|
Selap-selip Minyak
Rusia Masuk ke Indonesia Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
· Rencana impor minyak dari Rusia
mengemuka setelah Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Putin. · Pemerintah menugasi Lemigas mengimpor
minyak mentah dari Rusia. · Minyak dari Rusia diklaim lebih murah
dibandingkan dengan sumber lain. JIKA
memperhatikan berita-berita di sektor minyak dan gas bumi, Anda pasti mafhum
akan rencana pemerintah membeli minyak dari Rusia. Rencana ini mengemuka ketika
harga minyak dunia, terutama yang berasal dari Timur Tengah dan Amerika,
melejit lantaran perang antara Iran dan Israel. Penutupan
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia, membuat
harga komoditas energi ini melejit ke titik tertinggi sepanjang masa. Pada 13
April 2026, ketika perang memanas dan harga minyak memecahkan rekor termahal,
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di
Istana Kremlin, Rusia. Dalam
pertemuan itu, kedua pemimpin membahas berbagai persoalan, termasuk peluang
kerja sama. Sehari seusai pertemuan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Bahlil Lahadalia berjumpa dengan Menteri Energi Rusia Sergey
Tsivilev. Dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan perusahaan energi
Rusia, seperti Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil, ini terbuhul
kesepakatan jual-beli minyak. “Kita
mendapatkan hasil yang cukup baik ketika bisa memperoleh cadangan crude dan
elpiji,” ujar Bahlil pada waktu itu. Sembilan
hari kemudian, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan yang juga
adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, menuturkan, Indonesia
mendapatkan 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus. Apabila
Indonesia masih membutuhkan tambahan, kata Hashim, Rusia akan menambah
pasokan 50 juta barel minyak, lagi-lagi dengan harga khusus. Kabar
ini tentu menggembirakan ketika banyak negara dibayangi krisis minyak. Jika
kita bisa mendapatkan suplai alternatif dengan harga murah, banyak masalah
bisa diselesaikan, dari kelangkaan bahan bakar hingga beban anggaran yang
terus melejit karena impor minyak kian bertambah. Namun,
pada saat bersamaan, muncul polemik karena minyak Rusia adalah “barang
panas”. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa negara-negara maju memboikot
Rusia, buntut upaya aneksasi terhadap Ukraina beberapa tahun lalu. Sanksi ini
bisa menular ke negara-negara yang berdagang dengan Rusia, termasuk
Indonesia, jika ketahuan membeli barang dari sana. Di
tengah perdebatan ini, diam-diam pemerintah menjalankan serangkaian aksi
untuk mengimpor minyak dari Rusia. Sejak
awal Juni 2026, tim redaksi Ekonomi dan Bisnis Tempo memperoleh selentingan
kabar yang menyebutkan bahwa pemerintah akan mengubah status beberapa lembaga
untuk dijadikan importir minyak. Ada juga yang membisikkan kabar bahwa kapal
pengangkut minyak Rusia sudah berlayar menuju Tanah Air, tapi belum ketahuan
di pelabuhan mana bongkar-muat akan berlangsung. Titik
terang muncul menjelang akhir Juni ketika kami mendapatkan serangkaian
dokumen yang berhubungan dengan impor minyak Rusia. Dari dokumen itu
terungkap bahwa pemerintah menugasi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi
(Lemigas) mengimpor minyak dari Rusia. Beberapa
aturan pun terbit sebagai legalitas perubahan badan layanan umum di bawah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu, dari pusat penelitian serta
pengujian minyak dan gas menjadi importir. Bahkan, tak hanya mengimpor
minyak, Lemigas juga bisa mengimpor elpiji. Informasi
penting lain dalam dokumen yang kami peroleh menunjukkan apa dan bagaimana
minyak dari Rusia didatangkan ke Indonesia. Ada berkas yang memuat rincian
volume impor, jenis minyak mentah, harga dan spesifikasi, hingga kapal yang
memuatnya. Dokumen
lain menunjukkan surat yang “memerintahkan” Pertamina menyerap minyak yang
diimpor Lemigas. Di sisi lain, kami juga mendapatkan dokumen kajian yang
menunjukkan risiko apa saja yang dihadapi Pertamina apabila membeli minyak
dari Rusia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/impor-minyak-rusia-lemigas-2276764 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar