|
Sadean Internasional Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 31 Juli 2026
Saat pertama
bikin perusahaan bentuknya masih CV. Tapi nama CV-nya sudah keren: CV Sadean
Internasional. ”Sadean” --adalah versi halus bahasa Jawa ”dodolan”. Artinya:
jualan.
Ia memang orang
Jawa. Asli Tulungagung. Tapi nama suksesnya sudah sangat khas Malaysia: Raden
Datuk Diraja Mohammad Iman Hascary Kusumo.
Di masa
kecilnya di desa Ariyojeding, kecamatan Rejotangan, Tulungagung, Datuk kita ini
biasa dipanggil Dimyani. Dim.
Ketika Dim
berumur lima tahun ayah-ibunya meninggalkan Ariyojeding menuju Malaysia.
Sebelum berangkat ayah Dim jualan kacang. Keliling desa pakai sepeda. Di mana
ada tontonan wayang kulit ayah Dim jualan kacang ke sana. Sedang ibunda jadi
tukang jahit.
Dari Malaysia
sang ayah kirim uang untuk sekolah Dim bersaudara. Sampai tamat SMP Dim masih
di Rejotangan. Setelah itu masuk SMK di Blitar. Lalu ke teknik mesin ITN
Malang.
Sang ayah
menjadi TKI di kebun sawit. Di Selangor, tidak jauh dari Kuala Lumpur. Ribuan
orang Tulungagung pergi bekerja di Malaysia.
Lama-lama
ibunda Dim buka toko kecil-kecilan di Selangor. Jualan kacang dan kerupuk. Dim
pun menyusul ke Malaysia: ingin kuliah S-2 dan tidak jauh dari orang tua.
Tiga orang
saudara Dim juga menyusul ke Malaysia. Bahkan yang dua orang sudah menjadi
warga negara Malaysia. Sambil kuliah S-2 Dim berpikir harus kerja apa. Dim pun
membuat keputusan: berbisnis. Dagang. Ia ingin mengembangkan usaha sang ibu.
Caranya: ia datangkan barang-barang makanan dari Indonesia untuk dijual di toko
ibunya.
Maka Dim
mondar-mandir Selangor-Tulungagung: kulakan. Kerupuk, kue-kue kering, sampai
pun petis. Orang-orang Indonesia di sana ternyata tetap ingin makan makanan
seperti di Indonesia.
Setiap kali
pulang ke Jatim Dim keliling ke UMKM untuk cari produk mereka. Lalu Dim
mendirikan CV tadi: CV Sadean Internasional.
Lama kelamaan
Dim mendirikan toko grosir bahan makanan Indonesia di Malaysia. Usahanya terus
berkembang. Dari CV menjadi PT. Dari satu grosir menjadi 10 grosir: Indogrosir
Group.
Setelah
terlihat sukses teman-temannya mulai tidak memanggilnya Dim.
"Teman-teman
mulai memanggil saya Datuk," ujar Dim.
Lama-lama ia
memperkenalkan diri dengan nama Datuk Diraja Dimyani. Dan di kalangan bisnis di
Malaysia nama lengkapnya lebih panjang lagi: Raden Datuk Diraja Mohammad Iman
Hascary Kusumo.
"Itu bukan
nama resmi saya. Itu nama dagang saya," ujar Datuk. "Kan tidak ada
gelar Datuk Diraja di Malaysia" tambahnya.
Dengan nama
Datuk kelihatannya usahanya kian sukses. Indogrosir kini sudah berdiri di 10
negara bagian di Malaysia. Sebulan sudah lebih 10 kontainer diekspor ke
Malaysia.
Tiga hari lalu
Datuk menemui saya di rumah dekat Pacet. Ini kali ketiga Datuk ke Pacet. Ia
pernah ikut "muktamar" Perusuh Disway di situ.
"Saya juga
baru pulang dari Amerika. Sayang kita tidak bisa bertemu di sana," ujar
Datuk.
Saat dari
Amerika saya ke Kanada, Datuk dari Amerika ke Mexico City. Ia berusaha nonton
Piala Dunia di ibu kota Meksiko itu. Meski tidak dapat tiket Datuk tetap ke
stadion Piala Dunia. Siapa tahu ada tiket dijual. Setidaknya bisa ikut nobar di
kompleks stadion. Ikut merasakan pesta kemenangan tuan rumah.
Dari Meksiko
Datuk ke Bogota, ibu kota Colombia. Ia menyaksikan bahwa busway di Jakarta
persis sama dengan di Bogota. Dari Bogota ia terbang 1,5 jam ke arah selatan:
ke kota kecil di tengah hutan, di pinggir sungai Amazon: kota Leticia.
Datuk
ke Leticia karena unik: dengan ke Leticia berarti sekaligus ke tiga negara:
Colombia, Brazil, dan Peru.
Datuk cukup ke
pertigaan jalan. Sedikit melangkah ke situ sudah masuk wilayah Brazil. Lalu
melangkah ke samping masuk wilayah Peru. Tanpa lewat imigrasi. Tanpa visa. Tapi
juga tidak bisa melihat apa-apa. Kota kecil itu jauh dari pusat keramaian
negara masing-masing.
Itu sudah cukup
membuat daftar Datuk tambah panjang: sudah langsung pernah ke 53 negara --yang
sebelumnya 50 negara.
Datuk, bagi
Anda, adalah contoh "kabur" yang sukses. Mungkin karena kaburnya
bukan ke Yaman. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/960123/sadean-internasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar