|
Apa Saja Warisan J.S.
Badudu dalam Bahasa Indonesia Joko Priyono :
Fisikawan partikelir, menulis buku Sekadar
Mengamati: Tentang Anak, Bacaan, dan Keilmuan (2022) dan Bersandar pada Sains
(2022) |
TEMPO MINGGUAN, 14
Juni 2026
|
· Jusuf Sjarif Badudu adalah cendekiawan
dan munsyi yang memberi sumbangan besar dalam diskursus bahasa Indonesia. · Sampai masa tuanya, pria yang lahir di
Gorontalo itu menjadi pengajar. · Banyak tulisan J.S. Badudu masih
relevan dalam situasi mutakhir. PADA 19
Maret 2026, kita memperingati 100 tahun kelahiran Jusuf Sjarif Badudu. Pria
yang lahir di Gorontalo itu adalah cendekiawan dan munsyi yang memberi
sumbangan besar dalam diskursus bahasa Indonesia. Ia berkarier sebagai
pengajar, dari guru di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah
menengah atas, hingga perguruan tinggi—Fakultas Sastra Universitas
Padjadjaran menjadi tempat pengabdian sampai masa tuanya. Dalam
majalah Tempo edisi 9 September 2013, J.S. Badudu diprofilkan dengan tajuk
“Gurunya Guru Bahasa Indonesia”. Nama itu dikenal luas terutama melalui
tayangan Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di Televisi Republik Indonesia
atau TVRI pada 1977-1979. Dalam liputan itu diterangkan bahwa Badudu
merupakan sosok yang terampil beretorika. Hal
tersebut yang meyakinkan para penutur bahasa untuk mengenal ragam bahasa yang
baku dan benar. Kemampuan dalam lisan itu pula yang tentunya menggenapi
kemauan menyajikan tulisan yang telah ia tekuni. Di majalah Intisari, sejak
1977 hingga awal 2000, ia mengasuh rubrik “Inilah Bahasa Indonesia yang
Benar”. Proses itu juga berkaitan dengan produksi puluhan buku yang
dihasilkannya dan sering mengalami cetak ulang. Kiranya
penting dalam konstelasi gagasan kebahasaan, kita memikirkan warisan yang
ditinggalkan J.S. Badudu. Pertama, mudik. Lema ini pernah ia bahas dalam
Intisari edisi Februari 1996. Ia menulis kolom berjudul “Kata ‘Mudik’ yang
Menonjol di Sekitar Lebaran”. Gagasannya
mengetengahkan perluasan makna dari lema tersebut. Badudu menjelaskan, “Kata
mudik mengalami perluasan arti, bukan saja berarti ‘menuju ke udik (sungai)’,
melainkan juga berarti ‘pergi ke udik, pergi ke pedalaman’ dan sekarang ini
diartikan ‘pulang kampung’ karena kampung-kampung kita biasanya ada di
pedalaman: kota ada di pesisir, di tepi pantai.” Kedua,
plin-plan. Badudu pernah mengulas istilah tersebut dalam rubrik “Inilah
Bahasa Indonesia yang Benar” dalam Intisari edisi 7 Maret 1980. Itu menjadi
bukti upayanya dalam mengakomodasi keberadaan bahasa daerah, yang kemudian
terserap ke bahasa Indonesia. Memang, dalam banyak tulisannya, Badudu
berfokus pada keberagaman bahasa daerah di Indonesia untuk membangun
diskursus keberadaan bahasa Indonesia. Kata
plin-plan terserap dari bahasa Jawa, bentuk singkat dari plintat-plintut.
Badudu menjelaskan kata itu sebagai watak yang dialami seseorang. “Orang yang
plin-plan sebenarnya orang yang tidak teguh pendiriannya sebab
sebentar-sebentar berubah,” ujarnya. Dalam konteks kini, kata itu senantiasa
relevan, tak terkecuali dalam realitas politik kita. Banyak pejabat publik
dan politikus kita mudah terjerembap pada situasi antara perkataan dan
perbuatan yang tidak linier. Mereka membelokkan janji yang telah disampaikan. Ketiga,
pewaris. Kata ini mencuat kembali dalam berapa waktu terakhir lewat algoritma
media sosial, terutama berhubungan dengan konten-konten kesuksesan atas
perbandingan antara pewaris dan perintis. Rupanya, Badudu pernah membahas
istilah pewaris pada 1994. Lema yang mendasarinya tentu saja adalah waris.
Badudu membahasnya karena timbul kerancuan yang dialami publik dalam
membedakan antara ahli waris dan pewaris. “Sering
dewasa ini kata pewaris dipakai dalam arti ahli waris, yaitu penerima
warisan. Yang mewariskan warisan disebut pewaris, sedangkan yang mewarisi
warisan disebut ahli waris,” kata Badudu. Padahal pewaris adalah orang yang
meninggalkan warisan, sementara ahli waris orang yang menerima warisan.
Kalakian, Badudu mengetengahkan pentingnya memperhatikan kamus. Apa yang
pernah digagas Badudu kiranya menjadi bukti penting perhatian terhadap
bahasa. Ia betul menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu hal yang memerlukan
logika keilmuan. Banyak tulisannya masih relevan dalam situasi mutakhir.
Bersamaan dengan itu, dalam konteks berbagai tantangan bahasa yang terjadi
pada era kini, tak salah untuk memposisikan J.S. Badudu sebagai sumber
keteladanan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/warisan-j-s-badudu-bahasa-indonesia-2268928
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar