|
Whitehead, Tuhan, dan Jembatan antara Sains dan Agama (Bagian II-End) Dimitri
Mahayana : Dosen Filsafat Sains S3 di STEI
ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT
Sharing Vision, Bandung.. |
KUMPARAN, 02 September 2026
|
Agama dan Sains: Dua
Sayap yang Sama Dengan kerangka ini,
hubungan sains dan agama berubah wajah. Whitehead tidak membagi keduanya ke
dalam wilayah yang terpisah dan tidak saling menyentuh. Justru sebaliknya.
Tugas mereka berbeda, tetapi objeknya satu: semesta yang sama. Sains menelaah
pola-pola umum dalam aliran peristiwa. Agama menghayati nilai, tujuan, dan
kedalaman pengalaman. Dan keduanya, menurut Whitehead, wajib bertemu serta
saling mengoreksi di satu meja bernama metafisika. Sains tanpa visi nilai menjadi
buta arah; agama tanpa disiplin rasional menjadi takhayul. Keduanya membaca
kitab yang sama dari dua arah, dan bacaan mereka harus diadu sampai bertaut. Dalam Religion in the
Making (1926), Whitehead menulis bahwa agama adalah apa yang dilakukan individu
dengan kesunyiannya. Agama sejati bukan sekumpulan dogma beku, melainkan
penghayatan yang terus berkembang, sebagaimana sains terus merevisi teorinya.
Konflik antara sains dan agama, kata Whitehead, seharusnya disambut sebagai
peluang. Setiap benturan adalah undangan untuk memperdalam pemahaman kedua
belah pihak. Sejarah membuktikannya. Astronomi memaksa teologi meninggalkan
kosmologi naif, dan teologi menjadi lebih matang karenanya. Ada satu hal lagi yang
sering dilupakan. Whitehead menunjukkan bahwa sains modern justru lahir dari
rahim keyakinan religius: keyakinan abad pertengahan bahwa alam ini rasional
karena bersumber dari rasionalitas Ilahi. Tanpa iman bahwa semesta punya
keteraturan yang bisa dipahami, tidak akan ada dorongan untuk menelitinya.
Sains, dalam arti ini, adalah anak kandung teologi yang lupa pada ibunya. Gema di Dunia Islam dan
Indonesia Pemikiran Whitehead
bergema jauh. Muhammad Iqbal, filsuf dan penyair besar dari anak benua India,
membaca Whitehead dengan tekun. Dalam The Reconstruction of Religious Thought
in Islam, Iqbal menggambarkan alam sebagai proses kreatif yang terus
mengalir, dan Tuhan sebagai realitas hidup yang dinamis. Bagi Iqbal, ini
justru lebih dekat kepada semangat Al-Quran daripada gambaran Tuhan yang
statis dalam filsafat Yunani. Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa setiap saat
Dia dalam kesibukan? Bukankah alam disebut sebagai ayat-ayat yang terus
dibentangkan? Bagi kita di Indonesia,
pertemuan ini terasa akrab. Kita hidup dalam masyarakat yang religius
sekaligus haus akan kemajuan sains dan teknologi. Kita tidak pernah nyaman
dengan pilihan palsu antara menjadi modern atau menjadi beriman. Filsafat
proses menawarkan bahasa untuk menolak pilihan palsu itu. Semesta yang
dipelajari fisikawan di laboratorium dan semesta yang dihayati seorang hamba
dalam sujudnya adalah semesta yang satu: kreatif, hidup, dan berakar pada
Yang Maha Hidup. Penutup Whitehead wafat pada
1947, tetapi pertanyaannya tetap milik kita. Di era kecerdasan buatan,
rekayasa genetika, dan krisis ekologi, kita kembali diuji: apakah kita
memandang alam sebagai mesin mati yang boleh dieksploitasi, atau sebagai
jalinan pengalaman yang bernilai pada dirinya dan berakar pada Tuhan? Whitehead memilih yang
kedua. Ia mengajak kita melihat semesta sebagai petualangan ide yang belum
selesai, dengan Tuhan sebagai penyair dunia yang dengan sabar menuntunnya
lewat visi tentang kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Sains memberi kita
peta proses itu. Agama memberi kita alasan untuk mencintainya. Keduanya kita
butuhkan, seperti burung membutuhkan dua sayapnya untuk terbang. Di hari jadi Indonesia
ke-81 ini, pesan Whitehead tentang keberanian intelektual menjadi relevan:
merdeka berarti berani menyatukan apa yang selama ini dipertentangkan,
termasuk akal dan iman. Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke-81. Merdeka! ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar