Catatan
dari London (1)
|
TEKANAN HIDUP MASYARAKAT YANG MENJATUHKAN PERDANA MENTERI Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
ORBITINDONESIA.COM, 22 Juli 2026
|
Bayangkan
suatu pagi di sebuah supermarket di London. Seorang
perempuan paruh baya berdiri cukup lama di depan rak susu. Ia membandingkan
harga tiga kotak susu, menghitung uang dalam dompetnya, lalu meletakkan
kembali dua di antaranya. Di
tangannya tergenggam daftar belanja yang telah dicoret berkali-kali. Ia
menatap kotak susu yang tersisa, kemudian memandang foto dua anak kecil pada
layar teleponnya. Barangkali malam nanti ia harus kembali mengatakan bahwa
sarapan akan dibuat lebih sederhana. Bukan
karena ia tidak bekerja keras, melainkan karena kerja keras kini semakin
sering kalah oleh angka-angka yang terus naik. Di
luar toko, seorang pria berjas tidur meringkuk di bangku taman. Jas itu masih
cukup rapi, seolah menyimpan jejak kehidupan yang pernah normal. Di bawah
kepalanya terlipat sebuah map lamaran kerja. Beberapa
meter dari sana, bus kota mengantar para pegawai menuju distrik keuangan,
tempat miliaran pound berpindah tangan sebelum makan siang. Nasib
mereka hanya dipisahkan beberapa langkah. Namun dalam kehidupan modern, satu
kehilangan pekerjaan, satu tagihan yang tak terbayar, atau satu musim dingin
yang terlalu panjang dapat mengubah jarak itu menjadi jurang. Perempuan
itu mungkin tidak pernah mengenal Keir Starmer, Perdana Menteri UK saat itu.
Pria berjas itu mungkin tidak pernah mengikuti perdebatan di parlemen. Namun
kehidupan orang-orang seperti merekalah yang pada akhirnya menentukan apakah
seorang pemimpin masih dipercaya atau harus meninggalkan kekuasaan. -000- Pada 20 Juli 2026, Andy
Burnham memasuki Downing Street sebagai Perdana Menteri Britania Raya yang
baru. Ia menggantikan Keir Starmer setelah kepemimpinan Starmer kehilangan
dukungan politik di tengah memburuknya kepercayaan publik. Pergantian itu bukan
sekadar pergantian orang di puncak kekuasaan. Ia menandai berakhirnya sebuah
periode ketika semakin banyak warga merasa negara tidak lagi sanggup
meringankan beban hidup mereka. Yang
menjatuhkan Starmer bukanlah satu kesalahan fatal. Yang terjadi lebih
menyerupai kematian politik karena seribu luka kecil. Setiap luka mungkin
masih dapat ditoleransi, tetapi akumulasinya membuat pemerintahan kehilangan
daya hidup. Tekanan
biaya hidup menggerus rasa aman keluarga. Tunawisma memperlihatkan rapuhnya
perlindungan sosial. Migrasi yang tidak tertata memunculkan kembali pertanyaan
mengenai perbatasan, identitas, dan kemampuan negara mengelola perubahan. Tidak
satu pun persoalan itu cukup besar untuk menjatuhkan seorang Perdana Menteri.
Namun ketika semuanya datang bersamaan, kepercayaan publik perlahan
menghilang. Demokrasi
modern tidak selalu mengganti pemimpin karena skandal besar. Lebih sering
seorang pemimpin jatuh ketika rakyat berhenti percaya bahwa hari esok akan
lebih ringan daripada hari ini. -000- Masalah pertama adalah tekanan biaya hidup. Secara
statistik, ekonomi Inggris tidak mengalami keruntuhan. Namun statistik
nasional tidak selalu mampu menjelaskan kecemasan yang muncul ketika sebuah
keluarga membuka rekening bank pada akhir bulan. Pada
tahun fiskal yang berakhir Maret 2025, rata-rata pengeluaran rumah tangga
Inggris mencapai £676,60 per minggu. Jumlah itu meningkat sekitar 9 persen
secara nominal dibandingkan tahun sebelumnya. Di
balik angka tersebut terdapat jutaan keputusan kecil yang tidak pernah masuk
ke dalam pidato politik. Sebuah keluarga mengurangi penggunaan pemanas rumah,
membatalkan makan malam di luar, menunda pemeriksaan gigi, atau mengatakan
kepada anaknya bahwa tahun ini mereka tidak dapat berlibur. Bayangkan
sebuah keluarga komposit yang kita sebut keluarga David. Kisah ini bukan
mengenai satu orang tertentu, melainkan rangkuman pengalaman banyak keluarga
pekerja Inggris. David
berusia empat puluh dua tahun dan bekerja sebagai teknisi. Istrinya seorang
perawat. Mereka memiliki dua anak yang masih bersekolah. Lima
tahun lalu mereka masih dapat menabung setiap bulan, membawa anak-anak
berlibur pada musim panas, dan sesekali menikmati makan malam bersama
keluarga. Kini
tagihan listrik meningkat. Harga pangan naik. Ongkos transportasi bertambah.
Cicilan rumah ikut membengkak karena suku bunga yang lebih tinggi. Pada
akhir bulan mereka tidak lagi membicarakan rencana membeli mobil baru. Yang
mereka perbincangkan adalah apakah anak mereka masih dapat mengikuti kursus
musik tanpa mengurangi anggaran belanja. Mereka
masih bekerja. Mereka masih memiliki rumah. Namun hidup berubah menjadi
serangkaian kalkulasi yang perlahan menggerogoti rasa aman. Kemiskinan
tidak selalu berarti tidak memiliki apa-apa. Dalam masyarakat modern,
kemiskinan juga dapat berarti hilangnya keyakinan bahwa satu musibah tidak
akan menghancurkan seluruh kehidupan. Inilah
yang sering disebut para ekonom sebagai cost of living crisis. Yang terancam
bukan hanya daya beli, melainkan rasa aman psikologis. Ketika
keluarga terus-menerus hidup dalam kecemasan mengenai tagihan bulan depan,
tekanan ekonomi perlahan berubah menjadi tekanan politik. Politik
pada akhirnya tidak diukur oleh pertumbuhan produk domestik bruto. Politik
diukur oleh apakah rakyat masih merasa masa depan mereka dapat direncanakan. -000- Masalah kedua adalah meningkatnya tunawisma. Di
sekitar stasiun kereta, taman kota, lorong pertokoan, dan sudut-sudut pusat
London, semakin mudah menemukan orang yang tidur beralaskan kantong tidur
tipis. Mereka tidak semuanya pecandu narkoba. Tidak semuanya penganggur
kronis. Tidak pula semuanya memilih hidup di jalan. Pada
akhir 2025 terdapat 134.210 rumah tangga di Inggris yang tinggal dalam hunian
sementara. Di dalamnya terdapat sekitar 85.800 rumah tangga yang memiliki
anak. Potret
resmi pada musim gugur tahun yang sama juga menunjukkan bahwa hampir separuh
orang yang tidur di jalan ditemukan di London dan wilayah South East. Namun
angka-angka itu belum sepenuhnya menggambarkan kenyataan. Tunawisma bukan
hanya mereka yang tidur di trotoar. Di balik statistik terdapat keluarga yang
berpindah dari hotel ke hotel murah, anak-anak yang tumbuh di hunian
sementara, perempuan korban kekerasan rumah tangga, hingga orang dewasa yang
berpindah dari satu sofa ke sofa lain karena tidak lagi memiliki rumah. Bayangkan
seorang tokoh komposit bernama James. Ia
kehilangan pekerjaan ketika perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.
Tabungannya habis dalam beberapa bulan. Bantuan sosial datang terlalu lambat
untuk menutup biaya sewa. Ia
menjual mobilnya agar dapat bertahan sedikit lebih lama. Ketika uang itu
habis, ia kehilangan kamar yang disewanya. Pada
siang hari James tetap mengenakan jas. Ia duduk di perpustakaan umum,
mengirim lamaran pekerjaan, dan berusaha mempertahankan martabatnya. Pada
malam hari ia kembali ke jalan. Jas yang sama ia lipat menjadi bantal agar
tidak terlalu kotor. Begitulah
seseorang dapat berpindah dari kelas pekerja menjadi penghuni jalan hanya
dalam hitungan bulan. Kejatuhan
itu sering bukan akibat satu kesalahan besar, melainkan pertemuan antara
kehilangan pekerjaan, mahalnya biaya sewa, utang, gangguan kesehatan mental,
dan perlindungan sosial yang datang terlambat. Tunawisma
bukan hanya kegagalan individu mengatur hidupnya. Ia juga memperlihatkan
rapuhnya pasar perumahan, perlindungan sosial, pelayanan kesehatan, dan
kemampuan negara menangkap seseorang sebelum ia jatuh terlalu dalam. Ketika
semakin banyak warga kehilangan tempat tinggal, yang sedang dipertaruhkan
bukan hanya atap sebuah rumah. Yang
ikut terancam adalah keyakinan masyarakat bahwa negara masih sanggup
melindungi mereka pada saat paling rentan. -000- Masalah ketiga adalah migrasi. Setiap
beberapa minggu, berita mengenai perahu-perahu kecil yang menyeberangi Selat
Inggris kembali memenuhi halaman depan media. Gambarnya hampir selalu sama,
tetapi emosi yang ditimbulkannya semakin besar. Dalam
setahun hingga Maret 2026, sekitar 39.000 orang tiba di Inggris melalui
perahu kecil. Sebagian besar berasal dari Afghanistan, Eritrea, Sudan, Iran,
Somalia, dan negara-negara lain yang dilanda perang, represi, atau keruntuhan
ekonomi. Di
satu sisi terdapat manusia yang melarikan diri dari ketakutan. Mereka membawa
anak-anak, kenangan, trauma, dan harapan akan kehidupan yang lebih aman. Di
sisi lain terdapat warga Inggris yang bertanya apakah sekolah, rumah sakit,
perumahan, dan lapangan kerja masih mampu menanggung tambahan beban. Perdebatan
itu menjadi sangat emosional karena mempertemukan dua nilai yang sama-sama
sah. Yang
pertama adalah kewajiban moral untuk melindungi manusia yang melarikan diri
dari bahaya. Yang
kedua adalah kewajiban negara menjaga perbatasan serta memastikan pelayanan
publik tetap dapat berfungsi bagi seluruh warga. Persoalan
utamanya bukan semata-mata jumlah pendatang. Yang lebih meresahkan adalah
proses migrasi yang dianggap tidak tertata, pemeriksaan suaka yang berjalan
terlalu lambat, serta ketidakmampuan pemerintah menjelaskan kepada publik
bagaimana keadaan akan dikendalikan. Ketika
negara gagal mempertemukan kemanusiaan dengan ketertiban, ruang kosong itu
segera diisi oleh ketakutan. Dan
ketika ketakutan mengambil alih, migrasi berubah dari persoalan administrasi
menjadi persoalan identitas nasional. -000- Dalam suasana seperti itulah Reform UK memperoleh
momentum. Partai
yang dipimpin Nigel Farage itu menjadikan pengendalian imigrasi, pengurangan
pajak, serta penolakan terhadap berbagai kebijakan elite Westminster sebagai
pesan utamanya. Pesan
tersebut sederhana, mudah dipahami, dan langsung menyentuh kecemasan
sehari-hari masyarakat. Sejak
2025 Reform berulang kali memimpin berbagai jajak pendapat nasional dan
berhasil menarik sebagian pemilih kelas pekerja yang sebelumnya mendukung
Partai Buruh. Gelombang
itu semakin terasa pada berbagai pemilihan lokal sepanjang 2026. Partai Buruh
mulai kehilangan keyakinan bahwa Keir Starmer masih mampu membalikkan
keadaan. Di
tengah situasi itulah nama Andy Burnham semakin sering disebut sebagai sosok
yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Puncaknya,
Juni 2026, Burnham memenangkan by-election Makerfield dengan mengalahkan
kandidat Reform UK, partai yang menurut data Home Office memanfaatkan
lonjakan 39.000 kedatangan perahu kecil sebagai amunisi elektoralnya. Pergantian
kepemimpinan akhirnya bukan sekadar pilihan politik. Ia menjadi upaya Partai
Buruh memulihkan kembali kepercayaan publik yang mulai menghilang. -000- Mengapa keresahan masyarakat berkembang
sedemikian besar? Penyebab pertama adalah
pertumbuhan ekonomi yang terlalu lemah untuk mengejar akumulasi kenaikan
biaya hidup. Inggris
menghadapi rangkaian guncangan yang datang hampir tanpa jeda. Brexit
meningkatkan hambatan perdagangan. Pandemi Covid-19 melumpuhkan aktivitas
ekonomi. Perang Ukraina mendorong harga energi. Kenaikan suku bunga
memperbesar cicilan rumah dan biaya pinjaman. Sebagian
indikator ekonomi memang mulai membaik pada akhir 2025. Namun bagi banyak
keluarga, perbaikan itu belum mampu menghapus tekanan yang telah menumpuk
selama beberapa tahun. Dalam
survei Office for National Statistics pada Mei 2026, sekitar tujuh dari
sepuluh warga dewasa menyatakan pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhan
dasar. Artinya, hampir sepertiga lainnya belum memiliki keyakinan yang sama. Yang
berubah bukan hanya isi dompet. Yang berubah adalah kontrak psikologis antara
negara dan warganya. Selama
puluhan tahun masyarakat percaya bahwa bekerja keras, menaati aturan, dan
membayar pajak akan membawa kehidupan yang lebih baik. Ketika
keyakinan itu mulai retak, yang melemah bukan hanya ekonomi, tetapi juga
legitimasi politik. -000- Penyebab kedua adalah
krisis perumahan yang berlangsung selama puluhan tahun. Pembangunan
rumah baru tidak mampu mengejar pertumbuhan permintaan, terutama di kota-kota
besar. Rumah sosial terbatas. Harga tanah terus meningkat. Proses perizinan
lambat. Kepemilikan properti semakin terkonsentrasi pada mereka yang telah
lebih dahulu memiliki aset. Akibatnya,
banyak keluarga muda tetap menyewa rumah meskipun telah bekerja penuh waktu. Bagi
mereka, rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal. Rumah berubah menjadi simbol
masa depan yang semakin sulit dijangkau. Ketika
sebagian besar pendapatan habis untuk membayar sewa, satu musibah saja dapat
mengubah kehidupan seseorang secara drastis. Kehilangan
pekerjaan. Perceraian. Sakit
berkepanjangan. Atau keterlambatan bantuan sosial. Semuanya
dapat menjadi pintu menuju tunawisma. Perumahan
bukan hanya persoalan bangunan. Ia merupakan fondasi stabilitas keluarga,
kesehatan mental, pendidikan anak, dan rasa memiliki terhadap masyarakat. -000- Penyebab ketiga adalah
kegagalan sistem politik membangun konsensus mengenai migrasi. Pemerintah
menghadapi tuntutan yang tampak saling bertentangan. Dunia
usaha membutuhkan tenaga kerja. Masyarakat menghendaki pengendalian
perbatasan. Kelompok
kemanusiaan meminta perlindungan bagi pengungsi. Sementara
hukum nasional dan internasional mewajibkan negara memberikan proses yang
adil bagi setiap pencari suaka. Dalam
situasi seperti itu, setiap keputusan mengandung risiko politik. Jika negara
dianggap terlalu lunak, pemerintah dituduh kehilangan kendali. Jika
terlalu keras, pemerintah dituduh kehilangan kemanusiaan. Padahal
persoalan ini tidak dapat diselesaikan dengan slogan. Yang
dibutuhkan adalah sistem yang cepat, tegas, transparan, dan tetap menghormati
martabat manusia. Ketika
negara gagal menghadirkan keseimbangan itu, setiap kapal yang tiba bukan lagi
sekadar membawa manusia. Ia
membawa pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Masih mampukah negara
mengendalikan perubahan yang sedang terjadi? -000- Saya tiba di London tepat
ketika Andy Burnham memasuki Downing Street sebagai Perdana Menteri baru. Kebetulan
itu terasa simbolis. Di balik ritme bus tingkat, kereta bawah tanah,
restoran, museum, dan taman-taman kota yang tetap ramai, Inggris sedang
memasuki babak politik yang baru. Karena
dua anak saya menempuh pendidikan di London, saya cukup sering berkunjung ke
kota ini. Saya
mengenal London bukan hanya melalui gedung parlemen, universitas, atau
Buckingham Palace. Saya
mengenalnya melalui kasir supermarket, sopir taksi, pelayan restoran,
penumpang kereta bawah tanah, dan orang-orang yang duduk sendirian di bangku
taman. Dalam
perjalanan dari pusat kota menuju tempat anak saya tinggal, saya berbincang
dengan seorang sopir taksi. Ia
bercerita tentang tagihan listrik yang terus meningkat dan harga sewa
apartemen anak perempuannya yang semakin sulit dijangkau. Namun
beberapa menit kemudian ia juga berkata bahwa rumah sakit tempat istrinya
bekerja tidak mungkin berjalan tanpa banyak tenaga kesehatan yang berasal
dari luar negeri. Saya
bertanya bagaimana pandangannya mengenai imigrasi. Ia
tersenyum kecil. “Saya ingin perbatasan yang tertib,” katanya, “tetapi saya
juga tidak ingin negeri ini kehilangan rasa kemanusiaannya.” Jawaban
itu sederhana. Namun justru karena sederhana, ia terasa sangat jujur.
Percakapan singkat itu mengingatkan saya bahwa masyarakat biasa sering
memiliki pandangan yang jauh lebih rumit daripada slogan politik. Mereka
dapat merasa cemas terhadap migrasi, sekaligus menghargai para migran yang
merawat orang tua mereka di rumah sakit. Mereka
dapat mengeluhkan pajak yang tinggi, tetapi tetap menginginkan pelayanan
publik yang baik. Mereka
dapat kecewa kepada pemerintah, tanpa kehilangan harapan kepada negaranya. Di
situlah saya menyadari sesuatu. Ketika
ilmuwan politik berbicara mengenai legitimasi, rakyat sebenarnya sedang
berbicara mengenai dapur mereka. Ketika
ekonom memperdebatkan produktivitas, seorang ibu sedang menghitung isi
keranjang belanjanya. Ketika
politisi berbicara mengenai strategi nasional, seorang tunawisma hanya
berharap malam itu tidak turun hujan. Demokrasi
pada akhirnya tidak diuji di ruang sidang parlemen. Ia diuji dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat biasa. -000- Dua
buku sangat membantu memahami fenomena ini. Buku pertama adalah The
Spirit Level: Why More Equal Societies Almost Always Do Better karya
Richard Wilkinson dan Kate Pickett, diterbitkan Allen Lane pada 2009. Wilkinson
dan Pickett menunjukkan bahwa kualitas sebuah masyarakat tidak hanya
ditentukan oleh besarnya kekayaan nasional, tetapi juga oleh bagaimana
kekayaan, kesempatan, dan rasa aman didistribusikan. Melalui
perbandingan berbagai negara maju, mereka menemukan bahwa masyarakat dengan
ketimpangan yang lebih rendah cenderung memiliki tingkat kepercayaan sosial
yang lebih tinggi, kesehatan yang lebih baik, serta konflik sosial yang lebih
rendah. Pesan
utama buku ini sederhana tetapi mendalam. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis
menghadirkan ketenangan hidup. Sebuah
negara dapat semakin kaya, tetapi warganya tetap merasa semakin rapuh apabila
biaya rumah, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari bergerak lebih
cepat daripada harapan mereka. Dalam
konteks Inggris, buku ini membantu menjelaskan mengapa indikator makroekonomi
yang mulai membaik belum tentu mengembalikan rasa percaya masyarakat. Kemajuan
ekonomi baru memiliki arti apabila ia juga menghadirkan rasa aman. -000- Buku kedua adalah The
Road to Somewhere: The Populist Revolt and the Future of Politics karya
David Goodhart, diterbitkan Hurst Publishers pada 2017. Goodhart
membedakan masyarakat modern ke dalam dua kecenderungan besar. Kelompok
pertama adalah Anywheres: mereka yang berpendidikan tinggi, kosmopolitan, dan
relatif mudah berpindah mengikuti peluang. Kelompok
kedua adalah Somewheres: mereka yang lebih kuat terikat pada komunitas lokal,
tradisi, dan identitas tempat mereka dibesarkan. Pembagian
ini tentu bukan batas yang mutlak. Namun kerangka tersebut membantu
menjelaskan mengapa globalisasi dan migrasi dipandang sebagai peluang oleh
sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai kehilangan kendali oleh sebagian
lainnya. Banyak
warga sebenarnya bukan menolak pendatang. Mereka hanya merasa perubahan
berlangsung terlalu cepat, sementara suara komunitas lokal semakin jarang
didengar. Dalam
konteks Inggris, buku Goodhart menjelaskan mengapa bahasa teknokratis
pemerintah sering gagal menjawab kegelisahan masyarakat. Yang
dipersoalkan rakyat bukan hanya angka migrasi. Yang mereka pertanyakan adalah
apakah negara masih mampu mengelola perubahan tanpa kehilangan identitas dan
kohesi sosial. -000- Namun analisis yang adil
juga harus memberi ruang bagi pandangan yang berbeda. Tidak seluruh kesulitan
Inggris dapat dibebankan kepada Keir Starmer. Krisis
energi, dampak Brexit, pandemi Covid-19, perang Ukraina, kekurangan rumah,
tekanan terhadap National Health Service, dan meningkatnya arus migrasi
merupakan persoalan yang telah berkembang selama bertahun-tahun, bahkan
melintasi beberapa pemerintahan. Sebagian
indikator ekonomi juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Inflasi telah jauh
menurun dibandingkan puncak krisis energi. Pendapatan
riil rumah tangga mulai meningkat pada akhir 2025. Jumlah
migran yang tiba melalui perahu kecil pun masih lebih rendah dibandingkan
rekor pada 2022. Karena
itu, pengunduran diri Starmer tidak dapat dipahami sebagai bukti bahwa
seluruh kebijakannya gagal. Politik
sering kali menghukum seorang pemimpin sebelum hasil reformasi jangka panjang
sempat terlihat. Namun
demokrasi memiliki logikanya sendiri. Seorang Perdana Menteri memang tidak
menciptakan semua krisis. Tetapi
ia tetap dimintai pertanggungjawaban atas kecepatan respons, kejelasan arah,
kualitas pelaksanaan, dan kemampuannya membangun kembali harapan masyarakat. Dalam
krisis biaya hidup, rakyat ingin melihat perlindungan bagi kelompok paling
rentan sekaligus strategi yang mampu meningkatkan produktivitas ekonomi. Dalam
krisis perumahan, mereka mengharapkan pembangunan rumah yang lebih cepat,
perlindungan bagi penyewa, serta sistem yang mampu mencegah seseorang jatuh
ke jalanan. Dalam
persoalan migrasi, mereka menginginkan sesuatu yang tampaknya sederhana
tetapi sesungguhnya sangat sulit diwujudkan: negara yang tetap manusiawi
tanpa kehilangan kendali atas perbatasannya. Pada
akhirnya, rakyat tidak menuntut pemerintah mampu menghilangkan seluruh
kesulitan. Mereka hanya ingin percaya bahwa kesulitan itu sedang diarahkan
menuju penyelesaian. Di
sinilah Starmer kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada suara di
parlemen. Ia kehilangan narasi. Ketika hasil belum terasa dan arah tidak lagi
dipercaya, kelemahan sosial berubah menjadi kerentanan elektoral. Kerentanan
elektoral berkembang menjadi pemberontakan internal. Dan
pemberontakan internal akhirnya mengakhiri kepemimpinan. -000- Pergantian
dari Keir Starmer kepada Andy Burnham bukan semata pergantian seorang Perdana
Menteri. Ia
mencerminkan usaha Partai Buruh memulihkan kembali hubungan antara negara dan
kehidupan sehari-hari masyarakat. Burnham
tidak datang membawa mukjizat. Ia datang membawa beban harapan. Harapan agar
rumah kembali terjangkau. Harapan agar tagihan hidup tidak lagi mengalahkan
kerja keras. Harapan agar jalanan kota tidak menjadi kamar tidur bagi mereka
yang kehilangan pekerjaan. Harapan
agar Inggris mampu menjaga perbatasannya tanpa kehilangan kemanusiaannya. Apakah
harapan itu akan menjadi kenyataan? Sejarah belum memberikan jawabannya.
Namun sejarah selalu mengajarkan satu hal. Legitimasi
politik tidak dibangun terutama melalui pidato, manifesto, atau kemenangan
pemilu. Ia dibangun setiap kali seorang ibu mampu membeli susu tanpa harus
mengembalikannya ke rak. Ia
dibangun setiap kali seorang pekerja percaya bahwa kehilangan pekerjaan tidak
akan membuatnya tidur di jalan. Ia
dibangun setiap kali sebuah negara mampu menolong orang asing tanpa
kehilangan kemampuan menjaga rumahnya sendiri. Harapan
memang bukan pengganti kebijakan. Namun harapan adalah alasan mengapa rakyat
bersedia memberi waktu kepada kebijakan untuk bekerja. Pada
akhirnya, sebuah bangsa tidak mulai runtuh ketika ekonominya melambat. Sebuah
bangsa mulai runtuh ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa kerja keras
masih memiliki masa depan. ● REFERENSI 1. Wilkinson, Richard & Pickett, Kate. The
Spirit Level: Why More Equal Societies Almost Always Do Better. Allen Lane,
2009. 2. Goodhart, David. The Road to Somewhere: The
Populist Revolt and the Future of Politics. Hurst Publishers, 2017. Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/445GTRKc5k/denny-ja-tekanan-hidup-masyarakat-yang-menjatuhkan-perdana-menteri
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar