|
Rekam Jejak Rais Am dan Ketua Umum
PBNU yang Baru Eka Yudha Saputra : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 01 September 2026
|
· Terpilihnya Abdul Hakim Mahfudz sebagai
Ketum PBNU dianggap sebagai jalan tengah di lingkup internal NU. · Hakim Mahfudz dikenal sebagai sosok
yang tenang dan bersemangat. · Miftachul Akhyar selalu menempuh cara
dialogis dan persuasif dalam berdakwah. ALISSA
Qotrunnada Munawaroh Wahid cukup mengenal Abdul Hakim Mahfudz alias Gus
Kikin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031.
Alissa masih satu kerabat dengan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng,
Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tersebut. Keduanya sama-sama cicit dari
pendiri Nahdlatul Ulama, Muhammad Hasyim Asy'ari. Hubungan
kekerabatan Alissa dan Hakim Mahfudz dikenal sebagai sepupu jauh. Ayah dari
Hakim Mahfudz, Mahfudz Anwar, dan Abdurrahmad Wahid, orang tua Aliissa,
adalah bersepupu. Di mata
Alissa, Hakim Mahfudz merupakan sosok pekerja kerja, bersemangat, dan tenang.
“Jadi, bukan orang yang meledak-ledak, bukan yang emosional, dan bukan yang
fight seperti bulldozer,” kata putri sulung mantan presiden, Abdurrahman
Wahid, tersebut, Senin, 31 Agustus 2026. Hakim
Mahfudz terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dalam Muktamar
ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin,
31 Agustus 2026. Ia dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)—forum khusus
dalam struktur PBNU yang terdiri atas sembilan kiai sepuh. Mereka adalah
Nurul Huda Djazuli, Tgk Nuruzzahri Yahya, AG Baharuddin, Miftachul Akhyar,
Afifuddin Muhajir, Anwar Iskandar, Anwar Manshur, Said Aqil Siroj, dan Abun
Bunyamin. Sembilan
AHWA yang juga ditunjuk oleh peserta muktamar memilih Hakim Mahfudz di antara
lima calon ketua umum yang diusulkan muktamirin. Empat kandidat lain adalah
Zulfa Mustofa, Abdussalam Sochib, Yahya Cholil Staquf, dan Abdul Ghofar
Rozin. AHWA
juga memilih Miftachul Akhyar sebagai rais am atau pimpinan tertinggi
syuriah, lembaga tertinggi dalam struktur PBNU, periode 2026-2031. Miftachul
sudah dua periode menjabat rais am. Sebelum
terpilih, Hakim Mahfudz adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang,
sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur periode
2024-2029. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 di lingkungan Pesantren Sunan Ampel,
Jombang, dari pasangan Mahfudz Anwar dan Abidah Ma'shum. Dikutip
dari situs web NU Online, Hakim Mahfudz memiliki hubungan nasab dengan Hasyim
Asy'ari. Abidah Ma'shum adalah keturunan Khoiriyah Hasyim, putri sulung
Hasyim Asy'ari yang menikah dengan Ma'shum Ali, ulama ahli falak dan
pengarang kitab Amtsilah Tasrifiyah. Dari jalur ayah, Hakim Mahfudz berasal
dari keluarga ulama Jombang. Mahfudz Anwar yang dikenal sebagai ulama di
bidang ilmu falak. Dalam
jalur pendidikan formal, Hakim Mahfudz semasa kecil bersekolah di Madrasah
Ibtidaiyah Parimono, lalu lanjut ke SMP Negeri 1 Jombang dan SMA Negeri 2
Jombang. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran
Jakarta. Pada 2013, ia menyelesaikan pendidikan sarjana komunikasi di
Universitas Terbuka. Setelah
lulus dari Universitas Terbuka, ia justru memilih menjadi pengusaha dengan
mendirikan sejumlah perusahaan, yang bergerak di berbagai bidang, seperti
transportasi, kontraktor, teknologi informasi, dan media penyiaran melalui PT
Bama Berita Sarana (BBS Group). Salah
satu perusahaan yang didirikannya adalah PT Energi Mineral Langgeng (EML)
yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Pengalaman itu yang
mengantarkannya menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri. Sekitar
sepuluh tahun menggeluti dunia usaha, Hakim Mahfudz kembali ke pesantren. Ia
meneruskan kepengasuhan Pesantren Tebuireng setelah Salahuddin Wahid wafat
pada 2020. Empat tahun setelahnya, Hakim Mahfudz dipilih sebagai Ketua PWNU
Jawa Timur periode 2024-2029. Peneliti
politik di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aisah Putri Budiatri,
mengatakan Hakim Mahfudz memang lebih aktif di luar pesantren sebelum
ditunjuk menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Aisah mengibaratkannya
sebagai anak hilang yang kembali ke rumah. “Jadi
emang bukan yang lulus studi pesantren langsung menjadi pengasuh. Biasanya,
kalau pengasuh pesantren, mereka selesai studi pesantren langsung mengabdi di
pesantren dan menjadi pengasuh,” kata Aisah, Senin, 31 Agustus 2026. Penulis
jurnal “Dynamic Tolerance: Tolerance within Nahdlatul Ulama and Nahdliyin
Indonesia” yang terbit pada Februari 2025 ini melihat penunjukan Hakim
Mahfudz sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng tidak terlepas dari nasab Hasyim
Asy'ari. “Kalau melihat tradisi NU, pesantren-pesantren NU itu memang
basisnya keluarga, ya. Jadi, nasabnya harus jelas, kemudian diturunkan,”
katanya. Peneliti
BRIN lain, Wasisto Raharjo Jati, menilai terpilihnya Hakim Mahfudz sebagai
Ketua Umum PBNU secara tidak langsung menyiratkan Nahdlatul Ulama akan
kembali ke tujuan awal pendiriannya pada 1926, yaitu NU sebagai organisasi
masyarakat perjuangan. "Secara
garis besar, beliau ini mewakili simbol NU yang paling awal,” kata Wasisto,
Senin, 31 Agustus 2026. “Gus Kikin punya legitimasi genealogis yang cukup
signifikan sebagai keturunan langsung dari Kiai Haji Hasyim Asy'ari. Jadi,
mungkin bisa menjadi penengah atau titik temu dari segenap konflik yang ada.” Rekam
Jejak Miftachul Akhyar Wasisto
Raharjo menilai pemilihan Miftachul Akhyar sebagai rais am menunjukkan kiai
sepuh masih memiliki dominasi di tubuh NU, terutama dari Jawa Timur. Penulis
jurnal “Ulama dan Pesantren dalam Dinamika Politik dan Kultur Nahdlatul
Ulama” ini berujar, terpilihnya Miftachul Akhyar dan Hakim Mahfudz juga
pertanda bahwa Nahdlatul Ulama sangat mengandalkan genealogis sebagai dasar
pembentukan kepengurusan untuk lima tahun ke depan. Mantan
kolega Miftachul Akhyar di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas,
bercerita, Miftachul dikenal sebagai ulama yang menyampaikan dakwah secara
sejuk serta jauh dari kekerasan dan cercaan. Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah ini menuturkan mantan Ketua Umum MUI periode 2020-2025 itu
selalu mengingatkan agar selalu menempuh cara dialogis dan persuasif dalam
berdakwah. “Sifat
Miftachul Akhyar adalah mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul,
menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina,
mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela,” kata Anwar
Abbas, Senin, 31 Agustus 2026. Miftachul
lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 1953. Ia adalah anak kesembilan dari 13
bersaudara. Ayahnya, Abdul Ghoni, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul
Akhlaq Rangkah, Surabaya. Miftachul
Akhyar mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, antara lain Pesantren
Bahrul Ulum Tambakberas dan Pesantren Rejoso di Jombang, Jawa Timur;
Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur; dan Pesantren Al-Islah Soditan di
Lasem, Jawa Tengah. Selama di Lasem, kedalaman ilmu dan sikap tawadunya
menarik perhatian pengasuh pesantren, Masduqie Allasimy, yang kemudian
menjadikannya menantu. Ia juga
pernah berguru secara langsung kepada Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Al-Makki, saat ulama besar asal Mekah tersebut mengajar di Indonesia. Setelah
kembali ke Surabaya, ia mendirikan dan mengasuh Pesantren Miftachus Sunnah di
Kedung Tarukan. Pesantren ini menjadi pusat dakwah dan pengajaran fikih serta
tasawuf berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Sebelum
menjadi rais am, Miftachul Akhyar memiliki rekam jajak panjang dalam
organisasi NU selama puluhan tahun. Ia pernah menjabat Rais Syuriah PCNU
Surabaya periode 2000-2005, Rais Syuriah PWNU Jawa Timur selama dua periode
(2007-2018), Wakil Rais Am PBNU periode 2015-2020, dan Penjabat Rais Am PBNU
periode 2018-2021 menggantikan Ma'ruf Amin yang mundur karena menjadi calon
wakil presiden mendampingi Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019. Di luar
organisasi PBNU, Miftachul Akhyar pernah menjabat Ketua Umum Majelis Ulama
Indonesia periode 2020-2025. Namun ia mundur dari jabatan itu pada 9 Maret
2022 karena hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung melarang rais am rangkap
jabatan. Periode
kepemimpinan pertama Miftachul Akhyar sebagai rais am diwarnai konflik
internal dengan Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU 2021-2026. Konflik mengemuka
menyusul keputusan rapat Syuriah PBNU yang memecat Yahya dari jabatan Ketua
Umum PBNU karena diduga melanggar anggaran dasar dan anggaran rumah tangga
organisasi pada November 2025. Konflik
internal ini mereda setelah para kiai sepuh NU memprakarsai forum islah di
Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Keduanya sepakat berdamai dan
bersama-sama merampungkan sisa masa jabatan hingga muktamar ke-35 di Jombang.
● Sumber : https://www.tempo.co/politik/abdul-hakim-mahfudz-dan-miftachul-akhyar-di-pbnu-2284815 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar