Rabu, 22 Juli 2026

 

Selap-selip Minyak Rusia Masuk ke Indonesia

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Rencana impor minyak dari Rusia mengemuka setelah Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Putin.

 

·      Pemerintah menugasi Lemigas mengimpor minyak mentah dari Rusia.

 

·      Minyak dari Rusia diklaim lebih murah dibandingkan dengan sumber lain.

 

JIKA memperhatikan berita-berita di sektor minyak dan gas bumi, Anda pasti mafhum akan rencana pemerintah membeli minyak dari Rusia. Rencana ini mengemuka ketika harga minyak dunia, terutama yang berasal dari Timur Tengah dan Amerika, melejit lantaran perang antara Iran dan Israel.

 

Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia, membuat harga komoditas energi ini melejit ke titik tertinggi sepanjang masa.

 

Pada 13 April 2026, ketika perang memanas dan harga minyak memecahkan rekor termahal, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Rusia.

 

Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas berbagai persoalan, termasuk peluang kerja sama. Sehari seusai pertemuan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berjumpa dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev. Dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan perusahaan energi Rusia, seperti Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil, ini terbuhul kesepakatan jual-beli minyak.

 

“Kita mendapatkan hasil yang cukup baik ketika bisa memperoleh cadangan crude dan elpiji,” ujar Bahlil pada waktu itu.

 

Sembilan hari kemudian, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan yang juga adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, menuturkan, Indonesia mendapatkan 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus. Apabila Indonesia masih membutuhkan tambahan, kata Hashim, Rusia akan menambah pasokan 50 juta barel minyak, lagi-lagi dengan harga khusus.

 

Kabar ini tentu menggembirakan ketika banyak negara dibayangi krisis minyak. Jika kita bisa mendapatkan suplai alternatif dengan harga murah, banyak masalah bisa diselesaikan, dari kelangkaan bahan bakar hingga beban anggaran yang terus melejit karena impor minyak kian bertambah.

 

Namun, pada saat bersamaan, muncul polemik karena minyak Rusia adalah “barang panas”. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa negara-negara maju memboikot Rusia, buntut upaya aneksasi terhadap Ukraina beberapa tahun lalu. Sanksi ini bisa menular ke negara-negara yang berdagang dengan Rusia, termasuk Indonesia, jika ketahuan membeli barang dari sana.

 

Di tengah perdebatan ini, diam-diam pemerintah menjalankan serangkaian aksi untuk mengimpor minyak dari Rusia.

 

Sejak awal Juni 2026, tim redaksi Ekonomi dan Bisnis Tempo memperoleh selentingan kabar yang menyebutkan bahwa pemerintah akan mengubah status beberapa lembaga untuk dijadikan importir minyak. Ada juga yang membisikkan kabar bahwa kapal pengangkut minyak Rusia sudah berlayar menuju Tanah Air, tapi belum ketahuan di pelabuhan mana bongkar-muat akan berlangsung.

 

Titik terang muncul menjelang akhir Juni ketika kami mendapatkan serangkaian dokumen yang berhubungan dengan impor minyak Rusia. Dari dokumen itu terungkap bahwa pemerintah menugasi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) mengimpor minyak dari Rusia.

 

Beberapa aturan pun terbit sebagai legalitas perubahan badan layanan umum di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu, dari pusat penelitian serta pengujian minyak dan gas menjadi importir. Bahkan, tak hanya mengimpor minyak, Lemigas juga bisa mengimpor elpiji.

 

Informasi penting lain dalam dokumen yang kami peroleh menunjukkan apa dan bagaimana minyak dari Rusia didatangkan ke Indonesia. Ada berkas yang memuat rincian volume impor, jenis minyak mentah, harga dan spesifikasi, hingga kapal yang memuatnya.

 

Dokumen lain menunjukkan surat yang “memerintahkan” Pertamina menyerap minyak yang diimpor Lemigas. Di sisi lain, kami juga mendapatkan dokumen kajian yang menunjukkan risiko apa saja yang dihadapi Pertamina apabila membeli minyak dari Rusia.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/impor-minyak-rusia-lemigas-2276764

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar