Senin, 20 Juli 2026

 

Bagaimana Sebenarnya Hubungan Dasco-Sjafrie di Bawah Prabowo

Francisca Christy Rosana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin merupakan dua tokoh yang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto.

 

·      Mereka sering ikut menentukan dan memberi masukan dalam pembuatan keputusan penting Presiden.

 

·      Dasco dan Sjafrie beberapa kali tak sejalan dalam merespons situasi politik dan ekonomi.

 

RIAK-RIAK hubungan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad terekam dalam berbagai peristiwa sejak Prabowo Subianto menjadi presiden pada Oktober 2024. Salah satunya demonstrasi menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat pada akhir Agustus 2025.

 

Di tengah gelombang unjuk rasa besar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan status darurat militer. Gagasan itu disampaikan saat Presiden Prabowo mengundang jajarannya dalam rapat di rumah pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 29 Agustus 2025. Status darurat militer akan memberi jalan bagi tentara untuk memimpin operasi meredam unjuk rasa.

 

Pejabat di sekitar Prabowo yang mengetahui pembahasan itu bercerita bahwa kolega Presiden tak menyetujui rencana penerapan darurat militer. Dua narasumber bercerita, Dasco menyatakan dalam rapat itu bahwa opsi darurat militer justru bisa membuka peluang menjatuhkan Prabowo.

 

Sjafrie melalui pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan saat itu, Frega Wenas Inkiriwang, membantah kabar mengenai pengusulan penerapan darurat militer. “Pak Sjafrie selalu berpegang pada konstitusi,” kata Frega, yang kini menjabat Deputi Geostrategi Dewan Pertahanan Nasional.

 

Frega waktu itu mengatakan Sjafrie tak pernah menyatakan akan menerapkan darurat militer dalam menghadapi unjuk rasa. Tugas Menteri Pertahanan adalah memberi masukan kepada presiden mengenai opsi-opsi penanganan masalah yang berkaitan dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah.

 

Setelah demonstrasi reda, Sjafrie dan Dasco bertemu di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, pada 16 September 2025. Sjafrie dan Dasco bersalaman dan duduk berdampingan. “Saya perlu mengkomunikasikan dengan pimpinan DPR untuk hal-hal yang perlu menjadi atensi nasional,” ujar Sjafrie.

 

Silang pendapat di antara Sjafrie dan Dasco pun terentang dalam urusan ekonomi. Kali ini terjadi ketika laporan MSCI dirilis, sekitar Februari 2026. MSCI melaporkan sejumlah persoalan di pasar modal yang bisa berujung pada penurunan status Indonesia menjadi frontier market yang dapat mempengaruhi kelayakan investasi. Laporan MSCI memicu pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan.

 

Dua pejabat yang mengetahui dinamika peristiwa itu menuturkan, ada usulan dari Sjafrie agar pimpinan OJK dan Bursa Efek Indonesia mendapat sanksi. Hukuman itu merupakan bentuk tanggung jawab karena membiarkan praktik goreng-menggoreng saham sehingga berujung pada rusaknya kredibilitas pasar modal, sebagaimana temuan MSCI.

 

Menurut narasumber yang sama, ide pemberian sanksi terhadap pimpinan OJK dan BEI itu disampaikan Sjafrie kepada Prabowo ketika laporan MSCI baru dirilis ke publik.

 

Mengetahui ada ide memperkarakan petinggi lembaga keuangan, Dasco berupaya membendung. Ia mengusulkan jalan tengah agar kondisi pasar saham tak makin bergejolak.

 

Jalan tengah itu adalah meminta para pejabat OJK dan BEI mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban. Opsi ini yang belakangan diambil Presiden Prabowo.

 

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penyebab pengunduran diri para pejabat lembaga keuangan bukan intervensi Istana. “Tidak ada hubungannya dan kami menghormati itu,” tutur Prasetyo pada Februari 2026.

 

Persinggungan Sjafrie dengan Dasco juga terjadi di Partai Gerindra. Sejumlah politikus Gerindra bercerita, Prabowo yang menjabat ketua umum sempat menimang-nimang Sjafrie untuk mengisi jabatan Ketua Harian Partai Gerindra. Posisi itu kini dipegang Dasco.

 

Rencana Prabowo mengajak Sjafrie, sahabatnya sejak di Akademi Militer, mendapat hambatan dari politikus muda di lingkaran Prabowo yang terkenal di lingkup internal partai sebagai "Hambalang Boys". Para kader muda Gerindra itu menyatakan bahwa Sjafrie memiliki gap usia yang jauh dengan konstituen partai.

 

Prabowo kemudian meminta pertimbangan kader senior. Salah satunya Dasco. Prabowo melontarkan nama Sugiono untuk mengisi kursi Sekretaris Jenderal Gerindra yang dipegang Ahmad Muzani selama 17 tahun. “Saya mendukung pilihan Pak Prabowo,” ujar Dasco waktu itu.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/dasco-sjafrie-konflik-polisi-jaksa-2276734

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar