Rabu, 22 Juli 2026

 

Pemburu Boti, Apa Pula Ini?

Edy Sembodo  :  Redaktur Bahasa Tempo

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Presiden Prabowo mengelompokkan LGBTQ sebagai ancaman pertahanan nonmiliter.

 

·      Berkat aturan itu, persekusi terhadap mereka yang dianggap memiliki orientasi seksual LGBTQ meningkat.

 

·      Di media sosial muncul mereka yang mengatasnamakan pemburu boti yang mempersekusi LGBTQ.

 

HARI-HARI ini kita memang harus selalu siap menerima kejutan. Tak ada hujan tak ada badai, Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025-2029. Isinya, antara lain, mengkategorikan penyebaran budaya lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) sebagai ancaman nonmiliter.

 

Sangat mengherankan bagaimana orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda dianggap sebagai ancaman. Soalnya, mereka pun sering kali menjadi sasaran ancaman dan persekusi, seperti laporan Arus Pelangi yang menyebutkan angka kriminalisasi terhadap LGBTQ meningkat tahun ini. Akibat legitimasi hukum itu, kini muncul mereka yang menamakan diri Boti Hunter, pemburu boti. Boti, secara simplistis, dijadikan predikat untuk kelompok LGBTQ.

 

Boti populer sebagai sebutan bagi orang dengan orientasi homoseksual, terutama gay. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, bottom. Dalam perkembangannya, kata itu dipelesetkan menjadi botty atau boti, yang kemudian diambil oleh bahasa gaul kita. Botty sendiri mengacu pada pria homoseksual yang berperan pasif dalam kegiatan seksual. Namun masyarakat kebanyakan kini menggunakan boti untuk menyebut pria homoseksual pada umumnya.

 

Dalam perkembangannya, boti digunakan untuk mengacu pada kalangan gay atau pria yang berperilaku seperti perempuan. Pemakaian kata ini secara berulang-ulang untuk merujuk pada hal tersebut membuat makna lain tersingkirkan. Padahal bahasa Nusantara sejak dulu telah mengenal kata boti dengan berbagai makna.

 

Dalam bahasa daerah, boti kita temukan pada penamaan monyet boti (Macaca tonkeana). Belum jelas benar dari mana sebutan bagi spesies asal Sulawesi Tengah itu bermula. Namun dalam bahasa suku Kaili, yang merupakan suku asli wilayah tersebut, boti berarti pengantin. Kata ini pun tipis sekali kaitannya dengan orientasi seksual.

 

Di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, ada daerah bernama Boti yang dihuni suku Boti. Kehidupan suku ini dekat dengan alam dan mereka memegang teguh kehidupan tradisional. Mereka juga terkenal dengan produk tradisional tenun. Suku Boti tentu patut kita banggakan sebagai kekayaan bangsa ini.

 

Terlepas dari keberadaan kata boti dalam perbendaharaan bahasa Nusantara, mungkin sebagian dari kita akan mengingat boti sebagai sebuah jenama roti. Roti ini mulai dipasarkan pada 2002 sebelum akhirnya berhenti diproduksi pada 2011. Nah, bayangkan jika sebuah roti dipasarkan dengan merek yang sama sekarang. Apa kata dunia? Barangkali produknya hanya akan menjadi bahan ejekan dan perundungan di media sosial.

 

Keberadaan merek dagang roti Boti itu menandakan bahwa kata ini pada awalnya netral dan tak menyimpan tendensi tertentu. Yang mengubah maknanya adalah emosi atau fobia kolektif terhadap orang dengan orientasi seksual berbeda. Tentu kita juga masih ingat penggunaan kata homo dan hombreng yang merujuk pada orientasi seksual gay. Kata bentukan ini berasal dari bahasa Yunani, homosexualis, yang berarti hubungan dengan sesama jenis kelamin. Namun dalam perkembangannya homoseksual hanya disebut homo.

 

Homo secara ajek ditujukan kepada gay sampai masyarakat kita pun lupa makna aslinya. Dari homo, terbentuk lagi kata hombreng dengan variasi silabel -eng atau -reng. Silabel ini kita temukan pula pada cempreng, kerempeng, dan cengeng yang bernuansa negatif dan ejekan. Dengan begitu, hombreng menjadi kata yang bernuansa sarkastis dan ejekan.

 

Sebuah kata memang tabula rasa yang netral dan menyerap pemaknaan dari penggunaan berulang melalui konteks yang melatarbelakanginya. Sebuah kata bisa mengakomodasi ejekan semata karena kehendak penuturnya. Pun sebuah kata bisa mengatribusikan kebencian terhadap mereka yang berbeda.

 

“There is nothing outside the text.” Tak ada apa pun di luar kata. Begitu kutipan dari filsuf Jacques Derrida dalam Of Grammatology (1967). Menurut Derrida, pemahaman akan sebuah realitas selalu dibatasi oleh bahasa atau sistem tanda. Sekarang kita lihat makna boti seperti dibatasi oleh letupan fenomena yang menyita perhatian khalayak luas. Seakan-akan makna kata boti yang begitu beragam tersandera dalam satu interpretasi.

 

Kita tak bisa lagi memahami realitas yang bebas dari interpretasi karena selalu terbentur oleh pemaknaan yang lebih dominan. Apalagi jika ada nuansa kebencian di dalamnya. Maka nahaslah kita harus hidup dikepung kebencian selama pemaknaan negatif atas kata itu terus berkuasa. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/asal-usul-kata-boti-2276616

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar