|
Periset BRIN Urai Cara Kerja Ubi Bombing untuk Padamkan Karhutla Rahma Dwi Safitri : Jurnalis Tirto.id. |
TIRTO.ID, 31 Agustus 2026
|
Istilah “ubi bombing”
belakangan ramai diperbincangkan setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong
pengembangan bahan pemadam kebakaran berbasis tepung ubi atau singkong
sebagai alternatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah berbagai
anggapan bahwa teknologi tersebut hanya berupa tepung yang dijatuhkan dari
udara, periset kimia molekuler dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),
Julinton Sianturi, menjelaskan bahwa konsep itu sebenarnya jauh lebih
kompleks. Dia menjelaskan pati
singkong pada dasarnya hanya salah satu bahan dalam formula bahan pemadam api
yang dikembangkan. Ia harus dicampurkan dengan amonium polifosfat, wetting
agent, dan air untuk bisa menghasilkan bahan pemadam api yang efektif. Ketika
terkena panas api, campuran tersebut baru menghasilkan char yang berfungsi
sebagai lapisan pelindung. Julinton memiliki latar
belakang riset di bidang kimia organik dan karbohidrat. Dia menyelesaikan
pendidikan S1 dan S2 di Indonesia, kemudian melanjutkan S3 di Osaka
University, Jepang, sebelum mengembangkan karier sebagai peneliti di Max
Planck Institute, Jerman, selama sekitar 10 tahun. Pada 2025, dia kembali ke
Indonesia dan bergabung dengan BRIN. Spesialisasinya pada
karbohidrat kemudian memiliki kaitan dengan riset penanganan karhutla.
Menurut Julinton, kayu yang menjadi bahan bakar dalam kebakaran juga tersusun
atas karbohidrat dalam bentuk polisakarida. Kepada Tirto, Julinton
menjelaskan bagaimana “ubi bombing” bekerja. Berikut wawancara lengkapnya. Bagaimana sebenarnya cara
kerja “ubi bombing” untuk memadamkan kebakaran? Ubi bombing itu adalah
material ubi yang diletakkan pada suatu objek, dalam hal ini kebakaran, yang
meledak yang akan mematikan api. Ubi yang digunakan adalah ubi singkong yang
sudah dibuat powder. Masalahnya adalah
masyarakat itu salah memahami dan konteksnya berbeda apa yang telah
di-publish sejauh ini. Apakah pati (singkong) itu bisa mematikan api? Benar
untuk skala kecil. Nah, konteks itu akan sangat jauh berbeda ketika kita
berangkat ke skala yang lebih besar contohnya kebakaran hutan gitu. Pati singkong itu
mengandung suatu senyawa kimia namanya starch. Itu merupakan suatu polimer
yang mengandung monosakarida yang namanya glukosa-glukosa yang terkonjugasi.
Struktur itu kita reaksikan dengan amonium polifosfat. Ketika kita tambahkan
amonium polifosfat, kita tambahkan lagi namanya wetting agent, tujuannya agar
kekentalannya tidak tinggi biar bisa dipenetrasi saat drop. Nah, baru jelas
kita gunakan air dan semua itu ada manfaatnya. Ketika (pati singkong)
kita campurkan, ia tidak bereaksi. Namun, ketika jumpa sama si api, si
amonium polifosfat ini dia terdekomposisi menghasilkan asam fosfat sama
amonia. Asam fosfat ini dia bereaksi dengan pati pada suhu yang tinggi pada
kebakaran itu, lalu menghasilkan yang namanya pati APP. Pati APP ini nanti
kena api lagi, baru menghasilkan yang namanya char. Nah, inilah nanti yang
digunakan sebagai pelindung. Secara asumsi, butuh
sekitar 2.000 liter cairan campuran itu untuk satu hektar lahan. Dalam cairan
itu, kandungan dominannya amonium polifosfat, ubinya tidak terlalu banyak.
Jadi, bisa dibilang ubi termodifikasi. Walaupun saya bilang
komposisi amonium fosfatnya itu lebih banyak, maksudnya (rasionya) seperti
1,5 ekuivalen sama 1 gitu—hampir sama, bukan jomplang. Artinya, persepsi
masyarakat bahwa ini murni hanya ubi juga salah, konteksnya salah. Enggak
semata-mata ubinya dikeringin jadi tepung terus dilempar. Enggak begitu
teknisnya. Output-nya adalah cairan terdispersi, cairan (yang di dalamnya)
seperti ada partikel-partikel yang tidak larut. Dan, (cara) menyatukannya
dengan dipanaskan. Kami ada reaktornya, itu sekitar 60 derajat. Kecepatan reaksi ini
tergantung pada apinya. Semakin besar api, energi yang dihasilkan besar,
pembentukan char itu akan lebih cepat. Berarti, pemanasan dan penyebaran
(api) juga akan semakin terhambat. Karena, char itu dihasilkan dalam jangka
waktu yang cepat. Apa keunggulan mekanisme
ubi bombing dibandingkan pemadaman menggunakan air? Metode air biasa adalah
ketika ada kebakaran, terutama pada kebakaran besar yang panasnya tinggi.
Sebenarnya bisa enggak air mematikan api? Bisa. Contohnya lilin. Kita ada
lilin, kita taruh air, mati kan? Tapi, dalam skala besar, air itu tidak
nyampe (ke titik kebakaran) karena suhu yang tinggi (membuat) dia menguap.
Dia belum nyampe, dia menguap. Saat ada kebakaran, kita
taruh cairan itu tadi, katakan apinya terlalu besar, (suhunya) tinggi, char
langsung jatuh ke bawah karena reaksi ini langsung berlangsung. Selama ini, yang saya dan
tim saya pelajari, terutama dalam studi literatur, apa yang dilakukan orang
adalah menggunakan amonium polifosfat sebagai retardant (pengahambat). Hanya
amonium dengan yang lain, misalnya kalsium karbonat. Nah, penggunaan singkong
ini tidak (lazim), baru sekarang. Karena, kalau kami melihat dari
strukturnya, ini (pati singkong) adalah senyawa polimer, polifosfat ya
polimer (juga) karena strukturnya panjang, wetting agent itu juga polimer.
Jadi, ini struktur (kimianya) besar. Pemerintah mendorong agar
bahan ini bisa diproduksi secara massal. Seberapa siap teknologi produksinya
dan apa kendala yang masih dihadapi? Kami sudah berbicara juga
sama tim Polri, sama Prof. Amarulla Octavian, Wakil kepala BRIN. Mereka
mengatakan bahwasanya kita memiliki singkong dalam jumlah yang banyak di
Lampung. Kemarin, saya dan tim Polri menginisiasi bahan ini dalam jumlah
besar. Ternyata kami kewalahan untuk mendapatkan amonium polifosfat karena
memang ketersediaannya di Indonesia itu tidak banyak. Saya juga melalui podcast
ini ingin mengatakan jika teman-teman di Indonesia tahu atau memiliki
informasi perusahaan yang memproduksi ini (amonium polifosfat), mungkin bisa
berkolaborasi juga dengan BRIN agar kita bisa melindungi negara kita ini. Senyawa ini dihasilkan
dari reaksi kimia memang. Saya juga baru baca paten dari Amerika, bahwa untuk
mensintesis senyawa ini atau membuat senyawa ini harus menggunakan amonia.
Amonia yang sangat bau dan sangat toksik sehingga membutuhkan setup yang
betul-betul proper. Salah satu supplier yang kami tahu menghasilkan ini dalam
jumlah banyak adalah supplier dari Cina. Kemarin juga, saya sedang
mengorder bahan ini, tapi memang proses pengirimannya yang agak mahal memang. Secara proses, dalam
beberapa jam kami bisa buat karena konsepnya ini adalah metode pencampuran
biasa sebenarnya. Kami pastikan campurkan antara pati sama air, pastikan
terdispersi. Itu juga (dicampur) sama amonium polifosfat, wetting agent, sama
lainnya. Pastikan dia terdispersi saja, jangan ada powder. Cuma itu saja
karena reaksinya itu semua berlangsung ketika berjumpa dengan api. Bagaimana efek yang
terjadi apabila cairan ini terserap tanah? Kalau misalnya ini nanti
char-nya itu kena tanah, itu tadi hal yang menariknya. (Kalau) ada api
underground, apa yang akan terjadi? Tanah di Kalimantan itu gambut. Jadi,
ketika panas dari atas itu (menjalar) ke tanah di bawah itu, dia menyimpan
panas. Seolah-olah, dia (panas yang tersimpan itu) nanti bisa naik. Itu yang
menyebabkan kebakaran muncul lagi. Kalau misalnya material
ini dia nanti terkena tanaman di atas, penyebarannya itu berhenti. Kalau
char-nya itu langsung menyentuh tanah, panas dari bawah itu terhambat
sehingga apinya jadi enggak menyebar lagi. Ia menghambat perpindahan panas
dan menghalangi akses bahan terbakar atau perpindahan massa. Api bawah tanah itu hanya
terjadi di lahan gambut karena dia strukturnya itu kayak berongga. Struktur
berongga itu memiliki kemampuan untuk menyimpan (panas/bara). Itulah masalah
di Kalimantan, banyak lahan gambutnya. Dari perkiraan Anda,
butuh berapa lama untuk memadamkan karhutla saat ini dengan menggunakan ubi
bombing? Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi. Kami juga butuh bantuan Polri atau pihak-pihak terkait untuk
ini (riset dan produksi). Kalau misalnya sudah siap semua, secepatnya
(masalah karhutla bisa teratasi). Artinya, itu tergantung nanti mobilitas
logistik disediakan, baru kami ke sana. ● Sumber :
https://tirto.id/membongkar-cara-kerja-ubi-bombing-untuk-padamkan-karhutla-hB1c |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar