Rabu, 22 Juli 2026

 

Bagaimana Anak Muda Thailand Bisa Membentuk Partai

Stefanus Pramono :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Kunthida Rungruengkiat menjadi oposisi di Thailand dan mendorong terjadinya perubahan.

 

·      Indonesia dan Thailand menghadapi persoalan demokrasi yang mirip.

 

·      Anak muda bisa membangkitkan kepercayaan publik dan membuat perubahan.

 

SEBAGAI manusia malam, saya tak suka wawancara pagi hari. Macet. Warga Bekasi, Jawa Barat, pasti mafhum betul apa jadinya kalau lima menit terlambat keluar dari rumah pada pagi. Kalau janjian dengan narasumber, saya upayakan pertemuan terjadi setelah makan siang atau malam sekalian.

 

Tapi keleluasaan mengatur waktu hanya milik Tuhan dan narasumber. Mereka yang jadi penentu kapan kami tiba. Pada Sabtu pagi, 11 Juli 2026, kami harus mewawancarai mantan Wakil Ketua Future Forward Party yang juga aktivis muda Thailand, Kunthida Rungruengkiat.

 

Waktu wawancara enggak bisa ditawar karena Kunthida—dilarang berpolitik sepuluh tahun—harus kembali ke Bangkok pada siang hari. Saya tak boleh melewatkan waktu untuk berdiskusi dengan perempuan yang berperan sebagai oposisi serta aktif melatih anak muda dan perempuan itu.

 

Saya tiba tepat waktu di sebuah hotel di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Saya bertanya kepada redaktur Desk Wawancara Tempo, Friski Riana, wawancaranya di lobi atau restoran? Jawabannya bikin kesel. Lokasi interviu pindah ke sebuah restoran di luar hotel. Dia lupa bilang di grup WhatsApp.

 

Setengah panik, saya pesan ojek online. Jaraknya enggak jauh. Tapi saya harus memutar dan melewati delapan lampu lalu lintas. Kalau sudah begitu, biasanya muncul bisikan setan: mintalah baik-baik kepada abangnya agar bersedia melanggar aturan dengan putar balik. Kali aja dia terharu.

 

Saya kembali ke prinsip: kalau bisa jangan melanggar aturan lalu lintas. Kalaupun melanggar, biarlah inisiatif mempercepat kedatangan itu datang dari pengemudi. Tapi driver-nya adem ayem aja ngikutin sinyal lampu lalu lintas. Saya cuma bisa teriak, “Woi, Pak... telat nih….” Dalam hati, tentu saja.

 

Benar, saya telat sekitar 30 menit. Di dalam ruangan, Friski pasang poker face. Bikin pengen jitak. Ngerjain orang tua. Untungnya, wawancara dalam bahasa Inggris itu belum lama dimulai. Saya bisa langsung jump in.

 

Selama hampir dua jam, Kunthida menjelaskan perkembangan politik di Thailand yang memiliki kemiripan dengan Indonesia. Salah satunya soal militerisme. Thailand masih dikontrol junta militer. Sedangkan di Indonesia, warga sipil aja diseragamin loreng. Ye, kan?

 

Kunthida juga bercerita soal gerakan anak muda di Thailand yang ingin membuat perubahan. Lewat berbagai aksi, mereka mendapatkan kepercayaan publik yang apatis terhadap politik. Namun jalan mereka tak pernah mudah. Partai Kunthida dibubarkan pada Februari 2020.

 

Di Indonesia, seperti sudah saya singgung dalam beberapa newsletter sebelumnya, gerakan anak muda, termasuk generasi Z, juga makin banyak muncul. Masih sporadis. Tapi bisa memberi oksigen untuk mereka yang mendukung demokrasi.

 

Anda bisa membaca wawancara dengan Kunthida dalam artikel “Generasi Muda Lebih Siap Melakukan Perubahan”. Selamat membaca. Oh ya, saya enggak menjitak Friski. Dia sudah minta maaf. Lagian, di Tempo, jangankan menjitak, ngomong “bajingan” ke anak buah aja enggak boleh.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/perlawanan-kaum-muda-junta-thailand-2276955

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar