah seperti bola dari
kaki ke kaki. Saya lebih suka menyebutnya dengan bahasa warung kopi:
"rezeki yang menular". Sebuah gol di New Jersey ternyata
dapat membuat sebuah kafe di Jakarta mendadak riuh. Sebuah penalti membuat
orang memesan kopi kedua karena pertandingan diperpanjang tiga puluh menit.
Adu penalti mungkin berarti tambahan sepiring pisang goreng. Dalam ilmu ekonomi, itu disebut
peningkatan konsumsi rumah tangga. Bagi pemilik warung, penjelasannya lebih
sederhana: dagangan habis karena kiper gagal menangkap bola. Rantai nilainya membentang luar biasa
panjang. Dari pabrik sepatu dan jersey di Asia, maskapai penerbangan lintas
benua, jaringan hotel Amerika, perusahaan teknologi global, studio televisi,
operator telekomunikasi, sampai pedagang kacang di pinggir jalan Indonesia. Mereka tidak saling mengenal. Tidak
pernah mengadakan rapat koordinasi. Tidak memiliki grup WhatsApp. Tetapi
semuanya terhubung oleh satu benda bulat berdiameter sekitar 22 sentimeter. Itulah sebabnya Piala Dunia
sesungguhnya bukan hanya industri sepak bola. Ia adalah industri perhatian,
industri perjalanan, industri hiburan, industri media, industri tekstil,
industri makanan, industri teknologi, bahkan industri kenangan. Orang membayar bukan sekadar untuk
melihat pertandingan. Mereka membayar untuk mengalami sesuatu, merekamnya,
menceritakannya, dan suatu hari berkata: "saya pernah berada di
sana." Lalu di manakah Indonesia dalam rantai
panjang itu? Kita memang belum bermain di Piala Dunia 2026. Tetapi jangan
salah: uang Indonesia sudah ikut bertanding. Kita membayar hak siar. Kita membeli
televisi dan paket data. Kita membeli jersey. Kita mengonsumsi iklan. Kita
membuat acara nobar. Kita memesan makanan. Kita menulis berita. Kita membuat
konten. Kita menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan Messi, Mbappé,
Spanyol, Argentina, Inggris, dan Perancis. Artinya, kita sudah menjadi bagian
dari ekonomi Piala Dunia. Pertanyaannya: bagian yang mana? Apakah kita hanya
berada di ujung rantai sebagai konsumen? Apakah tugas kita hanya menonton
produk yang diciptakan orang lain, membeli jersey yang mereknya dimiliki
orang lain, membayar hak siar kepada pemilik hak di luar negeri, dan
memberikan perhatian yang kemudian dimonetisasi perusahaan global? Indonesia memiliki lebih dari 280 juta
penduduk, basis penggemar sepak bola yang luar biasa besar, industri tekstil,
ekonomi digital, sektor pariwisata, industri kreatif, dan puluhan juta usaha
mikro dan kecil. Mestinya olahraga tidak lagi dipandang sekadar urusan
medali, klasemen, dan apakah tim nasional lolos atau tidak. Olahraga adalah ekosistem ekonomi. Ada
industri perlengkapan olahraga, akademi pemain, sports science, manajemen
klub, penyiaran, produksi konten, teknologi pertandingan, analitik data,
pariwisata olahraga, merchandising, pengelolaan stadion, industri makanan,
transportasi, dan ekonomi komunitas. Kita tidak harus menunggu Indonesia
masuk final Piala Dunia untuk membangun semua itu. Yang diperlukan adalah
liga domestik yang sehat dan dipercaya, klub yang dikelola profesional,
stadion yang hidup bukan hanya ketika ada pertandingan besar. Kita juga perlu industri merchandise
resmi yang memberi nilai tambah kepada klub, akademi yang terhubung dengan
pendidikan, sports science yang serius, data dan teknologi olahraga yang
dikembangkan sendiri, serta UMKM yang secara sadar dimasukkan ke dalam rantai
ekonomi pertandingan. Sebab pelajaran Piala Dunia 2026
sangat sederhana: yang bermain memang 22 orang, tetapi yang dapat memperoleh
rezeki bisa berjuta-juta orang. Senin dini hari itu, setelah Spanyol
mengalahkan Argentina dengan skor 1:0, dunia akhirnya mengetahui siapa juara
Piala Dunia 2026. FIFA menyerahkan trofi yang emasnya bernilai sekitar US$713
ribu. Sang juara memperoleh hadiah prestasi US$50 juta. Masih
di lapangan, para pemain berfoto. Konfeti turun. Jutaan telepon
genggam mengabadikan momen itu. Beberapa jam kemudian stadion mulai kosong.
Tetapi uang yang digerakkan oleh turnamen itu belum berhenti berjalan. Ia berpindah dari FIFA ke federasi,
dari televisi ke pemegang hak, dari sponsor ke media, dari wisatawan ke
hotel, dari penumpang ke maskapai, dari penonton ke restoran, dari pelanggan
ke operator internet, dari orang yang nobar ke warung kopi. Sebagian tercatat dalam laporan
keuangan miliaran dolar. Sebagian lagi hanya masuk ke sebuah kaleng kecil di
samping gerobak gorengan sebagai beberapa lembar uang tambahan. Yang pertama disebut pendapatan. Yang
kedua mungkin tidak pernah masuk statistik. Tetapi bagi seseorang yang malam
itu membawanya pulang untuk membeli beras dan susu anaknya, namanya jauh
lebih sederhana: rezeki yang menular. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar