|
Bagaimana Anak Muda
Thailand Bisa Membentuk Partai Stefanus
Pramono : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
· Kunthida Rungruengkiat menjadi oposisi
di Thailand dan mendorong terjadinya perubahan. · Indonesia dan Thailand menghadapi
persoalan demokrasi yang mirip. · Anak muda bisa membangkitkan
kepercayaan publik dan membuat perubahan. SEBAGAI
manusia malam, saya tak suka wawancara pagi hari. Macet. Warga Bekasi, Jawa
Barat, pasti mafhum betul apa jadinya kalau lima menit terlambat keluar dari
rumah pada pagi. Kalau janjian dengan narasumber, saya upayakan pertemuan
terjadi setelah makan siang atau malam sekalian. Tapi
keleluasaan mengatur waktu hanya milik Tuhan dan narasumber. Mereka yang jadi
penentu kapan kami tiba. Pada Sabtu pagi, 11 Juli 2026, kami harus
mewawancarai mantan Wakil Ketua Future Forward Party yang juga aktivis muda
Thailand, Kunthida Rungruengkiat. Waktu
wawancara enggak bisa ditawar karena Kunthida—dilarang berpolitik sepuluh
tahun—harus kembali ke Bangkok pada siang hari. Saya tak boleh melewatkan
waktu untuk berdiskusi dengan perempuan yang berperan sebagai oposisi serta
aktif melatih anak muda dan perempuan itu. Saya
tiba tepat waktu di sebuah hotel di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Saya
bertanya kepada redaktur Desk Wawancara Tempo, Friski Riana, wawancaranya di
lobi atau restoran? Jawabannya bikin kesel. Lokasi interviu pindah ke sebuah
restoran di luar hotel. Dia lupa bilang di grup WhatsApp. Setengah
panik, saya pesan ojek online. Jaraknya enggak jauh. Tapi saya harus memutar
dan melewati delapan lampu lalu lintas. Kalau sudah begitu, biasanya muncul
bisikan setan: mintalah baik-baik kepada abangnya agar bersedia melanggar
aturan dengan putar balik. Kali aja dia terharu. Saya
kembali ke prinsip: kalau bisa jangan melanggar aturan lalu lintas. Kalaupun
melanggar, biarlah inisiatif mempercepat kedatangan itu datang dari
pengemudi. Tapi driver-nya adem ayem aja ngikutin sinyal lampu lalu lintas.
Saya cuma bisa teriak, “Woi, Pak... telat nih….” Dalam hati, tentu saja. Benar,
saya telat sekitar 30 menit. Di dalam ruangan, Friski pasang poker face.
Bikin pengen jitak. Ngerjain orang tua. Untungnya, wawancara dalam bahasa
Inggris itu belum lama dimulai. Saya bisa langsung jump in. Selama
hampir dua jam, Kunthida menjelaskan perkembangan politik di Thailand yang
memiliki kemiripan dengan Indonesia. Salah satunya soal militerisme. Thailand
masih dikontrol junta militer. Sedangkan di Indonesia, warga sipil aja
diseragamin loreng. Ye, kan? Kunthida
juga bercerita soal gerakan anak muda di Thailand yang ingin membuat
perubahan. Lewat berbagai aksi, mereka mendapatkan kepercayaan publik yang
apatis terhadap politik. Namun jalan mereka tak pernah mudah. Partai Kunthida
dibubarkan pada Februari 2020. Di
Indonesia, seperti sudah saya singgung dalam beberapa newsletter sebelumnya,
gerakan anak muda, termasuk generasi Z, juga makin banyak muncul. Masih
sporadis. Tapi bisa memberi oksigen untuk mereka yang mendukung demokrasi. Anda
bisa membaca wawancara dengan Kunthida dalam artikel “Generasi Muda Lebih
Siap Melakukan Perubahan”. Selamat membaca. Oh ya, saya enggak menjitak
Friski. Dia sudah minta maaf. Lagian, di Tempo, jangankan menjitak, ngomong
“bajingan” ke anak buah aja enggak boleh.
● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/perlawanan-kaum-muda-junta-thailand-2276955 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar