Rabu, 22 Juli 2026

 

Anomali Peringkat Utang dan Respons Pasar

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      S&P Global mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

 

·      Kurs rupiah sempat melemah ke level 18.100 per dolar Amerika Serikat setelah pengumuman S&P Global.

 

·      Yield obligasi pemerintah berjangka 10 tahun malah naik meski S&P mempertahankan peringkat utang.

 

AWAL pekan lalu, muncul sinyal yang sangat baik di pasar. S&P Global mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek. Outlook atau prospeknya stabil, menandakan tak ada gelagat situasi memburuk. Menurut S&P, Indonesia masih aman sebagai tujuan berinvestasi.

 

Semestinya keputusan S&P itu mendorong sentimen pasar terhadap Indonesia menjadi positif. Nilai rupiah langsung menguat dan yield atau imbal hasil obligasi pemerintah menurun. Dana investasi asing juga lebih tertarik masuk membeli berbagai jenis obligasi pemerintah alias surat berharga negara (SBN).

 

Tapi, pada kenyataannya, reaksi pelaku pasar keuangan dingin-dingin saja, bahkan cenderung negatif. Kurs rupiah, misalnya, sempat melemah hingga menyentuh 18.100 per dolar Amerika Serikat setelah pengumuman S&P. Pelemahan rupiah baru sedikit mereda menjelang akhir pekan.

 

Alih-alih menurun, yield obligasi pemerintah berjangka 10 tahun pun malah naik menjadi 7,27 persen pada akhir pekan dari sebelumnya 7,24 persen. Arus dana asing juga berbalik arah, keluar dari SBN senilai Rp 3,9 triliun dalam empat hari perdagangan setelah hasil penilaian S&P terbit.

 

Pasar keuangan sepertinya punya pandangan berbeda mengenai risiko berinvestasi di Indonesia. Meski S&P Global mempertahankan peringkat, investor tidak serta-merta optimistis lalu memborong SBN. Perilaku mereka dalam berinvestasi berubah sejak awal tahun ini.

 

Ada dua perubahan besar. Yang pertama, horizon investor asing saat menanamkan uang di pasar keuangan Indonesia bergeser menjadi makin pendek. Datanya sangat jelas. Porsi dana asing yang tertanam di SBN dengan jangka waktu lebih pendek, bertenor dua-lima tahun, meningkat tajam dari 28,57 persen pada awal tahun menjadi 37,21 persen pada awal Juli. Pada periode yang sama, porsi dana asing yang tersimpan di SBN dengan jangka waktu lima tahun ke atas melorot dari 61,36 persen menjadi 52,23 persen.

 

Selain jangka waktu, hal yang berubah adalah tujuan investasinya. Lantaran keyakinan pada posisi fiskal pemerintah masih lemah, investor asing belakangan ini merasa lebih nyaman memberi utang kepada Bank Indonesia. Mereka lebih suka menanam uang di Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ketimbang di SBN.

 

Data kepemilikan SRBI juga menunjukkan perubahan dengan sangat jelas. Pada awal Januari 2026, dana asing yang tertanam di SRBI hanya Rp 122 triliun. Per akhir Juni, posisi itu melesat menjadi Rp 293 triliun atau ada tambahan Rp 171 triliun. Sebaliknya, dana asing yang tertanam di SBN nyaris tak berubah pada kurun waktu yang sama, cuma naik Rp 6 triliun menjadi Rp 886 triliun.

 

Selain lantaran keyakinan, investor asing memburu SRBI karena imbal hasilnya sangat menggiurkan. Pada lelang terakhir Juli 2026, misalnya, imbal hasil SRBI berjangka satu tahun mencapai 7,67 persen. Bandingkan dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun yang cuma 7,24 persen.

 

Bagi pasar keuangan, ini sebetulnya sebuah anomali. SRBI adalah instrumen jangka pendek yang praktis bebas risiko karena diterbitkan bank sentral. Seharusnya imbal hasil SRBI lebih rendah ketimbang SBN bertenor 10 tahun yang lebih berisiko.

 

Anomali itu tak terelakkan karena BI harus menarik dana asing sebesar-besarnya demi menjaga nilai rupiah. Walhasil, agar investor asing tertarik, BI harus memberikan bunga yang menggiurkan. Kini SRBI sudah menjadi salah satu instrumen operasi moneter andalan BI.

 

Secara sederhana, begini penjelasannya. Ketika hendak membeli SRBI, investor asing membawa dolar masuk dan menukarkannya dengan rupiah yang akan ditanamkan ke SRBI. Selain menambah cadangan devisa, pembelian rupiah oleh investor asing ini semestinya bisa menaikkan nilai rupiah.

 

Masalahnya, meskipun dana asing yang tertanam di SRBI per akhir Juni 2026 sudah mencapai Rp 293 triliun, rupiah ternyata masih loyo. Ini menunjukkan bahwa akar masalah pelemahan rupiah tidak berada di sisi moneter. Biang keroknya tetap masalah fiskal, yaitu kebijakan pemerintah yang cenderung melawan pasar, juga masih tingginya harga minyak.

 

Selama akar masalah ini belum teratasi, tekanan terhadap rupiah tak akan mereda. Itu pula sebabnya sentimen positif dari S&P pekan lalu tak mampu membuat kurs rupiah melonjak dan menguat. ●

 

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/rupiah-s-p-global-peringkat-utang-2276617

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar