|
Ketekunan Bocah SD di Pelosok Boyolali
Berbuah Apresiasi dari NASA Kristi
Dwi Utami : Wartawan Kompas |
KOMPAS, 21 Juli 2026
|
Ibrahim Al Abrar (12), siswa SD dari Boyolali, Jateng,
mendapatkan apresiasi seusai berhasil menemukan celah kerentanan pada sistem
keamanan NASA. Berikut kisahnya. Berkat ketekunan belajar secara mandiri menggunakan alat-alat
sederhana, Ibrahim Al Abrar (12), warga pelosok Kabupaten Boyolali, Jawa
Tengah, berhasil menemukan celah kerentanan pada sistem keamanan siber
National Aeronautics and Space Administration atau NASA. Bocah kelas VI SD
itu lantas melapor. Temuannya langsung mendapatkan apresiasi dari NASA. Kecintaan Ibrahim pada dunia teknologi informasi bermula tahun
2024, saat bocah itu duduk di bangku kelas IV SD. Seperti kebanyakan bocah
seusianya, warga Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, itu
kerap berlama-lama bermain gim di ponsel. Kebiasaan itu pun membuat
orangtuanya, Aminuddin Salas (36) dan Hannisa Oktaviani (36), khawatir. Alih-alih melarang, Aminuddin justru memilih untuk memberikan
tantangan bagi Ibrahim. Anak kedua dari tiga bersaudara itu ditantang oleh
Aminuddin untuk membuat sendiri gim yang akan dimainkan. ”Dia kemudian bertanya bagaimana caranya membuat gim. Lalu, saya
bilang kalau untuk membuat gim harus belajar coding dulu,” kata Aminuddin
saat dihubungi, Minggu (19/7/2026) petang. Kebetulan, Aminuddin yang merupakan guru Teknologi dan Jaringan
di salah satu SMK di Boyolali itu memahami dasar-dasar ilmu coding atau penulisan
kode menggunakan bahasa pemrograman komputer. Ia lalu mengajarkan materi itu
pada Ibrahim. Berbekal ilmu dasar dari ayahnya dan panduan dari Youtube dan
akal imitasi (AI), Ibrahim berhasil membuat gim. Capaian itu tak lantas membuat Ibrahim puas. Siswa SD Negeri 3
Genengsari itu bersemangat ingin belajar lebih jauh soal coding karena
penasaran. Tak hanya disimpan sendiri, perjalanan Ibrahim mempelajari coding
direkam dan dibagikan di media sosialnya. Kegiatan Ibrahim mendapatkan apresiasi dari orang-orang yang juga
menekuni coding. Sebagian lantas menyarankan Ibrahim untuk mengaplikasikan
coding pada sistem keamanan siber. Lagi-lagi, berkat panduan dari Youtube dan
AI, Ibrahim berhasil mempelajari sistem keamanan siber. Dalam proses pembelajarannya selama lebih kurang enam bulan,
Ibrahim sempat menemukan adanya celah pada keamanan siber web milik salah
satu instansi di dalam negeri. Ia lalu melaporkan temuannya itu supaya bisa
diperbaiki oleh pengelolanya dan tidak dimanfaatkan pihak-pihak tidak
bertanggung jawab. Ibrahim terus melebarkan sayapnya. Tak hanya situs-situs dalam
negeri, ia mulai tertarik menelusuri situs-situs internasional. Suatu ketika, Ibrahim mendapatkan informasi bahwa NASA membuka
peluang bagi siapa pun untuk menemukan kelemahan pada sistem atau web mereka.
Hal itu membuat Ibrahim semakin bersemangat. Setelah konsisten mencari selama lebih kurang dua bulan, Ibrahim
menemukan adanya celah kerentanan yang disebut broken link hijacking atau
pranala yang sudah mati tetapi bisa dihidupkan kembali di web NASA. Temuan
itu lantas dilaporkan ke NASA. Sebab, jika tidak, pranala itu bisa dihidupkan
kembali oleh pihak lain dan disalahgunakan. ”Di web NASA itu ada ribuan link yang dicek, jadi tidak langsung
ketemu. Waktu untuk mencari itu juga bisa berjam-jam bahkan hingga
berhari-hari. Pernah Ibrahim itu terus mencari sampai enam hari. Jadi memang
perlu ketekunan dan konsistensi untuk mengecek link-link itu satu per satu,”
ucap Aminuddin. Sejak April 2026, Ibrahim disebut telah menemukan empat
kerentanan yang berbeda pada web NASA. Seluruh temuannya itu pun dilaporkan.
Namun, tak semuanya diterima begitu saja. Laporan pertama Ibrahim dinyatakan ditolak karena dianggap
duplikat. Hal itu terjadi karena sudah ada orang lain yang lebih dulu
melaporkan temuan itu. Kemudian, laporan keduanya juga ditolak. Kali ini,
alasannya karena temuan itu dianggap bukan sebuah kerentanan. Tak mau menyerah, Ibrahim terus berupaya. Ia kembali melaporkan
temuannya yang ketiga. Akhirnya, temuannya itu dinyatakan diterima.
Sayangnya, hingga beberapa waktu setelah laporan itu, belum ada tindak lanjut
dari NASA. Ibrahim tidak putus asa. Dia mencari lagi sampai menemukan
kerentanan yang keempat. Kemudian, Ibrahim kembali melaporkan temuannya itu. Pada 9 Juli 2026, kabar baik yang ditunggu Ibrahim tiba. Sebuah
surat elektronik dari NASA masuk. NASA berterima kasih dan menyampaikan
apresiasinya untuk Ibrahim. ”Kemampuan untuk mendeteksi dan melaporkan kerentanan dalam
sistem keamanan merupakan keterampilan yang sangat berharga pada industri
keamanan informasi. Laporan yang anda sampaikan telah membantu NASA
mengidentifikasi kerentanan yang sebelumnya belum diketahui sehingga kami
bisa mengambil langkah untuk menjaga integritas dan ketersediaan informasi NASA,”
tulis Kevin Taylor, mewakili NASA dalam suratnya. Bangga Prestasi Ibrahim itu disebut Aminuddin membuat keluarganya
bangga. Di tengah keterbatasan sumber daya, Ibrahim bisa melakukan hal yang
menurut Aminuddin luar biasa. Aminuddin mengatakan, sejak awal ia tak langsung memfasilitasi
anaknya itu dengan alat-alat yang mumpuni untuk belajar coding maupun
keamanan siber. Awalnya, Ibrahim belajar coding dengan ponselnya. Kemudian,
sejumlah warganet yang menonton konten Ibrahim menyarankan agar Ibrahim difasilitasi
dengan gawai yang lebih besar supaya bisa lebih nyaman saat melakukan coding. Berkat saran warganet itu, Aminuddin dan istrinya sepakat untuk
membelikan Ibrahim mini-personal computer. Setelah Ibrahim mengutarakan
keseriusannya untuk belajar keamanan siber, Aminuddin baru membelikan Ibrahim
laptop dengan spesifikasi yang mumpuni. Aminuddin juga kagum dengan kegigihan Ibrahim dalam belajar.
Meski tanpa didampingi guru khusus atau mengikuti les khusus, Ibrahim bisa
menguasai ilmu coding dan keamanan siber. Kemampuan seperti itu disebut
Aminuddin sangat jarang dimiliki oleh anak SD, apalagi yang bersekolah di
daerah pelosok. ”Kami tinggalnya di pelosok desa, dari Boyolali kota sekitar 2
jam. Di sekolah anak saya memang untuk materi terkait komputer, coding itu
belum pernah diajarkan. Jadi, murni dia belajar sendiri di rumah,” ujarnya. Ibrahim juga disebut Aminuddin belum fasih berbahasa Inggris.
Padahal, laporan yang dikirimkan ke NASA harus ditulis dengan bahasa Inggris.
Kendala itu tak lantas menghalangi Ibrahim. Ia berupaya membuat laporan itu
dengan memanfaatkan AI dan sesekali dibantu orangtuanya. Meski tak sepenuhnya memahami ilmu keamanan siber, Aminuddin dan
istrinya sebisa mungkin selalu mendampingi Ibrahim saat anaknya itu mengakses
internet. Mereka ingin memastikan hal-hal yang dilakukan Ibrahim merupakan
aktivitas legal yang membawa dampak positif dan tidak merugikan orang lain. ”Kalau yang dikatakan orang bahwa Ibrahim membobol atau meng-hack
NASA, itu tidak benar. Tidak sampai seperti itu. Yang dilakukan Ibrahim
namanya ethical hacking,” kata Aminuddin. Ke depan, Aminuddin bertekad akan selalu membantu anaknya
tersebut mengembangkan diri dan meraih cita-citanya menjadi profesional dalam
bidang keamanan siber. Aminuddin berharap, ke depan, anaknya itu bisa juga
bersekolah dan melanjutkan pendidikan di tempat yang bisa mendukung dan
menunjang ketertarikan Ibrahim pada dunia teknologi informasi, khususnya
keamanan siber. Pemerintah Tak hanya dari NASA, prestasi Ibrahim itu juga diapresiasi oleh
Pemerintah Kabupaten Boyolali. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Boyolali Dwi Hari Kuncoro mengatakan, baru pertama kali ada siswa SD di
Boyolali yang mendapatkan prestasi semacam itu. ”NASA ini, kan, lembaga yang tidak main-main. Skalanya
internasional, milik negara besar. Ini ada anak kelas VI SD dari Boyolali
bisa menemukan dan membantu NASA memperbaiki sistem keamanan mereka. Kami
pasti bangga,” ucap Kuncoro. Kuncoro menyebut, hal yang dilakukan Ibrahim menjadi salah satu
bukti bahwa perkembangan teknologi bisa membawa dampak positif. Ke depan, ia
bakal mempertimbangkan materi terkait teknologi informasi diajarkan dalam
muatan lokal di Boyolali. Dengan demikian, para pelajar yang memiliki
ketertarikan di bidang itu bisa mendapatkan tambahan materi di sekolah. ”Kalau memang memungkinkan, kenapa tidak mengajarkan materi itu
di sekolah? Kami pasti akan menginventarisasi dulu untuk gurunya. Kalau untuk
bidang khusus seperti ini, kan, perlu guru atau mentor yang memang
sehari-hari menggeluti bidang itu sehingga ke depan bisa mengasah dan
meningkatkan kemampuan anak-anak seperti Ibrahim,” ucap Kuncoro. Pada Jumat (17/7/2026), Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana
mendatangi Ibrahim di sekolahnya. Ia mengucapkan selamat dan memberikan
bingkisan untuk Ibrahim serta membagikan buku untuk teman-teman Ibrahim di
sekolah tersebut. Dalam video yang diunggah akun Instagram @dwifajarnirwana,
Nirwana sempat berbincang dengan Ibrahim. Ia juga memberikan motivasi bagi
Ibrahim untuk lebih giat belajar dan mengembangkan talentanya. ”Kamu harus lebih giat belajar, optimalkan lagi potensi yang kamu
miliki. Nanti ilmunya kamu semoga bermanfaat untuk bisa membangun Boyolali,
membangun Indonesia,” ujar Nirwana. Nirwana berharap, prestasi Ibrahim bisa menjadi penyemangat bagi
anak-anak lain di Boyolali untuk terus belajar, mengeksplorasi teknologi, dan
mengembangkan potensi sejak dini. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar