|
Tan Malaka, Madilog, dan Kritik Hierarki Sosial: Membedah Akar
Polemik Nasab di Indonesia Gus Aziz Jazuli,
Lc, MH. : Santri
yang pernah menempuh pendidikan di pesantren di Pasuruan, Jawa Timur, sebelum
melanjutkan studi ke kota Tarim di Hadramaut, Yaman. |
ORBIT INDONESIA, 04 Juli 2026
|
Sebelum
masuk ke kritiknya atas hierarki sosial, penting untuk memahami posisi Tan
Malaka sebagai pemikir. Tan Malaka ditempatkan bukan sebagai tokoh komunis
yang sekadar "pengikut" Moskow. Sebaliknya, Tan Malaka digambarkan
sebagai sosok nasionalis yang memegang teguh kemandirian berpikir. Tan
Malaka memutus hubungan dengan Komintern pada 1920 karena menolak diktat Uni
Soviet yang dinilainya tidak memahami realitas lokal Asia Tenggara. Hal ini
menjadi pembeda kontras dengan D.N. Aidit yang, menurut sejarawan, berperan
sebagai "agen internasional" dengan menjaga hubungan diplomatik dan
ideologis yang sangat erat dengan Uni Soviet dan Beijing demi legitimasi
politik global. Tan
Malaka percaya pada aksi massa radikal, perjuangan fisik, dan gerilya. Ia
menolak sistem parlemen yang ia anggap borjuis dan menuntut kemerdekaan 100%
tanpa kompromi. Yang tak kalah penting, berbeda dengan stigma yang sering
dilekatkan pada komunisme, Tan Malaka tidak memusuhi agama. Beliau bahkan secara
berani membela Pan-Islamisme pada tahun 1922—suatu sikap yang bertolak
belakang dengan gaya PKI era Aidit yang kerap bergesekan dengan kelompok
keagamaan di akar rumput. Madilog sebagai Senjata Mental Bangsa Ditulis
pada masa penjajahan Jepang (1942–1943), Madilog adalah upaya Tan Malaka
untuk menyusun "senjata mental" bagi bangsa Indonesia. Buku ini
memiliki misi besar: melawan logika mistik dan membangun rasionalitas. Tan
Malaka menyoroti bahwa keterpurukan bangsa Indonesia selama ratusan tahun
disebabkan oleh pola pikir yang dikuasai oleh hal-hal mistis, tahayul,
fatalisme, dan kepercayaan pada "kesaktian" individu tertentu. Ia
mendorong masyarakat untuk meninggalkan pola pikir yang menggantungkan diri
pada hal gaib. Ia ingin rakyat melihat dunia berdasarkan fakta nyata, kondisi
ekonomi, dan nalar yang sistematis. Ancaman
seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka
yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat
penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Madilog
disusun untuk memutus rantai penjajahan mental tersebut. Kritik atas Sistem Kasta dan Privilese
"Sayid" Data
primer dari Madilog menunjukkan bahwa kritik Tan Malaka terhadap hierarki
keturunan sangatlah eksplisit dan langsung menyasar realitas Indonesia. Pertama,
ia menulis tentang sistem kasta Hindu: "Bermula
sekali masyarakat Hindu sudah dibagi atas 4 kasta terbesar. 1. Kasta
Brahmana, ialah kasta pendeta. Kasta ini kasta tertinggi... 2. Satria, ialah
Kasta Raja dan Ningratnya... 3. Kasta Waisa, yang terdiri dari golongan
saudagar, magang, tukang atau tani. 4. Kasta Sudra, ialah kasta orang
'jembel', seperti penyamak kulit atau tukang sapu jalan. Keempat kasta di
atas tiada bisa campur satu sama lainnya, tiada boleh campur makan atau
tidur. Apalagi kawin..." Kedua,
ia secara langsung menghubungkan kasta Brahmana dengan kasta Sayid di
Indonesia: "Ini
tiadalah mustahil, karena 99 di antara 100 calon suwarga dari kasta Brahmana
itu hidupnya dengan membungakan uang, seperti kasta Sayid di Indonesia ini
juga. Kasta Satria berpuncak pada Raja atau Maha Raja, alias perampok gadis
itu, tiada lain melainkan Tuan Tanah penghisap tani Hindustan, kaki tangannya
Imperialisme Inggris." Kutipan
ini adalah data primer yang tak terbantahkan. Tan Malaka tidak hanya
mengkritik sistem kasta Hindu secara abstrak, tetapi secara sadar dan
eksplisit menyamakan privilese ekonomi dan sosial kasta Brahmana di India
dengan privilese kasta Sayid di Indonesia. Ketiga,
ia secara khusus menyoroti privilese kaum "Sayid"—sebutan bagi
mereka yang mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW: "Janganlah
tuan pembaca marah, tetapi periksalah surga yang tuan idamkan itu... Pakailah
pikiran nuchter, jernih! Lihatlah sekitar tuan saja! Bukankah 'feramfuan'
suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said, turunan Nabi MUHAMMAD SAW?
Begitu penting ini barang, sampai ketika dua kali saya lalui dan singgah di
Mesir, kaum Ibu masih disimpan baik-baik di antara 4 batu tembok, tak boleh
keluar. Yang keluar mesti dikudungi betul-betul, tak boleh manusia lain,
orang Islam pun melihatnya." Di
sini Tan Malaka menyoroti bagaimana privilese keturunan diterjemahkan dalam
praktik sosial yang diskriminatif—pengurungan dan penutupan wajah kaum
perempuan dari kalangan tertentu. Kritik atas Wayang dan Dominasi Budaya Hindu Tan
Malaka juga menyoroti bagaimana kebudayaan Hindu—yang dibawa oleh kelompok
yang mengklaim superioritas keturunan—telah mendistorsi budaya asli
Indonesia: "Saya
memang sudah lama berniat hendak mempelajari wayang lebih dalam... bahwa
wayang itu bukan berasal Hindu, melainkan kepunyaan Indonesia... wayang,
bayang, memang tepat berarti satu bayangan masyarakat nenek moyang bangsa
Indonesia." Baginya,
wayang sebelum pengaruh Hindu adalah cerminan masyarakat Indonesia yang
praktis, berdasarkan bukti, berani memulai pekerjaan baru, dan berjiwa
merdeka. Namun, setelah masuknya pengaruh Hindu dan Arab, terjadi perubahan
besar: "Kenapa
para Satria dalam cerita Indonesia Tulen bisa diganti, didesak ke sudut atau
diperolok-olokkan (Petruk, Gareng dan Semar) oleh cerita Hindu dan Arab,
sedangkan satria Indonesia ialah pemimpin dari masyarakat sebenarnya." Kritik
ini penting karena menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya menolak kasta
sebagai struktur sosial, tetapi juga menolak narasi budaya yang merendahkan
nilai-nilai lokal dan menggantinya dengan mitologi asing yang justru
melanggengkan hierarki dan fatalisme. Ia menegaskan bahwa peneliti Indonesia
harus memiliki "semangat orang merdeka yang mencari perubahan baik",
bukan sekadar menjadi pengagum budaya asing. Kritik atas Praktik Ekonomi Rentenir Arab (Sayid) Tan
Malaka juga memberikan contoh konkret bagaimana privilese keturunan—dalam hal
ini kelompok Arab/Sayid—diterjemahkan ke dalam praktik ekonomi yang menghisap
rakyat kecil. Dalam bab tentang "Pertentangan" dalam Madilog, ia
menulis kisah tentang "Halal bin Fulus", seorang tuan tanah Arab
yang berprofesi sebagai rentenir: "Pencaharian
Arab di daerah tempat saya menulis Madilog ini, yakni daerah Jakarta,
terutama sekali memperbangkan uang umum di pasar-pasar dipinjamkan Arab pada
Indonesia R 1,- dengan bunga 5 sen sehari. Berupa kecil, tetapi menurut
perhitungan Matematika bunga semacam itu 1,825% setahun... Dengan kerja
semacam itu dari turunan keterurunan, mereka menjadi kaya, ada kaya raya
mempunyai tanah dan rumah." Kemudian
ia menggambarkan bagaimana seorang petani Indonesia terjerat hutang dan
akhirnya kehilangan tanah, rumah, bahkan anak perempuannya, sementara
pengadilan—yang didominasi oleh kepentingan kelas berpunya—selalu memenangkan
pihak rentenir Arab: "Dalam
99 di antara 100 perkara semacam itu, tentulah tuan Halal bin Fulus... yang
menang." Tan
Malaka dengan tegas menyatakan bahwa keadilan tidak bisa diputuskan dengan
logika "hutang harus dibayar" semata, karena persoalan ini berada
dalam kerangka pertentangan kelas antara yang berpunya dan tak berpunya: "Tuan
Fulus Muslimin yang Berpunya, sebagian besar dari kaum Ulama dan Pemerintah
berdasarkan 'kepunyaan sendiri', tentulah 100% membenarkan putusan itu.
Petani berhutang dan hutang mesti dibayar. Ini cocok dengan semua Undang
kemodalan dan cocok dengan semua Agama. Sebaliknya filsafat kaum Tak
Berpunya... 100% pula akan memutuskan bahwa putusan Hakim 'tidak' adil." Ia
bahkan memberikan alternatif hukum yang radikal: jika ia berkuasa, ia akan
mengusir rentenir asing atau menjadikannya pekerja selama 13 tahun. Di sini,
Tan Malaka menunjukkan bahwa privilese keturunan tidak hanya soal simbol
kehormatan, tetapi memiliki dampak material yang nyata—penghisapan ekonomi,
penguasaan tanah, dan perampasan martabat rakyat kecil. Titik Temu Keduanya: Melawan Hierarki Keturunan Titik
temu paling jelas antara Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman adalah sama-sama
menolak nasab sebagai dasar superioritas yang tidak perlu diuji. Tan
Malaka menolak kasta karena ia menganggapnya bertentangan dengan kesetaraan
manusia dan menjadi alat penghisapan ekonomi. KH Imaduddin menolak klaim
nasab jika tidak lolos verifikasi ilmiah dan metodologis. Keduanya sama-sama
mengusik kenyamanan otoritas mapan—Tan Malaka menyerang aristokrasi,
feodalisme, dan hegemoni budaya asing; KH Imaduddin menyerang klaim
genealogis yang telah lama diterima publik sebagai sumber karisma keagamaan. Namun,
titik temu itu jangan menutupi perbedaan besar: Tan Malaka menempatkan
persamaan sebagai prinsip sosial-politik universal, sementara Imaduddin
menempatkan pembuktian nasab sebagai persoalan keilmuan dalam tradisi Islam.
Tan Malaka lebih radikal secara ideologis, sedangkan Imaduddin lebih
teknis-metodologis. Implikasi Sosial-Politik: Polemik Nasab sebagai
Cermin Ketimpangan Simbolik dan Material Perbandingan
kedua tokoh menunjukkan bahwa persoalan nasab di Indonesia bukan sekadar soal
silsilah keluarga. Ia berkaitan dengan otoritas agama, simbol kehormatan,
stratifikasi sosial, ekonomi, bahkan rasa percaya diri umat. Kritik terhadap
nasab sering memicu reaksi emosional karena yang dipertaruhkan bukan hanya
benar-salahnya silsilah, tetapi juga posisi sosial yang selama ini melekat
padanya. Kritik atas "Tarimisasi" dan Dominasi
Budaya Asing Terdapat
narasi mengenai upaya "Tarinisasi" (dominasi budaya dari Tarim,
Hadramaut) yang berusaha menancapkan pengaruhnya di Nusantara. Sebutan Ajam
yang digunakan untuk merendahkan masyarakat pribumi—sebagaimana dicatat Tan
Malaka dalam kritiknya atas feodalisme dan privilese keturunan—kini telah
dibongkar oleh data-data sejarah dan sains modern. Klaim nasab yang tidak
dibarengi dengan bukti sejarah yang kuat runtuh di hadapan penelitian ilmiah
dan tes DNA. Resistensi terhadap Penjajahan Mental Ancaman
seperti "kualat" kepada Habib atau ancaman masuk neraka bagi mereka
yang kritis, sebagaimana dicatat dalam berbagai narasi, merupakan alat
penjajahan mental yang sangat efektif untuk membungkam nalar publik. Tan
Malaka dan KH Imaduddin, dari jalur yang berbeda, sama-sama berjuang memutus
rantai penjajahan mental tersebut—Tan Malaka melalui Madilog yang menuntut
rasionalitas, KH Imaduddin melalui verifikasi tekstual yang menuntut
akuntabilitas. Introspeksi dan Masa Depan Bangsa Alih-alih
menyalahkan pihak yang membongkar nasab, saya mengajak pihak yang selama ini
mengklaim nasab untuk melakukan introspeksi diri atas perilaku masa lalu yang
mengatasnamakan Nabi demi kepentingan materiil. Kajian ini diakhiri dengan
apresiasi bagi tokoh seperti Tan Malaka yang memelopori keberanian untuk
berpikir rasional, agar bangsa Indonesia tidak lagi mudah dibodohi oleh
siapapun yang mengeksploitasi simbol agama dan nasab untuk melanggengkan
hierarki sosial. Penutup: Kehormatan Sejati Lahir dari Ilmu dan
Integritas Pada
akhirnya, Tan Malaka dan KH Imaduddin Utsman sama-sama mengajukan pertanyaan
yang mengguncang: apakah manusia harus dihormati karena dirinya, atau karena
darah yang mengalir dalam tubuhnya? Tan
Malaka menjawab lewat kritik atas kasta—sebuah kritik yang secara eksplisit
menyasar praktik sosial di Indonesia, sebagaimana terbukti dalam tulisannya:
"seperti kasta Sayid di Indonesia ini juga", "Bukankah
'feramfuan' suatu barang yang nomer wahid buat tuan Said", kritik atas
wayang Hindu yang merendahkan budaya lokal, dan kisah Halal bin Fulus yang
menggambarkan penghisapan ekonomi oleh rentenir Arab. Baginya, privilese
keturunan hanyalah bayangan dari struktur feodal yang harus dihancurkan demi
keadilan sosial, ekonomi, dan budaya. KH
Imaduddin menjawab lewat pembatalan nasab yang tidak memenuhi syarat
ilmiah—sebuah kritik yang berbasis pada verifikasi kitab-kitab nasab, metode
syuhrah wal istifadlah, dan penolakan terhadap klaim yang muncul tanpa dalil
yang kuat. Jika
dibaca bersama, keduanya mengajarkan bahwa kehormatan paling kuat adalah yang
lahir dari ilmu, integritas, dan manfaat sosial, bukan dari garis keturunan
yang tak boleh dipersoalkan. Dalam sejarah pemikiran Indonesia, itu adalah
kritik yang sangat penting karena menyasar sumber-sumber lama dari
ketimpangan simbolik—dan material—yang masih hidup hingga hari ini. ● Sumber: -Madilog (Tan Malaka, 1942–1943). -Ulama Nusantara Menggugat Nasab Palsu
(KH Imaduddin Utsman al-Bantani, 2024), - https://youtu.be/MZKMP4wakYI Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/VVDKyiRPCT/tan-malaka-madilog-dan-kritik-hierarki-sosial-membedah-akar-polemik-nasab-di-indonesia
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar