Jumat, 31 Juli 2026

 

Bahaya Laten Narkoba Etomidate

Redaktur Editorial :  Redaksi Kompas

KOMPAS, 31 Juli 2026

 

 

                                                           

Etomidate yang sejatinya anestasi medis kerap disalahgunakan sebagai campuran vape atau rokok elektronik. Indonesia mesti hati-hati karena kian banyak pemakai vape.

 

Tahun 2018, Singapura melarang vape atau rokok elektronik sebagai tindakan preventif, terutama untuk mencegah penyalahgunaan obat penenang etomidate.

 

Etomidate sejatinya adalah sejenis anestasi untuk penanganan medis darurat. Etomidate bekerja cepat dalam membuat pasien tidak sadarkan diri dalam waktu singkat dan umumnya tidak terlalu memengaruhi kerja jantung ataupun tekanan darah sehingga dinilai lebih aman digunakan pada pasien dengan penyakit jantung atau tekanan darah. Dalam dunia medis, etomidate memiliki banyak manfaat dalam berbagai tindakan yang membutuhkan pembiusan.

 

Namun, etomidate juga rentan disalahgunakan sebagai narkoba campuran vape. Baru-baru ini, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya kembali mengungkap peredaran etomidate di enam lokasi di Jakarta Selatan. Sindikat ini diduga merupakan bagian dari jaringan internasional. Polisi pun menyita sebanyak 8.698 katrid yang mengandung cairan etomidate (Kompas.id, 29/7/2026).

 

Salah satu pertimbangan Pemerintah Singapura melarang vape, antara lain, untuk mencegah penyalahgunaan etomidate sebagai campuran bahan cair dalam katrid rokok elektronik tersebut. Sejak pelarangan tersebut, pengguna vape di Singapura memang kucing-kucingan dengan otoritas setempat. Mereka menyelundupkan vape dari Malaysia atau Indonesia.

 

Pelarangan vape di Singapura sempat membuat Batam menjadi tempat alternatif bagi warga negara tersebut untuk menikmati vape. Bukan sebuah kebetulan apabila berita pengungkapan penyalahgunaan etomidate pertama kali muncul di Kompas.id pada Mei 2025 lalu ada kaitannya dengan fenomena ini. Saat itu, Kepolisian Daerah Kepulauan Riau mengungkap adanya laboratorium mini rahasia di Apartemen Harbour Bay Residence, Batu Ampar, Batam, yang antara lain digunakan untuk mengemas etomidate.

 

Menurut Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Ahmad David, etomidate sengaja dikemas dalam vape agar tidak mudah terdeteksi. Pengedar narkoba jenis etomidate dan ketamin ini juga mengincar segala lini pengguna, mulai dari remaja hingga warga usia produktif (17-30 tahun), karena mudahnya zat tersebut dicampur ke dalam vape.

 

Di sisi lain, pengguna vape di Indonesia terus meningkat saat regulasinya juga terlalu longgar. Prevalensi penggunaan rokok elektronik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen pada 2019 menjadi 3 persen pada 2021. Saat ini diperkirakan jumlah perokok vape juga lebih besar lagi.

 

Berbeda dengan Singapura yang melarang total penggunaan vape, di Indonesia vape tetap produk legal meski diatur seperti produk tembakau atau zat adiktif. Memang ada beberapa pembatasan penjualan, seperti untuk kategori usia tertentu dan tempatnya. Namun, pengaturan yang cenderung longgar ini membuat vape dengan mudah dijadikan sarana penyalahgunaan etomidate dan ketamin. Indonesia harus sangat hati-hati dengan bahaya laten penyalahgunaan etimodate ini, terutama jika melihat peningkatan jumlah perokok vape. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/bahaya-laten-narkoba-etomidate?open_from=Tajuk_Rencana_Page

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar