|
Sakit Jantung Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 23 Juli 2026
"Jangan
takut operasi jantung. Anda akan 10 tahun lebih muda," itu nasihat saya
untuk para penderita sakit jantung. Pun kepada Nanik S. Deyang, kemarin pagi,
setelah dia mundur dari jabatan kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Saya lihat
Deyang agak takut-takut operasi. Sampai akan ke luar negeri cari pilihan selain
operasi.
"Di zaman
sekarang ini operasi jantung sudah semudah khitan," kata saya lagi. Tentu
itu saya lebih-lebihkan agar dia tidak takut. Tapi sebenarnya memang begitu:
para dokter Indonesia pun sudah sangat mahir melakukan operasi jantung.
Soal ''lebih
muda 10 tahun'' juga bukan teori saya. Itu pernah diucapkan Prof. Dr. B.J.
Habibie setelah menjalani operasi jantung. Beberapa teman, yang sukses
menjalani operasi jantung, juga merasa jauh lebih muda.
Saya tahu
Deyang sudah lama mengidap tekanan darah tinggi. Kalau bicara juga ngos-ngosan.
Dia tidak terlalu peduli dengan kesehatannyi. Cenderung sembrono. Dia sedikit
dari wartawan yang sangat idealis mengikuti sikap mentornyi: Valens G. Doi,
senior di Harian Kompas.
Bahwa dia pilih
berobat ke luar negeri sebenarnya berlebihan. Tapi kalau itu menyangkut
ketenangan jiwa, saya tidak akan ikut campur.
Saya hanya
berpesan: "jangan hiraukan kecaman, sindiran, ejekan, dan cemoohan di
medsos''.
Sebersih apa
pun, publik tidak percaya kalau Anda bersih. Publik punya logika sendiri:
seseorang yang hidup di dunia yang berlumuran oli tidak mungkin tidak terkena
oli.
Maka nama
Deyang jadi bulan-bulanan di medsos. Sampai ada yang mengecam caranyi mundur.
"Kok lewat
medsos. Lewat Facebook pribadi. Isinya cengengesan pula".
Maka, kata
saya, lain kali kalau Anda mundur lagi jangan lewat medsos. Gak usahlah
menjelaskan alasan mengapa mundur. Cukup kalau sudah mengajukannya ke presiden
dan sudah disetujui. Kalau pun punya alasan tertentu cukup diberitahukan ke
presiden.
Rasanya Anda
memang tidak cocok menjadi birokrat –apalagi menjadi orang nomor satu di
lembaga setingkat menteri. Pekerjaan paling cocok untuk Anda, ya, jadi wartawan
seperti dulu. Tapi profesi wartawan pun sekarang sudah berubah. Maka, sebagai
ganti, Anda sebaiknya jadi oposisi –seperti yang Anda lakukan di era Presiden
Jokowi menjelang periode kedua.
Waktu itu Anda
begitu enteng berubah sikap: dari pendukung all out Jokowi menjadi anti-Jokowi.
Tapi saya juga
tahu Anda sangat cocok dengan Prabowo: tidak mungkin jadi oposisi. Terutama
Anda satu pemikiran dalam program ''memihak rakyat'' –meski hati Anda berontak
kok pelaksanaannya banyak terjadi penyelewengan. Itu membuat Anda ingin jadi
oposisi tapi sulit bersikap oposisi kepada Prabowo.
Akhirnya saya
anjurkan saja di sini: begitu dokter di luar negeri juga memutuskan Anda harus
operasi: pulanglah. Jalani operasi itu di RS Pertamina yang Anda jadi komisaris
di induk perusahaan itu. Nyawa itu hanya titipan. Bisa diambil yang titip kapan
saja dan di mana pun.
Beda dengan
saya: saya berobat ke RS Madinah karena jatuh sakitnya saat umrah bersama
keluarga. Lalu saya batal umrah untuk berobat di Surabaya. Begitu mendarat dari
Madinah saya langsung ke RS National Hospital. Tiga hari opname di situ: tidak
ditemukan sakit apa.
Setelah ke
Singapura baru ditemukan: aorta dissection. Pembuluh darah utama saya pecah.
Sepanjang setengah meter. Untung tidak meninggal dalam penerbangan
Madinah-Surabaya. Atau dalam penerbangan Surabaya-Singapura.
Itu sekaligus
menunjukkan ''wajah lain'' dokter Indonesia: tidak mau buru-buru minta pasien
di CT Scan. Kasihan pasien. Sekali CT Scan bisa habis Rp 7,5 juta. Dokter
Indonesia terlalu memikirkan keuangan pasiennya. Padahal kalau langsung di-CT
Scan akan ketahuan saat itu juga: aorta dissection.
Singapura
menemukan penyakit saya bukan karena dokternya lebih ahli. Tapi karena
dokternya memutuskan langsung CT Scan. Tidak perlu memikirkan mahal atau tidak.
Tidak pakai prosedur bertahap –kalau tidak ditemukan baru diminta CT Scan.
Ketika berobat
ke luar negeri pasien Indonesia tidak akan keberatan ditagih berapa pun. Paling
hanya ngomel di dalam hati. Hasilnya: banyak pasien merasa berobat di luar
negeri lebih hebat: cepat ketahuan penyakitnya dan cepat ditangani. Akhirnya
muncul citra tingkat keberhasilan berobat di luar negeri tinggi. Padahal itu
terkait langsung dengan ''keberanian'' dokter melakukan tindakan ''mahal'' di
awal pemeriksaan. Bukan karena lebih pintar.
Mungkin dokter
Indonesia sudah waktunya berubah: lebih berani melakukan pemeriksaan awal
dengan alat yang lebih canggih (baca: mahal). Dari pada seperti selama ini:
pemeriksaan dilakukan secara bertahap dimulai dari sangat awal, pakai
stetoskop. Dicoba diberi obat. Kalau tidak sembuh baru disuruh ke lab. Periksa
darah. Kalau tidak berhasil juga baru CT Scan.
Akibatnya nama
dokter di Indonesia dianggap kurang bermutu dibanding di luar negeri.
Pendapat saya
seperti itu saya sampaikan terbuka ketika diminta sebagai pembicara di seminar
besar para dokter ahli jantung pekan lalu. Di Jakarta. Lebih 1000 ahli jantung
anggota Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia) hadir.
Dari lima
pembicara hanya saya yang bukan dokter: Dirut BPJS Kesehatan dr Prihati
Pujowaskito, Ketua PERKI dr Ade Meidian Ambari, Ketua Dewan Etik PERKI dr
Munawar, Ketua Kolegium Jantung dr Renan Sukmawan. Wartawan senior Desi Anwar
jadi moderator.
Di forum itu
saya juga mengajukan usul: agar larangan dokter Indonesia mengiklankan diri
dicabut. Akibat larangan itu publik tidak tahu siapa saja dokter hebat di
Indonesia. Tidak tahu juga seberapa banyak pasien yang sembuh di tangan mereka.
Padahal, di luar negeri dokter berlomba menonjolkan diri atas kemampuan khusus
mereka. Nama-nama dokter hebat di Indonesia hanya beredar dari mulut ke
telinga.
Perbanyaklah
''iklan'' success story pasien ketika ditangani dokter Indonesia. Dari situ
akan muncul rasa percaya pada publik. Sehingga orang seperti Nanik S. Deyang
pun bisa merasa pede menjalani operasi jantung di dalam negeri. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/958693/sakit-jantung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar