|
Korsel Kehabisan Pekerjaan, Jepang Butuh
Pekerja Waode
Nurmuhaemin : Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel Pendidikan. |
KOMPAS.COM, 02 September 2026
|
ADA ironi yang sedang tumbuh di Asia Timur. Anak-anak muda Korea
Selatan, negara yang selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu kisah
sukses ekonomi dunia, melirik Jepang untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka tentu tidak pergi semata-mata untuk menikmati Tokyo,
Osaka, atau musim sakura. Sebagian pergi karena mencari sesuatu yang semakin
sulit mereka temukan di negeri sendiri, yaitu pekerjaan pertama yang layak
dan jalur karier menjanjikan. Fenomena ini bukan sekadar cerita individual. Pada 2025, sebanyak
2.257 anak muda Korea Selatan mendapatkan pekerjaan di Jepang melalui program
yang didukung pemerintah Korea, meningkat 47 persen dibandingkan 2024. Jepang bahkan menjadi tujuan utama program penempatan kerja luar
negeri bagi anak muda Korea Selatan. Angka tersebut memang kecil dibandingkan keseluruhan populasi
Korea Selatan. Namun, fenomenanya penting karena memperlihatkan paradoks
pasar kerja di dua negara maju. Korea memiliki pendidikan tinggi, perusahaan global, industri
teknologi maju, dan ekonomi yang telah menjadi salah satu kekuatan Asia. Samsung, Hyundai, SK, dan LG adalah simbol keberhasilan
industrialisasi Korea. Namun, keberhasilan ekonomi tidak otomatis membuat
transisi dari universitas menuju dunia kerja menjadi mudah. Pada Juni 2026, tingkat pengangguran kaum muda Korea Selatan
mencapai 7 persen, naik 0,9 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingkat pengangguran keseluruhan Korea berada di sekitar 2,8 persen. Masalahnya, dengan demikian, bukan semata-mata tidak adanya
pekerjaan, melainkan adanya kesenjangan antara pekerjaan yang tersedia dan
pekerjaan yang diharapkan generasi muda. Jepang menghadapi persoalan yang hampir berlawanan. Jika Korea
memiliki anak muda yang mencari pekerjaan, Jepang memiliki pekerjaan yang
mencari manusia. Tingkat pengangguran Jepang berada di sekitar 2,5 persen, tetapi
angka tersebut sekaligus menunjukkan betapa ketatnya pasar tenaga kerja. Jepang sedang mengalami penyusutan penduduk usia kerja akibat
penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran. Perusahaan semakin kesulitan menemukan pekerja sehingga harus
mencari tenaga kerja dari luar negeri. Lebih dari 80.000 warga Korea kini bekerja di Jepang, termasuk
dalam bidang teknologi informasi, ritel, dan pengembangan gim. Pasar tenaga kerja kedua negara akhirnya seperti dua keping
puzzle yang justru saling melengkapi: Korea memiliki talenta muda, sementara
Jepang memiliki kebutuhan terhadap tenaga kerja. Yang menarik, alasan anak muda Korea memilih Jepang tidak selalu
berkaitan dengan besarnya gaji. Struktur rekrutmen juga memainkan peran
penting. Perusahaan Korea semakin selektif dan cenderung mencari pekerja
yang sudah memiliki pengalaman, sementara perusahaan Jepang masih
mempertahankan tradisi merekrut lulusan baru dan memberikan pelatihan pada
tahap awal karier. Bagi seorang anak muda yang baru lulus universitas, perbedaan
tersebut sangat berarti. Ketika perusahaan di dalam negeri bertanya tentang
pengalaman kerja yang belum dimiliki, perusahaan di negara lain justru
mungkin menawarkan kesempatan untuk belajar dari awal. Pada Maret 2026, KOTRA menyelenggarakan bursa kerja khusus
pekerjaan di Jepang yang mempertemukan 31 perusahaan Jepang dengan lebih dari
70 anak muda Korea yang mengikuti proses wawancara setelah sebelumnya
terdapat sekitar 290 pelamar. Jepang semakin sadar bahwa persoalan demografi tidak bisa
diselesaikan hanya dengan memperpanjang usia kerja atau meningkatkan
partisipasi kelompok tertentu dalam pasar kerja. Jepang membutuhkan manusia
baru. Karena itu, berbagai jalur untuk menarik pekerja asing semakin
diperluas. Program Working Holiday Jepang–Korea Selatan, misalnya, memiliki
kuota hingga 10.000 orang per tahun dan sejak Oktober 2025 memungkinkan warga
Korea mengikuti program tersebut hingga dua kali. Negara yang selama bertahun-tahun dikenal relatif tertutup
terhadap pekerja asing perlahan dipaksa oleh realitas demografi untuk membuka
pintu lebih lebar. Demografi ternyata bisa lebih kuat daripada kebiasaan lama
sebuah negara. Fenomena Korea–Jepang ini juga membongkar anggapan bahwa migrasi
tenaga kerja selalu merupakan cerita dari negara miskin menuju negara kaya. Korea Selatan adalah negara maju, tetapi sebagian anak mudanya
tetap mencari kesempatan di negara maju lainnya. Ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja bukan hanya soal
seberapa kaya suatu negara, melainkan apakah pertumbuhan ekonominya mampu
menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan aspirasi generasi mudanya. Mobilitas tenaga kerja tentu bukan masalah. Anak muda yang pergi
untuk memperoleh pengalaman internasional dapat membawa pulang keterampilan,
jaringan, dan gagasan baru. Persoalannya muncul ketika mereka pergi karena merasa kesempatan
membangun masa depan justru lebih terbuka di negara lain. Indonesia seharusnya membaca fenomena tersebut dengan serius.
Kita masih gemar menyebut banyaknya penduduk usia produktif sebagai bonus
demografi. Padahal, bonus demografi bukan sekadar banyaknya anak muda. Ia
baru menjadi bonus jika pendidikan mampu menghasilkan keterampilan yang
dibutuhkan industri, ekonomi mampu menciptakan pekerjaan produktif, dan
negara mampu menyediakan jalur karier yang membuat generasi muda percaya
bahwa masa depan dapat dibangun di dalam negeri. Jika tidak, maka bonus demografi dapat berubah menjadi beban
demografi: jutaan anak muda memasuki pasar kerja tanpa pekerjaan yang layak,
terjebak dalam pekerjaan informal, menganggur, atau akhirnya mencari peluang
di negara lain. Karena itu, kisah anak muda Korea yang mengincar pekerjaan di
Jepang seharusnya menjadi cermin bagi Indonesia. Korea mengajarkan bahwa pendidikan tinggi dan perusahaan kelas
dunia belum cukup untuk menjamin masa depan generasi muda. Jepang menunjukkan bahwa penuaan penduduk dapat menciptakan
kebutuhan besar terhadap tenaga kerja asing. Indonesia berada di antara kedua pengalaman tersebut, yakni
memiliki populasi usia produktif yang besar, tetapi menghadapi pertanyaan
apakah ekonomi nasional cukup cepat menciptakan pekerjaan berkualitas. Jendela bonus demografi tidak terbuka selamanya. Pertanyaan
terpenting bukan lagi berapa banyak anak muda yang kita miliki, melainkan
apakah kita mampu menciptakan masa depan yang membuat mereka memilih
bertahan. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar