|
Peran
Elite dalam Set Buset Perampasan Aset Yandhrie Arvian : Redaktur Eksekutif di Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026
|
· Elite politik menyediakan ‘panggung’
bagi AMPB untuk menjustifikasi agenda elite. · Di tangan rezim seperti sekarang,
undang-undang perampasan aset bisa menjadi alat politik yang rawan
diselewengkan. · Kesadaran kolektif, termasuk memahami
peta dan intrik politik, serta kerja-kerja politik kepublikan butuh napas
panjang. SETIAP
rezim punya cara meredam perlawanan masyarakat sipil. Dari memecah belah
demonstrasi dengan melabeli organisasi sipil sebagai “antek asing”,
mengkriminalisasi aktivis prodemokrasi, membujuk dan memaksa kelompok sipil
berkolaborasi, hingga menciptakan organisasi tandingan untuk melemahkan
gerakan independen. Di
Rusia, strategi itu berhasil mendiskreditkan masyarakat sipil yang didanai
asing sebagai ancaman kedaulatan. Di Mesir dan Etiopia, organisasi sipil
digambarkan sebagai kelompok simpatisan teroris. Sementara itu, kelompok
sipil di Kamboja terpaksa melebur ke dalam organisasi yang didanai pemerintah
jika tetap ingin eksis. Untuk
menjinakkan demonstrasi 27 Agustus 2026—bertepatan dengan setahun demonstrasi
Agustus 2025 dan wafatnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan—elite politik
Indonesia memilih pendekatan berbeda. Mereka tidak melarang dan menghalangi
demonstrasi, tapi menyediakan “panggung” bagi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu
(AMPB) untuk menjustifikasi agenda elite kekuasaan. Boleh jadi inilah
kelihaian mengkooptasi dan memecah belah gerakan sipil. Berbeda
dengan kebanyakan tuntutan demonstrasi masyarakat sipil dan aliansi
mahasiswa, AMPB mengusung isu percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang
Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor. AMPB mengklaim
mengusung dua isu itu karena melihat perkembangan penanganan kasus dugaan
korupsi mantan Bupati Pati, Sudewo. Tidak
ada yang salah dengan memilih perampasan aset sebagai isu unjuk rasa.
Meskipun demikian, jika basisnya Bupati Sudewo, masyarakat Pati, Jawa Tengah,
berdemonstrasi karena memprotes kenaikan pajak daerah hingga 250 persen.
Sudewo, politikus Partai Gerindra, memilih menaikkan pajak karena tak punya
anggaran setelah pemerintah pusat memotong dana transfer ke daerah dan
mengalihkannya ke proyek makan bergizi gratis dan koperasi merah putih, dua
proyek favorit Presiden Prabowo Subianto. Maka,
jika bertolak dari isu awal demonstrasi besar masyarakat Pati tahun lalu,
seharusnya mereka memprotes dua proyek Prabowo yang membuat runyam keadaan
itu. Lagi pula, selain elitis, RUU Perampasan Aset problematik. RUU
Perampasan Aset juga berpeluang menjadi pisau bermata dua. Tak hanya
memberantas korupsi, hukum ini juga bisa memberi insentif buat penguasa
memukul lawan politik. Ketentuan dalam undang-undang ini mengizinkan aparatur
hukum menyita harta mereka yang diduga melakukan kejahatan sebelum pengadilan
digelar. Wajar
bila koalisi masyarakat sipil dan mahasiswa menahan diri terlibat mengusung
isu undang-undang perampasan aset. Mereka tidak bergabung dalam unjuk rasa di
Dewan Perwakilan Rakyat. Bagi sebagian masyarakat sipil, isu yang digaungkan
AMPB tak menyentuh substansi persoalan yang selama ini menjadi basis kritik
terhadap pemerintahan Prabowo: menguatnya militerisme dan tak adanya disiplin
fiskal. Tapi
mereka tetap menghormati AMPB. Sejumlah organisasi masyarakat sipil ikut
mengecam pemblokiran rekening koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, oleh
Bank Mandiri. Mereka sepakat menunjukkan solidaritas jika sewaktu-waktu
aktivis Pati mendapat represi. AMPB,
dalam hal ini, mungkin menjadi korban manipulasi para elite politik. Maka
tugas koalisi masyarakat sipil adalah menularkan kesadaran kritis agar
kelompok ini tidak terjebak kepentingan elite. Teori
collective action frame dari Snow dan Benford (1988) bisa kita tengok ulang.
Gerakan sosial akan efektif jika masyarakat sipil berhasil membangun tiga
kerangka: mengidentifikasi masalah struktural, menawarkan solusi kolektif,
dan mendorong aksi bersama. Melalui kesadaran kolektif dan kerja-kerja
politik jangka panjang, koalisi sipil dapat mencegah fragmentasi narasi yang
sering dieksploitasi elite melalui taktik memecah belah. Meminjam
pandangan Charles Tilly dan Sidney Tarrow, dalam Contentious Politics,
gerakan sosial yang berkelanjutan tidak bergantung pada demonstrasi tunggal,
tapi melalui kombinasi aksi, advokasi legislasi, dan edukasi publik yang
terintegrasi. Solidaritas
lintas sektoral dan pengetahuan kritis tidak tumbuh dalam semalam. Memperkuat
gerakan sosial dan politik kewarganegaraan adalah keniscayaan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-set-buset-perampasan-aset-2285727 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar