|
Konflik
Kepentingan Kantong Belakang Febrie Anton Septian : Redaktur Eksekutif Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026
|
· Penyelidikan polisi terhadap pompa
bensin dan tempat cuci mobil mengungkap korupsi terbesar dalam sejarah di
Brasil. · Febrie Adriansyah diduga menggunakan
berbagai metode dalam mencuci uang hasil korupsi, termasuk lewat tempat
penukaran uang asing. · Presiden Prabowo Subianto menyimpan
konflik kepentingan dalam perkara Febrie. AWALNYA
polisi Brasil menyelidiki pompa bensin dan tempat cuci mobil di Brasilia
karena mencurigai kedua tempat tersebut dipakai oleh para doleiros untuk
mencuci duit hasil kejahatan. Laku pedagang uang di pasar gelap itu persis
seperti yang dilakukan Walter White dalam serial Breaking Bad yang menggunakan
usaha cuci mobilnya sebagai tempat membuat bergulung-gulung transaksi fiktif
untuk menatu keuntungan dari penjualan narkotika racikannya. Dalam
penyelidikan pada 2014 itu, polisi segera menyadari bahwa para doleiros
tersebut terhubung pada satu nama: Paulo Roberto Costa, salah seorang
direktur Petrobras, perusahaan minyak Brasil. Rupanya, mereka semua sedang
mencuci uang untuk Costa dari rekanan Petrobras. Para kontraktor itu
mengambil margin yang tinggi dari kontrak yang telah digelembungkan, lalu
menyetorkan sebagiannya kepada Costa dan direktur Petrobras lain lewat para
doleiros. Ternyata
juga para eksekutif Petrobras mengalirkan duit korupsi kepada para politikus
yang mendudukkan mereka di perusahaan terbesar di Brasil itu serta kepada partai
politik, yang kemudian dipakai untuk mendanai kampanye pemilihan umum. Lewat
Operasi Lava Jato alias Operasi Cuci Mobil tersebut, polisi akhirnya
memenjarakan puluhan politikus, konglomerat, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat,
hingga mantan presiden Luiz Inácio Lula da Silva sebelum dia dibebaskan dan
kembali terpilih pada 2022. Kasus ini juga mempercepat pemakzulan Presiden
Dilma Rousseff pada 2016. Polisi
menaksir total nilai korupsinya mencapai 42,8 miliar real atau sekitar Rp 150
triliun dalam kurs saat ini. Saking jumbonya, selain disamarkan dengan
transaksi berlapis hingga ditransfer ke bank di Swiss, uang dipindahkan para
kurir saat terbang dari kota ke kota dengan cara mengikatkan bongkahan duit
ke badan mereka. Dalam
skala yang berbeda, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie
Adriansyah, juga diduga menggunakan berbagai metode dalam mencuci uang hasil
korupsi. Sementara di Brasil para doleiros memakai pompa bensin dan tempat
cuci mobil, Febrie menggunakan kafe hingga tempat penukaran uang asing.
Laporan utama pekan ini menginvestigasi modus Febrie memperoleh duit hingga
menyamarkannya. Febrie
juga ditengarai menggunakan identitas kolega dan anaknya sebagai pengelola
puluhan perusahaan yang terafiliasi dengan dia. Di sebuah perusahaan, saham
anaknya dan seorang kaki tangan Febrie bertemu dengan pengusaha yang dikenal
dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Struktur kepemilikan yang rumit pada
akhirnya berujung pada perusahaan-perusahaan yang berkaitan langsung dengan
perkara yang membelit Febrie. Fakta-fakta
itu merupakan modal awal untuk membongkar perkara Febrie sejauh mungkin.
Empat tahun lebih menjabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie
membawahkan banyak kasus besar. Bukan tidak mungkin korban pemerasan Febrie
tak hanya satu-dua orang. Selain terlibat dugaan korupsi pengadaan batu bara
Perusahaan Listrik Negara, Febrie dituduh memeras mereka yang berkasus di
Kejaksaan. Jika
sungguh-sungguh, penyidik kasus Febrie punya kesempatan mengungkap nama-nama
lain, sebagaimana polisi Brasil menyeret mereka yang terlibat korupsi
Petrobras ke bui. Selain karena strategi penyidikannya, keberhasilan polisi
negeri itu mengungkap banyak nama hingga memenjarakan pelaku lantaran mereka
menolak intervensi politik dari parlemen ataupun pemerintah. Dalam Operasi
Lava Jato, penegak hukum di Brasil relatif sanggup mengatasi konflik
kepentingan. Bahkan
upaya Presiden Dilma Rousseff menyelamatkan Luiz Inácio Lula da Silva dari
proses hukum dengan melantiknya sebagai Kepala Staf Kepresidenan juga gagal.
Polisi berhasil meyakinkan Mahkamah Agung bahwa bukti permulaan untuk
menjerat Lula da Silva kuat sehingga Mahkamah membatalkan pengangkatannya,
yang berarti mencabut kekebalan hukum parsial dari jabatan tersebut sehingga
penyelidikan polisi bisa berlanjut. Benturan
kepentingan seperti itulah yang menjadi ujian penyelesaian perkara Febrie.
Bukan hanya saat dalam penanganannya ketika polisi dan jaksa saling sandera
perkara, pokok kasusnya pun penuh konflik kepentingan. Bahkan Presiden
Prabowo sendiri menyimpan konflik yang sama. Setidaknya itu terlihat dari
keberadaan pengusaha yang dekat dengan Presiden dalam jejaring Febrie dan
dugaan percobaan pemerasan dalam kasus tata kelola tambang yang disidik
Kejaksaan bersama Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan yang dibentuk
Presiden. Di
negara maju, jika terdapat potensi konflik kepentingan dalam penegakan hukum,
tim independen yang akan ditugasi menanganinya. Misalnya di Korea Selatan,
parlemen menyetujui pembentukan tim jaksa khusus untuk mengusut Choi
Soon-sil, orang dekat presiden saat itu, Park Geun-hye, yang memperdagangkan
pengaruh demi mendapatkan keuntungan. Di
Amerika Serikat pada 2023, Departemen Kehakiman menugasi special counsel atau
jaksa khusus menyelidiki anak presiden, Hunter Biden, dalam kepemilikan
senjata api ilegal dan penggelapan pajak. Tujuannya adalah menangkal pengaruh
Gedung Putih dalam penanganan skandal tersebut dan membangun kepercayaan
publik. Indonesia
sebenarnya punya Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengusut skandal yang
melibatkan penegak hukum. Tapi, di republik ini, konflik kepentingan kerap
diremehkan. Karena itu, buang jauh angan-angan bahwa perkara Febrie bisa
menyeret banyak pelaku lain seperti dalam Operasi Lava Jato di Brasil atau bakal
menegakkan hukum seperti dalam kasus Choi Soon-sil dan Hunter Biden. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/konflik-kepentingan-febrie-adriansyah-2278309 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar