|
RUMAH PARA PENULIS DI ERA AI - Draft
Pertanggungjawaban Ketua Umum SATUPENA 2021–2026: Program, Sumber Dana? Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
MEDIASUMATERA.ID, 21 Juli 2026
|
Suatu
malam, layar Zoom mempertemukan puluhan penulis dari Aceh, Padang, Jakarta,
Makassar, Ambon, hingga Papua. Selama hampir dua jam kami bertukar
pengalaman, memperdebatkan gagasan, membaca puisi, mengkritik buku, dan
belajar dari perjalanan hidup masing-masing. Tidak
seorang pun membeli tiket pesawat, meninggalkan keluarganya, ataupun menyewa
ruang pertemuan. Namun pengetahuan yang terkumpul dari ribuan kilometer
pengalaman hidup mengalir begitu kaya, begitu cepat, dan begitu hangat. Saat
itulah saya tersadar bahwa teknologi bukan sekadar mengubah cara kita
bertemu. Teknologi juga mengubah cara kita belajar, bertumbuh, dan membangun
komunitas pengetahuan bersama. Apa
yang dahulu membutuhkan kongres tahunan kini dapat berlangsung hampir setiap
pekan. Gagasan yang dahulu hanya didengar puluhan orang di sebuah ruangan
kini dapat menginspirasi ribuan orang melalui satu layar. Organisasi
penulis tidak lagi terutama hidup karena sekretariatnya. Ia hidup karena
percakapan yang terus berlangsung, melintasi ruang, waktu, dan batas
geografis. Barangkali, untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi penulis
Indonesia, rumah kami bukan lagi sebuah alamat, melainkan percakapan yang tak
pernah berhenti. Kini,
ketika kecerdasan buatan hadir meretas batas imajinasi dan mempercepat proses
kreatif, tantangan penulis bukan lagi sekadar cara berkumpul. AI
memaksa kita mendefinisikan ulang batas antara artikulasi mesin dan
keotentikahan rasa manusia. Di
sinilah rumah penulis diuji: bukan hanya menjadi arena berjejaring digital,
melainkan benteng moral yang merawat kedalaman jiwa, empati, dan kejujuran
intelektual yang tak pernah dimiliki algoritma. -000- Menyelamatkan Rumah Bersama Ketika
pada tahun 2021 saya menerima amanah sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penulis
Indonesia SATUPENA, saya membayangkan bahwa tugas terbesar saya adalah
menyusun program kerja. Ternyata saya keliru. Tugas
pertama bukanlah merancang agenda baru atau membentuk kepengurusan baru.
Tugas pertama justru menyelamatkan keberadaan organisasi itu sendiri agar
kembali memiliki satu arah perjalanan. SATUPENA
yang saya warisi bukan organisasi yang sedang berjalan tenang. Ia berada
dalam situasi yang oleh banyak orang ketika itu dianggap hampir mustahil
dipersatukan. Ada
satu nama organisasi dan satu akta notaris, tetapi terdapat dua kepengurusan
yang masing-masing merasa memiliki legitimasi. Dua kongres telah berlangsung,
dan dua kelompok berjalan dengan keyakinannya sendiri. Yang
dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang menjadi pengurus. Yang dipertaruhkan
adalah masa depan sebuah rumah bersama bagi para penulis Indonesia, rumah
yang seharusnya menjadi tempat bertemunya gagasan, bukan arena
berkepanjangannya perselisihan. Sejak
hari pertama saya belajar bahwa organisasi penulis bukan sekadar kumpulan
orang yang pandai merangkai kata. Ia adalah pertemuan berbagai karakter, ego,
idealisme, pengalaman hidup, dan kecintaan yang sama besarnya terhadap dunia
literasi. Karena
itulah konflik di dalam organisasi penulis hampir tidak pernah sederhana. Ia
menyentuh sejarah pribadi, harga diri, dan keyakinan yang telah dibangun
selama bertahun-tahun. Saya
masih mengingat percakapan-percakapan panjang di ruang tamu yang kadang
berlangsung hingga larut malam. Saya mendengarkan kisah-kisah lama, luka-luka
lama, bahkan kekecewaan yang telah lama dipendam oleh sahabat-sahabat sesama
penulis yang selama ini berada di kubu berbeda. Ada
perdebatan yang keras, ada air mata yang tidak dapat disembunyikan, dan ada
pula diam panjang yang jauh lebih berat daripada kata-kata. Dalam setiap
perjumpaan itu saya melihat satu kenyataan yang sama. Semua
mencintai organisasi ini. Semua ingin dunia literasi Indonesia tumbuh. Yang
berbeda hanyalah jalan yang mereka yakini untuk mencapai tujuan tersebut. Pada
saat itu saya dihadapkan pada dua pilihan. Membiarkan perpecahan terus
berlangsung, atau mengupayakan konsolidasi meskipun harus melalui jalan yang
panjang, melelahkan, dan sering kali tidak populer. Saya
memilih jalan kedua. Saya percaya bahwa organisasi kebudayaan tidak boleh
terlalu lama menghabiskan energinya untuk menyelesaikan konflik internal.
Energinya harus kembali diarahkan untuk melayani kebudayaan. Proses
konsolidasi berlangsung tidak singkat. Berbagai tahapan organisasi dan
administrasi harus dilalui, dialog dilakukan berulang kali, dan banyak
kesabaran diperlukan agar setiap langkah tetap berada dalam koridor
konstitusi organisasi. Pada
akhirnya pemerintah menetapkan kepengurusan SATUPENA yang kami pimpin sebagai
kepengurusan yang sah. Kelompok lain kemudian melanjutkan kiprahnya dengan
nama organisasi yang berbeda. Saya
tidak pernah menganggap hasil itu sebagai kemenangan satu kelompok atas
kelompok lain. Saya memilih melihatnya sebagai kesempatan agar SATUPENA
kembali mempunyai satu arah perjalanan dan dapat memusatkan seluruh energinya
pada kerja-kerja kebudayaan. Bagi
saya, organisasi penulis tidak dibangun untuk memenangkan konflik. Ia
dibangun untuk memenangkan masa depan literasi. Semakin cepat konflik
selesai, semakin besar kesempatan organisasi melahirkan karya yang bermanfaat
bagi masyarakat. -000- Pertanyaan yang Lebih Besar Namun
setelah konsolidasi selesai, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar daripada
persoalan kepengurusan. Untuk apa sesungguhnya organisasi penulis hadir pada
abad ke-21? Pertanyaan
itu terus mengikuti saya selama lima tahun memimpin SATUPENA. Semakin lama
saya mengamati perubahan dunia, semakin saya yakin bahwa tantangan terbesar
organisasi penulis bukan lagi konflik internal. Tantangan
terbesar justru datang dari luar, yakni perubahan peradaban yang berlangsung
sangat cepat. Internet mengubah cara manusia membaca, media sosial mengubah
cara manusia berdiskusi, dan kecerdasan buatan kini mulai mengubah cara
manusia menulis. Perubahan
tersebut bukan sekadar menghadirkan teknologi baru. Ia mengubah cara manusia
bekerja sama, belajar, menyebarkan pengetahuan, bahkan mengubah alasan
mengapa sebuah organisasi masih diperlukan. Selama
puluhan tahun, banyak organisasi dibangun mengikuti logika Revolusi Industri.
Informasi bergerak lambat sehingga orang harus berkumpul di satu tempat untuk
mengambil keputusan bersama. Rapat
tahunan menjadi pusat kehidupan organisasi. Surat dikirim melalui pos,
laporan dicetak di atas kertas, dan keputusan sering kali harus menunggu
pertemuan berikutnya. Hari
ini hampir seluruh fondasi itu berubah. Informasi bergerak dalam hitungan
detik, dokumen berpindah melalui telepon genggam, dan diskusi berlangsung
tanpa mengenal batas negara maupun zona waktu. Seorang
penulis di Sorong kini dapat berdialog dengan penulis di London, Tokyo, atau
New York tanpa harus meninggalkan rumahnya. Dunia menjadi jauh lebih kecil,
tetapi peluang kolaborasi menjadi jauh lebih besar. Dalam
situasi seperti itu, organisasi tidak lagi hidup terutama karena rapatnya. Ia
hidup karena percakapannya. Organisasi juga tidak lagi bergantung pada gedung
sekretariat, melainkan pada jaringan kepercayaan yang berhasil dibangunnya. Ketika
kecerdasan buatan mampu membantu menyusun notulen, merangkum diskusi,
menerjemahkan naskah, bahkan menyiapkan draf kebijakan hanya dalam hitungan
menit, maka nilai sebuah organisasi tidak lagi terutama terletak pada
administrasinya. Nilai
tertinggi organisasi justru berada pada hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya
digantikan oleh mesin, seperti kebijaksanaan, empati, tanggung jawab moral,
keberanian intelektual, kemampuan mendengarkan, dan kesediaan menghargai
perbedaan. Di
sinilah saya melihat perubahan besar itu. Era AI tidak sedang menghapus
organisasi penulis, melainkan mengubah maknanya. Organisasi perlahan bergerak
dari model birokrasi administratif menuju komunitas pengetahuan yang lebih
cair, lebih kolaboratif, dan lebih terbuka. Sebagian
orang mungkin bertanya, apakah perubahan ini berarti organisasi tidak lagi
membutuhkan tata kelola. Tentu tidak. Setiap organisasi tetap memerlukan
aturan, administrasi yang tertib, dan akuntabilitas yang kuat. Namun
di era AI, birokrasi tidak boleh lagi menjadi tujuan. Ia harus kembali
menjadi alat untuk mempermudah lahirnya gagasan, mempercepat kolaborasi,
menjaga kepercayaan, dan membebaskan energi manusia agar dapat dipakai
menciptakan nilai yang jauh lebih besar. Di
situlah saya menemukan arah baru kepemimpinan SATUPENA. Saya tidak lagi
melihat organisasi penulis sebagai sebuah kantor, melainkan sebagai sebuah
ekosistem yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas, teknologi, dan
persahabatan intelektual. Visi
inilah yang kemudian menjadi dasar hampir seluruh program SATUPENA selama
lima tahun terakhir. Semua kegiatan yang kami bangun bertujuan menjadikan
organisasi ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang yang
terus-menerus melahirkan percakapan, karya, dan kolaborasi bagi dunia
literasi Indonesia. Banyak
yang mengingatkan bahwa masyarakat Indonesia sering merayakan modernitas
tanpa merawat rasionalitasnya. Peringatan itu terasa semakin relevan hari
ini, ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan budaya
kita menyertainya. -000- Dari Gagasan Menjadi Gerakan Setelah
konsolidasi organisasi berhasil dilakukan, saya menyadari bahwa tantangan
berikutnya jauh lebih besar. Organisasi tidak cukup hanya kembali bersatu. Ia
harus kembali hidup, kembali produktif, dan kembali dirasakan manfaatnya oleh
para penulis di seluruh Indonesia. Saya
percaya bahwa sebuah organisasi kebudayaan tidak diukur dari banyaknya struktur
yang berhasil dibentuk. Ia diukur dari seberapa sering gagasan dipertemukan,
karya dilahirkan, dan semangat anggotanya terus dipelihara. Dari keyakinan
itulah hampir seluruh program SATUPENA selama lima tahun terakhir disusun. -000- Membangun Indonesia dari Banyak Pusat Gagasan Keputusan
pertama yang kami ambil adalah memperluas jaringan organisasi ke hampir
seluruh provinsi di Indonesia. Saya tidak ingin SATUPENA menjadi organisasi
yang hanya hidup di Jakarta, sementara daerah sekadar menjadi pelengkap
administrasi. Saya
percaya kreativitas tidak pernah lahir dari satu pusat kekuasaan. Kreativitas
tumbuh dari banyak titik yang saling terhubung, saling belajar, dan saling
menginspirasi. Karena itu, kami memberi ruang seluas-luasnya kepada pengurus
daerah untuk merancang kegiatan sesuai kebutuhan masyarakat dan karakter
budayanya masing-masing. Kepercayaan
itu ternyata menghasilkan banyak kejutan yang membahagiakan. Berbagai
provinsi menyelenggarakan peluncuran buku, diskusi sastra, pelatihan menulis,
festival literasi, hingga kerja sama dengan kampus, sekolah, pemerintah
daerah, dan komunitas budaya. SATUPENA
Sumatera Barat menjadi salah satu contoh yang paling menonjol. Bersama
berbagai mitra, mereka berhasil mengembangkan International Minangkabau
Literacy Festival hingga menjadi agenda literasi internasional yang pada
tahun 2026 memasuki penyelenggaraan keempat. Saya
semakin yakin bahwa organisasi yang besar bukanlah organisasi yang
mengendalikan semuanya dari pusat. Organisasi yang besar adalah organisasi
yang berhasil melahirkan banyak pusat kreativitas yang tumbuh secara mandiri,
namun tetap bergerak menuju cita-cita yang sama. -000- Organisasi yang Hidup Setiap Pekan Langkah
berikutnya adalah membangun ruang percakapan yang tidak pernah berhenti. Pada
masa lalu organisasi hidup terutama melalui pertemuan tatap muka. Kini
teknologi memungkinkan percakapan berlangsung hampir setiap hari tanpa
dibatasi jarak dan biaya. Kami
kemudian menjadikan forum daring sebagai jantung kehidupan organisasi. Hampir
setiap pekan penulis, penyair, akademisi, budayawan, jurnalis, seniman, tokoh
masyarakat, dan generasi muda berkumpul dalam satu ruang digital untuk
berbagi pengalaman dan memperdebatkan gagasan. Hingga
Juli 2026, SATUPENA telah menyelenggarakan 196 webinar nasional melalui Zoom.
Selain itu, kerja sama SATUPENA–KEAI telah menghasilkan 30 forum diskusi.
Dengan demikian, selama satu periode kepengurusan telah berlangsung 226 forum
intelektual nasional yang mempertemukan ribuan peserta dari berbagai daerah
di Indonesia maupun mancanegara. Angka
tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Setiap forum adalah ruang
belajar bersama, tempat lahirnya jejaring baru, gagasan baru, dan
persahabatan intelektual yang sebelumnya hampir mustahil terjadi tanpa
bantuan teknologi digital. Saya
sering mengatakan bahwa Zoom bagi SATUPENA bukan sekadar aplikasi konferensi
video. Ia telah menjadi ruang tamu bersama komunitas penulis Indonesia,
tempat seorang penyair dari Papua dapat berdialog dengan novelis dari
Sumatera, atau seorang mahasiswa di Makassar dapat bertanya langsung kepada
profesor di Jakarta tanpa harus membeli tiket pesawat. Teknologi
akhirnya bukan hanya memperpendek jarak geografis. Teknologi juga memperluas
kesempatan setiap orang untuk belajar, berbagi, dan berpartisipasi dalam
kehidupan intelektual bangsa. -000- Mengabadikan Percakapan Menjadi Memori Kebudayaan Saya
percaya bahwa percakapan yang baik tidak boleh hilang bersama berakhirnya
sebuah pertemuan. Setiap diskusi yang bermutu merupakan bagian dari memori
intelektual bangsa dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena
itulah hampir seluruh kegiatan SATUPENA didokumentasikan secara sistematis.
Diskusi direkam, disunting, kemudian dipublikasikan agar dapat diakses secara
terbuka oleh masyarakat kapan pun mereka membutuhkannya. Hingga
Juli 2026, melalui SATUPENA TV dan kanal kreator, telah dipublikasikan 223
video. Jumlah tersebut terdiri atas 118 episode “Ngobrol Bareng Penulis”, 50
episode “Ngobrol Bareng Kreator”, serta 55 video yang berisi liputan
kegiatan, pelatihan kepenulisan, dokumentasi organisasi, dan berbagai
aktivitas literasi lainnya. Bagi
sebagian orang, video mungkin hanya dianggap dokumentasi biasa. Bagi saya,
video merupakan arsip kebudayaan. Puluhan tahun dari sekarang, generasi baru
masih dapat menyaksikan bagaimana para penulis Indonesia berpikir, berdialog,
dan merespons berbagai persoalan pada zamannya. Organisasi
yang gagal mendokumentasikan dirinya sesungguhnya sedang kehilangan ingatan
kolektifnya sendiri. Sebaliknya, organisasi yang merawat arsip akan
mewariskan bukan hanya sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi yang
datang sesudahnya. -000- Dari Diskusi Menuju Tradisi Menulis Bersama Percakapan
merupakan awal yang penting, tetapi organisasi penulis tidak boleh berhenti
pada diskusi. Ia harus melahirkan karya yang dapat dibaca, diperdebatkan,
dikutip, dan diwariskan kepada masyarakat. Karena
itu kami membangun satu tradisi yang kemudian menjadi ciri khas SATUPENA,
yaitu menerbitkan buku bersama. Tradisi ini bukan sekadar proyek penerbitan,
melainkan cara mengubah percakapan menjadi warisan intelektual yang dapat
bertahan jauh lebih lama daripada sebuah seminar. Ketika
terjadi bencana besar di Sumatra, para penulis menulis bersama. Ketika muncul
perdebatan mengenai gelar pahlawan Presiden Soeharto, para penulis kembali
menulis bersama. Ketika tragedi kemanusiaan di Palestina mengguncang nurani
dunia, SATUPENA sekali lagi menghimpun suara para penulis ke dalam sebuah
buku. Tradisi
tersebut terus berkembang sepanjang masa kepengurusan ini. Hingga Juli 2026,
SATUPENA berhasil menerbitkan dan menginisiasi 16 buku bersama, terdiri atas
10 buku yang diterbitkan SATUPENA Pusat serta 6 buku yang diterbitkan oleh
pengurus SATUPENA di berbagai daerah. Tema-tema
yang diangkat sangat beragam, mulai dari demokrasi, korupsi politik, sastra,
kebudayaan, tragedi kemanusiaan, pendidikan, hingga berbagai persoalan lokal
yang dihadapi masyarakat di daerah masing-masing. Keragaman tema tersebut
menunjukkan bahwa organisasi penulis harus hadir sebagai suara zaman, bukan
sekadar menjadi saksi zaman. Yang
lebih membahagiakan, tradisi ini kemudian berkembang secara mandiri di
berbagai daerah. Banyak pengurus provinsi mulai menerbitkan buku tanpa harus
menunggu arahan dari pusat. Saya melihat gejala ini sebagai tanda bahwa
SATUPENA telah berubah menjadi jaringan pengetahuan yang hidup dan produktif. -000- Menghormati Para Penjaga Pikiran Selain
membangun ruang dialog dan tradisi menulis, kami juga merasa perlu membangun
budaya penghargaan. Bangsa yang ingin kebudayaannya bertahan tidak cukup
hanya mendorong orang untuk berkarya; bangsa itu juga harus belajar
menghormati mereka yang telah mengabdikan hidupnya pada dunia pemikiran. Karena
itulah SATUPENA setiap tahun memberikan penghargaan kepada para penulis
Indonesia melalui panitia dan dewan juri yang bekerja secara independen.
Penghargaan tersebut disertai piagam penghormatan dan dana apresiasi antara
Rp35 juta hingga Rp50 juta bagi setiap penerima. Bagi
saya, penghargaan bukan terutama soal nilai uang yang menyertainya.
Penghargaan adalah pernyataan moral bahwa kerja intelektual masih memiliki
martabat di tengah masyarakat. Ia merupakan cara sebuah bangsa mengucapkan
terima kasih kepada mereka yang sepanjang hidupnya menjaga api pengetahuan
tetap menyala. Seluruh
program tersebut menunjukkan satu hal yang saya yakini sejak awal. Organisasi
penulis tidak boleh hanya menjadi tempat orang berkumpul. Ia harus menjadi
ruang yang terus menghasilkan percakapan, melahirkan karya, membangun
jejaring, mengabadikan pengetahuan, dan menghargai mereka yang memperkaya
kehidupan intelektual bangsa. Seluruh
capaian ini kami jalankan sebagai pelaksanaan tujuan SATUPENA dalam Anggaran
Dasar: memperkuat kehidupan kepenulisan, mengembangkan kebudayaan, serta
memperluas manfaat karya bagi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan,
terbuka, setara, dan kolaboratif. Semua
capaian itu tentu memerlukan dukungan organisasi yang kuat dan pembiayaan
yang tidak kecil. Karena itu, pertanyaan yang paling sering saya terima
berikutnya adalah pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi sangat penting:
berapa dana yang telah digunakan untuk menjalankan seluruh program tersebut,
dan dari mana sumber pembiayaannya? -000- Akuntabilitas, The Power of Giving, dan Masa
Depan Organisasi Penulis Selama
lima tahun memimpin SATUPENA, satu pertanyaan hampir selalu muncul setiap
kali saya menyampaikan berbagai program organisasi. Pertanyaan itu sangat
sederhana, tetapi sangat penting bagi setiap organisasi yang sehat. Pertanyaan
tersebut berbunyi, “Berapa dana yang telah digunakan untuk menjalankan semua
program itu, dan dari mana sumber pembiayaannya?” Saya selalu berpendapat
bahwa organisasi kebudayaan pun harus menjawab pertanyaan itu secara terbuka. Transparansi
bukan hanya kewajiban organisasi bisnis atau lembaga publik. Organisasi
kebudayaan pun memiliki tanggung jawab moral untuk mempertanggungjawabkan
penggunaan setiap rupiah yang dipercayakan kepadanya. Selama
masa kepengurusan ini, hingga 12 Juli 2026, total dana yang digunakan untuk
menjalankan berbagai program SATUPENA mencapai Rp4.097.885.526. Angka
tersebut merupakan akumulasi pembiayaan berbagai kegiatan organisasi selama
hampir lima tahun. Dana
tersebut dipergunakan untuk menyelenggarakan ratusan forum diskusi nasional,
memproduksi ratusan video literasi, menerbitkan buku-buku bersama, memberikan
penghargaan kepada penulis Indonesia, mendukung kegiatan daerah, menjalankan
administrasi organisasi, serta membangun berbagai program pengembangan
literasi. Apabila
dibandingkan dengan luasnya jangkauan kegiatan yang berhasil dilaksanakan,
saya memandang dana tersebut bukan sebagai biaya semata. Dana itu adalah
investasi sosial untuk memperkuat ekosistem literasi Indonesia. Lebih
penting lagi adalah pertanyaan mengenai asal-usul pembiayaan tersebut. Sejak
awal saya memilih sebuah kebijakan yang mungkin berbeda dengan banyak
organisasi profesi lainnya di Indonesia. SATUPENA
tidak mewajibkan anggotanya membayar iuran organisasi. Saya tidak ingin ada
seorang penulis muda yang merasa jauh dari rumah intelektualnya hanya karena
alasan ekonomi. Saya
memahami bahwa banyak organisasi besar di dunia bertumbuh melalui sistem
iuran anggota. Saya menghormati pilihan tersebut, karena setiap organisasi
mempunyai sejarah, kebutuhan, dan tradisi yang berbeda. Namun
saya memilih jalan yang lain. Saya ingin organisasi ini menjadi ruang yang
terbuka bagi siapa saja yang mencintai dunia literasi tanpa terlebih dahulu
dibatasi oleh kemampuan finansialnya. Karena
itu, hampir seratus persen pembiayaan kegiatan SATUPENA selama masa
kepengurusan ini berasal dari donasi pribadi saya selaku Ketua Umum, melalui
dukungan dari yayasan serta perusahaan yang saya dirikan. Saya
tidak pernah memandang dukungan tersebut sebagai pengorbanan. Saya justru
melihatnya sebagai kesempatan untuk mengembalikan sebagian rezeki yang saya
peroleh kepada dunia kebudayaan yang telah banyak membentuk perjalanan hidup
saya. Pilihan
itu juga lahir dari sebuah prinsip hidup yang telah lama saya pegang. Prinsip
tersebut saya sebut The Power of Giving, yaitu keyakinan bahwa memberi
merupakan bentuk tertinggi dari rasa syukur. Semakin
bertambah usia, saya semakin percaya bahwa kekayaan bukan terutama diukur
dari apa yang berhasil kita miliki. Kekayaan memperoleh makna terdalam ketika
berubah menjadi kesempatan bagi orang lain untuk bertumbuh. Saya
selalu merasa bahwa uang hanyalah alat. Nilai sejatinya ditentukan oleh
sejauh mana ia mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik, lebih
berpengetahuan, dan lebih bermartabat. Apabila
melalui dukungan tersebut lahir ratusan forum intelektual, ratusan arsip
digital, puluhan buku bersama, penghargaan bagi para penulis, serta tumbuhnya
jaringan literasi dari Aceh hingga Papua, saya merasa telah memperoleh
imbalan yang jauh lebih besar daripada nilai materi yang dikeluarkan. Saya
tidak pernah menganggap semua itu sebagai jasa pribadi. Organisasi sebesar
SATUPENA tidak mungkin dibangun oleh satu orang, betapapun besarnya dukungan
yang ia berikan. Yang
membangun organisasi ini adalah ribuan anggota, ratusan pengurus, para
relawan, moderator, narasumber, editor, penerbit, panitia kegiatan, serta
semua pihak yang dengan sukarela menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan
cintanya kepada dunia literasi. Saya
hanya kebetulan memperoleh kesempatan untuk melayani mereka selama satu
periode kepemimpinan. Kesempatan itu merupakan kehormatan yang selalu saya
syukuri. -000- Apa yang Belum Berhasil? Saya
tidak ingin laporan ini terdengar seperti kisah tanpa kekurangan. Ada beberapa
hal yang belum berhasil kami tuntaskan. Kaderisasi
kepemimpinan belum berjalan sekuat yang saya harapkan. Ketergantungan
pembiayaan pada satu sumber utama menyisakan pertanyaan penting tentang
keberlanjutan. Jangkauan
ke penulis muda di daerah terpencil masih terbatas. Sikap organisasi terhadap
karya sastra yang ditulis dengan bantuan AI juga belum dirumuskan secara
memadai. Saya
mewariskan pekerjaan rumah ini secara terbuka kepada kepengurusan berikutnya.
Sebuah organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang selesai, melainkan
organisasi yang berani mengakui apa yang belum selesai dan mengajak generasi
baru untuk melanjutkannya. Ada
pertanyaan yang belum selesai saya jawab, dan mungkin belum akan selesai
dalam waktu dekat. Bagaimana
organisasi ini bertahan tanpa ketergantungan pada satu penyokong? Bagaimana
sastra Indonesia menyikapi mesin yang kini ikut menulis? Bagaimana rumah ini
tetap terbuka bagi generasi yang belum lahir? Pertanyaan
itu kini menjadi milik kita bersama, dan hanya keberanian kolektif yang dapat
menjawabnya. -000- Organisasi Dibangun oleh Kepercayaan Lima
tahun terakhir memberikan banyak pelajaran yang mungkin tidak saya peroleh
apabila hanya menjadi seorang penulis. Saya belajar bahwa memimpin organisasi
berarti belajar mempercayai orang lain sebelum berharap dipercaya oleh
mereka. Saya
juga belajar bahwa organisasi tidak pernah dibangun terutama oleh aturan.
Aturan memang penting, tetapi ia hanyalah kerangka yang menjaga agar
perjalanan bersama tetap tertib dan adil. Yang
benar-benar menghidupkan organisasi adalah kepercayaan. Ketika kepercayaan
tumbuh, orang bersedia bekerja melampaui kewajibannya. Mereka memberi bukan
karena diminta, melainkan karena merasa memiliki. Saya
semakin yakin bahwa organisasi penulis mempunyai kekayaan yang berbeda
dibandingkan organisasi profesi lainnya. Modal utama kita bukan gedung,
kendaraan operasional, ataupun rekening bank yang besar. Modal
terbesar organisasi penulis adalah gagasan. Selama gagasan terus lahir,
dipertukarkan, diperdebatkan, dan diwariskan, organisasi akan selalu
menemukan alasan untuk tetap hidup. Karena
itulah saya tidak pernah terlalu mengkhawatirkan apakah sekretariat kami
megah atau sederhana. Saya jauh lebih memperhatikan apakah percakapan
intelektual masih terus berlangsung di antara para anggotanya. Di
era kecerdasan buatan, ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi terletak
pada tebalnya buku administrasi yang berhasil disusun. Ukurannya bergeser
kepada seberapa besar organisasi mampu mempertemukan manusia untuk
menciptakan pengetahuan baru. AI
akan terus berkembang dengan kecepatan yang mungkin melampaui bayangan kita
hari ini. Banyak pekerjaan administratif yang selama puluhan tahun menjadi
rutinitas organisasi akan semakin mudah diselesaikan oleh teknologi. Namun
saya percaya bahwa ada wilayah yang tidak akan pernah sepenuhnya diambil alih
oleh mesin. Wilayah itu adalah kebijaksanaan, empati, tanggung jawab moral,
keberanian intelektual, dan persahabatan antarmanusia. Karena
itulah masa depan organisasi penulis bukanlah mempertebal birokrasi. Masa
depan organisasi penulis adalah memperkuat budaya kolaborasi, memperluas
ruang dialog, dan menjaga agar manusia tetap menjadi pusat seluruh
percakapan. -000- Pelajaran yang Saya Bawa Pulang Apabila
ada satu pelajaran yang paling berharga selama memimpin SATUPENA, pelajaran
itu adalah bahwa organisasi kebudayaan sesungguhnya sedang merawat harapan
sebuah bangsa. Bangsa
tidak hanya dibangun oleh jalan raya, pelabuhan, bendungan, atau gedung
pencakar langit. Bangsa juga dibangun oleh buku, gagasan, diskusi, puisi, dan
keberanian berpikir yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi
berikutnya. Saya
semakin percaya bahwa organisasi penulis mempunyai tugas yang jauh lebih
besar daripada sekadar menyelenggarakan kegiatan sastra. Ia ikut menjaga
kualitas percakapan publik agar bangsa ini tidak kehilangan kedalaman
berpikirnya. Revolusi
Pertanian melahirkan kerajaan-kerajaan besar. Revolusi Industri membentuk
birokrasi modern. Revolusi Digital melahirkan masyarakat jaringan, sedangkan
Revolusi AI sedang membangun komunitas pengetahuan yang melampaui batas
geografis. Dalam
perubahan sebesar itu, organisasi penulis tidak boleh menjadi penonton. Ia
harus menjadi salah satu pelaku yang membantu masyarakat memahami perubahan
sekaligus menjaga agar nilai-nilai kemanusiaan tidak ikut hilang. Gedung
akan menua. Kepengurusan akan berganti. Teknologi akan terus berubah. Bahkan
bentuk organisasi pun mungkin akan berbeda beberapa puluh tahun dari
sekarang. Namun
saya percaya bahwa organisasi yang setia merawat gagasan akan selalu
menemukan masa depannya. Selama manusia masih mencari makna hidup melalui
kata-kata, organisasi penulis akan tetap mempunyai tempat yang terhormat. Pada
akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang sederhana. Rumah para penulis
bukanlah sebuah gedung, bukan pula sebuah sekretariat dengan papan nama yang
megah. Rumah
para penulis adalah percakapan yang tidak pernah berhenti, persahabatan yang
terus bertumbuh, dan karya-karya yang terus memperkaya peradaban. Selama
ketiga hal itu tetap hidup, saya percaya SATUPENA akan terus menemukan alasan
untuk melangkah ke masa depan. ● REFERENSI 1. Benkler, Yochai. The Wealth of Networks: How
Social Production Transforms Markets and Freedom. Yale University Press,
2006. 2. Coyle, Daniel. The Culture Code: The Secrets of
Highly Successful Groups. Bantam Books, 2018. 3. Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA. Anggaran
Dasar (AD) Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, Akta Pendirian dan
Perubahan Anggaran Dasar yang disahkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia. 4. Dokumentasi Internal SATUPENA Periode
Kepengurusan 2021–2026, meliputi laporan kegiatan, dokumentasi webinar, data
penerbitan buku, arsip SATUPENA TV, dan laporan pertanggungjawaban
organisasi. 5. Data Administrasi SATUPENA per 12 Juli 2026
mengenai penyelenggaraan 226 forum intelektual nasional, 223 video literasi,
16 buku bersama, serta penggunaan dana organisasi sebesar Rp4.097.885.526
selama masa kepengurusan 2021–2026. Sumber : https://mediasumatera.id/rumah-para-penulis-di-era-ai-draft-pertanggungjawaban-ketua-umum-satupena-2021-2026-program-sumber-dana/
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar