|
Kepercayaan Pasar Tidak Bisa Dicicil Robert A. Simanjuntak : Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. |
ORBIT INDONESIA, 10 Juni 2026
|
Kemarin Jumat 5 Juni
2026, saya membaca berita yang jarang terjadi: Bursa Efek Indonesia harus
turun tangan mengklarifikasi sebuah kabar yang beredar di grup-grup
investasi—bahwa Indonesia sudah resmi diturunkan statusnya oleh MSCI dari
Emerging Market ke Frontier Market. Kabar itu ternyata hoaks.
Tapi yang lebih penting dari klarifikasi itu adalah fakta bahwa kepanikan
sudah terjadi sebelum orang memeriksa kebenarannya. Ini bukan cerita tentang
disinformasi, tetapi tentang kepercayaan yang sudah sedemikian tipisnya
sehingga berita buruk palsu pun langsung dipercaya. Kemarin pun IHSG sempat
anjlok hampir 5 persen ke level 5.644 sebelum menutup perdagangan dengan
pelemahan 1,9 persen. Sehari sebelumnya, rupiah menyentuh Rp18.020 per dolar,
dan semalam sudah di Rp18.095. Rekor terendah sepanjang sejarah. Investor
asing keluar Rp1,4 triliun dari pasar saham hanya sehari itu. Kalau ada petinggi negeri
yang masih meragukan apakah ini soal serius, angka-angka itu mestinya sudah
menjawabnya. Bukan 1998, Tapi Jangan
Keburu Lega Ada dua narasi yang
berkembang belakangan ini, dan keduanya sedang berlomba mengisi ruang publik.
Yang pertama adalah narasi panik: bahwa Indonesia sedang menuju krisis
seperti 1998. Ini rasanya kurang tepat.
Rasio utang sekarang memang sudah mendekati 41% PDB, dibanding 1998 yang
sekitar 23% PDB. Namun, sistem perbankan kita sekarang jauh lebih kokoh—rasio
kecukupan modal tinggi, dan tidak ada krisis perbankan sistemik yang
mengintai. Cadangan devisa masih
Rp146 miliar dolar per akhir April, cukup untuk lebih dari enam bulan impor.
Serta tidak ada sudden stop aliran modal yang total seperti yang terjadi
lebih dua dekade lalu. Yang kedua adalah narasi
yang menenangkan: bahwa semua fundamental baik-baik saja, rupiah lemah
semata-mata karena faktor global—yakni dolar yang menguat, konflik Timur
Tengah yang mendorong permintaan safe haven, dan the Fed belum menurunkan
suku bunga. Namun, narasi ini pun
hanya benar sebagian. Yang kita perlu perhatikan adalah fakta bahwa rupiah
melemah terhadap 86 persen mata uang dunia, bukan hanya terhadap dolar AS. Jika masalahnya murni
eksternal, pelemahan seharusnya lebih merata secara global. Ketika mata uang
sebuah negara melemah hampir di semua front sekaligus, berarti pasar sedang
mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih spesifik tentang negara itu sendiri. Pada 2026 ini, pemerintah
harus membayar bunga utang sekitar Rp599 triliun. Sekaligus, untuk menutup
defisit dan membiayai program-program yang sudah direncanakan, pemerintah
perlu menerbitkan utang baru senilai Rp1.700 triliun. Hampir setengah dari
pendapatan negara habis hanya untuk melayani kewajiban masa lalu. Angka-angka ini bukan
berita buruk yang datang tiba-tiba—namun sudah diketahui sejak awal tahun.
Hanya saja pasar baru sekarang benar-benar mulai menyorotinya dengan serius.
Hasilnya bisa dibaca di data berikut. Sepanjang 2025, investor
asing menjual sekitar USD6,4 miliar obligasi Indonesia. Tekanan berlanjut di
2026. Defisit primary income—devisa yang keluar untuk membayar dividen dan
return investasi asing— mencapai USD38,2 miliar pada 2025, salah satu yang
terbesar dalam sejarah Indonesia. Ketika lebih banyak dolar
keluar dari yang masuk, maka nilai rupiah tertekan secara mekanis. Jadi,
bukan konspirasi, bukan pula serangan spekulan. Hanya matematika dasar neraca
pembayaran. Di atas semua itu, ada
faktor yang lebih sulit diukur namun sangat nyata: persepsi. Investor global
memerhatikan kebijakan fiskal yang ambisinya terlihat tidak seimbang dengan
ruang fiskal yang tersedia. Program Makan Bergizi
Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih punya tujuan sosial yang mulia. Tapi
ketika dua program berskala besar dijalankan bersamaan di tengah fiskal yang
sudah sangat ketat, pasar membaca itu sebagai sinyal bahwa pemerintah belum
memilih antara tradeoff pertumbuhan jangka panjang dan kepuasan jangka
pendek. Persepsi itu sudah lebih
dari cukup untuk mendorong terjadi capital outflow. Bank Indonesia merespons
dengan kenaikan suku bunga 50 basis poin (menjadi 5,25 persen) pada 20 Mei
lalu. Ini langkah yang cukup berani, meskipun beberapa hari kemudian rupiah
tetap terdepresiasi menyentuh rekor baru. Ini bukan berarti BI
gagal. Ini berarti masalahnya lebih dalam dari yang bisa dijangkau oleh
kebijakan moneter. Seperti memberi obat pereda rasa nyeri kepada seseorang
yang tulangnya retak: nyerinya berkurang, tapi tulangnya tetap mesti diobati. Tiga Minggu yang Menentukan Ada dua tanggal yang hari
ini sedang diperhatikan oleh hampir setiap manajer investasi yang memegang
aset Indonesia: 19 Juni dan 24 Juni 2026. Pada dua tanggal itu,
MSCI akan mengumumkan Global Market Accessibility Review dan Annual Market
Classification Review—dua keputusan yang akan menentukan apakah Indonesia
tetap berstatus Emerging Market atau diturunkan ke Frontier Market. Kekhawatiran MSCI bukan
bersifat politis—ia sangat teknis dan bisa diverifikasi: menyangkut
konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi, free float yang terlalu
sempit, dan keterbatasan akses investor asing keluar-masuk pasar. Pada rebalancing Mei
2026, MSCI sudah menghapus delapan saham lokal dari indeksnya. Kemarin, FTSE
Russell mengeluarkan delapan saham Indonesia dari indeksnya juga. Setiap
pengurangan bobot berarti dana-dana pasif global yang melacak indeks tersebut
harus menjual saham Indonesia—bukan karena pilihannya, tapi karena mandatnya. Jika downgrade penuh ke
Frontier Market terjadi, efek domino itu akan jauh lebih besar. OJK pun sudah
bergerak: ambang batas keterbukaan kepemilikan diturunkan dari 5 ke 1 persen,
dan reformasi transparansi sedang berjalan. Langkah-langkah itu
arahnya sudah benar. Tapi pertanyaan yang relevan bukan apakah reformasinya
ada, melainkan apakah kecepatannya cukup untuk meyakinkan MSCI sebelum 24
Juni. Tiga minggu adalah waktu yang sangat pendek untuk mengubah persepsi
yang sudah terbentuk sekian lama. Apa yang Sebenarnya
Dibutuhkan Saya tidak percaya
Indonesia sedang menuju jurang. Tapi saya juga tidak percaya masalah ini akan
selesai dengan sendirinya. Apalagi jika para petinggi tetap menyangkal bahwa
situasi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Untuk fiskal, yang
dibutuhkan bukan pidato tentang penghematan—pasar sudah kebal terhadap
retorika. Yang dibutuhkan adalah keputusan konkret yang bisa dilihat pasar:
yakni menunda ekspansi program-program besar yang multiplier effectnya belum
terbukti, sampai ruang fiskalnya benar-benar ada. Ini bukan
membatalkan—tapi menunda dengan syarat yang jelas dan jadwal yang realistis.
Pasar akan tahu bedanya. Untuk pasar modal,
reformasi yang sedang berjalan perlu dipercepat dan— yang lebih
penting—dikomunikasikan dengan lebih baik kepada investor global. Bukan
sekadar siaran pers dalam bahasa Indonesia. MSCI, Moody's, dan Fitch
membaca laporan dalam bahasa yang mereka percaya, yakni: transparansi data,
konsistensi, dan tidak membuat pengecualian secara diam-diam. Yang lebih
mengkhawatirkan sebenarnya bukan angka-angkanya, melainkan kenyataan ketika
kabar hoaks tentang downgrade MSCI kemarin langsung dipercaya dan memicu
kepanikan. Itu bukan tanda pasar
yang sedang menguji ketahanan. Itu tanda pasar yang sudah lelah memberi
sinyal peringatan. Kepercayaan tidak bisa
dibangun dalam semalam. Tapi ia bisa hancur dalam hitungan menit—seperti yang
kita lihat belakangan ini. Yang membedakan negara
yang berhasil melewati tekanan seperti ini dengan yang tidak bukanlah
kekayaan sumber daya alamnya. Melainkan satu hal yang jauh lebih sederhana
dan jauh lebih sulit: apakah pembuat kebijakannya mau dan mampu mengatakan
yang sebenarnya kepada pasar, lalu secara disiplin dan konsisten melakukan
perbaikan. Bukan melulu melakukan konperensi pers yang hanya menunjukkan
ketiadaan strategi. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar