|
Whitehead, Tuhan, dan Jembatan antara Sains dan Agama (Bagian I) Dimitri
Mahayana : Dosen Filsafat Sains S3 di STEI
ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT
Sharing Vision, Bandung.. |
KUMPARAN, 31 Agustus 2026
|
Alfred North Whitehead
adalah sosok yang langka. Ia matematikawan besar. Bersama Bertrand Russell ia
menulis Principia Mathematica, salah satu karya logika paling ambisius dalam
sejarah. Namun di usia enam puluhan, ketika kebanyakan orang bersiap pensiun,
ia pindah ke Harvard dan menjadi filsuf. Di sanalah ia membangun sebuah
sistem metafisika yang hingga kini terus diperbincangkan: filsafat proses. Yang membuat Whitehead
menarik bagi kita hari ini adalah posisinya yang unik. Ia berdiri di
persimpangan sains dan agama. Ia memahami fisika modern dari dalam. Ia juga
menolak menyingkirkan Tuhan dari gambaran dunia. Bagi Whitehead, sains dan
agama adalah dua kekuatan terbesar yang membentuk peradaban manusia. Masa
depan peradaban, tulisnya dalam Science and the Modern World (1925),
bergantung pada bagaimana generasi ini menyelesaikan hubungan keduanya. Kritik terhadap
Materialisme Ilmiah Whitehead memulai dengan
sebuah diagnosis. Sains modern, katanya, dibangun di atas asumsi yang tidak
pernah diuji: bahwa realitas tersusun dari materi mati yang bergerak dalam
ruang dan waktu. Materi itu tidak punya tujuan, tidak punya nilai, tidak
punya pengalaman. Ia hanya ada, dan bergerak menurut hukum mekanis. Asumsi ini sangat
berhasil selama dua abad. Fisika Newton berdiri di atasnya. Revolusi industri
dibangun darinya. Namun Whitehead menyebutnya sebagai kekeliruan mendasar. Ia
menamainya the fallacy of misplaced concreteness: kekeliruan menganggap
abstraksi sebagai kenyataan konkret. Konsep "materi mati" adalah
abstraksi yang berguna. Tetapi ia bukan realitas itu sendiri. Realitas yang
kita alami setiap hari penuh dengan warna, rasa, tujuan, dan nilai. Ketika
sains menyatakan semua itu ilusi subjektif, sains sedang mengorbankan
pengalaman demi abstraksinya sendiri. Ironisnya, revolusi
fisika abad kedua puluh justru menyingkirkan hambatan utama bagi pandangan
Whitehead. Relativitas dan kuantum tidak membuktikan metafisikanya, tetapi
membuka jalan bagi gambaran alam sebagai peristiwa, bukan partikel pasif.
Elektron bukan bola biliar kecil yang diam menunggu didorong; ia lebih
menyerupai kejadian dalam jalinan medan yang saling terhubung. Whitehead
sendiri bergulat serius dengan fisika zamannya, bahkan sempat mengajukan
teori gravitasi alternatif terhadap Einstein. Ia bukan penonton yang
menumpang kesimpulan, melainkan pemain yang ikut bertarung di dalamnya. Realitas sebagai Proses Dari sinilah Whitehead
membangun tesis utamanya. Realitas bukan kumpulan benda, melainkan aliran
peristiwa. Unit dasar alam semesta bukan atom materi, melainkan apa yang ia
sebut actual occasions: denyut-denyut pengalaman yang muncul, mencapai
kepenuhan, lalu lewat dan menjadi bahan bagi peristiwa berikutnya. Dalam karya utamanya,
Process and Reality (1929), Whitehead merumuskan ini dengan padat. Ada tidaklah
mendahului menjadi. Justru menjadi itulah cara sesuatu ada. Sebuah batu
tampak diam, tetapi pada tingkat terdalam ia adalah masyarakat peristiwa yang
terus memperbarui diri. Demikian pula sel, tubuh, pikiran, dan galaksi.
Semesta adalah proses kreatif yang tak pernah selesai. Konsekuensinya radikal.
Jika unit dasar realitas adalah pengalaman, maka jurang antara materi dan
jiwa runtuh. Alam bukan mesin mati yang kebetulan menghasilkan makhluk sadar.
Alam adalah kontinum pengalaman, dari yang paling samar pada partikel hingga
yang paling kaya pada manusia. Pandangan ini kini dikenal sebagai
panexperientialisme, dan ia kembali diperdebatkan serius dalam filsafat
pikiran kontemporer. Tuhan dalam Filsafat
Proses Lalu di mana Tuhan dalam
gambaran ini? Di sinilah Whitehead memberikan sumbangan yang paling orisinal
sekaligus paling diperdebatkan. Bagi Whitehead, Tuhan
bukan penguasa yang berdiri di luar alam dan sesekali campur tangan. Tuhan
juga bukan pembuat jam yang menyalakan mesin semesta lalu pergi. Tuhan hadir
dalam setiap peristiwa, di setiap saat, sebagai sumber kemungkinan dan
tarikan menuju keindahan. Whitehead membedakan dua
kutub dalam kodrat Tuhan. Pertama, kodrat primordial. Ini adalah Tuhan
sebagai gudang segala kemungkinan, sumber segala bentuk ideal yang bisa
diwujudkan alam. Setiap peristiwa menerima dari Tuhan sebuah ajakan awal,
sebuah arah menuju kemungkinan terbaiknya. Whitehead menyebut Tuhan sebagai
prinsip pembatasan sekaligus prinsip kebaruan. Tanpa Tuhan, kreativitas
semesta akan buta dan kacau. Kedua, kodrat konsekuen.
Ini sisi yang menyentuh. Tuhan tidak hanya memberi, tetapi juga menerima.
Segala yang terjadi di dunia, setiap suka dan duka, terserap ke dalam
kehidupan Tuhan dan tersimpan di sana selamanya. Tidak ada pengalaman yang
hilang sia-sia. Dalam kalimat Whitehead yang terkenal, Tuhan adalah sahabat
yang turut merasakan derita dan memahaminya. Maka Tuhan Whitehead
bekerja dengan persuasi, bukan paksaan. Ia tidak mendikte dunia, melainkan
memikatnya menuju kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Kejahatan dan
penderitaan menjadi bisa dipahami: dunia sungguh-sungguh bebas, dan kebebasan
itu nyata karena Tuhan memilih mencintai, bukan mengendalikan. Namun harus
jujur diakui, ini jawaban radikal yang membayar harga mahal. Tuhan Whitehead
tidak mahakuasa dalam arti tradisional, melainkan mahapersuasif. Teolog
klasik seperti Thomas Aquinas akan bertanya: jika Tuhan hanya memikat dan
tidak pernah memaksa, siapa yang menjamin kemenangan akhir kebaikan?
Perdebatan ini tetap hidup hingga kini. Murid Whitehead, Charles Hartshorne,
menghabiskan seumur hidupnya menyempurnakan teologi proses untuk menjawab
keberatan semacam itu, dan dari tangannya teologi proses tumbuh memengaruhi
dialog antaragama hingga teologi pembebasan. (Bersambung) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar