|
Mengapa Pembangunan Pusat Data
Cenderung Rakus Lahan Yohanes Paskalis : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 03 September 2026
|
· Pembangunan pusat data yang sangat
cepat belakangan ini mulai menghadapi tantangan dari ketersediaan lahan. · Seiring pembatasan di Singapura dan
Malaysia, pembangunan pusat data mulai banyak beralih ke Indonesia. · Kebutuhan lahan pusat data antara lain
bergantung pada skala fasilitas dan target ekspansi. PERTUMBUHAN
bisnis data center yang sangat cepat belakangan ini mulai menghadapi
tantangan dari ketersediaan lahan. Faktor inilah yang menjadi salah satu
alasan dari berkembangnya pembangunan pusat data di Indonesia setelah ada
pembatasan di Singapura dan Malaysia. Skala fasilitas komputasi tersebut
terus ditambah untuk menyokong layanan digital, terutama yang dilengkapi akal
imitasi atau AI. Ketua
Umum Ikatan Konsultan Teknologi Informasi Indonesia (IKTII) Teddy Sukardi
mengatakan satu kluster terintegrasi milik para hyperscaler—perusahaan
teknologi raksasa pemilik infrastruktur komputasi masif—kini membutuhkan
lahan rata-rata 90 hektare. Luasan
tanah itu untuk menampung pembangkit listrik mandiri, gardu induk pembagi
tegangan, serta infrastruktur pendingin bervolume besar. “Naik 1,5 kali lipat
dibanding pada 2022, mengikuti lonjakan kapasitas komputasinya,” ucapnya pada
Tempo, Rabu, 2 September 2026. Adopsi
AI saat ini, kata Teddy, menambah kapasitas satu rak server, yang tadinya
sekitar 8 kilowatt (kW) menjadi 30 kW. Walhasil, ekosistem pusat data
berkapasitas 200 megawatt (MW) menjadi makin lazim. Tambahan kapasitas server
itu akan diikuti peningkatan kebutuhan pasokan listrik dan sistem
pendinginan, yang otomatis harus diakomodasi dengan lahan yang lebih besar. Komposisi
penggunaan lahan di area pusat data juga berubah. Sebelumnya, server mendapat
alokasi 40 persen lahan, sedangkan sisanya untuk fasilitas pendukung,
mencakup fasilitas pendinginan, gardu, tangki bahan bakar, bahkan area
parkir. Kini
pengelola cenderung hanya menyisakan 20 persen lahan untuk infrastruktur
data. “Pendingin dan kelistrikan itu makan tempat, butuh gedung sendiri,”
kata Teddy, yang juga masuk dalam jajaran dewan penasihat Asosiasi
Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO). Bangunan
Superkomputer Menelan Hutan dan Ladang Fenomena
di Amerika Serikat bisa mencerminkan bagaimana ekspansi data center telah
melahap lahan dalam skala masif. Persoalan lahan ini disoroti publik pada
musim panas 2026, setelah beredarnya foto citra satelit yang menunjukkan
pembangunan pusat data di kawasan hutan. Milan
Janosov dari Geospatial Data Consulting Ltd menjadi salah satu peneliti yang
berinisiatif mengukur perubahan vegetasi dan jenis tutupan lahan akibat
fasilitas komputasi tersebut. Dalam
riset berjudul “Quantifying Vegetation Loss Around the Largest U.S. Data
Centers with Season-Controlled Sentinel-2 NDVI", yang terbit pada 4
Agustus 2026, Janosov menganalisis dampak pembangunan 42 data center terbesar
di Negeri Abang Sam. Berbagai penelitian sejenis sebelumnya cenderung menakar
dampak dari sisi konsumsi energi dan air. “Perubahan tutupan lahan jarang
diamati,” demikian klaim Jasonov dalam pengantar risetnya. Menggunakan
citra Sentinel-2 dan indeks tingkat kehijauan (normalized difference
vegetation index/NDVI), tim Janosov mengecek perubahan vegetasi dalam
kompleks pembangunan pusat data, kemudian membandingkannya dengan zona di
luar proyek. Dari
luasan total 5.100 hektare milik seluruh data center tersebut, para peneliti
itu menemukan jejak konversi 3.070 hektare cropland atau ladang pertanian
produktif. Sekitar 6 persen luasan total 42 data center di AS itu dulunya
hutan. Selebihnya adalah lahan yang pernah dimanfaatkan, padang rumput, lahan
basah maupun tandus, serta perairan. Jika
dilihat berdasarkan jumlah lokasi, 45 persen atau 19 dari 42 pusat data yang
diteliti itu berada di lahan dominan cropland, sedangkan 17 lokasi berada di
lahan yang sudah dikembangkan. Hanya tiga lokasi yang didominasi hutan,
sedangkan sisanya di padang rumput. Studi yang belum melalui tahap
peer-review itu juga menangkap perubahan vegetasi pada 19 lokasi data center
di AS, paling banyak terjadi pada 2023. Pusat
data Meta Hyperion di Louisiana, sebagai contoh, dibangun pada 2018 di
kawasan yang 92 persennya masih merupakan lahan pertanian produktif. Sekitar
93 persen area pembangunan Meta Henrico di Virginia juga masih berupa hutan
pada tahun yang sama. Laporan
“Asia Pacific Data Centre Investment Landscape”, yang diterbitkan konsultan
properti Cushman & Wakefield pada Agustus 2026, menggambarkan ekspansi
pesat data center di Asia-Pasifik, termasuk di Indonesia. Para hyperscaler
memeriksa akses lahan listrik, lahan, serta konektivitas ketika memburu
lokasi baru. Dalam
setahun terakhir, Asia-Pasifik menambah lebih dari 2.200 MW kapasitas operasi
pusat data. Pertumbuhan tersebut untuk memenuhi kebutuhan AI, transformasi
digital, dan untuk penyedia neo-cloud. Bisnis
data center juga mulai meluas dari hub yang sudah mapan, seperti Singapura
dan Malaysia, menuju Indonesia, Thailand, Filipina, dan India. Tujuan
investor makin bervariasi karena moratorium proyek pusat data di Singapura
dan Malaysia. Di kedua negara itu, fasilitas ini dianggap rakus listrik dan
terlalu merambat ke area komersial. Proyek data center baru mulai masuk ke
Batam, Kepulauan Riau, dan Jakarta. Dalam
paparan resmi di Jakarta, pada 18 Agustus 2026, tim konsultan properti John
Lang LaSalle (JLL) Indonesia juga menyatakan permintaan lahan untuk satu
proyek pusat data berkembang dari yang dulunya berkisar 5 hektare menjadi
10-30 hektare. Hingga kuartal kedua tahun ini, berbasis peninjauan terhadap
kebutuhan para klien JLL Indonesia, sekitar 80 persen permintaan lahan
industri datang dari investor pusat data. Menurut
Teddy, perbedaan skala membuat masalah lahan data center di negara maju
seperti Amerika Serikat belum terlihat di Indonesia. Namun, tetap saja,
potensi yang sama ada di negeri ini. “Kondisinya relevan. Wilayah yang
sekarang menjadi area industri di Pulau Jawa dulunya juga lahan subur,”
tuturnya. Ketika
melakukan survei lokasi baru, kata Teddy, pengelola seharusnya bisa
menghindari ruang terbuka hijau atau lahan pertanian berkelanjutan. Area
bekas tambang dan zona industri lama yang terbengkalai bisa dipertimbangkan
sebagai calon lahan data center. Upaya
ini layak didukung dengan adanya kebijakan khusus dari regulator. “Bisa
berupa pajak atau kompensasi atas lahan yang produktif yang dipakai untuk
membangun proyek,” ucapnya. Lahan
untuk Proyek Masa Depan Chief
Executive Officer PT Telkom Data Ekosistem atau NeutraDC Rakhmad Tunggal
Afifuddin mengatakan kebutuhan lahan pusat data bergantung pada skala
fasilitas, kebutuhan daya maksimal (IT load), target ekspansi, serta karakter
lokasi. Selain
untuk infrastruktur komputasi dan penyokongnya, sejumlah pengelola membuka
ruang untuk pengembangan kapasitas. “Fasilitas hyperscale NeutraDC seluas 5
hektare di Batam dirancang dalam tiga kampus dengan kapasitas IT load hingga
54 MW,” tuturnya kepada Tempo. Desain
proyek, kata Rakhmad, selalu mempertimbangkan redundansi pada sistem-sistem
kritikal. Ekosistem pusat data NeutraDC di Cikarang, Jawa Barat, dia
mencontohkan, memiliki diverse incoming power cable paths—mekanisme pemisahan
jalur kabel sesuai dengan standar keamanan—menuju jantung kelistrikan utama. Dalam
penentuan lokasi data center, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) ini
memastikan selalu mempertimbangkan kesesuaian tata ruang dan peruntukan
kawasan. Selain keandalan sumber daya energi, ada kajian soal aksesibilitas,
kondisi geografis, serta risiko bencana. “Aspek
lingkungan juga bagian dari perencanaan karena fasilitas ini akan beroperasi
dalam jangka panjang,” ucap Rakhmad. Kepala
Pusat Riset Komputasi Badan Riset dan Inovasi Nasional Rifki Sadikin
mengatakan persoalan ekspansi pusat data tidak hanya menyangkut konversi
lahan produktif menjadi bangunan. Dia menyoroti dampak sosial terhadap
penduduk di sekitar fasilitas. “Jangan lupa bahwa pembangunan superkomputer
AI juga berpotensi menimbulkan pencemaran suara dan udara,” ujarnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/lingkungan/pembangunan-pusat-data-rakus-lahan-lingkungan-2285254 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar