|
Grace Wangge: Olahraga Saja Tak Cukup Cegah Penyakit Muhammad Naufal : Jurnalis Tirto.id. |
TIRTO.ID, 12 September
2026
|
Tren hidup sehat semakin
terlihat dalam keseharian masyarakat. Gym, lari, pilates, yoga, bersepeda,
hingga padel tidak lagi sekadar menjadi aktivitas rekreasi, tetapi mulai
menjadi bagian dari rutinitas dan gaya hidup, terutama di kawasan perkotaan. Sejumlah data menunjukkan
meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas fisik. Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat 37,16 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas
melakukan olahraga dalam seminggu terakhir pada 2024. Angka tersebut
meningkat dari 27,14 persen pada 2021. Survei Populix pada 2026
juga menunjukkan 81 persen pekerja kantoran rutin berolahraga di tengah
kesibukan mereka. Perkembangan olahraga tertentu bahkan berlangsung lebih
cepat. Jumlah lapangan padel di Indonesia, misalnya, meningkat dari 240 unit
pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, berdasarkan Indonesia Padel Report 2025
dari Growell. Meningkatnya aktivitas
fisik tersebut menjadi menarik jika dilihat bukan hanya sebagai tren gaya
hidup, tetapi juga dari perspektif kesehatan masyarakat. Sebab, di saat
masyarakat mulai mengalokasikan waktu dan biaya untuk menjaga kebugaran,
Indonesia masih menghadapi tingginya faktor risiko penyakit tidak menular,
seperti hipertensi, obesitas, diabetes, merokok, dan kurangnya aktivitas
fisik. Persoalan tersebut juga
berkaitan dengan besarnya beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat biaya pelayanan kesehatan mencapai
Rp191,33 triliun, lebih tinggi dibandingkan pendapatan iuran yang terkumpul
sebesar Rp176,72 triliun. Penyakit katastropik menyerap 26,28 persen dari
total biaya pelayanan tersebut, dengan penyakit jantung, gagal ginjal,
kanker, dan stroke menjadi sejumlah penyumbang biaya terbesar. Kondisi ini memunculkan
pertanyaan: ketika semakin banyak masyarakat mulai berinvestasi untuk menjaga
kesehatan, seberapa jauh perubahan perilaku tersebut dapat menjadi bagian
dari upaya pencegahan penyakit dan mengurangi beban pembiayaan kesehatan di
masa mendatang? Namun, pencegahan tidak
cukup hanya dengan mendorong masyarakat berolahraga. Pola makan, kebiasaan
merokok, tidur, skrining, akses terhadap layanan kesehatan preventif, serta
lingkungan tempat masyarakat tinggal dan bekerja juga turut menentukan. Untuk membahas
efektivitas pendekatan promotif dan preventif, pentingnya membangun kebiasaan
hidup sehat sejak usia muda, serta peran berbagai sektor di luar kesehatan
dalam mendorong perubahan perilaku, Tirto berbincang dengan Associate
Professor Public Health Monash University Indonesia, Grace Wangge. Di tengah besarnya beban
pembiayaan JKN untuk penyakit kronis, seberapa penting pergeseran dari
pendekatan kuratif ke promotif dan preventif? Sangat penting.
Pendekatan kesehatan seharusnya lebih diarahkan pada upaya promotif dan
preventif. Investasi pada pencegahan mungkin tidak selalu lebih murah, tetapi
dapat lebih cost-effective. Ketika kita bicara soal
murah, ukurannya tidak bisa hanya berdasarkan jumlah uang yang dikeluarkan,
tetapi juga seberapa efisien biaya tersebut dalam menurunkan angka kesakitan.
Pada tahap awal, biaya untuk skrining dan berbagai intervensi preventif
mungkin terlihat besar. Namun, dalam jangka panjang, biaya per pasien dapat
menurun karena jumlah orang yang sehat lebih banyak daripada yang sakit. Sejauh mana program
promotif dan preventif dalam JKN saat ini sudah efektif mendorong masyarakat
melakukan skrining dan mencegah penyakit sejak awal? Efektivitas program
promotif dan preventif memang digawangi oleh Kementerian Kesehatan, tetapi
sebenarnya tidak cukup jika hanya berfokus pada program dalam lingkup
kesehatan yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas. Pendekatannya perlu
menyeluruh dan melibatkan lintas sektor. Misalnya, untuk
pengendalian diabetes dan penyakit kardiovaskular, perlu ada pembatasan
garam, gula, dan lemak. Hal tersebut tidak bisa hanya mengandalkan upaya
promotif dengan mengharapkan masyarakat melakukan skrining dan mengurangi
konsumsi. Kebijakan perpajakan
perlu diatur, perdagangan garam, gula, dan lemak perlu diperhatikan, serta
kandungannya dalam makanan perlu dibatasi. Hal-hal tersebut berada di luar
kewenangan Kementerian Kesehatan saja. Mendorong skrining juga
demikian. Jika hanya dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan, tidak akan cukup.
Kementerian Ketenagakerjaan, misalnya, sudah membantu melalui skrining
kesehatan di tempat kerja. Skrining di tempat kerja akan lebih tertata
dibandingkan jika hanya dilakukan di tingkat komunitas. Skrining di sekolah juga
membutuhkan dukungan Kementerian Pendidikan, sementara skrining kesehatan
dalam penyelenggaraan ibadah haji membutuhkan dukungan Kementerian Agama.
Jadi, upaya promotif dan preventif memang membutuhkan kerja lintas sektor. Seberapa efektif
kebiasaan hidup sehat yang dimulai sejak usia muda dalam menurunkan risiko
penyakit kronis ketika seseorang memasuki usia lanjut? Studi di Asia yang
memiliki periode pengamatan panjang belum ada. Namun, ada studi kohort di
Amerika Serikat, CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults),
yang mengamati sekitar 5.100 orang dewasa muda berusia 18–30 tahun selama 35
tahun. Pada mereka yang
konsisten menjalankan kebiasaan hidup sehat—menjaga pola makan, melakukan
aktivitas fisik, tidak merokok, dan cukup tidur—serta menjaga IMT normal,
kadar kolesterol non-HDL, kadar glukosa darah, dan tekanan darah tetap
stabil, peluangnya 20 kali lebih besar untuk mencapai usia paruh baya dengan
penyakit kardiovaskular yang lebih sedikit. Pembuluh darah mereka
kebanyakan bersih dari plak dibandingkan dengan mereka yang kurang atau tidak
sama sekali menjalankan kebiasaan hidup sehat dan menjaga kestabilan
parameter kesehatan tersebut. Dari sisi medis, apakah
perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin rutin melakukan gym, lari,
pilates, atau olahraga lain sudah bisa dianggap sebagai tren positif bagi
kesehatan masyarakat? Gym, lari, dan pilates
sudah bisa dianggap sebagai tren kesadaran positif karena menunjukkan bahwa
masyarakat mau melakukan aktivitas fisik. Itu sudah bagus, tetapi perlu
dibarengi dengan kebiasaan hidup sehat lainnya, seperti menjaga pola makan,
terutama mengurangi gula, garam, dan lemak; tidak merokok; tidur cukup; serta
rutin memeriksa kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan memastikan IMT
tetap normal. Kalau nge-gym hanya untuk
mengikuti tren sosial, tetapi setelah itu tetap merokok, banyak mengonsumsi
minuman berpemanis, dan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan, belum bisa
dikatakan sebagai tren positif bagi kesehatan. Mengapa masyarakat
cenderung baru mengakses layanan kesehatan ketika sudah sakit? Apa yang perlu
diubah dari sistem kesehatan agar perilaku preventif menjadi kebiasaan? Hal ini sebenarnya perlu
dijawab oleh para antropolog medis untuk memahami mengapa perilaku tersebut
terbentuk. Salah satunya tentu karena kebiasaan. Selama ini masyarakat memang
terbiasa datang ke rumah sakit ketika sakit. Namun, masyarakat juga
tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena akses layanan kesehatan selama ini
lebih banyak disediakan dan dipermudah bagi mereka yang sudah sakit. Untuk mengubahnya menjadi
perilaku preventif, akses terhadap layanan preventif harus diperbanyak dan
dipermudah. Persepsi bahwa pergi ke dokter pasti menyakitkan atau pasti akan
disuntik juga perlu diubah. Salah satunya melalui
pendidikan. Di sekolah, misalnya, pentingnya menjaga kesehatan bisa
diajarkan, dan sebenarnya hal tersebut sudah dilakukan. Namun, ketika
masyarakat berada di luar lingkungan sekolah dan kampus, sarana preventif
sering kali sulit ditemui. Beruntung jika tempat kerja menyediakan fasilitas
tersebut. Artinya, penyediaan
layanan kesehatan preventif memang harus dilakukan sepanjang daur hidup.
Tidak bisa dilakukan secara sepotong-sepotong agar masyarakat dapat konsisten
menjalankan perilaku hidup sehat. Jika masyarakat lebih
aktif berolahraga dan menjaga pola hidup sejak sekarang, seberapa besar
potensi dampaknya terhadap kebutuhan pengobatan penyakit kronis di masa
mendatang? Kebutuhan pengobatan
untuk penyakit kronis yang berat dan katastropik—yang menyebabkan kematian
dan kesakitan parah—akan turun. Artinya, bukan berarti menjadi nol, tetapi
beban kesehatan untuk menangani pasien dengan kondisi berat dan banyak
komplikasi akan menurun. Namun, tidak bisa
sesederhana itu. Ada faktor lingkungan yang juga berpengaruh. Saat ini,
misalnya, ada krisis iklim yang juga berdampak terhadap kesehatan
kardiovaskular. Polusi udara sangat berpengaruh, begitu pula panas dan
kebisingan. Intinya, kita tidak bisa
hanya mengharapkan masyarakat mengubah pola hidup secara individu. Secara
ekosistem, lingkungan juga harus mendukung. Dalam jangka panjang,
apakah perubahan perilaku masyarakat menuju hidup sehat realistis untuk
menjadi salah satu strategi mengurangi beban pembiayaan JKN? Apa syaratnya
agar dampaknya bisa terlihat? Realistis, asalkan
terarah dan terukur. Pengukurannya harus menggunakan variabel dan ukuran yang
jelas, termasuk membedakan target jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian,
anggaran JKN seharusnya dipastikan. Kita sudah kehilangan mandatory spending.
Kalau anggarannya tidak pasti, pelaksanaan rencananya juga akan menghadapi
banyak tantangan. Ibu juga menyinggung
faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan seseorang. Seberapa penting
intervensi di luar sektor kesehatan—seperti lingkungan tempat tinggal,
transportasi, ruang publik, dan kebijakan pangan—dalam mendorong masyarakat
lebih aktif secara fisik dan mencegah penyakit? Sangat relevan. Ada,
misalnya, kebijakan pembatasan garam dari pemerintah China di beberapa
provinsi, yaitu Hebei, Liaoning, Ningxia, Shanxi, dan Shaanxi. Dalam lima tahun saja,
kebijakan tersebut dapat menurunkan angka total kematian akibat stroke dan
serangan jantung sebesar 13 persen serta kematian dini sebesar 12 persen. Jadi, intervensi di luar
sektor kesehatan sangat penting. Tidak bisa hanya mengharapkan individu
mengubah perilakunya. Lingkungan dan kebijakan juga harus mendukung. ● Sumber :
https://tirto.id/grace-wangge-olahraga-saja-tak-cukup-cegah-penyakit-hCNc |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar