|
Siapa Gaurav Srivastava, Penipu Berkedok Intel CIA Adil Al Hasan : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Gaurav Srivastava diduga berpura-pura
menjadi petugas tidak resmi CIA untuk menipu di berbagai negara. · Bersama Kementerian Pertahanan, ia
pernah menjadi co-host Forum Ketahanan Pangan Global di Bali. · Srivastava pernah menyumbang buat
kandidat Partai Demokrat dan The John F. Kennedy Center. ENAM
tahun lalu, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Amerika Serikat Christopher
Miller mengunjungi Indonesia. Ketika itu, 7 Desember 2020, Miller bertemu
dengan Presiden Prabowo Subianto yang masih menjadi Menteri Pertahanan dalam
serangkaian tur Asia. Penjualan jet Amerika ke Indonesia menjadi salah satu
topik yang dibahas. Selain
didampingi pejabat dari Pentagon, Miller mengakui ada Gaurav Srivastava,
pengusaha Amerika Serikat yang kini sedang bersengketa dengan mantan mitra
bisnisnya, Niels Troost, di pengadilan California. Pengakuan
Miller ini menjawab permintaan konfirmasi tim Tempo yang menunjukkan fotonya
bersama Srivastava dan Prabowo di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra itu di
Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Meski
begitu, Miller mengatakan tak banyak berinteraksi dengan pengusaha yang lahir
di India tersebut. “Dia hanyalah penipu yang selalu mengintai dan mencoba
memanfaatkan kesan punya akses dan pengaruh untuk keuntungan finansial
pribadi,” katanya pada Jumat, 5 Juni 2026. Gaurav
Srivastava alias G menarik perhatian orang banyak karena diduga berpura-pura
menjadi petugas tidak resmi badan intelijen Amerika Serikat (Central
Intelligence Agency/CIA) untuk menipu di berbagai negara. Berita
media asing, seperti Wall Street Journal, Project Brazen, dan Financial
Times, merekam kelakuan Srivastava yang ditengarai ingin menguasai bisnis
minyak dan komoditas pengusaha Belanda, Niels Troost, senilai jutaan dolar. Pada 21
Januari 2026, Troost mengajukan gugatan hukum racketeer influenced and
corrupt organizations atau RICO terhadap Srivastava atas dugaan penipuan,
pemerasan, dan kampanye fitnah di pengadilan California. Dalam dokumen
pengaduannya, Troost mengatakan, Srivastava adalah warga Amerika Serikat yang
lahir di India pada 1990. Di Amerika, Srivastava tinggal di California. Bagi
sejumlah pejabat di Indonesia, nama Srivastava terdengar samar-samar,
terutama perihal kiprah dan portofolio bisnisnya. Pemilik Unity Resources
Group ini, melalui Gaurav and Sharon Srivastava Family Foundation, pernah
menjadi co-host dan sponsor Forum Ketahanan Pangan Global pada November 2022
di Bali. Acara di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G-20 ini digelar
bersama Atlantic Council, Kementerian Pertahanan, dan Kementerian Koordinator
Kemaritiman dan Investasi. Lima
narasumber yang Tempo wawancarai di Indonesia mengatakan Srivastava adalah
pebisnis. Tiga di antara mereka percaya Mr. G—sebutan Srivastava—adalah agen
CIA yang diduga memiliki hubungan dekat dengan Prabowo Subianto dan adiknya,
Hashim Djojohadikusumo. Penelusuran Tempo mengungkap Srivastava pernah
berhubungan dengan Indra Usmansyah Bakrie alias Indra Bakrie, adik kedua
pengusaha Aburizal Bakrie. Di mesin
pencari, tak banyak aktivitas bisnis Srivastava yang terekam, setidaknya oleh
Google, Yandex, ataupun Bing. Apabila kata kunci “Gaurav Srivastava” ditulis
di mesin pencari untuk menelusuri pengusaha ini, yang muncul paling atas
adalah situs pribadinya bernama Official Gaurav Srivastava Website atau akun
LinkedIn. Di situs
pribadinya, Srivastava mengenalkan diri sebagai investor strategis di Afrika,
Asia, dan Timur Tengah untuk sektor energi, komoditas, dan keuangan. Predikat
itu, menurut Srivastava, bermula saat ia meninggalkan bangku kuliah pada 2008
untuk mengelola investasi keluarga di Afrika Selatan. “Hal ini
membawanya pada investasi pertamanya di industri minyak dan gas, yang
kemudian membuka jalan bagi kariernya sebagai investor strategis di pasar
energi dan komoditas,” demikian keterangannya di situs tersebut. Selain
menampilkan profil singkat, Srivastava memperlihatkan aktivitas filantropinya
di Gaurav and Sharon Srivastava Family Foundation. Satu-satunya aktivitas
yayasan ini adalah menjadi sponsor Forum Ketahanan Pangan Global di Bali pada
2022. Namun
situs yayasan tersebut sudah tidak bisa diakses. Penelusuran Tempo
menggunakan Wayback Machine, alat untuk melihat aktivitas sebuah situs, situs
web ini baru lahir pada 12 November 2022 atau sepekan sebelum acara di Bali. Gaurav
and Sharon Srivastava Family Foundation mengklaim telah berdiri pada 2015 di
Amerika Serikat untuk mempromosikan ketahanan pangan dan energi. Namun akta
organisasi ini menunjukkan fakta sebaliknya. Gaurav and Sharon Srivastava
Family Foundation bukanlah yayasan, melainkan perusahaan yang tercatat di
Negara Bagian Delaware, Amerika Serikat. Perusahaan ini baru berdiri pada 12
Oktober 2022. Dalam laporan tahunan Atlantic Council 2022-2023, organisasi
Srivastava ini tercatat menjadi donor untuk kategori di atas US$ 1 juta. Meski
minim aktivitas dan pencatatan di Internet, Srivastava memiliki banyak
perusahaan. Penelusuran Tempo menggunakan sumber data terbuka mencatat
setidaknya ada 11 korporasi yang dikendalikan langsung ataupun terafiliasi
dengan Srivastava. Semua perusahaan ini mayoritas berdiri pada 2020 dan bubar
pada akhir 2024. Kebanyakan perusahaan Srivastava bubar karena gagal membayar
pajak kepada negara bagian Amerika Serikat. Sementara
itu, empat dari perusahaan Srivastava pernah mendapat surat pernyataan niat
pengadaan alat sistem pertahanan dari Kementerian Pertahanan era Prabowo
Subianto. Perusahaan ini di antaranya Orbimo Corporation, Zegasus
Corporation, Constentis Corporation, dan Unity Accipiter Corporation. Di
Amerika Serikat, Srivastava pernah melancarkan kampanye untuk menaikkan
pengaruh politiknya di Washington, DC. Ia menyumbangkan lebih dari US$ 1 juta
kepada pemimpin dan kandidat Partai Demokrat pada 2022 dan 2023. Dia juga
berhasil berfoto dengan Presiden Joe Biden dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
saat itu, Nancy Pelosi, untuk memperkuat citra memiliki akses ke Gedung
Putih. Setelah
dugaan penipuan Srivastava terungkap, Biden mengembalikan donasi tersebut.
Saat Partai Demokrat menjauhkan diri, Srivastava beralih ke Partai Republik
dan mempromosikan nasionalisme ala Presiden Donald Trump. Sejak Juni 2025, ia
muncul di siniar kelompok konservatif, memberikan pidato di sebuah konvensi
politik di Las Vegas, dan mengunggah foto bersama Wakil Presiden James David
Vance. Gugatan
hukum Niels Troost di California yang diperbarui pada Juni 2026 menyebutkan
bahwa Srivastava turut menyumbangkan US$ 2 juta kepada The John F. Kennedy
Center for the Performing Arts, pusat budaya di Washington, DC, yang dikelola
Trump. Pusat
seni ini juga sempat berubah nama menjadi The Donald J. Trump and The John F.
Kennedy Memorial Center for the Performing Arts. Sempat berpolemik karena
dianggap melanggar aturan, pengurus pusat seni akhirnya menghapus nama Trump
setelah ada putusan hakim federal. Srivastava
tidak menanggapi pertanyaan yang Tempo ajukan ke alamat surat elektronik yang
tercantum di situs pribadi dan dua firma hubungan masyarakat yang pernah
bekerja untuknya. Di situs pribadi, Srivastava menyatakan telah menjadi
sasaran kampanye disinformasi dari Troost yang tengah dikenai sanksi Inggris,
Uni Eropa, Swiss, dan Departemen Keuangan Amerika Serikat karena menjual
minyak dari Rusia. Jonas
Rey, penyelidik swasta yang juga Direktur Athena Intelligence, pernah
menelusuri rekam jejak Srivastava setelah diminta Paramount, perusahaan milik
Troost. Hasil penelusuran itu menunjukkan Srivastava yang berusia 33 tahun
tersebut memiliki riwayat penipuan dan pemalsuan. Itu
sebabnya Rey heran bagaimana Srivastava bisa meyakinkan mantan perwira CIA
dan jenderal berpangkat tinggi untuk menjamin cerita palsunya sebagai agen
intelijen. “Kemudian kami melihat sumbangan finansial dalam jumlah besar yang
telah ia berikan kepada berbagai pejabat terpilih di Amerika,” ujar Rey.
“Tiba-tiba semuanya menjadi masuk akal karena dia telah membeli akses tingkat
tinggi yang jarang saya lihat,” tuturnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/cia-gaurav-srivastava-prabowo-hashim-2272105 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar