|
Jepara Ayu Utami : Bekerja di dunia sastra sebagai penulis,
kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas
Salihara |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
·
Kota-kota di Indonesia tumbuh sebelum
wilayah Nusantara ini menjadi Indonesia. ·
Kini kota-kota itu ditabalkan sebagai
bagian dari Indonesia, beserta identitas yang membentuknya. · Jepara, yang
lebih tua dari Indonesia, pun dilekatkan sebagai bagian dari republik ini. MUNGKINKAH sejarah lokal
terbentuk tanpa sejarah nasional? Di teater
Museum Nasional, sang sejarawan mengajukan tantangan: beranikah kita mengatakan bahwa Jepara lebih penting dari
Indonesia? Pertanyaan
ini, di masa lalu, bisa dituduh separatis. Jepara bisa diganti apa pun: Aceh,
Papua, Timor, Bali, Pontianak, Ujung Pandang (kini Makassar), Merauke.
Kehendak mendahulukan “daerah” bisa dianggap bertentangan dengan gagasan
persatuan dan kesatuan. Dulu, di zaman Soeharto, hal itu berbahaya. Kini,
setidaknya, hal itu masih bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang aneh. Sebab,
haruskah kita membandingkan yang “nasional” dengan yang “daerah”? Pertanyaan
itu diajukan oleh sejarawan Arif Akhyat dalam peluncuran buku di tengah
pameran “Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara”, suatu perhelatan yang menawarkan
rekonstruksi citra Jepara melalui karya seni ukir (pameran berlangsung sejak
April hingga awal Agustus). Tapi pertanyaan itu juga sepenuhnya sah. Jika
membaca buku yang ia tulis bersama tim, dengan judul yang sama dengan tajuk
pameran, kita boleh menyadari sesuatu yang benar tapi aneh, bahwa Jepara jauh
lebih tua daripada Indonesia. Begitu juga kebanyakan kota di Indonesia.
Bagaimana mungkin sekarang kita menyadarinya sebagai bagian dari Indonesia,
seolah-olah Indonesia lebih utama dari kota-kota itu? Bagaimana mungkin kita sekarang
berkata: Jepara adalah sebuah kota di Indonesia? Jepara
dan Kartini adalah sebuah contoh. Jepara—dalam keindonesiaan yang dibentuk
oleh pendidikan dan ekonomi—dikenal berkat Kartini dan seni ukirnya. Orang
sering tak tahu bahwa Kartini dan ukiran Jepara punya hubungan mesra. Di salah
satu bangsal pameran itu, surat Kartini dari tanggal 5 Maret 1902 dicetak di
atas lembaran kanvas panjang yang digantung melengkung. Di sekitarnya
terpacak beberapa mebel ukir bersejarah dari rumah Kartini sendiri. Surat itu
menjadi saksi betapa Kartini terlibat dalam seni ukir Jepara. Seorang
gadis muda yang cerdas dan antusias, ia bercerita kepada Nyonya Abendanon
tentang kotak kayu bertatah, pilar dan sokoguru, jati dan sonokeling, cendana
dan rasamala, beragam motif ukir, termasuk wayang; tentang orang-orang di
Jepara, anak-anak bertelanjang dada yang berbakat menggambar dan memahat.
Orang-orang desa yang gampang takut kualat jika menatah motif ukir yang
mereka anggap bertuah; tentang gairah Kartini sendiri untuk memperkenalkan
kebudayaan Jepara ke Eropa, melalui pameran, tulisan, dan fotografi. Hari ini
mungkin kita bisa bilang, tanpa Kartini, Jepara kehilangan wajah
intelektualnya di mata Indonesia. Tapi kita juga bisa bilang, tanpa sosok
Tuan dan Nyonya Abendanon, pemikiran Kartini lenyap dari sejarah. Tanpa
disiplin pengarsipan seperti yang ada di Belanda, kita tahu, surat-surat yang
diterima Kartini hilang dimakan iklim. Orang
boleh mengecam kerja Abendanon, yang pertama menyeleksi dan menerbitkan
surat-surat Kartini dengan bias kolonial. Tapi, tanpa penerbitan pertama itu,
tidak terjadi penggalian lanjutan, misalnya yang dilakukan Joost Cote atau
Wardiman Djojonegoro. Tanpa peran Van Deventer, seorang tokoh politik etis,
mungkin nama Kartini tidak semerbak untuk dipetik oleh Wage Rudolf Supratman
dan Sukarno. Kerja
bersama para administrator, akademikus, seniman, pendiri dan pembangun
bangsa—masing-masing dengan kepentingan dan keterbatasan—telah mengusung
warisan Kartini hingga hari ini; sehingga Kartini menyediakan lebih banyak
artefak ketimbang Ratu Kalinyamat (abad ke-16) ataupun Ratu Sima (abad ke-7),
yang juga dari wilayah Jepara. Sekaligus, Kartini bisa membuka pintu bagi
penggalian artefak dua tokoh perempuan itu. Kita bisa melihat Jepara
setidaknya memiliki tiga tokoh perempuan dari tiga zaman, yang maknanya masih
harus direkonstruksi. Kartini
tumbuh dalam dunia Jepara yang telah ada lebih dulu. Buku Arif Akhyat dkk
menggambarkan hal itu. Suatu bentangan alam yang pada masa itu dipenuhi hutan
jati. Anak-anak tumbuh dengan keterampilan mengolah kayu. Ekonomi, dari masa
Ratu Sima hingga Kartini, berkembang sehubungan dengan komoditas kayu yang
terkenal hingga ke negeri-negeri jauh. Apa yang
bisa kita lihat? Jepara—juga banyak kota lain—kini memang seolah-olah menjadi
bagian Indonesia. Tapi ia lebih tua dari Indonesia. Lebih tua dari penjajahan
yang menyebabkan kelahiran Indonesia. Identitasnya adalah—meminjam filsafat
Buddhis—pada proses sebab-akibat yang saling terkait dan tergantung. (Bahkan
Kartini menyebut dirinya anak Buddha dalam surat tanggal 27 Oktober 1902.) Suatu
identitas yang kita lihat sekarang adalah sesuatu yang berkait-berkelindan
antara yang personal dan yang publik, yang lokal dan nasional, yang regional
dan yang internasional, dari motif-motif egois ataupun altruis, tak sadar
ataupun sadar, yang tak bisa dipisahkan. Tapi, meminjam filsafat Buddhis
sekali lagi, kita bisa mengambil jarak untuk menyadari ketergantungan segala
sebab-akibat itu. Pameran
“Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara” menyediakan momen itu. Setelah itu, kita
keluar dari museum, kembali pada keterlibatan dengan dunia, memutuskan apa
yang bisa kita lakukan dalam keadaan konkret kita sekarang. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/kota-kota-indonesia-lebih-tua-2276618
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar