Jumat, 04 September 2026

 

Mengapa Pembangunan Pusat Data Cenderung Rakus Lahan

Yohanes Paskalis :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  03 September 2026

 

 

 

·      Pembangunan pusat data yang sangat cepat belakangan ini mulai menghadapi tantangan dari ketersediaan lahan.

 

·      Seiring pembatasan di Singapura dan Malaysia, pembangunan pusat data mulai banyak beralih ke Indonesia.

 

·      Kebutuhan lahan pusat data antara lain bergantung pada skala fasilitas dan target ekspansi.

 

PERTUMBUHAN bisnis data center yang sangat cepat belakangan ini mulai menghadapi tantangan dari ketersediaan lahan. Faktor inilah yang menjadi salah satu alasan dari berkembangnya pembangunan pusat data di Indonesia setelah ada pembatasan di Singapura dan Malaysia. Skala fasilitas komputasi tersebut terus ditambah untuk menyokong layanan digital, terutama yang dilengkapi akal imitasi atau AI.

 

Ketua Umum Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia (IKTII) Teddy Sukardi mengatakan satu kluster terintegrasi milik para hyperscaler—perusahaan teknologi raksasa pemilik infrastruktur komputasi masif—kini membutuhkan lahan rata-rata 90 hektare.

 

Luasan tanah itu untuk menampung pembangkit listrik mandiri, gardu induk pembagi tegangan, serta infrastruktur pendingin bervolume besar. “Naik 1,5 kali lipat dibanding pada 2022, mengikuti lonjakan kapasitas komputasinya,” ucapnya pada Tempo, Rabu, 2 September 2026.

 

Adopsi AI saat ini, kata Teddy, menambah kapasitas satu rak server, yang tadinya sekitar 8 kilowatt (kW) menjadi 30 kW. Walhasil, ekosistem pusat data berkapasitas 200 megawatt (MW) menjadi makin lazim. Tambahan kapasitas server itu akan diikuti peningkatan kebutuhan pasokan listrik dan sistem pendinginan, yang otomatis harus diakomodasi dengan lahan yang lebih besar.

 

Komposisi penggunaan lahan di area pusat data juga berubah. Sebelumnya, server mendapat alokasi 40 persen lahan, sedangkan sisanya untuk fasilitas pendukung, mencakup fasilitas pendinginan, gardu, tangki bahan bakar, bahkan area parkir.

 

Kini pengelola cenderung hanya menyisakan 20 persen lahan untuk infrastruktur data. “Pendingin dan kelistrikan itu makan tempat, butuh gedung sendiri,” kata Teddy, yang juga masuk dalam jajaran dewan penasihat Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO).

 

Bangunan Superkomputer Menelan Hutan dan Ladang

 

Fenomena di Amerika Serikat bisa mencerminkan bagaimana ekspansi data center telah melahap lahan dalam skala masif. Persoalan lahan ini disoroti publik pada musim panas 2026, setelah beredarnya foto citra satelit yang menunjukkan pembangunan pusat data di kawasan hutan.

 

Milan Janosov dari Geospatial Data Consulting Ltd menjadi salah satu peneliti yang berinisiatif mengukur perubahan vegetasi dan jenis tutupan lahan akibat fasilitas komputasi tersebut.

 

Dalam riset berjudul “Quantifying Vegetation Loss Around the Largest U.S. Data Centers with Season-Controlled Sentinel-2 NDVI", yang terbit pada 4 Agustus 2026, Janosov menganalisis dampak pembangunan 42 data center terbesar di Negeri Abang Sam. Berbagai penelitian sejenis sebelumnya cenderung menakar dampak dari sisi konsumsi energi dan air. “Perubahan tutupan lahan jarang diamati,” demikian klaim Jasonov dalam pengantar risetnya.

 

Menggunakan citra Sentinel-2 dan indeks tingkat kehijauan (normalized difference vegetation index/NDVI), tim Janosov mengecek perubahan vegetasi dalam kompleks pembangunan pusat data, kemudian membandingkannya dengan zona di luar proyek.

 

Dari luasan total 5.100 hektare milik seluruh data center tersebut, para peneliti itu menemukan jejak konversi 3.070 hektare cropland atau ladang pertanian produktif. Sekitar 6 persen luasan total 42 data center di AS itu dulunya hutan. Selebihnya adalah lahan yang pernah dimanfaatkan, padang rumput, lahan basah maupun tandus, serta perairan.

 

Jika dilihat berdasarkan jumlah lokasi, 45 persen atau 19 dari 42 pusat data yang diteliti itu berada di lahan dominan cropland, sedangkan 17 lokasi berada di lahan yang sudah dikembangkan. Hanya tiga lokasi yang didominasi hutan, sedangkan sisanya di padang rumput. Studi yang belum melalui tahap peer-review itu juga menangkap perubahan vegetasi pada 19 lokasi data center di AS, paling banyak terjadi pada 2023.

 

Pusat data Meta Hyperion di Louisiana, sebagai contoh, dibangun pada 2018 di kawasan yang 92 persennya masih merupakan lahan pertanian produktif. Sekitar 93 persen area pembangunan Meta Henrico di Virginia juga masih berupa hutan pada tahun yang sama.

 

Laporan “Asia Pacific Data Centre Investment Landscape”, yang diterbitkan konsultan properti Cushman & Wakefield pada Agustus 2026, menggambarkan ekspansi pesat data center di Asia-Pasifik, termasuk di Indonesia. Para hyperscaler memeriksa akses lahan listrik, lahan, serta konektivitas ketika memburu lokasi baru.

 

Dalam setahun terakhir, Asia-Pasifik menambah lebih dari 2.200 MW kapasitas operasi pusat data. Pertumbuhan tersebut untuk memenuhi kebutuhan AI, transformasi digital, dan untuk penyedia neo-cloud.

 

Bisnis data center juga mulai meluas dari hub yang sudah mapan, seperti Singapura dan Malaysia, menuju Indonesia, Thailand, Filipina, dan India. Tujuan investor makin bervariasi karena moratorium proyek pusat data di Singapura dan Malaysia. Di kedua negara itu, fasilitas ini dianggap rakus listrik dan terlalu merambat ke area komersial. Proyek data center baru mulai masuk ke Batam, Kepulauan Riau, dan Jakarta.

 

Dalam paparan resmi di Jakarta, pada 18 Agustus 2026, tim konsultan properti John Lang LaSalle (JLL) Indonesia juga menyatakan permintaan lahan untuk satu proyek pusat data berkembang dari yang dulunya berkisar 5 hektare menjadi 10-30 hektare. Hingga kuartal kedua tahun ini, berbasis peninjauan terhadap kebutuhan para klien JLL Indonesia, sekitar 80 persen permintaan lahan industri datang dari investor pusat data.

 

Menurut Teddy, perbedaan skala membuat masalah lahan data center di negara maju seperti Amerika Serikat belum terlihat di Indonesia. Namun, tetap saja, potensi yang sama ada di negeri ini. “Kondisinya relevan. Wilayah yang sekarang menjadi area industri di Pulau Jawa dulunya juga lahan subur,” tuturnya.

 

Ketika melakukan survei lokasi baru, kata Teddy, pengelola seharusnya bisa menghindari ruang terbuka hijau atau lahan pertanian berkelanjutan. Area bekas tambang dan zona industri lama yang terbengkalai bisa dipertimbangkan sebagai calon lahan data center.

 

Upaya ini layak didukung dengan adanya kebijakan khusus dari regulator. “Bisa berupa pajak atau kompensasi atas lahan yang produktif yang dipakai untuk membangun proyek,” ucapnya.

 

Lahan untuk Proyek Masa Depan

 

Chief Executive Officer PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC Rakhmad Tunggal Afifuddin mengatakan kebutuhan lahan pusat data bergantung pada skala fasilitas, kebutuhan daya maksimal (IT load), target ekspansi, serta karakter lokasi.

 

Selain untuk infrastruktur komputasi dan penyokongnya, sejumlah pengelola membuka ruang untuk pengembangan kapasitas. “Fasilitas hyperscale NeutraDC seluas 5 hektare di Batam dirancang dalam tiga kampus dengan kapasitas IT load hingga 54 MW,” tuturnya kepada Tempo.

 

Desain proyek, kata Rakhmad, selalu mempertimbangkan redundansi pada sistem-sistem kritikal. Ekosistem pusat data NeutraDC di Cikarang, Jawa Barat, dia mencontohkan, memiliki diverse incoming power cable paths—mekanisme pemisahan jalur kabel sesuai dengan standar keamanan—menuju jantung kelistrikan utama.

 

Dalam penentuan lokasi data center, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) ini memastikan selalu mempertimbangkan kesesuaian tata ruang dan peruntukan kawasan. Selain keandalan sumber daya energi, ada kajian soal aksesibilitas, kondisi geografis, serta risiko bencana.

 

“Aspek lingkungan juga bagian dari perencanaan karena fasilitas ini akan beroperasi dalam jangka panjang,” ucap Rakhmad.

 

Kepala Pusat Riset Komputasi Badan Riset dan Inovasi Nasional Rifki Sadikin mengatakan persoalan ekspansi pusat data tidak hanya menyangkut konversi lahan produktif menjadi bangunan. Dia menyoroti dampak sosial terhadap penduduk di sekitar fasilitas. “Jangan lupa bahwa pembangunan superkomputer AI juga berpotensi menimbulkan pencemaran suara dan udara,” ujarnya. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/lingkungan/pembangunan-pusat-data-rakus-lahan-lingkungan-2285254

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar