|
Abu Putih Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 27 Juli 2026
Saya ini kuper
banget: baru tahu ada Universitas Republik Indonesia (URI) ketika memutar ulang
acara pelantikan Kepala Badan Gizi Nasional.
Di situ
Presiden Prabowo Subianto tidak hanya melantik Sudaryono sebagai kepala BGN.
Juga melantik Gubernur Universitas Republik Indonesia dan wakilnya. Kok saya
tidak pernah mendengar rencana URI sebelumnya. Kuper banget.
Ternyata tidak
hanya saya yang terkaget-kaget. Begitu banyak yang belum tahu. Termasuk
kalangan DPR dan intelektual kampus. Rupanya berdirinya URI tidak diwacanakan
secara luas. Tiba-tiba saja jadi.
Rupanya
terjawab sudah: mengapa Presiden Prabowo beberapa kali ke Prancis. Presiden
sendirilah yang punya gagasan mendirikan URI --yang dibuat seperti ENA:
Ecole Nationale d'Administration. Yakni universitas 'pejabat tinggi' di
Paris.
Di medsos
banyak disuarakan: apakah URI nanti akan bersaing dengan UI, UGM, Unair dan
sebangsanya. Bahkan ada yang bertanya: ide apa lagi ini? Dari mana anggarannya.
Kan belum pernah dibahas di DPR.
Kalau wujudnya
akan seperti ENA maka tidak akan bersaing dengan universitas negeri yang sudah
ada. Di ENA mahasiswanya bukan lulusan SMA. Tidak bergelar. Lama pendidikannya
hanya dua tahun.
Itu semacam S-2
khusus untuk calon pejabat tinggi pemerintah. Tidak harus semua pejabat tinggi
lulusan ENA tapi daya saing alumnus ENA lebih tinggi dibanding yang berkarir
dari luar ENA.
Mahasiswa yang
bisa masuk ENA sangat terbatas. Seleksinya sangat ketat. IQ harus tinggi. Nilai
kelulusan kesarjanaan dari universitas sebelumnya harus sangat baik. Hasil tes
spikologinya juga tinggi. Secara fisik juga harus sangat sehat. Bedanya dengan
akademi militer, postur badan tidak penting.
Jadi jelas
bahwa mahasiswa yang masuk ENA bukan lulusan SMA. Sudah harus sarjana. Bahkan
yang sudah S-2 pun banyak yang ikut tes masuk ENA. Calon mahasiswa juga bisa
datang dari berbagai kalangan: sudah jadi pegawai negeri, dari kalangan
militer, dari swasta, dari BUMN, pokoknya tidak dibatasi. Yang penting lulus
ujian masuk yang ujiannya sangat sulit.
Anda sudah
tahu: ENA didirikan setelah Perang Dunia II. Tujuannya untuk menciptakan
pejabat-pejabat tinggi pemerintah yang kapabel. Perang dunia telah
menghancurkan ekonomi negara. Untuk membangunnya kembali perlu birokrasi yang
hebat.
Perdana Menteri
Emmanuel Macron adalah lulusan ENA. Pun dua perdana menteri terkemuka Prancis
sebelumnya: François Hollande dan Jacques Chirac. Tapi masih lebih banyak
perdana menteri Prancis lainnya yang bukan lulusan ENA.
Untuk jadi
perdana menteri tetaplah harus bersaing terbuka lewat Pemilu. Setidaknya
pemilih di Prancis punya banyak pilihan: sama-sama hebat, sama-sama pintar,
sama-sama berprestasi. Tinggal mana yang disukai rakyat. Ibaratnya: salah pilih
pun akan terpilih orang yang hebat.
Memperbanyak
calon hebat di tengah masyarakat adalah "obat" yang baik untuk
mengatasi kelemahan demokrasi. Anda sudah tahu
kelemahan pokok demokrasi: yang terpilih belum tentu yang hebat, yang hebat
belum tentu terpilih.
Tapi kalau
jumlah orang hebat begitu banyak di tengah masyarakat kelemahan itu bisa
dikurangi. Ibaratnya: salah pilih pun akan jatuh ke orang yang tetap hebat.
Memang akhirnya
terjadi pro-kontra di masyarakat Prancis. Dunia birokrasi semacam dikuasai oleh
gang ENA. Seperti juga kabinet Orde Baru kita pernah disebut dikuasai
"Mafia Berkeley" --saking banyaknya lulusan Universitas Berkeley di
California yang menjadi menteri ekonomi.
Alumus ENA itu
di sana disebut ENArque. Maka ada kecaman bahwa ENArque telah menjadi gang yang
menentukan arah birokrasi pemerintahan.
Karena itu dua
tahun lalu ENA ditutup. Bukan berarti ENA sudah tidak ada. Itu hanya ganti
nama. Juga ganti kurikulum. Semacam dilakukan pembaharuan: lebih terbuka.
Kini
nama universitas itu: Institut national du service public (INSP). Masih mirip-mirip. Kuliah kelasnya hanya sekitar 6 bulan. Yang 18 bulan
adalah kuliah sambil magang. Magangnya di pemerintahan, di BUMN dan sektor apa
saja. Secara periodik pengalaman magang itu dibahas di INSP.
Sebenarnya
sudah sangat banyak juga pejabat muda kita yang sekolah semacam itu. Sekolahnya
di Amerika. Di Pittsburg, Pennsylvania. Mata kuliahnya: Reinventing
Government.
Apakah sepulang
dari Pittsburg mereka bisa melakukan pembaharuan birokrasi? Tidak mudah. Mereka
ibarat satu titik putih di tengah bidang abu-abu yang besar. Mungkin saja
Presiden Prabowo ingin memperbanyak titik titik putih itu. Siapa tahu
abu-abunya jadi abu-abu keputih-putihan. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959330/abu-putih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar