|
Palagan
Baru Perang Dingin Dua Sekondan Prabowo Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 19 Juli 2026
|
· Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco
Ahmad kerap diberitakan berkonflik diam-diam di belakang layar. · Peristiwa-peristiwa besar di masa
pemerintahan Presiden Prabowo tak lepas dari perseteruan keduanya. · Dalam konflik polisi-jaksa kali ini,
konflik keduanya menentukan bagaimana berjalannya penyidikan dugaan korupsi
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah. DALAM
politik sebagai gelanggang kepentingan, ketiadaan intrik dan konflik
membuatnya kurang seru. Tanpa intrik dan konflik, politik menjadi datar,
kurang riak-riak yang membuat adrenalin melonjak-lonjak. Saya bayangkan
demikianlah Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad mengarungi permainan
politik di bawah Presiden Prabowo Subianto. Atau,
secara natural, politik menyimpan intrik dan konflik, seperti kita kini
mengingat “Idus Martiae” atau “Ides of March” sebagai hari pembunuhan Julius
Caesar pada 15 Maret 44 sebelum Masehi. Sebelum hari itu, dalam tradisi
Romawi, tanggal 15 hanya penanda kalender di pertengahan bulan ketika purnama
merekah. “Ides of
March” melekat sebagai “hari pengkhianatan” dengan tokoh utama Marcus Brutus.
William Shakespeare, dramawan Inggris, mempopulerkan peristiwa ini 1.643
tahun setelah hari pembunuhan itu. Bersama Gaius Longinus, Brutus
menggerakkan para politikus Romawi mendongkel Julius Caesar yang baru saja
dinobatkan sebagai “penguasa seumur hidup”. Budaya
populer makin memuaikan istilah “Ides of March” melalui film dan drama. Salah
satunya film The Ides of March yang dibuat dan dibintangi aktor George
Clooney pada 2011. Seorang politikus muda harus menerima kenyataan bahwa
politik bukan arena mempertahankan nilai-nilai, melainkan ajang pragmatisme
dengan intrik-intriknya yang kejam. Demikianlah
panggung politik klasik hingga modern tak berubah sebagai persemaian konflik.
Majalah ini telah berulang kali menulis tentang perseteruan di belakang layar
antara Sjafrie Sjamsoeddin dan Sufmi Dasco Ahmad. Keduanya orang dekat dan
andalan Presiden Prabowo. Sjafrie
adalah teman satu angkatan Prabowo di Akademi Militer. Ia kini menjadi
Menteri Pertahanan. Adapun Dasco, meski jabatan formalnya Wakil Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat, bukan pengontrol eksekutif. Ia acap berperan sebagai juru
bicara pemerintah. Barangkali karena ia juga menjabat Ketua Harian Partai
Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo. Perselisihan
Sjafrie-Dasco tergambar dalam beberapa peristiwa besar. Di antaranya
demonstrasi Agustus 2025. Demonstrasi yang bermula dari protes terhadap gaya
hidup mewah para politikus dan kemarahan publik pada ejekan mereka itu
berujung rusuh. Polisi bersikap represif dalam menangani para demonstran
sehingga menewaskan pengemudi ojek daring Affan Kurniawan. Represi
dan kerusuhan itu berdampak pada isu besar lain, yakni penggantian Kepala
Polri dan usulan pemberlakuan darurat militer. Terdesak keadaan, polisi
mengumumkan bahwa intelijen tentara berada di balik kerusuhan yang diwarnai
penjarahan rumah elite politik dan pejabat pemerintah. Investigasi Tempo
menemukan keributan itu berlatar patronase politik antara Sufmi Dasco di
belakang polisi dan Sjafrie Sjamsoeddin yang punya pengaruh kuat di Tentara
Nasional Indonesia. Ada juga
jejak keduanya dalam kisruh pasar modal pada awal Februari 2026. Morgan
Stanley Capital International atau MSCI menerbitkan laporan bahwa pasar modal
Indonesia dipenuhi saham gorengan. Laporan yang mengungkap sisi gelap pasar
keuangan ini berbuntut mundurnya para pejabat Bursa Efek Indonesia dan
Otoritas Jasa Keuangan beramai-ramai. Maka,
jika kini jejak keduanya muncul lagi dalam konflik polisi-jaksa, sesungguhnya
itu palagan baru belaka. Polisi menjerat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana
Khusus Febrie Adriansyah dengan tuduhan memeras para tersangka korupsi.
Febrie adalah Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan yang
dipimpin Sjafrie. Ketika rumahnya digeledah polisi, puluhan tentara berjaga
mengokang senjata. Mereka bahkan mendatangi kantor polisi meminta
pengembalian barang bukti. Penyidikan
polisi memuncak setelah jaksa agresif menyelidiki dugaan korupsi proyek makan
bergizi gratis. Prabowo memang menugasi polisi menjalankan program
prioritasnya ini. Jaksa telah menahan para elite Badan Gizi Nasional,
termasuk para jenderal polisi. Ketika
korupsi merajalela, saling bongkar kejahatan oleh aparatur hukum itu baik
buat kita, buat Indonesia. Namun, seperti diulas editorial pekan lalu, jika
penegakan hukum berlatar dendam dan saling gertak, mereka hanya sedang
melindungi kepentingan yang terusik belaka. Sebetulnya
konflik dan intrik para elite itu bagus jika dilandasi kepentingan publik. Ia
menjadi parasit jika berlatar pemakaian kekuasaan untuk berebut pengaruh,
juga mengegolkan atau melindungi kepentingan masing-masing. Laporan utama
pekan ini mengungkap latar belakang konflik polisi dengan jaksa dipicu alasan
kedua. Maka, tiga tahun ke depan, kita mungkin akan melihat palagan-palagan
baru konflik para elite yang tak bermanfaat bagi publik seperti ini. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-perang-dingin-dua-sekondan-2276830 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar