Catatan
dari London (8)
|
KETIKA ILMU PENGETAHUAN DILEMBAGAKAN DAN LAHIRNYA TRADISI WISUDA -
Menghadiri Wisuda Dua Anakku Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 30 Juli 2026
|
Seorang
ibu dan ayah berdiri di antara ribuan orang yang bertepuk tangan. Di
hadapannya, anak yang dahulu pernah ia gandeng menyeberang jalan kini
melangkah mengenakan jubah hitam dan topi akademik. Tepuk
tangan itu terdengar biasa bagi orang lain. Namun bagi seorang ibu dan ayah,
bunyinya seperti perjalanan puluhan tahun yang akhirnya mencapai muara. Pada
saat itulah saya menyadari, wisuda bukan sekadar akhir pendidikan. Ia adalah
perayaan tentang waktu, pengorbanan, dan harapan yang berhasil bertahan. PembelajaranMesin
& Kecerdasan Buatan -000- Kami
menghadiri wisuda S2 dua anak kami di dua universitas berbeda, dalam minggu
yang berlainan, di London. Aula dipenuhi keluarga dari berbagai bangsa. Ada
yang membawa bunga, ada yang memeluk anaknya sambil menangis. Ada pula yang
diam memandang panggung seakan sedang memutar kembali seluruh kenangan masa
kecil putra-putrinya. Di
tengah prosesi itu saya justru bertanya pada diri sendiri, sejak kapan
manusia merasa perlu merayakan kelulusan dengan begitu khidmat? Pertanyaan
itu membawa saya menelusuri sejarah hampir sembilan abad ke belakang. Tradisi
wisuda lahir di Eropa sekitar abad ke-12 ketika Universitas Bologna di Itali
yang berdiri sekitar tahun 1088, bersama Universitas Paris pada pertengahan
abad ke-12. Mereka mulai membangun sesuatu yang belum pernah dikenal dunia
sebelumnya. Mereka
bukan hanya mengumpulkan orang-orang pandai. Mereka menciptakan sebuah
lembaga yang memiliki kurikulum, ujian, standar, dan hak memberikan gelar
akademik. Inilah
revolusi yang sesungguhnya. Di
Yunani kuno, seseorang belajar langsung kepada Plato di Akademia atau
Aristoteles di Lyceum. Pengetahuan melekat pada sosok guru. Setelah
selesai belajar, murid pulang tanpa ijazah, tanpa gelar, tanpa upacara.
Hubungan itu bersifat personal. Di
Eropa abad pertengahan, pengetahuan berubah menjadi institusi. Lahir
sebuah komunitas ilmiah yang disebut
universitas, berasal dari kata Latin universitas magistrorum et scholarium,
yaitu persekutuan para guru dan pelajar. Di
sana, ilmu tidak lagi bergantung pada seorang tokoh, tetapi dijaga oleh
sebuah komunitas yang memiliki aturan bersama. Gelar
akademik yang diberikan bukan sekadar penghargaan. Ia adalah licentia
docendi, lisensi resmi untuk mengajar. Dengan lisensi itu, seorang sarjana
Bologna dapat mengajar di Paris, Oxford, atau Salamanca. Untuk
pertama kalinya dalam sejarah, ilmu pengetahuan memperoleh paspor yang
melampaui batas kerajaan dan bahasa. -000- Prosesi
wisuda lahir sebagai pengakuan publik atas perubahan status itu. Mengapa para
lulusan mengenakan toga hitam? Jubah
panjang yang kini tampak anggun itu mula-mula hanyalah pakaian sehari-hari
para rohaniwan dan cendekiawan abad pertengahan. Saat
itu gedung kuliah belum memiliki pemanas. Jubah tebal membantu melindungi
tubuh dari musim dingin. Lama-kelamaan pakaian itu berubah menjadi simbol
bahwa ilmu menuntut disiplin, kerendahan hati, dan kehidupan intelektual. Topi
akademik berkembang dari penutup kepala para sarjana abad pertengahan.
Sementara hood, pada mulanya benar-benar merupakan tudung untuk menghangatkan
kepala. Kini
hood menjadi kain berwarna yang dikenakan di belakang bahu. Warna dan
bentuknya menunjukkan jenjang akademik serta bidang ilmu yang ditekuni.
Sebuah benda sederhana berubah menjadi bahasa simbol yang dipahami komunitas
akademik di seluruh dunia. Begitulah
tradisi bertahan. Fungsi praktis boleh hilang, tetapi makna tetap hidup. -000- Yang
membedakan universitas Eropa dari sekolah filsafat Yunani bukanlah kecintaan
kepada ilmu. Plato maupun Aristoteles sama-sama mencintai pengetahuan dengan
sepenuh hati. Perbedaannya terletak pada cara ilmu diwariskan. Di
Yunani, ilmu berkembang melalui percakapan antara guru dan murid. Di Eropa,
ilmu dibangun melalui institusi yang mampu melampaui usia siapa pun. Plato
wafat, Akademianya berubah. Aristoteles meninggal, Lyceumnya ikut meredup.
Namun Universitas Bologna tetap hidup lebih dari sembilan abad kemudian
karena yang dipertahankan bukan seorang guru, melainkan sistem. Di
sinilah salah satu penemuan terbesar peradaban manusia. Peradaban menjadi
panjang umur bukan semata karena melahirkan orang-orang jenius, tetapi karena
berhasil menciptakan lembaga yang menjaga pengetahuan melampaui generasi. Ilmu
akhirnya mempunyai rumah. Rumah itulah universitas. Dan wisuda merupakan cara
rumah itu menyambut anggota baru yang kelak akan meneruskan estafet
pengetahuan. -000- Di
tengah prosesi wisuda kedua anak saya, perhatian saya beberapa kali justru
berpindah kepada para orang tua. Seorang
ibu berkali-kali mengusap air mata sebelum anaknya naik ke panggung. Seorang
ayah berdiri sambil menggenggam erat kamera yang tak lagi dipakai memotret.
Ia lebih sibuk memandang anaknya sendiri daripada melihat layar. Saya
memahami perasaan itu. Tidak ada orang tua yang benar-benar melihat seorang
lulusan. Yang mereka lihat adalah bayi yang dahulu belajar berjalan, anak
kecil yang pernah demam semalaman, remaja yang gagal dalam ujian pertama,
lalu bangkit kembali. Seketika
ingatan saya melompat puluhan tahun ke belakang. Saya melihat kembali kedua
anak saya ketika masih balita, menggenggam jari saya atau tangan ibunya saat
belajar melangkah, lalu berlari ke sekolah dengan tas yang hampir sebesar
tubuh mereka. Kini
mereka berjalan ke panggung wisuda dengan gagah. Saya tersenyum bangga,
tetapi di dalam hati tetap melihat dua anak kecil yang tidak pernah
benar-benar pergi dari pelukan ayah dan ibunya. Di
balik satu ijazah, sesungguhnya terdapat ribuan pagi ketika seorang ibu
membangunkan anaknya ke sekolah. Ada ribuan perjalanan mengantar les. Ribuan
percakapan yang memberi semangat ketika nilai tidak memuaskan, dan ribuan doa
yang tidak pernah diketahui siapa pun. Saya
tidak merasa sedang menghadiri akhir pendidikan.Saya merasa sedang
menyaksikan kemenangan ketekunan. Ketika
kedua anak saya berdiri mengenakan toga, saya sadar bahwa menjadi orang tua
ternyata tidak pernah mengenal kata lulus. Wisuda hanyalah kelulusan anak.
Bagi orang tua, tugas itu berlangsung seumur hidup. Mungkin
itulah sebabnya tepuk tangan hari itu terdengar begitu berbeda.Ia bukan tepuk
tangan untuk gelar. Ia adalah penghormatan bagi perjalanan. -000- Dua
buku membantu memperluas cara saya memahami makna universitas dan wisuda. The
Universities of Europe in the Middle Ages, karya Hastings Rashdall, pertama
kali terbit pada 1895, tetap dianggap karya klasik tentang sejarah
universitas Eropa. Rashdall
menunjukkan bahwa universitas bukan lahir karena keinginan mencetak pegawai,
melainkan karena kebutuhan membangun
komunitas pencari kebenaran yang bebas berdialog. Ia
menjelaskan bagaimana Bologna, Paris, dan Oxford menciptakan standar
akademik, gelar, serta tradisi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Membaca
buku ini membuat saya memahami bahwa wisuda bukanlah pesta seremonial,
melainkan simbol keberhasilan sebuah peradaban menciptakan mekanisme
pewarisan ilmu yang bertahan berabad-abad. Buku
kedua adalah The Idea of a University, karya John Henry Newman, diterbitkan
pada 1852. Newman berpendapat bahwa universitas tidak boleh sekadar
menghasilkan tenaga kerja. Tugas
utamanya adalah membentuk manusia yang mampu berpikir luas, menghubungkan
berbagai cabang ilmu, dan mengembangkan kebijaksanaan. Pendidikan
tinggi, menurut Newman, bukan hanya soal keterampilan, melainkan pembentukan
karakter intelektual. Ketika menyaksikan ribuan lulusan di London, saya
merasa gagasan Newman masih sangat hidup. Gelar bukan akhir pencarian ilmu.
Gelar hanyalah izin moral untuk terus belajar sepanjang hayat. -000- Tentu
tidak semua orang memandang wisuda dengan kekaguman. Ada yang berpendapat
bahwa wisuda hanyalah ritual mahal, penuh formalitas, bahkan menjadi simbol
elitisme pendidikan. Di
era digital ketika pengetahuan dapat diakses dari mana saja, sebagian orang
bertanya apakah toga dan prosesi panjang masih memiliki arti. Pertanyaan
itu layak dihargai. Namun justru karena ilmu kini dapat diperoleh di
mana-mana, masyarakat semakin memerlukan institusi yang menjaga mutu,
integritas, dan etika keilmuan. Internet
dapat menyebarkan informasi. Universitas bertugas membangun penilaian kritis
terhadap informasi itu. Wisuda bukan penyembahan terhadap ijazah. Ia adalah
pengingat bahwa kebebasan berpikir selalu disertai tanggung jawab
intelektual. -000- Namun,
tantangan terbesar universitas hari ini bukan lagi mempertahankan tradisi
sembilan abad, melainkan memastikan bahwa kompas etika keilmuan tetap mampu
menuntun manusia di tengah gempuran kecerdasan buatan. Ketika
acara selesai, para lulusan melempar topi ke udara. Orang-orang bersorak.
Kamera menangkap ribuan senyum. Saya memilih berdiri beberapa langkah di
belakang. Saya
membiarkan kedua anak saya menikmati momen mereka sendiri. Di
dalam hati saya hanya berbisik, beginilah rupanya waktu bekerja. Ia mengubah
gendongan menjadi toga, mengubah ruang belajar menjadi panggung, dan mengubah
doa-doa yang tak pernah terdengar menjadi tepuk tangan yang memenuhi aula. Mungkin
itulah sebabnya tradisi wisuda bertahan hampir sembilan abad. Ia mengingatkan
kita bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya lahir dari kecerdasan, melainkan dari
kesediaan setiap generasi untuk mewariskan cahaya. Peradaban
tidak menjadi abadi karena melahirkan manusia-manusia jenius. Peradaban
menjadi abadi karena berhasil melembagakan ilmu, lalu menitipkannya dari satu
generasi kepada generasi berikutnya. Ketika
tepuk tangan kembali bergema memenuhi aula, saya menyadari bunyinya telah
berubah. Ia
bukan lagi sekadar sambutan bagi para lulusan, melainkan gema panjang cinta
orang tua, ketekunan anak, dan kemenangan sebuah peradaban yang berhasil
mewariskan ilmu dari satu generasi kepada zaman selanjutnya. Di
sanalah saya mengerti, setiap wisuda sesungguhnya adalah perayaan harapan
manusia yang tidak pernah berhenti dilahirkan kembali. ● REFERENSI 1. Hastings Rashdall. The Universities of Europe in
the Middle Ages. Oxford University Press. 1895. 2. John Henry Newman. The Idea of a University.
Longmans, Green & Co. 1852. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar