|
Anak Bukan Kertas Kosong Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 13 September 2026
|
Dua saudara
kandung bisa memiliki watak yang bertolak belakang. DNA ikut menjelaskan
perbedaan itu, tetapi DNA bukan takdir. Di dalam satu kelas, guru bisa
menemukan 30 anak dengan 30 cara menghadapi dunia. Ada yang baru lima menit
masuk sudah mengobrol dengan siapa saja. Ada yang duduk tenang, tetapi
matanya sibuk mengamati. Tingkah-polah mereka bermacam-macam.
Ada yang mengangkat tangan sebelum guru selesai bertanya. Ada yang sebenarnya
tahu jawaban, tetapi memilih menunduk karena tidak nyaman bicara di depan
teman-temannya. Di dalam satu keluarga pun begitu. Dua
saudara lahir dari ayah dan ibu yang sama, tinggal di rumah yang sama, tetapi
wataknya bisa seperti berasal dari dua planet berbeda. Anak pertama mudah bergaul dan berani
mengambil risiko. Adiknya lebih hati-hati, sensitif, dan perlu waktu untuk
akrab. Yang satu cepat melupakan teguran. Yang lain membawanya sampai
berhari-hari. Mengapa mereka berbeda? Pertanyaan itu
mendapat tambahan jawaban dari penelitian genetika kepribadian terbaru.
Jurnal Nature baru saja menerbitkan penelitian “Robust inference and
correlates from genetic associations with personality”. Penelitian digarap oleh Ted Schwaba,
Margaret L. Clapp Sullivan, Wonuola A. Akingbuwa, bersama lebih dari 140
peneliti dalam _Revived Genomics of Personality Consortium (ReGPC). Tim ini
menggabungkan data dari 46 kohort penelitian di berbagai negara. Para peneliti menemukan 1.260 varian
genetik yang berkaitan dengan lima besar sifat kepribadian atau Big Five.
Sebanyak 824 varian di antaranya merupakan temuan baru. Kepribadian Big Five bukan lima kotak
untuk mengurung manusia, melainkan lima dimensi untuk memahami kecenderungan
kepribadian. Extraversion berkaitan dengan keaktifan dan kegemaran
berinteraksi; agreeableness dengan sikap kooperatif dan perhatian kepada
orang lain. Sementara conscientiousness
berhubungan dengan keteraturan, ketekunan, dan tanggung jawab; neuroticism
terkait dengan kecenderungan mengalami kecemasan atau emosi negatif;
sedangkan openness to experience menyangkut imajinasi, rasa ingin tahu, dan
keterbukaan terhadap pengalaman baru. Setiap orang memiliki kelima dimensi
tersebut dalam kadar berbeda. Namun, jangan buru-buru mencari “gen anak
rajin”, “gen pemalu”, atau “gen calon pemimpin”. Ted Schwaba, penulis utama penelitian
dari Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada satu gen yang
menentukan kepribadian. Pengaruh setiap varian sangat kecil. Pengaruh yang
lebih berarti muncul dari kombinasi banyak varian. Temuan ini memperkuat rumus bahwa
manusia memang membawa kecenderungan bawaan. Tetapi penelitian tersebut juga
menegaskan kuatnya peran lingkungan. Gen dan lingkungan tidak bekerja seperti
dua pasukan yang saling berebut kemenangan. Keduanya berinteraksi sepanjang
kehidupan. Contohnya, varian yang berkaitan
dengan openness juga berhubungan dengan kecenderungan tinggal di lingkungan
yang lebih kosmopolitan. Pengalaman hidup di lingkungan itu kemudian dapat
memperkuat atau membentuk kecenderungan yang sama. Jadi, anak bukan kertas kosong, tetapi
juga bukan buku yang seluruh isinya sudah dicetak sejak lahir. Ia seperti
benih yang membawa kemungkinan, lalu tumbuh dalam tanah tertentu. Di sinilah guru mempunyai pekerjaan
penting. Anak pendiam tidak otomatis kurang mampu. Jika guru langsung
menyebutnya “tidak percaya diri”, lalu memaksanya tampil tanpa persiapan, ia
mungkin hanya memperkuat kecemasannya. Guru dapat memulai dari jawaban
tertulis, diskusi berpasangan, kelompok kecil, lalu presentasi. Guru tidak
menghapus sifat pendiamnya, tetapi menyediakan jalan agar keberanian tumbuh. Anak yang sangat aktif pun tidak
selalu membutuhkan lebih banyak perintah untuk diam. Energinya dapat
diarahkan menjadi kekuatan: menjadi moderator diskusi, pemimpin eksperimen,
penjaga waktu, atau penyaji hasil kelompok. Anak yang teliti mungkin unggul dalam
tugas yang membutuhkan ketekunan, tetapi perlu bantuan ketika menghadapi
perubahan mendadak. Anak spontan mungkin kurang rapi, tetapi mampu menemukan
solusi dalam situasi yang berubah. Karena itu, guru perlu mengganti
kebiasaan memberi label. Gantilah dengan kebiasaan mencari pola. Jangan berhenti pada “Budi malas”.
Tanyakan: kapan ia kehilangan minat? Apakah ia kesulitan memahami instruksi?
Apakah ia lebih aktif ketika belajar melalui praktik? Apakah ia lambat
memulai karena takut salah? Pertanyaan yang lebih baik menghasilkan perlakuan
yang lebih tepat. Penelitian ini juga menemukan hubungan
antara pola genetik kepribadian dan berbagai aspek kehidupan, termasuk
kesehatan, pendidikan, karier, pendapatan, umur panjang, serta kebiasaan
sehari-hari. Tetapi hubungan statistik bukan
ramalan nasib. Gen yang berkaitan dengan suatu kecenderungan tidak otomatis
menyebabkan seseorang pasti sakit, kaya, atau berhasil dalam karier tertentu. Justru karena gen berpengaruh, kita
perlu rendah hati. Kita tidak menciptakan anak dari nol. Namun, karena
lingkungan juga berpengaruh, kita tidak boleh menyerah dengan kalimat,
“Memang sudah dari sananya.” Kalimat itu sering menjadi alasan paling nyaman
untuk tidak mengubah cara mendidik. Tugas orang tua dan guru bukan membuat
semua anak memiliki watak yang sama. Tugas mereka adalah mengenali
kecenderungan masing-masing anak, mengembangkan kekuatannya, dan membantu
mengelola hal-hal yang menghambat pertumbuhannya. Pendidikan bukan pabrik yang
menghasilkan barang seragam. Ia lebih mirip kebun: tanaman berbeda
membutuhkan perlakuan berbeda. Maka, ketika anak tidak seperti kakaknya atau
murid tidak cocok dengan metode mengajar kita, jangan buru-buru bertanya,
“Mengapa dia tidak bisa seperti yang lain?” Tanyakan: “Siapa sebenarnya anak ini,
dan lingkungan seperti apa yang membuatnya bertumbuh?” Mungkin masalahnya bukan anak itu
terlalu berbeda. Mungkin kita terlalu lama mengira bahwa mendidik berarti
membuat semua anak menjadi sama. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar