Senin, 20 Juli 2026

 

Palagan Baru Perang Dingin Dua Sekondan Prabowo

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad kerap diberitakan berkonflik diam-diam di belakang layar.

 

·      Peristiwa-peristiwa besar di masa pemerintahan Presiden Prabowo tak lepas dari perseteruan keduanya.

 

·      Dalam konflik polisi-jaksa kali ini, konflik keduanya menentukan bagaimana berjalannya penyidikan dugaan korupsi Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah.

 

DALAM politik sebagai gelanggang kepentingan, ketiadaan intrik dan konflik membuatnya kurang seru. Tanpa intrik dan konflik, politik menjadi datar, kurang riak-riak yang membuat adrenalin melonjak-lonjak. Saya bayangkan demikianlah Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad mengarungi permainan politik di bawah Presiden Prabowo Subianto.

 

Atau, secara natural, politik menyimpan intrik dan konflik, seperti kita kini mengingat “Idus Martiae” atau “Ides of March” sebagai hari pembunuhan Julius Caesar pada 15 Maret 44 sebelum Masehi. Sebelum hari itu, dalam tradisi Romawi, tanggal 15 hanya penanda kalender di pertengahan bulan ketika purnama merekah.

 

“Ides of March” melekat sebagai “hari pengkhianatan” dengan tokoh utama Marcus Brutus. William Shakespeare, dramawan Inggris, mempopulerkan peristiwa ini 1.643 tahun setelah hari pembunuhan itu. Bersama Gaius Longinus, Brutus menggerakkan para politikus Romawi mendongkel Julius Caesar yang baru saja dinobatkan sebagai “penguasa seumur hidup”.

 

Budaya populer makin memuaikan istilah “Ides of March” melalui film dan drama. Salah satunya film The Ides of March yang dibuat dan dibintangi aktor George Clooney pada 2011. Seorang politikus muda harus menerima kenyataan bahwa politik bukan arena mempertahankan nilai-nilai, melainkan ajang pragmatisme dengan intrik-intriknya yang kejam.

 

Demikianlah panggung politik klasik hingga modern tak berubah sebagai persemaian konflik. Majalah ini telah berulang kali menulis tentang perseteruan di belakang layar antara Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad. Keduanya orang dekat dan andalan Presiden Prabowo.

 

Sjafrie adalah teman satu angkatan Prabowo di Akademi Militer. Ia kini menjadi Menteri Pertahanan. Adapun Dasco, meski jabatan formalnya Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, bukan pengontrol eksekutif. Ia acap berperan sebagai juru bicara pemerintah. Barangkali karena ia juga menjabat Ketua Harian Partai Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo.

 

Perselisihan Sjafrie-Dasco tergambar dalam beberapa peristiwa besar. Di antaranya demonstrasi Agustus 2025. Demonstrasi yang bermula dari protes terhadap gaya hidup mewah para politikus dan kemarahan publik pada ejekan mereka itu berujung rusuh. Polisi bersikap represif dalam menangani para demonstran sehingga menewaskan pengemudi ojek daring Affan Kurniawan.

 

Represi dan kerusuhan itu berdampak pada isu besar lain, yakni penggantian Kepala Polri dan usulan pemberlakuan darurat militer. Terdesak keadaan, polisi mengumumkan bahwa intelijen tentara berada di balik kerusuhan yang diwarnai penjarahan rumah elite politik dan pejabat pemerintah. Investigasi Tempo menemukan keributan itu berlatar patronase politik antara Sufmi Dasco di belakang polisi dan Sjafrie Sjamsoeddin yang punya pengaruh kuat di Tentara Nasional Indonesia.

 

Ada juga jejak keduanya dalam kisruh pasar modal pada awal Februari 2026. Morgan Stanley Capital International atau MSCI menerbitkan laporan bahwa pasar modal Indonesia dipenuhi saham gorengan. Laporan yang mengungkap sisi gelap pasar keuangan ini berbuntut mundurnya para pejabat Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan beramai-ramai.

 

Maka, jika kini jejak keduanya muncul lagi dalam konflik polisi-jaksa, sesungguhnya itu palagan baru belaka. Polisi menjerat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah dengan tuduhan memeras para tersangka korupsi. Febrie adalah Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan yang dipimpin Sjafrie. Ketika rumahnya digeledah polisi, puluhan tentara berjaga mengokang senjata. Mereka bahkan mendatangi kantor polisi meminta pengembalian barang bukti.

 

Penyidikan polisi memuncak setelah jaksa agresif menyelidiki dugaan korupsi proyek makan bergizi gratis. Prabowo memang menugasi polisi menjalankan program prioritasnya ini. Jaksa telah menahan para elite Badan Gizi Nasional, termasuk para jenderal polisi.

 

Ketika korupsi merajalela, saling bongkar kejahatan oleh aparatur hukum itu baik buat kita, buat Indonesia. Namun, seperti diulas editorial pekan lalu, jika penegakan hukum berlatar dendam dan saling gertak, mereka hanya sedang melindungi kepentingan yang terusik belaka.

 

Sebetulnya konflik dan intrik para elite itu bagus jika dilandasi kepentingan publik. Ia menjadi parasit jika berlatar pemakaian kekuasaan untuk berebut pengaruh, juga mengegolkan atau melindungi kepentingan masing-masing. Laporan utama pekan ini mengungkap latar belakang konflik polisi dengan jaksa dipicu alasan kedua. Maka, tiga tahun ke depan, kita mungkin akan melihat palagan-palagan baru konflik para elite yang tak bermanfaat bagi publik seperti ini. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-perang-dingin-dua-sekondan-2276830

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar