Jumat, 04 September 2026

 

Korsel Kehabisan Pekerjaan, Jepang Butuh Pekerja

Waode Nurmuhaemin :  Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel Pendidikan.

KOMPAS.COM, 02 September 2026

 

 

                                                           

ADA ironi yang sedang tumbuh di Asia Timur. Anak-anak muda Korea Selatan, negara yang selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu kisah sukses ekonomi dunia, melirik Jepang untuk mendapatkan pekerjaan.

 

Mereka tentu tidak pergi semata-mata untuk menikmati Tokyo, Osaka, atau musim sakura. Sebagian pergi karena mencari sesuatu yang semakin sulit mereka temukan di negeri sendiri, yaitu pekerjaan pertama yang layak dan jalur karier menjanjikan.

 

Fenomena ini bukan sekadar cerita individual. Pada 2025, sebanyak 2.257 anak muda Korea Selatan mendapatkan pekerjaan di Jepang melalui program yang didukung pemerintah Korea, meningkat 47 persen dibandingkan 2024.

 

Jepang bahkan menjadi tujuan utama program penempatan kerja luar negeri bagi anak muda Korea Selatan.

 

Angka tersebut memang kecil dibandingkan keseluruhan populasi Korea Selatan. Namun, fenomenanya penting karena memperlihatkan paradoks pasar kerja di dua negara maju.

 

Korea memiliki pendidikan tinggi, perusahaan global, industri teknologi maju, dan ekonomi yang telah menjadi salah satu kekuatan Asia.

 

Samsung, Hyundai, SK, dan LG adalah simbol keberhasilan industrialisasi Korea. Namun, keberhasilan ekonomi tidak otomatis membuat transisi dari universitas menuju dunia kerja menjadi mudah.

 

Pada Juni 2026, tingkat pengangguran kaum muda Korea Selatan mencapai 7 persen, naik 0,9 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran keseluruhan Korea berada di sekitar 2,8 persen.

 

Masalahnya, dengan demikian, bukan semata-mata tidak adanya pekerjaan, melainkan adanya kesenjangan antara pekerjaan yang tersedia dan pekerjaan yang diharapkan generasi muda.

 

Jepang menghadapi persoalan yang hampir berlawanan. Jika Korea memiliki anak muda yang mencari pekerjaan, Jepang memiliki pekerjaan yang mencari manusia.

 

Tingkat pengangguran Jepang berada di sekitar 2,5 persen, tetapi angka tersebut sekaligus menunjukkan betapa ketatnya pasar tenaga kerja.

 

Jepang sedang mengalami penyusutan penduduk usia kerja akibat penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran.

 

Perusahaan semakin kesulitan menemukan pekerja sehingga harus mencari tenaga kerja dari luar negeri.

 

Lebih dari 80.000 warga Korea kini bekerja di Jepang, termasuk dalam bidang teknologi informasi, ritel, dan pengembangan gim.

 

Pasar tenaga kerja kedua negara akhirnya seperti dua keping puzzle yang justru saling melengkapi: Korea memiliki talenta muda, sementara Jepang memiliki kebutuhan terhadap tenaga kerja.

 

Yang menarik, alasan anak muda Korea memilih Jepang tidak selalu berkaitan dengan besarnya gaji. Struktur rekrutmen juga memainkan peran penting.

 

Perusahaan Korea semakin selektif dan cenderung mencari pekerja yang sudah memiliki pengalaman, sementara perusahaan Jepang masih mempertahankan tradisi merekrut lulusan baru dan memberikan pelatihan pada tahap awal karier.

 

Bagi seorang anak muda yang baru lulus universitas, perbedaan tersebut sangat berarti. Ketika perusahaan di dalam negeri bertanya tentang pengalaman kerja yang belum dimiliki, perusahaan di negara lain justru mungkin menawarkan kesempatan untuk belajar dari awal.

 

Pada Maret 2026, KOTRA menyelenggarakan bursa kerja khusus pekerjaan di Jepang yang mempertemukan 31 perusahaan Jepang dengan lebih dari 70 anak muda Korea yang mengikuti proses wawancara setelah sebelumnya terdapat sekitar 290 pelamar.

 

Jepang semakin sadar bahwa persoalan demografi tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperpanjang usia kerja atau meningkatkan partisipasi kelompok tertentu dalam pasar kerja. Jepang membutuhkan manusia baru.

 

Karena itu, berbagai jalur untuk menarik pekerja asing semakin diperluas. Program Working Holiday Jepang–Korea Selatan, misalnya, memiliki kuota hingga 10.000 orang per tahun dan sejak Oktober 2025 memungkinkan warga Korea mengikuti program tersebut hingga dua kali.

 

Negara yang selama bertahun-tahun dikenal relatif tertutup terhadap pekerja asing perlahan dipaksa oleh realitas demografi untuk membuka pintu lebih lebar. Demografi ternyata bisa lebih kuat daripada kebiasaan lama sebuah negara.

 

Fenomena Korea–Jepang ini juga membongkar anggapan bahwa migrasi tenaga kerja selalu merupakan cerita dari negara miskin menuju negara kaya.

 

Korea Selatan adalah negara maju, tetapi sebagian anak mudanya tetap mencari kesempatan di negara maju lainnya.

 

Ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja bukan hanya soal seberapa kaya suatu negara, melainkan apakah pertumbuhan ekonominya mampu menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan aspirasi generasi mudanya.

 

Mobilitas tenaga kerja tentu bukan masalah. Anak muda yang pergi untuk memperoleh pengalaman internasional dapat membawa pulang keterampilan, jaringan, dan gagasan baru.

 

Persoalannya muncul ketika mereka pergi karena merasa kesempatan membangun masa depan justru lebih terbuka di negara lain.

 

Indonesia seharusnya membaca fenomena tersebut dengan serius. Kita masih gemar menyebut banyaknya penduduk usia produktif sebagai bonus demografi.

 

Padahal, bonus demografi bukan sekadar banyaknya anak muda. Ia baru menjadi bonus jika pendidikan mampu menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan industri, ekonomi mampu menciptakan pekerjaan produktif, dan negara mampu menyediakan jalur karier yang membuat generasi muda percaya bahwa masa depan dapat dibangun di dalam negeri.

 

Jika tidak, maka bonus demografi dapat berubah menjadi beban demografi: jutaan anak muda memasuki pasar kerja tanpa pekerjaan yang layak, terjebak dalam pekerjaan informal, menganggur, atau akhirnya mencari peluang di negara lain.

 

Karena itu, kisah anak muda Korea yang mengincar pekerjaan di Jepang seharusnya menjadi cermin bagi Indonesia.

 

Korea mengajarkan bahwa pendidikan tinggi dan perusahaan kelas dunia belum cukup untuk menjamin masa depan generasi muda.

 

Jepang menunjukkan bahwa penuaan penduduk dapat menciptakan kebutuhan besar terhadap tenaga kerja asing.

 

Indonesia berada di antara kedua pengalaman tersebut, yakni memiliki populasi usia produktif yang besar, tetapi menghadapi pertanyaan apakah ekonomi nasional cukup cepat menciptakan pekerjaan berkualitas.

 

Jendela bonus demografi tidak terbuka selamanya. Pertanyaan terpenting bukan lagi berapa banyak anak muda yang kita miliki, melainkan apakah kita mampu menciptakan masa depan yang membuat mereka memilih bertahan. ●

 

Sumber :  https://money.kompas.com/read/2026/09/02/174600826/korsel-kehabisan-pekerjaan-jepang-butuh-pekerja?page=all#page2  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar