Jumat, 19 Juni 2026

 

Apa Saja Warisan J.S. Badudu dalam Bahasa Indonesia

Joko Priyono  :  Fisikawan partikelir, menulis buku Sekadar Mengamati: Tentang Anak, Bacaan, dan Keilmuan (2022) dan Bersandar pada Sains (2022)

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Jusuf Sjarif Badudu adalah cendekiawan dan munsyi yang memberi sumbangan besar dalam diskursus bahasa Indonesia.

 

·      Sampai masa tuanya, pria yang lahir di Gorontalo itu menjadi pengajar.

 

·      Banyak tulisan J.S. Badudu masih relevan dalam situasi mutakhir.

 

PADA 19 Maret 2026, kita memperingati 100 tahun kelahiran Jusuf Sjarif Badudu. Pria yang lahir di Gorontalo itu adalah cendekiawan dan munsyi yang memberi sumbangan besar dalam diskursus bahasa Indonesia. Ia berkarier sebagai pengajar, dari guru di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi—Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran menjadi tempat pengabdian sampai masa tuanya.

 

Dalam majalah Tempo edisi 9 September 2013, J.S. Badudu diprofilkan dengan tajuk “Gurunya Guru Bahasa Indonesia”. Nama itu dikenal luas terutama melalui tayangan Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di Televisi Republik Indonesia atau TVRI pada 1977-1979. Dalam liputan itu diterangkan bahwa Badudu merupakan sosok yang terampil beretorika.

 

Hal tersebut yang meyakinkan para penutur bahasa untuk mengenal ragam bahasa yang baku dan benar. Kemampuan dalam lisan itu pula yang tentunya menggenapi kemauan menyajikan tulisan yang telah ia tekuni. Di majalah Intisari, sejak 1977 hingga awal 2000, ia mengasuh rubrik “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar”. Proses itu juga berkaitan dengan produksi puluhan buku yang dihasilkannya dan sering mengalami cetak ulang.

 

Kiranya penting dalam konstelasi gagasan kebahasaan, kita memikirkan warisan yang ditinggalkan J.S. Badudu. Pertama, mudik. Lema ini pernah ia bahas dalam Intisari edisi Februari 1996. Ia menulis kolom berjudul “Kata ‘Mudik’ yang Menonjol di Sekitar Lebaran”.

 

Gagasannya mengetengahkan perluasan makna dari lema tersebut. Badudu menjelaskan, “Kata mudik mengalami perluasan arti, bukan saja berarti ‘menuju ke udik (sungai)’, melainkan juga berarti ‘pergi ke udik, pergi ke pedalaman’ dan sekarang ini diartikan ‘pulang kampung’ karena kampung-kampung kita biasanya ada di pedalaman: kota ada di pesisir, di tepi pantai.”

 

Kedua, plin-plan. Badudu pernah mengulas istilah tersebut dalam rubrik “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar” dalam Intisari edisi 7 Maret 1980. Itu menjadi bukti upayanya dalam mengakomodasi keberadaan bahasa daerah, yang kemudian terserap ke bahasa Indonesia. Memang, dalam banyak tulisannya, Badudu berfokus pada keberagaman bahasa daerah di Indonesia untuk membangun diskursus keberadaan bahasa Indonesia.

 

Kata plin-plan terserap dari bahasa Jawa, bentuk singkat dari plintat-plintut. Badudu menjelaskan kata itu sebagai watak yang dialami seseorang. “Orang yang plin-plan sebenarnya orang yang tidak teguh pendiriannya sebab sebentar-sebentar berubah,” ujarnya. Dalam konteks kini, kata itu senantiasa relevan, tak terkecuali dalam realitas politik kita. Banyak pejabat publik dan politikus kita mudah terjerembap pada situasi antara perkataan dan perbuatan yang tidak linier. Mereka membelokkan janji yang telah disampaikan.

 

Ketiga, pewaris. Kata ini mencuat kembali dalam berapa waktu terakhir lewat algoritma media sosial, terutama berhubungan dengan konten-konten kesuksesan atas perbandingan antara pewaris dan perintis. Rupanya, Badudu pernah membahas istilah pewaris pada 1994. Lema yang mendasarinya tentu saja adalah waris. Badudu membahasnya karena timbul kerancuan yang dialami publik dalam membedakan antara ahli waris dan pewaris.

 

“Sering dewasa ini kata pewaris dipakai dalam arti ahli waris, yaitu penerima warisan. Yang mewariskan warisan disebut pewaris, sedangkan yang mewarisi warisan disebut ahli waris,” kata Badudu. Padahal pewaris adalah orang yang meninggalkan warisan, sementara ahli waris orang yang menerima warisan. Kalakian, Badudu mengetengahkan pentingnya memperhatikan kamus.

 

Apa yang pernah digagas Badudu kiranya menjadi bukti penting perhatian terhadap bahasa. Ia betul menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu hal yang memerlukan logika keilmuan. Banyak tulisannya masih relevan dalam situasi mutakhir. Bersamaan dengan itu, dalam konteks berbagai tantangan bahasa yang terjadi pada era kini, tak salah untuk memposisikan J.S. Badudu sebagai sumber keteladanan. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/warisan-j-s-badudu-bahasa-indonesia-2268928

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar