|
Pemburu Boti, Apa
Pula Ini? Edy Sembodo :
Redaktur Bahasa Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19
Juli 2026
|
· Presiden Prabowo mengelompokkan LGBTQ
sebagai ancaman pertahanan nonmiliter. · Berkat aturan itu, persekusi terhadap
mereka yang dianggap memiliki orientasi seksual LGBTQ meningkat. · Di media sosial muncul mereka yang
mengatasnamakan pemburu boti yang mempersekusi LGBTQ. HARI-HARI
ini kita memang harus selalu siap menerima kejutan. Tak ada hujan tak ada
badai, Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 111
Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025-2029. Isinya, antara
lain, mengkategorikan penyebaran budaya lesbian, gay, biseksual, transgender,
dan queer (LGBTQ) sebagai ancaman nonmiliter. Sangat
mengherankan bagaimana orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda
dianggap sebagai ancaman. Soalnya, mereka pun sering kali menjadi sasaran
ancaman dan persekusi, seperti laporan Arus Pelangi yang menyebutkan angka
kriminalisasi terhadap LGBTQ meningkat tahun ini. Akibat legitimasi hukum
itu, kini muncul mereka yang menamakan diri Boti Hunter, pemburu boti. Boti,
secara simplistis, dijadikan predikat untuk kelompok LGBTQ. Boti
populer sebagai sebutan bagi orang dengan orientasi homoseksual, terutama
gay. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, bottom. Dalam perkembangannya,
kata itu dipelesetkan menjadi botty atau boti, yang kemudian diambil oleh
bahasa gaul kita. Botty sendiri mengacu pada pria homoseksual yang berperan
pasif dalam kegiatan seksual. Namun masyarakat kebanyakan kini menggunakan
boti untuk menyebut pria homoseksual pada umumnya. Dalam
perkembangannya, boti digunakan untuk mengacu pada kalangan gay atau pria
yang berperilaku seperti perempuan. Pemakaian kata ini secara berulang-ulang
untuk merujuk pada hal tersebut membuat makna lain tersingkirkan. Padahal
bahasa Nusantara sejak dulu telah mengenal kata boti dengan berbagai makna. Dalam
bahasa daerah, boti kita temukan pada penamaan monyet boti (Macaca tonkeana).
Belum jelas benar dari mana sebutan bagi spesies asal Sulawesi Tengah itu
bermula. Namun dalam bahasa suku Kaili, yang merupakan suku asli wilayah
tersebut, boti berarti pengantin. Kata ini pun tipis sekali kaitannya dengan
orientasi seksual. Di Timor
Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, ada daerah bernama Boti yang dihuni suku
Boti. Kehidupan suku ini dekat dengan alam dan mereka memegang teguh
kehidupan tradisional. Mereka juga terkenal dengan produk tradisional tenun.
Suku Boti tentu patut kita banggakan sebagai kekayaan bangsa ini. Terlepas
dari keberadaan kata boti dalam perbendaharaan bahasa Nusantara, mungkin
sebagian dari kita akan mengingat boti sebagai sebuah jenama roti. Roti ini
mulai dipasarkan pada 2002 sebelum akhirnya berhenti diproduksi pada 2011.
Nah, bayangkan jika sebuah roti dipasarkan dengan merek yang sama sekarang.
Apa kata dunia? Barangkali produknya hanya akan menjadi bahan ejekan dan
perundungan di media sosial. Keberadaan
merek dagang roti Boti itu menandakan bahwa kata ini pada awalnya netral dan
tak menyimpan tendensi tertentu. Yang mengubah maknanya adalah emosi atau
fobia kolektif terhadap orang dengan orientasi seksual berbeda. Tentu kita
juga masih ingat penggunaan kata homo dan hombreng yang merujuk pada
orientasi seksual gay. Kata bentukan ini berasal dari bahasa Yunani,
homosexualis, yang berarti hubungan dengan sesama jenis kelamin. Namun dalam
perkembangannya homoseksual hanya disebut homo. Homo
secara ajek ditujukan kepada gay sampai masyarakat kita pun lupa makna
aslinya. Dari homo, terbentuk lagi kata hombreng dengan variasi silabel -eng
atau -reng. Silabel ini kita temukan pula pada cempreng, kerempeng, dan
cengeng yang bernuansa negatif dan ejekan. Dengan begitu, hombreng menjadi
kata yang bernuansa sarkastis dan ejekan. Sebuah
kata memang tabula rasa yang netral dan menyerap pemaknaan dari penggunaan
berulang melalui konteks yang melatarbelakanginya. Sebuah kata bisa
mengakomodasi ejekan semata karena kehendak penuturnya. Pun sebuah kata bisa
mengatribusikan kebencian terhadap mereka yang berbeda. “There
is nothing outside the text.” Tak ada apa pun di luar kata. Begitu kutipan
dari filsuf Jacques Derrida dalam Of Grammatology (1967). Menurut Derrida,
pemahaman akan sebuah realitas selalu dibatasi oleh bahasa atau sistem tanda.
Sekarang kita lihat makna boti seperti dibatasi oleh letupan fenomena yang
menyita perhatian khalayak luas. Seakan-akan makna kata boti yang begitu
beragam tersandera dalam satu interpretasi. Kita tak
bisa lagi memahami realitas yang bebas dari interpretasi karena selalu
terbentur oleh pemaknaan yang lebih dominan. Apalagi jika ada nuansa
kebencian di dalamnya. Maka nahaslah kita harus hidup dikepung kebencian
selama pemaknaan negatif atas kata itu terus berkuasa. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/asal-usul-kata-boti-2276616
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar