|
Jebakan Agrowisata Instan dan Tantangan Sistem Desa Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M.A. dkk
: Dosen Universitas
Negeri Semarang dan Universitas Muria Kudus. |
TIRTO.ID, 12 September
2026
|
Menjadikan kebun sebagai
destinasi wisata sering kali dipandang terlampau sederhana: tanam komoditas
yang estetik, rapikan alur jalan, pasang papan petunjuk, lalu duduk manis
menunggu pengunjung berdatangan. Padahal, realitas di lapangan jauh lebih
rumit. Kebun dituntut untuk
tetap produktif dengan jadwal tanam yang presisi. Pengunjung butuh kepastian
tentang apa yang bisa dinikmati, sementara kelompok pengelola wajib menguasai
pembagian kerja, penetapan harga, standar pelayanan, hingga strategi promosi
yang konsisten. Kerumitan tata kelola
inilah yang tengah diurai di Desa Pesantren, Kecamatan Blado, Kabupaten
Batang. Memanfaatkan lahan seluas 1.000 meter persegi sebagai basis
diversifikasi hortikultura, desa ini memproyeksikan empat komoditas utama:
labu, selada, markisa, dan talas Pratama. Hingga pertengahan prosesnya, labu
dan selada telah berhasil ditanam, sementara markisa dan talas Pratama masih
berada dalam tahap persiapan lahan. Lahan demplot ini jelas
tidak dirancang sekadar menjadi ruang percontohan yang pasif. Berkolaborasi
dengan Kelompok Tani Melati Sejahtera dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)
SADESA, kebun ini secara bertahap diarahkan menjadi pintu masuk pengalaman
agrowisata. Di sini, wisatawan tak cuma berfoto, tetapi juga mempelajari
proses budidaya yang kelak terintegrasi dengan produk lokal serta rute
jelajah desa. Pendampingan ini
diinisiasi oleh Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Universitas Muria
Kudus (UMK) dalam Program Pengabdian Berbasis Wilayah DPPM-Kemdiktisainstek
yang menekankan perubahan pola kerja, bukan fisik semata. Faktualnya, fokus
pendampingan mencakup penyusunan kalender tani, pencatatan bisnis, standar
budidaya, perancangan rute dan paket wisata, hingga pengelolaan konten
promosi. Agrowisata Tak Cukup
dengan Kebun yang Bagus Tantangan terbesar bagi
kelompok tani kerap kali tersembunyi di balik estetika foto promosi:
kontinuitas produksi dan kedisiplinan tata kelola. Pengenalan kalender tani
menjadi krusial agar fase tanam hingga panen tidak berjalan sporadis.
Pembukuan usaha pun mulai dirintis untuk melacak alur biaya, berdampingan
dengan penyelesaian SOP penanaman selada sebagai panduan teknis utama. Meski begitu, fondasi
sistem ini belum sepenuhnya kukuh. Pengolahan kompos masih dalam tahap
persiapan, SOP Good Agricultural Practices (GAP) untuk komoditas unggulan
belum rampung, standardisasi kemasan masih diproses, dan jejaring pasar luar
daerah baru sebatas penjajakan awal. Kebun ini memang telah bergerak, tetapi
ekosistem penopang produksi yang stabil belum sepenuhnya terbentuk. Di titik inilah
miskonsepsi agrowisata kerap terjadi. Agrowisata bukanlah sekadar memindahkan
orang kota ke area persawahan. Jika jadwal panen
berantakan, mutu produk fluktuatif, dan aktivitas kebun gagal diterjemahkan
menjadi pengalaman edukatif, kebun tersebut hanya akan berakhir sebagai latar
foto yang mati. Demplot Desa Pesantren justru memposisikan kebun sebagai
ruang produksi sekaligus ruang belajar. Melalui kalender tanam yang
terstruktur, Pokdarwis dapat memetakan kapan fase penanaman, pemeliharaan,
hingga panen yang menarik untuk dikemas ke dalam paket wisata. Keterkaitan
antara ritme kebun dan jadwal kunjungan inilah yang memberi nyawa pada sebuah
destinasi. Dari Jalur Kebun ke Tiga
Rancangan Paket Di sisi lain, Pokdarwis
SADESA memikul tugas merangkai potensi kebun, aliran sungai, dan pemandangan
desa menjadi alur perjalanan yang rasional. Penataan rute kebun dan sungai
serta pemetaan awal jalur wisata mulai digarap, walau masih membutuhkan
pembenahan pada papan penunjuk arah, titik interpretasi, dan informasi
edukatif. Hasil pemetaan tersebut
menelurkan tiga rancangan paket awal: edukasi kebun, jelajah desa dan sungai,
serta paket kombo (bundling) kebun dan sungai. Namun, ketiganya belum siap
dilempar ke pasar. Penetapan harga resmi, kepastian fasilitas, durasi, alur pelayanan,
hingga SOP penyambutan tamu masih harus difinalisasi. Formulasi identitas merek
LARAS DESA juga mulai digagas sebagai payung pemasaran. Branding tentu tidak
boleh berhenti sebagai sekadar logo atau slogan slogan bergengsi. Ia harus
mewujud nyata dalam narasi yang konsisten, kepastian rute, ketersediaan produk
lokal, serta standar layanan yang tidak tergantung pada siapa petugas yang
sedang piket. Penggunaan kalender konten untuk media sosial pun mulai
dibiasakan. Namun, formulir promosi hanyalah alat; keberadaannya baru
bernilai jika dijalankan secara berkala. Akselerasi promosi
digital melalui situs web dan media sosial harus sejalan dengan kesiapan
layanan di lapangan, bukan justru mendahuluinya. "Kegiatan pengabdian
dari tim UNNES sangat membantu kami dalam mengembangkan agrowisata Desa
Pesantren. Sebelumnya sudah ada BUMDes Catra Kopi, dan kegiatan ini
melengkapi potensi yang sudah ada dengan pengembangan paket wisata,
pengelolaan potensi desa, serta promosi melalui media digital. Kami berharap
agrowisata di Desa Pesantren nantinya dapat lebih berkembang dan dikenal
luas," ungkap Sukirno, Kepala Desa Pesantren, kepada kami. Yang Dikejar Bukan
Sekadar Ramai Pengunjung Kejujuran narasi rintisan
ini terlihat dari kehati-hatiannya dalam membuat klaim keberhasilan. Hingga
saat ini, belum ada data kuantitatif yang cukup untuk menyimpulkan bahwa
program ini telah meningkatkan penjualan hasil tani, meroketkan angka
kunjungan, atau mendongkrak pendapatan warga. Data produktivitas akhir,
kalkulasi efisiensi pupuk, hingga volume transaksi wisata masih dalam proses
pengumpulan. Sikap skeptis dan
pragmatis ini sangat krusial. Program pemberdayaan sering kali terjebak pada
formalitas pencapaian: berapa kali pelatihan digelar, berapa dokumen yang
tercetak, atau seberapa ramai foto kegiatan di media sosial. Padahal,
indikator keberhasilan sejati terletak pada hal yang lebih substansial:
apakah petani konsisten memakai kalender tani? Apakah pembukuan dicatat saban
hari? Apakah SOP dijalankan secara mandiri tanpa harus terus-menerus disuapi
pendamping? Merujuk pada indikator
tersebut, Desa Pesantren sejatinya masih berada pada fase pembentukan
fondasi. Bagi kelompok tani, PR besarnya adalah merampungkan diversifikasi
tanaman, mengoperasikan unit kompos, menyelesaikan SOP GAP, menyempurnakan
kemasan, dan mengunci kemitraan pasar yang konkrit. Sedangkan bagi Pokdarwis,
agenda utamanya meliputi pemantapan rute, penyelesaian kalkulasi harga paket,
aktivasi kalender promosi, dan penyusunan program kerja tahunan yang
realistis. Ketika kedua elemen ini
berkolaborasi secara presisi, sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata
baru terasa masuk akal. Komoditas tani tidak lagi sekadar mengejar tonase
panen, tetapi berubah menjadi materi edukasi. Produk olahan tidak cuma
berhenti di meja pameran pelatihan, melainkan masuk ke dalam komponen
oleh-oleh. Jalur wisata pun tidak lagi sekadar menghubungkan titik geografis,
melainkan mengajak wisatawan memahami cara sebuah desa bertahan hidup. Desa Wisata Butuh Sistem,
Bukan Sekadar Spot Foto Pengalaman Desa Pesantren
membuktikan bahwa membangun agrowisata berbasis komunitas adalah kerja
merakit sistem, bukan membuat destinasi instan berbasis spot foto sementara.
Kelompok tani berfokus menjaga kebun tetap hidup dan produktif, sedangkan
Pokdarwis bertugas menerjemahkan dinamika kebun menjadi produk jasa yang
bernilai ekonomi. Pemerintah desa memegang
peranan kunci dalam mengawal penataan ruang, harmonisasi antarkelompok, serta
kepastian regulasi yang tak bisa diselesaikan oleh satu kelompok semata.
Akademisi dan perguruan tinggi bisa datang memberikan fasilitasi, namun
kepemilikan dan kendali atas sistem ini sepenuhnya harus digenggam oleh warga
desa. Ujian sesungguhnya justru
baru dimulai ketika masa pendampingan berakhir. Apakah instrumen manajemen
yang dibuat akan terus dipakai? Apakah rute wisata tetap dirawat? Apakah
paket diperbarui mengikuti pergantian musim tani? Pertanyaan-pertanyaan
pragmatis inilah yang menentukan apakah rintisan ini akan bertransformasi
menjadi unit kemandirian ekonomi atau sekadar menjadi artefak proyek yang
layu sebelum berkembang. Pada akhirnya, proses
mentransformasi demplot menjadi paket wisata yang berdaya saing bukanlah
jalan pintas yang tuntas dalam satu musim tanam. Ia memerlukan napas panjang
untuk mengubah kultur kerja, membangun kedisiplinan administratif, dan
menyelaraskan ritme desa dengan ekspektasi wisatawan. Agrowisata yang berdaya
tahan bukanlah yang paling cepat viral, melainkan yang dibangun di atas
kesadaran kolektif warganya tentang apa yang ditanam, apa yang dijual,
bagaimana melayaninya, dan siapa yang bertanggung jawab menjaga roda
ekosistem itu tetap berputar. ● Sumber :
https://tirto.id/jebakan-agrowisata-instan-dan-tantangan-sistem-desa-hCNZ |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar