|
Desil Kuantil Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 06 September 2026
Dengar heboh
''desil'' saya ingat ''desi'':
--desimeter. Sudah begitu lama istilah desimeter meninggal dunia. Orang
lebih suka menyebut ''10 sentimeter''. Tidak mau lagi bilang ''satu
desimeter''. Mirip orang tidak mau lagi bilang ''satu yard'' melainkan pilih
bilang ''90 cm''.
Maka di
mana-mana saya mendapat pertanyaan ini: apa itu desil. Kok heboh banget. Desil
adalah per sepuluh. Maksudnya, masyarakat dibagi 10: sepuluh persen pertama,
kedua, ketiga, sampai kesepuluh. Pembagian itu berdasar tingkat kesejahteraan.
Lebih tepatnya: berdasar banyaknya pengeluaran setiap bulannya.
Kalau Anda
tergolong desil 1 berarti Anda tergolong 10 persen termiskin di Indonesia. Itu
untuk menghindarkan sebutan ''kelompok sangat miskin''. Kalau Anda disebut
sebagai orang desil 1 rasanya lebih sopan dibanding Anda disebut sebagai
kelompok orang sangat miskin.
Ups... Bukan
itu tujuannya. Istilah desil diciptakan untuk menstandarkan pengelompokan di
masyarakat.
Selama ini kita
hanya mengenal istilah sangat miskin, miskin, hampir miskin, kelas menengah,
dan kaya. Setiap lembaga bisa membuat pengelompokan yang berbeda. Kini hanya
satu istilah: desil. Tinggal menyebut: desil berapa.
Misalkan Anda
disebut desil sepuluh, itu berarti Anda tergolong patriot –layak mengutangi
Danantara lewat Patriot Bond. Maka setelah Anda membaca Disway hari ini coba-cobalah Anda memperkirakan tergolong
di desil berapa.
Bagi negara
seperti Indonesia desil lebih dianggap penting terkait dengan bantuan sosial.
Misal: masyarakat desil 1 layak dapat lima jenis bantuan dari negara: uang
tunai, subsidi listrik, subsidi elpiji, subsidi iuran BPJS, dan subsidi rumah
lewat KPR. Kelompok desil dua mungkin hanya berhak atas empat dari lima itu.
Desil tiga mendapat tiga dari lima. Desil empat hanya dapat dua jenis. Dan
seterusnya. Tidak seperti itu beneran, tapi begitulah kira-kira cara berpikir
para pembuat desil.
Itu tergantung
pada kebijakan pemerintah. Maka penerapan desil itu sendiri mestinya baik.
Langkah maju. Bahwa akan heboh pasti tidak bisa dihindari. Problem utamanya
adalah orang yang ada di ''perbatasan desil''. Misalkan Anda masuk desil tiga,
tapi di posisi Anda paling bawah. Hampir saja Anda sulit dibedakan dengan anggota
desil dua yang posisinya paling atas. Ibarat nilai Anda 5,9. Itu hampir saja
enam, tapi tetap bukan enam.
Pakai sistem
apa pun pasti ada hebohnya. Sistem pengelompokan yang lama pun punya kelemahan.
Pernah juga heboh. Berkali-kali. Yang penting, setelah pakai sistem desil
teruslah lakukan evaluasi: kelemahan yang muncul segera diatasi.
Persoalannya di
pendataan yang membuat seseorang masuk dapil berapa. Pemerintah punya banyak
versi data ekonomi. Salah satunya berdasar kemampuan belanja Anda setiap tahun.
Ada juga data berdasar pendapatan setahun. Di zaman Orde Baru pernah ada ukuran
tidak lagi miskin: kalau lantai rumahnya sudah diplester dengan semen. Pernah
juga ada ukuran: kalau tembok rumahnya sudah terbuat dari bata. Kelak, kalau sistem desil ditolak, mungkin
salah satu ukuran yang akan dipakai: rumahnya pakai genteng atau seng.
Sistem desil di
Indonesia hanyalah meniru apa yang dilakukan negara lain. Kita termasuk yang
ketinggalan.
Negara maju
juga punya cara untuk menentukan pengelompokan masyarakatnya. Bukan berdasar
kemampuan belanja, tapi berdasar kemampuan mereka membayar pajak.
Di sana tidak
ada desil. Yang ada kuantil. Masyarakat hanya dibagi lima: miskin, menengah
bawah, menengah atas, kaya, dan super kaya.
Kegunaan yang
lebih penting dari sistem desil dan kuantil adalah untuk mengukur tingkat
ketimpangan di masyarakat. Dengan potret desil yang ada, pemerintah harusnya
prihatin: kok ketimpangan ekonomi begitu besar. Untuk itulah ada desil. Bukan
'dibelokkan' hanya untuk bantuan sosial.
Jangan-jangan
heboh desil sekarang ini justru membuat orang melupakan tujuan perumusan desil.
Jangan-jangan justru lupa terhadap kenyataan adanya kesenjangan.
Mungkin saja di
negara seperti Denmark pembagiannya hanya tiga: mampu, kaya, kaya sekali karena
di sana tidak ada lagi yang miskin. Baiknya kita tunggu komentar dari ''perusuh
kaburan'' seperti Bung Liang yang sekarang tinggal di Denmark.
Tentu yang
penting bukan pakai desil, kuantil, atau tidak pakai apa-apa sama sekali. Yang
penting itu kapan tidak ada lagi desil dua dan satu –setidaknya hilangkan yang
1 dulu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/966887/desil-kuantil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar