|
Bagaimana Sebenarnya
Hubungan Dasco-Sjafrie di Bawah Prabowo Francisca
Christy Rosana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
· Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie
Sjamsoeddin merupakan dua tokoh yang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto. · Mereka sering ikut menentukan dan
memberi masukan dalam pembuatan keputusan penting Presiden. · Dasco dan Sjafrie beberapa kali tak
sejalan dalam merespons situasi politik dan ekonomi. RIAK-RIAK
hubungan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Wakil Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad terekam dalam berbagai peristiwa sejak
Prabowo Subianto menjadi presiden pada Oktober 2024. Salah satunya
demonstrasi menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat pada akhir Agustus
2025. Di
tengah gelombang unjuk rasa besar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin
mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan status darurat militer. Gagasan
itu disampaikan saat Presiden Prabowo mengundang jajarannya dalam rapat di
rumah pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 29 Agustus
2025. Status darurat militer akan memberi jalan bagi tentara untuk memimpin
operasi meredam unjuk rasa. Pejabat
di sekitar Prabowo yang mengetahui pembahasan itu bercerita bahwa kolega
Presiden tak menyetujui rencana penerapan darurat militer. Dua narasumber
bercerita, Dasco menyatakan dalam rapat itu bahwa opsi darurat militer justru
bisa membuka peluang menjatuhkan Prabowo. Sjafrie
melalui pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan saat itu, Frega Wenas Inkiriwang,
membantah kabar mengenai pengusulan penerapan darurat militer. “Pak Sjafrie
selalu berpegang pada konstitusi,” kata Frega, yang kini menjabat Deputi
Geostrategi Dewan Pertahanan Nasional. Frega
waktu itu mengatakan Sjafrie tak pernah menyatakan akan menerapkan darurat
militer dalam menghadapi unjuk rasa. Tugas Menteri Pertahanan adalah memberi
masukan kepada presiden mengenai opsi-opsi penanganan masalah yang berkaitan
dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Setelah
demonstrasi reda, Sjafrie dan Dasco bertemu di kompleks DPR, Senayan,
Jakarta, pada 16 September 2025. Sjafrie dan Dasco bersalaman dan duduk
berdampingan. “Saya perlu mengkomunikasikan dengan pimpinan DPR untuk hal-hal
yang perlu menjadi atensi nasional,” ujar Sjafrie. Silang
pendapat di antara Sjafrie dan Dasco pun terentang dalam urusan ekonomi. Kali
ini terjadi ketika laporan MSCI dirilis, sekitar Februari 2026. MSCI
melaporkan sejumlah persoalan di pasar modal yang bisa berujung pada
penurunan status Indonesia menjadi frontier market yang dapat mempengaruhi
kelayakan investasi. Laporan MSCI memicu pengunduran diri sejumlah pejabat
tinggi Otoritas Jasa Keuangan. Dua
pejabat yang mengetahui dinamika peristiwa itu menuturkan, ada usulan dari
Sjafrie agar pimpinan OJK dan Bursa Efek Indonesia mendapat sanksi. Hukuman
itu merupakan bentuk tanggung jawab karena membiarkan praktik
goreng-menggoreng saham sehingga berujung pada rusaknya kredibilitas pasar
modal, sebagaimana temuan MSCI. Menurut
narasumber yang sama, ide pemberian sanksi terhadap pimpinan OJK dan BEI itu
disampaikan Sjafrie kepada Prabowo ketika laporan MSCI baru dirilis ke
publik. Mengetahui
ada ide memperkarakan petinggi lembaga keuangan, Dasco berupaya membendung.
Ia mengusulkan jalan tengah agar kondisi pasar saham tak makin bergejolak. Jalan
tengah itu adalah meminta para pejabat OJK dan BEI mengundurkan diri sebagai
bentuk pertanggungjawaban. Opsi ini yang belakangan diambil Presiden Prabowo. Menteri
Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penyebab pengunduran diri para
pejabat lembaga keuangan bukan intervensi Istana. “Tidak ada hubungannya dan
kami menghormati itu,” tutur Prasetyo pada Februari 2026. Persinggungan
Sjafrie dengan Dasco juga terjadi di Partai Gerindra. Sejumlah politikus
Gerindra bercerita, Prabowo yang menjabat ketua umum sempat menimang-nimang
Sjafrie untuk mengisi jabatan Ketua Harian Partai Gerindra. Posisi itu kini
dipegang Dasco. Rencana
Prabowo mengajak Sjafrie, sahabatnya sejak di Akademi Militer, mendapat
hambatan dari politikus muda di lingkaran Prabowo yang terkenal di lingkup
internal partai sebagai "Hambalang Boys". Para kader muda Gerindra
itu menyatakan bahwa Sjafrie memiliki gap usia yang jauh dengan konstituen
partai. Prabowo
kemudian meminta pertimbangan kader senior. Salah satunya Dasco. Prabowo
melontarkan nama Sugiono untuk mengisi kursi Sekretaris Jenderal Gerindra
yang dipegang Ahmad Muzani selama 17 tahun. “Saya mendukung pilihan Pak
Prabowo,” ujar Dasco waktu itu. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/dasco-sjafrie-konflik-polisi-jaksa-2276734 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar