|
Piala
Dunia 'In This Economy' Editorial 2
: Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Menonton Piala Dunia bisa jadi lebih
menyehatkan pikiran ketimbang menyimak pidato pejabat. · Siaran langsung Piala Dunia diklaim sebagai
keberhasilan Prabowo Subianto, meski memakai APBN. · Penggunaan dana dari BA BUN sering tak
transparan dan tak akuntabel. IN this
economy, idiom sarkastis
anak muda menyikapi kondisi ekonomi yang serba sulit, menyaksikan
pertandingan Piala Dunia 2026 di TVRI mungkin bisa jadi hiburan. Siaran
langsung banyak pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko melalui
stasiun televisi milik negara itu berlangsung pada pagi waktu Indonesia. Tak
perlu begadang yang membuat badan bisa kurang sehat. Menonton
tim-tim terbaik dunia berlaga, tentu, jauh lebih menyehatkan pikiran
ketimbang menyimak pidato para pejabat di negeri ini—yang kalau salah pun
tetap mendapat tepuk tangan. Mungkin ada yang masih bertanya-tanya: mengapa
Indonesia dengan ratusan juta penduduknya tetap saja gagal masuk kejuaraan
empat tahunan itu? Padahal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia PSSI sudah
mengimpor belasan orang Belanda dengan program “nasionalisasi”-nya. Hiburan
sebulan lebih itu tidak murah. TVRI membeli hak siarnya Rp 1,3 triliun,
diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dengan menonton
siarannya, publik menikmati kembali duit pajak yang mereka bayarkan ke
negara. Setidaknya hasil keringat publik bisa digunakan untuk menghibur
mereka sendiri. Tak apalah bila hiburan terganggu pesan pariwara keberhasilan
pemerintah. Siaran langsung ini memang sejak awal juga didesain untuk
mengkampanyekan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mungkin
ada yang iseng membandingkan harga hak siar itu dengan negara lain. Harganya
memang lebih mahal dibanding nilai yang diperoleh beberapa negara lain,
seperti India dan Cina. Soal itu, biarlah penegak hukum yang menyelidikinya,
apakah ada yang mendapatkan keuntungan dalam transaksi ini. Kalaupun
muncul narasi bahwa siaran langsung Piala Dunia itu hadiah dari Presiden
untuk rakyat, enggak perlu kaget-kaget amat. Cara ini sudah terlalu sering
dipakai penguasa. Bantuan sosial, misalnya, sering dilabeli sebagai bantuan
dari presiden. Padahal dananya ya dari APBN. Begitu pula saat Prabowo membeli
lebih dari seribu ekor sapi kurban pada Idul Adha, duitnya pun dari anggaran
negara. Memang,
presiden punya hak menggunakan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara atau BA
BUN. Dana pada pos anggaran yang tahun ini mencapai Rp 525 triliun tersebut
bisa digunakan untuk menjalankan arahan presiden atau kondisi darurat
tertentu. Hanya, penggunaannya sering tidak disertai dengan transparansi dan
akuntabilitas alias bisa sesuka-suka presiden. Dengan
sokongan dana dari pemerintah pun TVRI belum tentu mendapat keuntungan karena
pengiklan tak antusias mempromosikan produknya. Penyebabnya, TVRI tak sanggup
menayangkan siaran langsung over-the-top atau melalui jaringan Internet.
Seharusnya TVRI tak perlu memaksakan diri jika infrastrukturnya memang belum
siap. Serahkan saja sepenuhnya kepada pihak swasta. Tapi
bola telanjur bergulir. Setidaknya sampai laga final digelar pada 19 Juli
2026, publik bisa menikmati siaran langsung Piala Dunia. Itu pun kalau
pasokan listrik lancar dan tidak kena jatah pemadaman bergilir. Susah memang
menjadi bahagia di negara yang, katanya, paling bahagia di dunia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/siaran-piala-dunia-2026-tvri-2272043 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar