|
AI Sedang Mengubah Agama, dan Agama Berusaha Mengubah AI AS Laksana : Sastrawan. |
ORBIT INDONESIA, 31 Agustus 2026
|
Bagus sekali laporan The
Economist ini. Ia membahas
masuknya AI ke wilayah yang selama ratusan atau ribuan tahun menjadi salah
satu domain utama agama, yaitu
menjawab pertanyaan yang tidak memiliki jawaban empiris yang bisa
disederhanakan—mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan setelah kematian,
bagaimana menghadapi penderitaan, dan untuk apa hidup ini dijalani. Ada beberapa hal yang dirasakan
oleh kaum agamawan sebagai ancaman dengan kemunculan AI. Pertama, AI mengurangi
monopoli penafsiran. Sebelum era AI, jika seseorang ingin memahami kitab
suci, dosa, kematian, perkawinan, atau persoalan-persoalan moral, ia akan
bertanya kepada imam, pastor, rabi, ulama, atau guru agama. Sekarang ia bisa
bertanya kapan saja kepada chatbot. Dalam skala tertentu, menurut artikel The
Economist, ini setara dengan penemuan mesin cetak. Mesin cetak membuat
Alkitab tersedia bagi banyak orang, mendorong munculnya penafsiran-penafsiran
baru tentang iman, dan kemudian membantu menyebarkan pandangan-pandangan
tersebut meskipun para pemuka agama menentangnya. Kedua, AI dapat mengubah
hubungan antara rohaniwan dan umatnya. AI bisa berfungsi sebagai penasihat
pribadi dan orang tidak harus datang ke komunitas. Seseorang yang merasa
hidupnya tidak bermakna bisa bertanya kepada AI, sedang berduka bisa bertanya
kepada AI, sedang mengalami konflik moral bisa meminta pendapat AI. Ketika AI
menjadi tempat pertama orang mencari jawaban, peran pemimpin agama sebagai
pemberi nasihat terancam menyusut. Ketiga, dan ini yang
sangat dikhawatirkan, AI cenderung menjawab sesuai dengan preferensi orang
yang bertanya. Dalam agama tradisional, keyakinan seseorang dibentuk oleh
kitab, ritual, guru, keluarga, dan komunitas. Waleed Kadous, yang
mengembangkan Ansari, sebuah chatbot AI untuk umat Muslim, khawatir bahwa
karena model-model sering bertabiat “menjilat dan berpusat pada pengguna,
bukan komunitasnya”, orang-orang beriman dapat bergeser menuju praktek
keagamaan yang “lebih individual”. Pada titik paling
ekstrem, AI sedang mendorong apa yang disebut Beth Singler dari Universitas
Zurich sebagai “improvisasi keagamaan”. Ketika orang berinteraksi semakin
intens dengan chatbot dan dengan pencari
spiritual lain yang berpikiran sama, sebagian dari mereka membentuk
agama-agama baru yang organisasinya longgar. Misalnya, “Theta Noir”, sebuah
“komunitas spiritual”, yang menantikan MENA, sebuah superinteligensi masa
depan dengan kekuatan seperti Tuhan yang akan memberikan kepada umat manusia
“peningkatan besar”. Mungkin kekhawatiran
terbesar para pemimpin agama adalah semakin banyak orang yang mulai berpaling
kepada AI dan bukan kepada pemimpin spiritual. Shaza Nasheha, seorang Muslim
berusia 37 tahun dari Singapura, mengatakan bahwa ia sering meminta ChatGPT
menjelaskan konsep-konsep Islam. Keempat, sebagian
pemimpin agama melihat bahwa chatbot pada umumnya dirancang untuk menjaga
percakapan dengan pengguna tetap menyenangkan, sementara urusan moral tidak
selalu menyenangkan. Agama sering meminta seseorang menerima kritik, mengakui
kesalahan, menahan keinginan, menghadapi penderitaan, memaafkan orang lain,
atau melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Jika AI selalu
membuat orang merasa benar dan nyaman, para pemimpin agama khawatir bahwa AI
akan menjadi teman yang buruk bagi pembentukan karakter. Kelima, AI membawa
kecenderungan sekuler. Ini bagian paling menarik dari artikel The Economist.
Ketika seseorang bertanya, “Mengapa hidup saya terasa tidak bermakna?”,
sebuah model kemungkinan besar menjawab dengan psikologi, pengembangan diri,
hubungan sosial, atau membangun kebiasaan hidup yang positif. Ia hampir
mustahil mengatakan, “Anda perlu mencari Tuhan.” Atau secara spesifik, jika
AI berpikir secara Katolik, ia mungkin akan memasukkan saran pengakuan dosa,
belas kasih, dan ajaran Gereja; jika AI Buddhis, ia mungkin membawa persoalan
kemelekatan, penderitaan, dan welas asih; jika AI Islam, ia mungkin
mempertimbangkan kewajiban moral, dosa, keadilan, ajaran Alquran dan hadis. Bagi kaum sekuler,
jawaban chatbot mudah diterima, tetapi tentu tidak bagi para pemimpin agama.
Paus Leo XIV berpendapat dalam ensiklik pertamanya pada Mei 2026 bahwa
teknologi tidak pernah netral dan akan selalu mengambil “karakteristik dari
mereka yang merancang, membiayai, mengatur, dan menggunakannya”. Ia khawatir
bahwa AI akan terlalu sekuler dan melemahkan atau bahkan menggantikan
keyakinan agama. Interaksi dengan mesin
yang bersuara sekuler ini tampaknya benar-benar mencemaskan bagi para
rohaniwan. Karena itu sekarang kelompok-kelompok agama berusaha mempengaruhi
pengembangan model secara langsung. Gereja Katolik, misalnya, secara khusus
membangun hubungan kuat dengan laboratorium-laboratorium AI. Masalahnya, bagi
laboratorium AI, memasukkan gagasan keagamaan ke dalam teknologi yang
digunakan oleh orang dari berbagai agama maupun oleh mereka yang tidak
beragama sangat tidak mudah. Anthropic mengakui bahwa perusahaan itu harus
berhati-hati agar tidak menyelaraskan model dengan satu tradisi keagamaan
tertentu. Sebagai gantinya, banyak
orang beriman telah membuat chatbot keagamaan khusus, dari GitaGPT (Hindu,
merujuk pada Bhagavad Gita) hingga Salaam World, untuk membantu pengguna
menghadapi pertanyaan-pertanyaan pelik dalam hidup. Ada juga yang
mengembangkan pengawasan terhadap jawaban AI. Chatbot tidak dibiarkan
menjawab hanya berdasarkan pengetahuan umum model. Pengawas menyediakan bahan
yang relevan dari ajaran-ajaran keagamaan dan setelah itu baru meminta model
menyusun jawaban atas pertanyaan berdasarkan bahan tersebut. Tentu saja ini
merepotkan. Doktrin bisa memiliki banyak tafsir, pertanyaan pengguna sering
berada di wilayah abu-abu, sumber
agama bisa saling bertentangan, dan model masih bisa salah memahami
sumber. Beberapa pemerintah juga
sedang mengembangkan model mereka sendiri dengan nilai-nilai agama yang
ditanamkan sejak awal. Qatar mendukung Fanar, model yang mengutamakan bahasa
Arab dan dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai Islam. Pemerintah Taiwan
telah mengadakan “majelis penyelarasan” sejak 2023, tempat warga membahas
seperti apa seharusnya perilaku AI. Kesimpulan dari pertemuan-pertemuan
majelis ini telah digunakan untuk membentuk model yang dikembangkan secara
lokal, termasuk model yang mencerminkan keyakinan spiritual masyarakat, untuk
menghindarkan model-model besar membuat keyakinan menjadi seragam. Meski ada kekhawatiran
besar dari kalangan agamawan, mereka juga sebetulnya sangat diuntungkan oleh
kehadiran AI. AI dapat menerjemahkan kitab, menjelaskan doktrin, membantu
pastor menyiapkan khotbah, menjawab pertanyaan umat, mengajarkan bahasa kitab
suci, dan bahkan menyebarkan agama kepada orang yang sebelumnya tidak pernah
datang ke gereja atau masjid. Tetapi itu saja tidak cukup. Mereka ingin
memastikan bahwa AI berperilaku sesuai nilai dan cara berpikir keagamaan. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar