Kamis, 03 September 2026

 

Rekam Jejak Rais Am dan Ketua Umum PBNU yang Baru

Eka Yudha Saputra :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  01 September 2026

 

 

 

·      Terpilihnya Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketum PBNU dianggap sebagai jalan tengah di lingkup internal NU.

 

·      Hakim Mahfudz dikenal sebagai sosok yang tenang dan bersemangat.

 

·      Miftachul Akhyar selalu menempuh cara dialogis dan persuasif dalam berdakwah.

 

ALISSA Qotrunnada Munawaroh Wahid cukup mengenal Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031. Alissa masih satu kerabat dengan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersebut. Keduanya sama-sama cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama, Muhammad Hasyim Asy'ari.

 

Hubungan kekerabatan Alissa dan Hakim Mahfudz dikenal sebagai sepupu jauh. Ayah dari Hakim Mahfudz, Mahfudz Anwar, dan Abdurrahmad Wahid, orang tua Aliissa, adalah bersepupu.

 

Di mata Alissa, Hakim Mahfudz merupakan sosok pekerja kerja, bersemangat, dan tenang. “Jadi, bukan orang yang meledak-ledak, bukan yang emosional, dan bukan yang fight seperti bulldozer,” kata putri sulung mantan presiden, Abdurrahman Wahid, tersebut, Senin, 31 Agustus 2026.

 

Hakim Mahfudz terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin, 31 Agustus 2026. Ia dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)—forum khusus dalam struktur PBNU yang terdiri atas sembilan kiai sepuh. Mereka adalah Nurul Huda Djazuli, Tgk Nuruzzahri Yahya, AG Baharuddin, Miftachul Akhyar, Afifuddin Muhajir, Anwar Iskandar, Anwar Manshur, Said Aqil Siroj, dan Abun Bunyamin.

 

Sembilan AHWA yang juga ditunjuk oleh peserta muktamar memilih Hakim Mahfudz di antara lima calon ketua umum yang diusulkan muktamirin. Empat kandidat lain adalah Zulfa Mustofa, Abdussalam Sochib, Yahya Cholil Staquf, dan Abdul Ghofar Rozin.

 

AHWA juga memilih Miftachul Akhyar sebagai rais am atau pimpinan tertinggi syuriah, lembaga tertinggi dalam struktur PBNU, periode 2026-2031. Miftachul sudah dua periode menjabat rais am.

 

Sebelum terpilih, Hakim Mahfudz adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur periode 2024-2029. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 di lingkungan Pesantren Sunan Ampel, Jombang, dari pasangan Mahfudz Anwar dan Abidah Ma'shum.

 

Dikutip dari situs web NU Online, Hakim Mahfudz memiliki hubungan nasab dengan Hasyim Asy'ari. Abidah Ma'shum adalah keturunan Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hasyim Asy'ari yang menikah dengan Ma'shum Ali, ulama ahli falak dan pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah. Dari jalur ayah, Hakim Mahfudz berasal dari keluarga ulama Jombang. Mahfudz Anwar yang dikenal sebagai ulama di bidang ilmu falak.

 

Dalam jalur pendidikan formal, Hakim Mahfudz semasa kecil bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Parimono, lalu lanjut ke SMP Negeri 1 Jombang dan SMA Negeri 2 Jombang. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Pada 2013, ia menyelesaikan pendidikan sarjana komunikasi di Universitas Terbuka.

 

Setelah lulus dari Universitas Terbuka, ia justru memilih menjadi pengusaha dengan mendirikan sejumlah perusahaan, yang bergerak di berbagai bidang, seperti transportasi, kontraktor, teknologi informasi, dan media penyiaran melalui PT Bama Berita Sarana (BBS Group).

 

Salah satu perusahaan yang didirikannya adalah PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Pengalaman itu yang mengantarkannya menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri.

 

Sekitar sepuluh tahun menggeluti dunia usaha, Hakim Mahfudz kembali ke pesantren. Ia meneruskan kepengasuhan Pesantren Tebuireng setelah Salahuddin Wahid wafat pada 2020. Empat tahun setelahnya, Hakim Mahfudz dipilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

 

Peneliti politik di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aisah Putri Budiatri, mengatakan Hakim Mahfudz memang lebih aktif di luar pesantren sebelum ditunjuk menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Aisah mengibaratkannya sebagai anak hilang yang kembali ke rumah.

 

“Jadi emang bukan yang lulus studi pesantren langsung menjadi pengasuh. Biasanya, kalau pengasuh pesantren, mereka selesai studi pesantren langsung mengabdi di pesantren dan menjadi pengasuh,” kata Aisah, Senin, 31 Agustus 2026.

 

Penulis jurnal “Dynamic Tolerance: Tolerance within Nahdlatul Ulama and Nahdliyin Indonesia” yang terbit pada Februari 2025 ini melihat penunjukan Hakim Mahfudz sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng tidak terlepas dari nasab Hasyim Asy'ari. “Kalau melihat tradisi NU, pesantren-pesantren NU itu memang basisnya keluarga, ya. Jadi, nasabnya harus jelas, kemudian diturunkan,” katanya.

 

Peneliti BRIN lain, Wasisto Raharjo Jati, menilai terpilihnya Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU secara tidak langsung menyiratkan Nahdlatul Ulama akan kembali ke tujuan awal pendiriannya pada 1926, yaitu NU sebagai organisasi masyarakat perjuangan.

 

"Secara garis besar, beliau ini mewakili simbol NU yang paling awal,” kata Wasisto, Senin, 31 Agustus 2026. “Gus Kikin punya legitimasi genealogis yang cukup signifikan sebagai keturunan langsung dari Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Jadi, mungkin bisa menjadi penengah atau titik temu dari segenap konflik yang ada.”

 

Rekam Jejak Miftachul Akhyar

 

Wasisto Raharjo menilai pemilihan Miftachul Akhyar sebagai rais am menunjukkan kiai sepuh masih memiliki dominasi di tubuh NU, terutama dari Jawa Timur. Penulis jurnal “Ulama dan Pesantren dalam Dinamika Politik dan Kultur Nahdlatul Ulama” ini berujar, terpilihnya Miftachul Akhyar dan Hakim Mahfudz juga pertanda bahwa Nahdlatul Ulama sangat mengandalkan genealogis sebagai dasar pembentukan kepengurusan untuk lima tahun ke depan.

 

Mantan kolega Miftachul Akhyar di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, bercerita, Miftachul dikenal sebagai ulama yang menyampaikan dakwah secara sejuk serta jauh dari kekerasan dan cercaan. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menuturkan mantan Ketua Umum MUI periode 2020-2025 itu selalu mengingatkan agar selalu menempuh cara dialogis dan persuasif dalam berdakwah.

 

“Sifat Miftachul Akhyar adalah mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela,” kata Anwar Abbas, Senin, 31 Agustus 2026.

 

Miftachul lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 1953. Ia adalah anak kesembilan dari 13 bersaudara. Ayahnya, Abdul Ghoni, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

 

Miftachul Akhyar mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, antara lain Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dan Pesantren Rejoso di Jombang, Jawa Timur; Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur; dan Pesantren Al-Islah Soditan di Lasem, Jawa Tengah. Selama di Lasem, kedalaman ilmu dan sikap tawadunya menarik perhatian pengasuh pesantren, Masduqie Allasimy, yang kemudian menjadikannya menantu.

 

Ia juga pernah berguru secara langsung kepada Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Makki, saat ulama besar asal Mekah tersebut mengajar di Indonesia.

 

Setelah kembali ke Surabaya, ia mendirikan dan mengasuh Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan. Pesantren ini menjadi pusat dakwah dan pengajaran fikih serta tasawuf berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

 

Sebelum menjadi rais am, Miftachul Akhyar memiliki rekam jajak panjang dalam organisasi NU selama puluhan tahun. Ia pernah menjabat Rais Syuriah PCNU Surabaya periode 2000-2005, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur selama dua periode (2007-2018), Wakil Rais Am PBNU periode 2015-2020, dan Penjabat Rais Am PBNU periode 2018-2021 menggantikan Ma'ruf Amin yang mundur karena menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019.

 

Di luar organisasi PBNU, Miftachul Akhyar pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia periode 2020-2025. Namun ia mundur dari jabatan itu pada 9 Maret 2022 karena hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung melarang rais am rangkap jabatan.

 

Periode kepemimpinan pertama Miftachul Akhyar sebagai rais am diwarnai konflik internal dengan Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU 2021-2026. Konflik mengemuka menyusul keputusan rapat Syuriah PBNU yang memecat Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU karena diduga melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi pada November 2025.

 

Konflik internal ini mereda setelah para kiai sepuh NU memprakarsai forum islah di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Keduanya sepakat berdamai dan bersama-sama merampungkan sisa masa jabatan hingga muktamar ke-35 di Jombang. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/politik/abdul-hakim-mahfudz-dan-miftachul-akhyar-di-pbnu-2284815

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar