|
Abu Jatuh, Suara Berhamburan Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 07 September 2026
|
Abu vulkanik
bukan debu biasa, tetapi menganggapnya sebagai "pecahan kaca yang
mengiris paru-paru" adalah kekeliruan ilmiah. Sains mengukur bahaya
berdasarkan ukuran partikel, komposisi mineral, dan tingkat paparan. Pagi itu, Jakarta seperti baru saja
ditaburi tepung yang salah resep. Mobil menjadi kusam, lantai halte berdebu,
dan kaca jendela menyimpan lapisan tipis berwarna kelabu. Orang-orang
menengadah, sebagian mencari awan, sebagian mencari jawaban. Di layar telepon genggam, gambar yang
sama berpindah dari satu grup WhatsApp ke grup lain: lapisan debu di
permukaan kendaraan, atap rumah, jalan raya, juga wajah warga yang mulai
mengenakan masker. Bedanya dengan hujan biasa, kali ini yang jatuh dari langit
adalah abu. Seperti lazimnya peristiwa tak biasa,
yang ikut turun bukan hanya partikel vulkanik, melainkan juga rentetan
nasihat, peringatan, klarifikasi, instruksi, video pendek, komentar, lelucon,
kepanikan, hingga artikulasi politik. Pekan ini hampir semua lembaga seolah
memegang mikrofon yang sama. Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan
Hidup, Kementerian Perhubungan, BMKG, Badan Geologi, BNPB, pemerintah daerah,
dokter, pakar, hingga warganet beramai-ramai angkat bicara. Saya tak memiliki statistik volume
pernyataan mereka. Tapi dari percakapan publik yang mengiringinya, satu hal
cukup jelas: banyaknya suara tidak otomatis menghasilkan pengetahuan yang
lebih jernih. Percakapan mengenai sebaran abu Gunung
Anak Krakatau setidaknya memperlihatkan lima kecenderungan suara publik. Pertama, suara pengalaman langsung
dari warga yang menyaksikan abu menempel di pekarangan, kendaraan, dan
fasilitas umum. Pengalaman itu membuat fenomena gunung api di Selat Sunda
yang semula terasa jauh mendadak menjadi urusan halaman rumah. Kedua, suara kecemasan, antara lain
ditandai oleh meningkatnya pencarian dan pembelian masker di sejumlah tempat.
Ketika sesuatu yang semula hanya diberitakan di layar mulai dicari di apotek
dan toko, ancaman itu telah berubah dari informasi menjadi pengalaman sosial. Ketiga, suara praktis dari publik yang
membutuhkan petunjuk konkret. Tentang masker apa yang efektif, bagaimana
membersihkan rumah dan kendaraan, apakah anak-anak perlu dibatasi
aktivitasnya, dan kapan seseorang perlu memeriksakan diri. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat
tidak terutama membutuhkan istilah teknis, melainkan pengetahuan yang dapat
segera dipakai. Keempat, suara skeptis yang
mempertanyakan batas antara alarm bahaya dan bahaya yang sebenarnya. Sikap
skeptis semacam ini tidak selalu buruk. Ia justru diperlukan agar peringatan
publik tidak berubah menjadi pembesaran ancaman. Jika setiap risiko digambarkan
seolah-olah bencana besar, masyarakat lambat laun dapat mengalami kelelahan
terhadap peringatan dan menganggapnya seperti bunyi mesin pendingin yang
terus menyala. Kelima, suara politik. Unggahan
mengenai abu vulkanik dengan mudah bergeser dari persoalan kesehatan dan
keselamatan menjadi perdebatan tentang siapa yang paling peduli, siapa yang
dianggap gagal, dan siapa yang dianggap lebih layak memimpin. Media sosial memang memiliki
kecenderungan mengubah hampir setiap peristiwa publik menjadi perdebatan
tentang persepsi. Di sinilah media sosial bekerja
sebagai cermin. Bencana alam masuk sebagai fakta, lalu keluar sebagai
persepsi. Abu menjadi kesehatan, kesehatan menjadi kebijakan, dan kebijakan
dapat bergeser menjadi komoditas politik—padahal gunung api tidak pernah
membaca hasil survei. -000- Secara ilmiah, abu vulkanik (volcanic
ash) bukanlah debu biasa. Dalam vulkanologi, abu adalah material piroklastik
berukuran kurang dari dua milimeter yang terbentuk ketika magma dan batuan
terfragmentasi selama erupsi. Komposisinya bukan satu zat tunggal,
melainkan campuran kaca vulkanik, mineral, kristal, dan fragmen batuan.
Karena itu, sifat dan tingkat bahayanya tidak dapat ditentukan hanya dengan
menyebutnya sebagai “abu”. Ukuran partikel, bentuk, komposisi
mineral, kandungan silika kristalin, serta sifat kimia permukaannya ikut
menentukan bagaimana abu tersebut berinteraksi dengan tubuh dan lingkungan. Ukuran partikel menjadi salah satu
faktor terpenting. Partikel yang cukup kecil untuk terhirup dapat melewati
mekanisme penyaringan alami saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru
yang lebih dalam. Partikel respirabel, khususnya yang berukuran kurang dari
sekitar sepuluh mikrometer, karena itu menjadi perhatian kesehatan. Tapi di sinilah bahasa populer kadang
melangkah terlalu jauh. Menjelaskan abu vulkanik sebagai “pecahan kaca tajam
yang mengiris alveolus” memang mudah dibayangkan, tapi secara ilmiah tidak
tepat. Partikel mikroskopis di dalam
paru-paru tidak bekerja seperti serpihan kaca yang menggores jaringan.
Bahayanya lebih berkaitan dengan iritasi, sifat reaktif permukaan partikel,
kandungan mineral tertentu, serta respons biologis tubuh. Kajian Claire Horwell dan Peter Baxter
mengenai bahaya pernapasan abu vulkanik menunjukkan bahwa dampaknya dapat
berupa iritasi saluran pernapasan, batuk, mengi, dan memburuknya kondisi
seperti asma. Besarnya dampak bergantung pada
karakter abu dan tingkat paparannya. Jadi, mengatakan bahwa abu berbahaya
adalah benar; mengatakan bahwa setiap abu akan menimbulkan kerusakan paru
yang sama adalah keliru. Begitu pula dengan persoalan keasaman.
Abu segar yang keluar bersama kolom erupsi dapat membawa lapisan garam dan
senyawa yang terbentuk dari interaksi dengan gas vulkanik, antara lain HCl,
HF, dan SO₂. Lapisan ini dapat berkontribusi terhadap iritasi mata dan saluran
pernapasan. Namun, sifat kimia abu tidak berhenti
pada saat keluar dari kawah. Selama terbawa atmosfer, partikel mengalami
perubahan akibat jarak, kelembapan, hujan, dan berbagai reaksi kimia. Karena itu, tingkat bahayanya tidak
dapat disimpulkan hanya dari keberadaan satu jenis senyawa, melainkan harus
dilihat bersama karakter partikel dan tingkat paparannya. Persoalan ini sekaligus mengingatkan
kita bahwa dampak bencana jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sejarah
letusan Gunung Laki di Islandia pada 1783–1784 dan Gunung Tambora di Sumbawa
pada 1815 memperlihatkan bagaimana sebuah erupsi dapat menimbulkan rangkaian
dampak yang jauh melampaui lokasi letusan. Korban dalam kedua peristiwa tersebut
tidak semata-mata disebabkan oleh orang yang menghirup abu. Kerusakan
tanaman, kematian ternak, kekurangan pangan, memburuknya kesehatan
masyarakat, penyakit, dan dalam kasus Tambora perubahan iklim global ikut
membentuk rantai dampaknya. Bencana, dengan demikian, lebih tepat
dipahami sebagai rangkaian daripada sebagai satu kejadian tunggal. Gunung
meletus hanyalah awal dari sebuah proses panjang yang kemudian berinteraksi
dengan kehidupan manusia, lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kesehatan
masyarakat. -000- Pada erupsi Gunung Anak Krakatau pada
awal September 2026, BMKG mengidentifikasi sebaran abu yang mencakup Banten,
DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Dampaknya bukan hanya dirasakan
oleh warga, tapi juga oleh sistem penerbangan. Bandara Soekarno-Hatta, Halim
Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto sempat mengalami penutupan
sementara demi keselamatan penerbangan. Ribuan penerbangan terdampak oleh
gangguan yang berkaitan dengan sebaran abu vulkanik. Mengapa material yang bagi manusia
tampak seperti debu dapat begitu berbahaya bagi pesawat? Rupanya, di dalam
mesin jet, partikel abu yang masuk ke bagian mesin dapat meleleh pada
temperatur tinggi dan kemudian mengendap pada komponen mesin. Endapan tersebut dapat mengganggu
aliran udara dan kinerja mesin. Karena itu, awan abu vulkanik merupakan salah
satu bahaya serius bagi penerbangan. Di sini terdapat kontras yang menarik.
Teknologi penerbangan modern mampu membawa manusia ribuan kilometer dalam
beberapa jam, tapi tetap harus memberi jalan kepada partikel batuan yang
ukurannya bahkan lebih kecil dari butiran pasir. Teknologi maju tidak menghapus hukum
alam. Ia hanya membuat kita semakin pandai bernegosiasi dengannya. -000- Hingga saat ini, tidak ada laporan
resmi mengenai korban jiwa yang secara langsung disebabkan oleh paparan abu
vulkanik dari erupsi Anak Krakatau 2026. Fakta ini penting karena kita perlu
membedakan antara hazard dan casualty, antara potensi bahaya dan korban yang
benar-benar terjadi. Di antara bahaya dan korban terdapat
mitigasi. Masker respirator seperti N95 atau KN95, perlindungan mata,
pembatasan aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu tinggi, penutupan
sementara ruang udara, pemantauan sebaran abu, dan panduan kesehatan
merupakan bagian dari upaya memperlebar jarak antara potensi bahaya dan
timbulnya korban. Karena itu, tidak adanya korban jiwa
bukan berarti abu vulkanik tidak berbahaya. Justru salah satu tujuan mitigasi
adalah membuat bahaya tetap menjadi bahaya, tidak berubah menjadi korban. Kekhawatiran mengenai penyakit jangka
panjang seperti silikosis juga perlu ditempatkan secara proporsional.
Silikosis berkaitan dengan paparan kronis terhadap silika kristalin
respirabel dalam konsentrasi yang cukup tinggi dan dalam waktu yang panjang. Abu vulkanik tertentu memang dapat
mengandung fraksi silika kristalin yang respirabel, sehingga paparan berulang
dan berkepanjangan patut diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang tinggal
atau bekerja di lingkungan yang sering mengalami hujan abu. Tapi paparan abu selama beberapa hari
tidak boleh begitu saja disebut sebagai penyebab silikosis. Bukti
epidemiologi mengenai hubungan langsung antara paparan abu vulkanik dan
silikosis pada manusia masih terbatas. Untuk paparan jangka pendek, perhatian
kesehatan yang lebih nyata adalah iritasi mata dan saluran pernapasan serta
memburuknya penyakit pernapasan yang sudah ada. Di sinilah ketepatan bahasa menjadi
bagian dari mitigasi. Menakut-nakuti masyarakat dengan risiko yang belum
terbukti sama buruknya dengan menyepelekan risiko yang sudah diketahui. -000- Persoalannya kemudian bukan kekurangan
informasi, melainkan bagaimana informasi itu ditata. Dalam situasi bencana,
masyarakat tidak membutuhkan banyak pintu yang masing-masing mengeluarkan
pesan sendiri-sendiri. Mereka membutuhkan satu arsitektur
informasi yang jelas: apa yang terjadi, wilayah mana yang terdampak, apa
bahayanya, siapa yang paling rentan, apa yang harus dilakukan, dan apa yang
masih belum diketahui. Lembaga yang berbeda tentu mempunyai
mandat berbeda. BMKG berbicara mengenai cuaca dan sebaran atmosfer; Badan
Geologi mengenai aktivitas gunung api; Kementerian Kesehatan mengenai dampak
kesehatan; Kementerian Perhubungan mengenai keselamatan transportasi. Perbedaan mandat itu wajar. Yang tidak
perlu adalah membiarkan masyarakat menyusun sendiri potongan-potongan
informasi tersebut menjadi sebuah kesimpulan. Koordinasi komunikasi karena
itu sama pentingnya dengan koordinasi lapangan. Informasi ilmiah perlu diterjemahkan
menjadi instruksi yang sederhana tanpa kehilangan ketepatannya.
Ketidakpastian juga perlu disebutkan sebagai ketidakpastian, bukan ditutup
dengan kepastian yang dibuat-buat. Seni komunikasi bencana bukan
membesarkan atau mengecilkan ancaman, melainkan memberikan ukuran yang tepat
terhadapnya. Masyarakat tidak membutuhkan pejabat yang paling keras suaranya,
melainkan informasi yang paling presisi, konsisten, dan dapat dipercaya. Sebab dalam bencana, informasi bukan
sekadar pelengkap penanganan. Informasi itu sendiri adalah salah satu bentuk
pertolongan. Dan ketika abu sudah jatuh ke halaman
rumah, yang dibutuhkan warga bukanlah suara yang paling banyak, melainkan
suara yang membuat mereka tahu apa yang harus dilakukan. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar