Rabu, 22 Juli 2026

 

Jepara

Ayu Utami :  Bekerja di dunia sastra sebagai penulis, kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas Salihara

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Kota-kota di Indonesia tumbuh sebelum wilayah Nusantara ini menjadi Indonesia.

 

·      Kini kota-kota itu ditabalkan sebagai bagian dari Indonesia, beserta identitas yang membentuknya.

 

·      Jepara, yang lebih tua dari Indonesia, pun dilekatkan sebagai bagian dari republik ini.

 

MUNGKINKAH sejarah lokal terbentuk tanpa sejarah nasional?

 

Di teater Museum Nasional, sang sejarawan mengajukan tantangan: beranikah kita mengatakan bahwa Jepara lebih penting dari Indonesia?

 

Pertanyaan ini, di masa lalu, bisa dituduh separatis. Jepara bisa diganti apa pun: Aceh, Papua, Timor, Bali, Pontianak, Ujung Pandang (kini Makassar), Merauke. Kehendak mendahulukan “daerah” bisa dianggap bertentangan dengan gagasan persatuan dan kesatuan. Dulu, di zaman Soeharto, hal itu berbahaya. Kini, setidaknya, hal itu masih bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang aneh. Sebab, haruskah kita membandingkan yang “nasional” dengan yang “daerah”?

 

Pertanyaan itu diajukan oleh sejarawan Arif Akhyat dalam peluncuran buku di tengah pameran “Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara”, suatu perhelatan yang menawarkan rekonstruksi citra Jepara melalui karya seni ukir (pameran berlangsung sejak April hingga awal Agustus). Tapi pertanyaan itu juga sepenuhnya sah.

 

Jika membaca buku yang ia tulis bersama tim, dengan judul yang sama dengan tajuk pameran, kita boleh menyadari sesuatu yang benar tapi aneh, bahwa Jepara jauh lebih tua daripada Indonesia. Begitu juga kebanyakan kota di Indonesia. Bagaimana mungkin sekarang kita menyadarinya sebagai bagian dari Indonesia, seolah-olah Indonesia lebih utama dari kota-kota itu? Bagaimana mungkin kita sekarang berkata: Jepara adalah sebuah kota di Indonesia?

 

Jepara dan Kartini adalah sebuah contoh. Jepara—dalam keindonesiaan yang dibentuk oleh pendidikan dan ekonomi—dikenal berkat Kartini dan seni ukirnya. Orang sering tak tahu bahwa Kartini dan ukiran Jepara punya hubungan mesra.

 

Di salah satu bangsal pameran itu, surat Kartini dari tanggal 5 Maret 1902 dicetak di atas lembaran kanvas panjang yang digantung melengkung. Di sekitarnya terpacak beberapa mebel ukir bersejarah dari rumah Kartini sendiri. Surat itu menjadi saksi betapa Kartini terlibat dalam seni ukir Jepara.

 

Seorang gadis muda yang cerdas dan antusias, ia bercerita kepada Nyonya Abendanon tentang kotak kayu bertatah, pilar dan sokoguru, jati dan sonokeling, cendana dan rasamala, beragam motif ukir, termasuk wayang; tentang orang-orang di Jepara, anak-anak bertelanjang dada yang berbakat menggambar dan memahat. Orang-orang desa yang gampang takut kualat jika menatah motif ukir yang mereka anggap bertuah; tentang gairah Kartini sendiri untuk memperkenalkan kebudayaan Jepara ke Eropa, melalui pameran, tulisan, dan fotografi.

 

Hari ini mungkin kita bisa bilang, tanpa Kartini, Jepara kehilangan wajah intelektualnya di mata Indonesia. Tapi kita juga bisa bilang, tanpa sosok Tuan dan Nyonya Abendanon, pemikiran Kartini lenyap dari sejarah. Tanpa disiplin pengarsipan seperti yang ada di Belanda, kita tahu, surat-surat yang diterima Kartini hilang dimakan iklim.

 

Orang boleh mengecam kerja Abendanon, yang pertama menyeleksi dan menerbitkan surat-surat Kartini dengan bias kolonial. Tapi, tanpa penerbitan pertama itu, tidak terjadi penggalian lanjutan, misalnya yang dilakukan Joost Cote atau Wardiman Djojonegoro. Tanpa peran Van Deventer, seorang tokoh politik etis, mungkin nama Kartini tidak semerbak untuk dipetik oleh Wage Rudolf Supratman dan Sukarno.

 

Kerja bersama para administrator, akademikus, seniman, pendiri dan pembangun bangsa—masing-masing dengan kepentingan dan keterbatasan—telah mengusung warisan Kartini hingga hari ini; sehingga Kartini menyediakan lebih banyak artefak ketimbang Ratu Kalinyamat (abad ke-16) ataupun Ratu Sima (abad ke-7), yang juga dari wilayah Jepara. Sekaligus, Kartini bisa membuka pintu bagi penggalian artefak dua tokoh perempuan itu. Kita bisa melihat Jepara setidaknya memiliki tiga tokoh perempuan dari tiga zaman, yang maknanya masih harus direkonstruksi.

 

Kartini tumbuh dalam dunia Jepara yang telah ada lebih dulu. Buku Arif Akhyat dkk menggambarkan hal itu. Suatu bentangan alam yang pada masa itu dipenuhi hutan jati. Anak-anak tumbuh dengan keterampilan mengolah kayu. Ekonomi, dari masa Ratu Sima hingga Kartini, berkembang sehubungan dengan komoditas kayu yang terkenal hingga ke negeri-negeri jauh.

 

Apa yang bisa kita lihat? Jepara—juga banyak kota lain—kini memang seolah-olah menjadi bagian Indonesia. Tapi ia lebih tua dari Indonesia. Lebih tua dari penjajahan yang menyebabkan kelahiran Indonesia. Identitasnya adalah—meminjam filsafat Buddhis—pada proses sebab-akibat yang saling terkait dan tergantung. (Bahkan Kartini menyebut dirinya anak Buddha dalam surat tanggal 27 Oktober 1902.)

 

Suatu identitas yang kita lihat sekarang adalah sesuatu yang berkait-berkelindan antara yang personal dan yang publik, yang lokal dan nasional, yang regional dan yang internasional, dari motif-motif egois ataupun altruis, tak sadar ataupun sadar, yang tak bisa dipisahkan. Tapi, meminjam filsafat Buddhis sekali lagi, kita bisa mengambil jarak untuk menyadari ketergantungan segala sebab-akibat itu.

 

Pameran “Tatah: Suluk, Sulur dan Jepara” menyediakan momen itu. Setelah itu, kita keluar dari museum, kembali pada keterlibatan dengan dunia, memutuskan apa yang bisa kita lakukan dalam keadaan konkret kita sekarang. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/kota-kota-indonesia-lebih-tua-2276618

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar