|
Suka Evidence-Based Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 17 September 2026
|
Presiden
menyebut dirinya evidence-based. Tetapi apakah semua angka yang ia sebut
sudah menjawab pengalaman ekonomi rakyat? Di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang
Bogor, Presiden Prabowo Subianto kembali berdiskusi dengan sejumlah jurnalis
dan pakar, dalam program Presiden Prabowo Menjawab. Diskusi tanya-jawab
ketiga ini berlangsung di meja bundar selama sekitar tiga setengah jam. Liviana Charlisa memandu acara yang
mempertemukan Rivana Pratiwi, Andromeda Merkuri, Ratna Susilowati, Wahyu
Daniel, Akbar Faisal, dan Gema Goeyardi. Saya mencatat, program ini membahas
sepuluh topik utama, dengan sekitar 20 pertanyaan atau subpertanyaan
substantif. Pemandu memulai dari topik hubungan
Indonesia–Rusia dan politik luar negeri. Lalu, masuk ke soal pertumbuhan
ekonomi, investasi, dan industrialisasi. Dan acara diakhiri dengan diskusi
soal pendidikan, kualitas guru, dan kesenjangan pembelajaran. Rekaman menit 9:36 menarik. Prabowo
mengakui, “Saya ini orangnya selalu ingin evidence based.” Ketika ditimpali,
“Bukti ya, Pak,” Presiden menjawab, “Kalau tidak ada evidence saya enggak mau
bicara.” Ia menyebut, pencapaiannya selama memerintah menjadi dasar
optimismenya. Selanjutnya, percakapan masuk ke bukti
investasi. Presiden menyebut realisasi investasi 2025 mencapai sekitar
Rp1.931 triliun, menciptakan 2,7 juta lapangan kerja baru. Ia juga mengisyaratkan
adanya "investasi besar" yang akan masuk dalam beberapa minggu
mendatang. Di dunia ilmiah, evidence-based
berarti pembahasan berbasis bukti. Dalam kebijakan publik, istilah ini
menunjuk pada penggunaan bukti terbaik yang tersedia untuk mengambil
keputusan, bukan sekadar mengandalkan intuisi, keyakinan, atau kepentingan. Namun, memiliki angka belum otomatis
berarti memiliki bukti yang memadai. Kita harus mengetahui apa yang diukur,
bagaimana cara mengukurnya, siapa sumbernya, apa batasannya, dan apakah angka
tersebut benar-benar mendukung kesimpulan yang ditarik. Angka “satu juta lapangan kerja”,
misalnya, menimbulkan pertanyaan: pekerjaan baru atau peserta pelatihan?
Formal atau informal? Berapa lama bertahan? Berapa pendapatannya? Apakah
muncul karena program pemerintah atau karena kegiatan ekonomi yang berlangsung
bersamaan? Untuk investasi, Presiden punya dasar
faktual. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi
investasi sepanjang 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, melebihi 1,3 persen dari
target Rp1.905,6 triliun. Investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun. Investasi memang dapat memperluas
produksi, menciptakan pekerjaan, memperkuat rantai pasok, dan mendorong
transfer teknologi. Tapi nilai investasi tak otomatis sama dengan
kesejahteraan. Terkecuali, misalnya, pabriknya menyerap ribuan pekerja, atau
tambangnya mengekspor mineral. Karena itu, pertanyaan “berapa nilai
investasinya?” mesti diikuti: berapa pekerjaan berkualitas yang tercipta,
berapa upahnya, seberapa besar kandungan lokalnya. Dan, yang lebih penting
lagi, siapa yang menikmati manfaatnya? Soal 2,7 juta lapangan kerja baru, itu
masih perlu diperjelas. Sebab, rakyat tak hanya butuh pekerjaan yang
tercatat. Pemerintah menghitung jumlah pekerjaan. Rumah tangga menghitung
berapa hari uang belanja mampu bertahan. Keduanya perlu dipertemukan oleh
data yang lengkap. Presiden kemudian menyebut inflasi
Indonesia sekitar 2,92 persen dan termasuk salah satu yang terendah di dunia.
Secara ekonomi, inflasi yang terkendali memang penting karena kenaikan harga
yang tinggi dan tidak stabil menggerus daya beli. Tapi inflasi nasional merupakan angka
rata-rata. Ia tidak menggambarkan pengalaman setiap keluarga secara seragam.
Harga beras, telur, sewa rumah, transportasi, pendidikan, dan kesehatan dapat
bergerak dengan kecepatan berbeda. Pemerintah menyebut inflasi rendah.
Pertanyaan evidence-based berikutnya ialah: rendah pada komoditas apa, dalam
periode mana, dan bagaimana jika rakyat merasa tetap kesulitan? Itu bukan kontradiksi,
tapi konsekuensi dari cara kerja statistik agregat. Presiden lalu menampilkan pandangan
ahli strategi Australia yang menyebut Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar
keempat dunia sebelum pertengahan abad. Ia juga merujuk proyeksi Goldman
Sachs mengenai posisi Indonesia pada 2050. Proyeksi semacam itu memang pernah
muncul dalam kajian ekonomi jangka panjang. Namun, proyeksi bukan hasil yang
sudah terjadi. Ia merupakan skenario berdasarkan asumsi tentang pertumbuhan
produktivitas, demografi, investasi, pendidikan, stabilitas, dan kebijakan. Jika asumsi berubah, hasilnya dapat
berubah. Indonesia memiliki potensi besar, tetapi potensi bukan kepastian.
Negara harus mengubahnya menjadi kapasitas melalui pendidikan, teknologi,
institusi, infrastruktur, dan tata kelola. Masa depan bukan hadiah yang dikirim
oleh lembaga pemeringkat atau bank investasi. Ia lebih menyerupai tanah yang
harus terus diolah. Proyeksi menunjukkan kemungkinan arah; kerja nyata
menentukan apakah arah itu tercapai. Pemerintah boleh menyatakan
fundamental ekonomi kuat. Rakyat boleh bertanya mengapa pendapatan mereka
belum terasa menguat. Pemerintah boleh menunjukkan investasi meningkat.
Rakyat boleh menanyakan kualitas pekerjaan dan pemerataan manfaatnya. Pernyataan Presiden bahwa ia selalu
ingin evidence-based patut diterima sebagai prinsip. Tetapi prinsip itu harus
berlaku secara konsisten, termasuk ketika bukti menghadirkan kabar yang
kurang menyenangkan. Jika rakyat mengeluhkan ekonomi, ukur
keluhan itu melalui data pendapatan riil, konsumsi, kemiskinan, pengangguran,
ketimpangan, dan survei yang kredibel. Sebab evidence-based bukan berarti
memilih bukti yang menguatkan keyakinan. Ia berarti bersedia mengubah
keyakinan ketika bukti yang lebih baik menuntutnya. Optimisme adalah bahan bakar. Bukti
adalah peta. Namun, kendaraan negara tidak sampai ke tujuan hanya karena
pengemudinya berkata, “Saya sangat optimis.” Ia harus menunjukkan jalan,
memeriksa mesin, membaca cuaca, dan mengakui lubang yang menganga di depan. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |