|
Mereka Lupa Perang yang Sesungguhnya Agus M. Maksum : Mantan Ketua Senat ITS, Aktivis 98. |
ORBIT INDONESIA, 14 Juni 2026
|
Ketika Mahasiswa
Kehilangan Kompas Ideologi: Membaca Aksi 13 Juni dalam Pertarungan Paradigma. Saya tipe orang yang
bersemangat melihat mahasiswa turun ke jalan. Saya senang. Karena itu
artinya denyut nadi demokrasi masih hidup. Mahasiswa yang diam lebih
berbahaya dari mahasiswa yang salah tuntutan. Tapi kemarin, saat saya
membaca tuntutan aksi 12 Juni — ada sesuatu yang mengganjal. Bukan marah.
Bukan kecewa. Tapi gelisah. Gelisah yang dalam. Bukan karena mereka turun
ke jalan. Bukan karena mereka keras mengkritik pemerintah. Tapi karena saya
melihat sesuatu yang jauh lebih serius dari sekadar tuntutan yang meleset. Saya melihat generasi
yang sedang bertempur — tapi tidak tahu sedang berperang di mana. Tidak tahu
melawan siapa. Dan yang paling tragis: tidak sadar bahwa mereka sudah berdiri
di sisi yang salah. Begini saya melihatnya. Delapan puluh tahun lebih
kita merdeka. Tapi ada pertanyaan yang sampai hari ini belum tuntas dijawab:
merdeka untuk apa? Para pendiri bangsa sudah
menjawab. Dengan sangat tegas. Sangat sadar. Tertulis dalam Pasal 33 UUD 1945
— bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam Indonesia dikuasai negara dan
digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Itu bukan sekadar pasal
hukum. Itu manifesto. Itu garis batas. Pernyataan bahwa Indonesia memilih
jalan yang berbeda dari kapitalisme liberal. Bahwa kekayaan bumi ini bukan
milik siapa yang punya modal paling tebal, melainkan milik seluruh rakyat
yang dikelola oleh negara. Di situlah ruh
kemerdekaan kita. Dan ruh itulah yang hari
ini sedang diserang. Bukan oleh tentara asing. Bukan oleh kapal perang. Tapi
oleh sesuatu yang jauh lebih halus dan jauh lebih berbahaya: narasi. Selama puluhan tahun, ada
paradigma yang terus dipompa masuk ke dalam cara berpikir bangsa ini. Negara harus mengecil.
Subsidi harus dipangkas. BUMN harus diprivatisasi. Pasar harus dibebaskan.
Efisiensi adalah segalanya. Belanja sosial adalah pemborosan. Paradigma ini terdengar
ilmiah. Terdengar modern. Terdengar masuk akal. Tapi di baliknya ada
keyakinan yang sangat jelas: pasar lebih penting dari negara. Modal lebih
penting dari rakyat. Inilah yang sejak lama
dipromosikan oleh lembaga-lembaga keuangan global, media ekonomi
internasional, dan jaringan pemikir neoliberal di seluruh dunia. Mereka
menyebutnya reformasi. Mereka menyebutnya tata kelola yang baik. Mereka
menyebutnya modernisasi. Padahal hasilnya selalu
sama: negara melemah, rakyat kehilangan perlindungan, kekayaan makin
terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Krisis 1998 adalah momen
paling brutal bagaimana paradigma itu dipaksakan masuk ke tubuh Indonesia.
Privatisasi besar-besaran. Negara disuruh mundur. Pasal 33 masih ada di
konstitusi — tapi rohnya dikubur pelan-pelan selama seperempat abad. Nah, sekarang kembali ke
aksi 12 Juni 26 Ketika saya membaca
tuntutan nomor tiga — menghentikan program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi
Desa Merah Putih — saya berhenti lama. Bukan karena program itu
tidak boleh dikritik. Harus dikritik. Harus diawasi ketat. Kalau ada korupsi,
tangkap. Kalau ada kebocoran, sumbat. Kalau salah sasaran, perbaiki. Tapi ada perbedaan besar
antara memperbaiki dan menghentikan. Antara koreksi dan
pembatalan. Antara kritik dari dalam
dan peluru dari luar. Dan tanpa sadar, dengan
tuntutan penghentian itu, mahasiswa kita sedang menyuarakan argumen yang
persis sama dengan yang selama ini dipakai IMF untuk menekan negara-negara
berkembang memotong subsidi. Persis sama dengan mazhab Washington Consensus
yang sejak 1990-an sudah menghancurkan jaring pengaman sosial di banyak
negara atas nama disiplin fiskal. Ini bukan kebetulan
narasinya mirip. Ini narasi yang sama.
Yang sudah merasuk. Yang menyusup lewat media, lewat diskusi kampus, lewat
konten yang dikonsumsi setiap hari. Dan yang kini — tanpa satu pun dari
mereka menyadarinya — sudah menjadi bahasa perjuangan mahasiswa Indonesia. Itulah cara kapitalisme
bekerja. Tidak butuh propaganda kasar. Cukup bentuk cara berpikir. Perlahan.
Tanpa terasa. Sampai anak-anak yang idealis pun berbicara dengan bahasa sang
penjajah — dan mengira itu suara nurani mereka sendiri. Yang paling menyedihkan:
mahasiswa kita tidak melihat siapa musuh sesungguhnya. Mereka melihat harga
pangan naik — tapi tidak melihat siapa yang mengendalikan rantai distribusi
pangan selama puluhan tahun. Mereka melihat rupiah melemah — tapi tidak
melihat bagaimana pasar keuangan global bisa menekan negara berkembang kapan
pun mereka mau. Mereka melihat APBN — tapi tidak melihat berapa triliun
kekayaan alam Indonesia yang selama puluhan tahun mengalir ke kantong
segelintir korporasi, dalam dan luar negeri. Mereka melihat pohonnya.
Tapi tidak melihat hutannya. Dan di sana, jauh di
balik meja — bukan di depan Istana — sang pemain sesungguhnya duduk tenang.
Ia tidak perlu turun ke jalan. Tidak perlu berteriak. Cukup tulis narasi.
Cukup bentuk tuntutan. Dan biarkan mahasiswa yang berani dan idealis itu
berteriak keras — dengan suara mereka sendiri, untuk kepentingan yang bukan
milik mereka. Saya tidak menyalahkan
mahasiswa. Sebagai aktivis 98, saya
tahu persis bagaimana semangat itu bekerja. Bagaimana dada bisa terbakar.
Bagaimana kaki bisa melangkah jauh melebihi batas kelelahan. Tapi saya juga belajar
satu hal keras dari pengalaman: semangat tanpa kompas ideologi bisa dibajak
kapan saja. Kapal sebesar apa pun
akan tersesat tanpa kompas. Gerakan sebesar apa pun bisa diarahkan ke tujuan
yang salah — bahkan oleh kekuatan yang tidak pernah terlihat wajahnya. Mungkin kesalahan
terbesar justru ada pada generasi kami. Kami terlalu sibuk mengajarkan cara
berdemo yang benar, tapi lupa mengajarkan mengapa harus berdemo. Kami
mengajarkan keberanian melawan kekuasaan, tapi lupa menjelaskan bahwa tidak
semua kekuasaan berdiri di Istana. Sebagian justru duduk di pusat-pusat
keuangan dunia — di tempat yang tidak pernah ada dalam peta aksi mahasiswa
manapun. Maka kepada adik-adik
yang kemarin turun ke jalan, saya titip satu pertanyaan saja. Sebelum meneriakkan
sebuah tuntutan, tanyakan dulu: siapa yang paling diuntungkan oleh tuntutan
itu? Rakyat? Atau mereka yang
sejak lama ingin melihat negara mundur dan menyerahkan semuanya kepada pasar? Karena perang yang
sesungguhnya hari ini bukan perang fisik. Ini perang untuk mengendalikan cara
berpikir. Perang untuk menentukan siapa yang berhak atas kekayaan Indonesia. Dan dalam perang
paradigma seperti ini, ketidaktahuan adalah senjata paling berbahaya. Bukan mahasiswa yang
salah tuntutan yang perlu kita cemaskan. Yang perlu kita cemaskan
adalah mahasiswa yang tidak tahu bahwa dirinya sedang berdiri di medan perang
ideologi — dan tidak sadar sedang berpihak kepada siapa. ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/GLV8KtaMwT/agus-m-maksum-mereka-lupa-perang-yang-sesungguhnya |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar