|
Einstein Jalan Ketiga Sains dan Spiritualitas Dimitri
Mahayana : Dosen Filsafat Sains S3 di STEI
ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT
Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 04 September 2026
|
Ada dua citra hubungan
antara sains dan spiritualitas yang beredar di kepala kita. Pertama, sains murni
adalah lambang rasionalitas dingin, sosok yang sering dipakai untuk
membuktikan bahwa agama sudah selesai. Yang kedua, sains dan
spiritualitas independen satu sama lain. Kebenaran saintifik bersifat
sementara dan lebih terkait hal-hal material. Sedangkan kebenaran hal-hal
spiritual bersifat lebih tidak bergantung waktu dan lebih terkait hal-hal non
material. Dalam bukunya I Am a Part
of Infinity: The Spiritual Journey of Albert Einstein (Basic Books, 2025),
Kieran Fox menawarkan posisi yang ketiga. Dalam buku tersebut Fox berargumen
bahwa sisi spiritual Einstein adalah fondasi seluruh temuan saintifiknya. Bagi Fox, bagi Einstein
sains dan spiritualitas adalah pasangan yang tak terpisahkan. Fox bukan teolog. Ia
dokter dan doktor neurosains kognitif dari University of British Columbia,
yang menulis buku ini saat menempuh pendidikan kedokteran. Latar itu penting.
Bukunya berdiri di atas riset arsip, surat-surat yang baru terbit, percakapan
yang jarang dikutip, bahkan penelusuran isi perpustakaan pribadi Einstein. Tiga Tangga Religiusitas Titik masuk Fox adalah
esai Einstein di The New York Times Magazine tahun 1930, berjudul
"Religion and Science". Di sana Einstein memetakan tiga fase
keberagamaan manusia. Fase pertama adalah agama
yang lahir dari rasa takut. Manusia purba menyembah karena ngeri pada petir,
kelaparan, dan kematian. Fase kedua adalah agama moral, yang berpusat pada
Tuhan personal sebagai pemberi hukum dan penghukum. Fase ketiga, yang Einstein
anggap tertinggi, adalah apa yang ia sebut sendiri: "I will call it the
cosmic religious sense." Rasa keberagamaan kosmik. Yang menarik, Einstein
tidak menyusun ini sebagai kronologi sejarah yang rapi. Ketiganya hidup
berdampingan sampai hari ini, di masjid, di gereja, di laboratorium, bahkan
di dalam satu kepala yang sama. Rasa keberagamaan kosmik
ini tidak punya dogma, tidak punya gereja, dan tidak punya Tuhan berwajah
manusia. Yang ada hanya kekaguman pada keteraturan yang menakjubkan di alam,
dan kerinduan untuk mengalami keseluruhan eksistensi sebagai satu kesatuan
yang penuh makna. Einstein pernah menegaskan ia bukan ateis. Ia mengakui
adanya semacam "pemberi hukum" di balik keteraturan alam semesta. Di titik inilah lahir kalimatnya
yang paling terkenal, dari sebuah simposium tahun 1941: science without
religion is lame, religion without science is blind. Sains tanpa agama
pincang, agama tanpa sains buta. Kalimat itu biasanya dikutip sebagai imbauan
damai antara dua kubu. Fox membacanya lebih
keras. Bagi Einstein itu bukan gencatan senjata, melainkan deskripsi tentang
bagaimana pikiran ilmiah sesungguhnya bekerja. Silsilah Gagasan yang
Panjang Kekuatan buku Fox
terletak pada penelusuran sumbernya. Einstein tidak menemukan pandangan ini
sendirian di ruang hampa. Dari Pythagoras dan
Democritus ia menyerap keyakinan bahwa alam semesta pada dasarnya matematis,
dan bahwa kesederhanaan adalah tanda kebenaran. Dari Spinoza ia mengambil
gagasan Tuhan yang identik dengan tatanan alam itu sendiri. Dalam telegram
terkenal kepada Rabi Herbert Goldstein tahun 1929, Einstein menjawab singkat:
I believe in Spinoza's God. Tuhan yang menyingkapkan diri dalam harmoni
segala yang ada, bukan Tuhan yang mengurusi nasib dan perbuatan manusia. Lalu ada jalur Timur.
Melalui Schopenhauer, Einstein berkenalan dengan Buddhisme dan Upanishad. Fox
menunjukkan bahwa perkenalan itu jauh lebih dalam daripada yang selama ini
diduga orang. Jainisme ikut membentuk pandangannya tentang alam dan
moralitas. Gandhi ia kagumi sepenuh hati sampai akhir hayat. Hasilnya, menurut Fox,
adalah satu sistem berpikir yang utuh. Mistisisme bertemu matematika.
Realitas diperlakukan sebagai sesuatu yang layak dihormati. Dan akal manusia
dipandang sebagai cermin dari yang tak terbatas. Yang terakhir ini paling
memikat. Einstein tidak hanya takjub pada alam semesta di luar sana. Ia lebih
takjub lagi pada kenyataan bahwa otak kecil kita ini bisa memahaminya.
"The most incomprehensible thing about the universe is that it is
comprehensible." Hal paling tak terpahami tentang alam semesta adalah
bahwa ia bisa dipahami. Fox menjadikan paradoks ini sebagai puncak dari rasa
keberagamaan kosmik. Dari Metafisika ke Etika Bagian terkuat buku ini
adalah ketika Fox menunjukkan bahwa semua ini berujung pada tindakan, bukan
berhenti sebagai renungan. Pada tahun 1950, seorang
ayah bernama Robert Marcus menulis surat kepada Einstein. Anaknya baru
meninggal karena polio. Einstein membalas dengan kalimat yang kemudian
menjadi salah satu tulisannya yang paling banyak dikutip, dan paling sering
dipalsukan. Versi aslinya dimulai begini: "A human being is a part of
the whole called by us universe." Manusia adalah bagian dari keseluruhan
yang kita sebut alam semesta. Bagian yang terbatas dalam ruang dan waktu. Einstein lalu mengatakan
bahwa perasaan kita seolah terpisah dari yang lain itu adalah semacam ilusi
optik kesadaran. Dan usaha membebaskan diri dari ilusi tersebut, menurutnya,
adalah satu-satunya persoalan agama yang sejati. Dari sinilah pasifisme
Einstein bersumber. Juga simpatinya pada penderitaan hewan, penolakannya pada
nasionalisme sempit, dan keberpihakannya pada korban rasisme di Amerika. Jika
keterpisahan itu ilusi, maka kekejaman terhadap siapa pun adalah kekejaman terhadap
diri sendiri. Etika bukan tambahan yang ditempelkan pada fisika. Etika adalah
konsekuensi logis dari fisika. Perlu Sikap Kritis Buku ini tidak bebas dari
keberatan, dan kita perlu jujur soal itu. Sejumlah pengulas menilai
Fox terlalu bersemangat merapikan Einstein. Pandangan Einstein sebenarnya
berubah-ubah sepanjang hidup, kadang saling bertentangan, dan tidak pernah
tersusun sebagai sistem yang selesai. Fox sendiri sebetulnya mengakui ini
sejak awal bukunya. Ia menulis, dengan jujur: "What Einstein did believe
still remains to be discovered." Ada juga risiko yang
dalam kajian akademik disebut retrojeksi filosofis. Yaitu membaca gagasan
Timur ke dalam teks Einstein lebih jauh daripada yang bisa ditanggung
buktinya. Kritik dari kalangan sejarawan sains menunjuk persis ke arah ini.
Sintesis puitis tidak selalu sama dengan analisis historis yang bertanggung
jawab. Dan Einstein memang bukan
orang suci di mata sezamannya. Carl Jung menyebutnya "sentimental
idealist with shallow enlightenment." Oppenheimer bahkan lebih kasar
lagi. Mengapa Ini Penting bagi
Kita Kita sedang hidup di
zaman ketika sains dan spiritualitas dipaksa berdiri di dua sudut ring yang
berlawanan. Di satu sisi ada saintisme yang mengejek segala yang tidak
terukur. Di sisi lain ada keberagamaan yang kadang masih curiga pada setiap
temuan laboratorium. Keduanya sama-sama membuat kita prihatin. Einstein versi Fox
menawarkan jalan ketiga. Ilmuwan yang tetap bisa terpesona dan takjub oleh
Keindahan Zat Yang Maha Meliputi lagi Maha Indah. Orang beriman yang tetap
bisa menghitung dengan matematika canggih. Kekaguman yang tidak menuntut kita
berhenti bertanya dengan kritis, dan pertanyaan yang tidak menuntut kita
berhenti kagum dan tenggelam dalam tafakur. Bagi dunia pendidikan
tinggi kita, hal ini memberi suatu rekomendasi praktis. Riset yang baik tidak
lahir hanya dari metode dan dana. Ia lahir dari rasa takjub yang dijaga tetap
hidup. Dan dari rasa takjub ini muncul gairah untuk mengeksplorasi maupun kemampuan
untuk bermimpi dan berkreasi. Berbagai teori sains dan rekayasa serta solusi
terbaik . Sehingga alam nampak semakin indah dan luhur dalam Tatanan
AgungNya. Dan manusia mampu merespon yang terbaik, paling benar dan paling
indah di Tatanan AgungNya. Einstein sendiri
berpendapat bahwa fungsi terpenting seni dan sains justru membangunkan dan
merawat perasaan dan kerinduan abadi itu. Kalau kampus kita
berhasil mencetak sarjana yang cakap secara teknis tapi kehilangan kemampuan
terpesona yang menjadikan spiritualitas Ilahiah sebagai fondasi sains, kita
sedang memproduksi tukang, bukan ilmuwan. Itu, saya kira, pesan terdalam dari
buku Kieran Fox. Setidaknya menurut penafsiran saya. Mari kita bangun Jalan
Ketiga . Jadikan spiritualitas fondasi sains. Dan melaluinya, Indonesia
semakin maju dan penuh berkah Ilahi. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar