Senin, 27 Juli 2026

 

Konflik Kepentingan Kantong Belakang Febrie

Anton Septian :  Redaktur Eksekutif Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Penyelidikan polisi terhadap pompa bensin dan tempat cuci mobil mengungkap korupsi terbesar dalam sejarah di Brasil.

 

·      Febrie Adriansyah diduga menggunakan berbagai metode dalam mencuci uang hasil korupsi, termasuk lewat tempat penukaran uang asing.

 

·      Presiden Prabowo Subianto menyimpan konflik kepentingan dalam perkara Febrie.

 

AWALNYA polisi Brasil menyelidiki pompa bensin dan tempat cuci mobil di Brasilia karena mencurigai kedua tempat tersebut dipakai oleh para doleiros untuk mencuci duit hasil kejahatan. Laku pedagang uang di pasar gelap itu persis seperti yang dilakukan Walter White dalam serial Breaking Bad yang menggunakan usaha cuci mobilnya sebagai tempat membuat bergulung-gulung transaksi fiktif untuk menatu keuntungan dari penjualan narkotika racikannya.

 

Dalam penyelidikan pada 2014 itu, polisi segera menyadari bahwa para doleiros tersebut terhubung pada satu nama: Paulo Roberto Costa, salah seorang direktur Petrobras, perusahaan minyak Brasil. Rupanya, mereka semua sedang mencuci uang untuk Costa dari rekanan Petrobras. Para kontraktor itu mengambil margin yang tinggi dari kontrak yang telah digelembungkan, lalu menyetorkan sebagiannya kepada Costa dan direktur Petrobras lain lewat para doleiros.

 

Ternyata juga para eksekutif Petrobras mengalirkan duit korupsi kepada para politikus yang mendudukkan mereka di perusahaan terbesar di Brasil itu serta kepada partai politik, yang kemudian dipakai untuk mendanai kampanye pemilihan umum. Lewat Operasi Lava Jato alias Operasi Cuci Mobil tersebut, polisi akhirnya memenjarakan puluhan politikus, konglomerat, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, hingga mantan presiden Luiz Inácio Lula da Silva sebelum dia dibebaskan dan kembali terpilih pada 2022. Kasus ini juga mempercepat pemakzulan Presiden Dilma Rousseff pada 2016.

 

Polisi menaksir total nilai korupsinya mencapai 42,8 miliar real atau sekitar Rp 150 triliun dalam kurs saat ini. Saking jumbonya, selain disamarkan dengan transaksi berlapis hingga ditransfer ke bank di Swiss, uang dipindahkan para kurir saat terbang dari kota ke kota dengan cara mengikatkan bongkahan duit ke badan mereka.

 

Dalam skala yang berbeda, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, juga diduga menggunakan berbagai metode dalam mencuci uang hasil korupsi. Sementara di Brasil para doleiros memakai pompa bensin dan tempat cuci mobil, Febrie menggunakan kafe hingga tempat penukaran uang asing. Laporan utama pekan ini menginvestigasi modus Febrie memperoleh duit hingga menyamarkannya.

 

Febrie juga ditengarai menggunakan identitas kolega dan anaknya sebagai pengelola puluhan perusahaan yang terafiliasi dengan dia. Di sebuah perusahaan, saham anaknya dan seorang kaki tangan Febrie bertemu dengan pengusaha yang dikenal dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. Struktur kepemilikan yang rumit pada akhirnya berujung pada perusahaan-perusahaan yang berkaitan langsung dengan perkara yang membelit Febrie.

 

Fakta-fakta itu merupakan modal awal untuk membongkar perkara Febrie sejauh mungkin. Empat tahun lebih menjabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie membawahkan banyak kasus besar. Bukan tidak mungkin korban pemerasan Febrie tak hanya satu-dua orang. Selain terlibat dugaan korupsi pengadaan batu bara Perusahaan Listrik Negara, Febrie dituduh memeras mereka yang berkasus di Kejaksaan.

 

Jika sungguh-sungguh, penyidik kasus Febrie punya kesempatan mengungkap nama-nama lain, sebagaimana polisi Brasil menyeret mereka yang terlibat korupsi Petrobras ke bui. Selain karena strategi penyidikannya, keberhasilan polisi negeri itu mengungkap banyak nama hingga memenjarakan pelaku lantaran mereka menolak intervensi politik dari parlemen ataupun pemerintah. Dalam Operasi Lava Jato, penegak hukum di Brasil relatif sanggup mengatasi konflik kepentingan.

 

Bahkan upaya Presiden Dilma Rousseff menyelamatkan Luiz Inácio Lula da Silva dari proses hukum dengan melantiknya sebagai Kepala Staf Kepresidenan juga gagal. Polisi berhasil meyakinkan Mahkamah Agung bahwa bukti permulaan untuk menjerat Lula da Silva kuat sehingga Mahkamah membatalkan pengangkatannya, yang berarti mencabut kekebalan hukum parsial dari jabatan tersebut sehingga penyelidikan polisi bisa berlanjut.

 

Benturan kepentingan seperti itulah yang menjadi ujian penyelesaian perkara Febrie. Bukan hanya saat dalam penanganannya ketika polisi dan jaksa saling sandera perkara, pokok kasusnya pun penuh konflik kepentingan. Bahkan Presiden Prabowo sendiri menyimpan konflik yang sama. Setidaknya itu terlihat dari keberadaan pengusaha yang dekat dengan Presiden dalam jejaring Febrie dan dugaan percobaan pemerasan dalam kasus tata kelola tambang yang disidik Kejaksaan bersama Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan yang dibentuk Presiden.

 

Di negara maju, jika terdapat potensi konflik kepentingan dalam penegakan hukum, tim independen yang akan ditugasi menanganinya. Misalnya di Korea Selatan, parlemen menyetujui pembentukan tim jaksa khusus untuk mengusut Choi Soon-sil, orang dekat presiden saat itu, Park Geun-hye, yang memperdagangkan pengaruh demi mendapatkan keuntungan.

 

Di Amerika Serikat pada 2023, Departemen Kehakiman menugasi special counsel atau jaksa khusus menyelidiki anak presiden, Hunter Biden, dalam kepemilikan senjata api ilegal dan penggelapan pajak. Tujuannya adalah menangkal pengaruh Gedung Putih dalam penanganan skandal tersebut dan membangun kepercayaan publik.

 

Indonesia sebenarnya punya Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengusut skandal yang melibatkan penegak hukum. Tapi, di republik ini, konflik kepentingan kerap diremehkan. Karena itu, buang jauh angan-angan bahwa perkara Febrie bisa menyeret banyak pelaku lain seperti dalam Operasi Lava Jato di Brasil atau bakal menegakkan hukum seperti dalam kasus Choi Soon-sil dan Hunter Biden. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/konflik-kepentingan-febrie-adriansyah-2278309

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar