Jumat, 19 Juni 2026

 

Richard Robison: Oligarki di Bawah Prabowo Makin Terpusat

Friski Riana :  Jurnalis Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Secara bertahap, sistem oligarki mengkolonisasi institusi-institusi baru yang lahir dari Reformasi.

 

·      Prabowo Subianto berada dalam sistem oligarki yang mempertemukan kekuasaan politik, militer, dan kekayaan pribadi.

 

·      Partai politik pun menjadi kendaraan bagi kekuasaan oligarki lewat politik uang.

 

PENELITI Indonesia untuk pertama kalinya, Richard Robison menyaksikan langsung peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974, yang populer disebut Malari. Ilmuwan ekonomi politik asal Australia itu melihat tank berada di luar penginapannya. Massa pun memenuhi jalanan menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang dianggap membawa modal asing.

 

Robison saat itu masih mahasiswa pascasarjana di The University of Sydney, Australia. Saat menjadi saksi Malari, Robison tengah dalam kunjungan kedua ke Indonesia setelah berkunjung pertama kali pada 1972.

 

Semula ia bermaksud meneliti kelas pengusaha di Indonesia. Peristiwa Malari membuat Robison mengubah topik riset menjadi kelompok bisnis besar di belakang Presiden Soeharto. “Saya memikirkan persoalan kekuasaan di Indonesia, siapa yang memegang kekuasaan, dan bagaimana oligarki terbentuk,” kata Robison kepada jurnalis Tempo, Yosea Arga dan Friski Riana, di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.

 

Belakangan, Robison dikenal lewat kajiannya tentang kapitalisme dan oligarki di Indonesia. Disertasi Robison dibukukan dengan judul The Rise of Capital dan terbit pada 1986. Pemerintah Orde Baru melarang peredaran lektur tersebut. Namun banyak yang membelinya di luar negeri atau mencetaknya tanpa izin. “Saya tak memperoleh royalti apa pun. Namun itu tidak jadi masalah,” ujarnya.

 

Bersama guru besar studi Asia dari University of Melbourne, Vedi Hadiz, pada hari itu Robison merilis buku terbaru, Oligarchy and the End of Reformasi in Indonesia, di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Buku tersebut merupakan sekuel Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets (2004).

 

Dalam wawancara sekitar satu jam, Robison menjelaskan penyebab oligarki bisa bertahan dan menguat setelah kejatuhan rezim Soeharto dalam Reformasi 1998. Ia juga membandingkan kekuatan oligarki pada masa pemerintahan Prabowo Subianto dengan Joko Widodo. Penjelasan tambahan berlanjut lewat surat elektronik pada Senin, 8 Juni 2026.

 

Setelah Reformasi 1998, apa yang berubah dari oligarki di Indonesia?

 

Ketika krisis ekonomi, keuangan, dan politik memaksa Soeharto mundur dari jabatannya, banyak yang mengira bahwa ini akan membawa perubahan besar menuju jenis politik baru. Memang situasi saat itu membuka peluang untuk perubahan.

 

Setelah Reformasi, oligarki berada dalam kondisi yang terfragmentasi atau tidak terorganisasi dan tidak punya pusat kekuasaan yang jelas. Namun sistem oligarki tak pernah benar-benar hilang dan selalu ada. Para oligark bertahan melalui jaringan patron-klien yang tersebar.

 

Setelah itu, oligarki justru menguat?

 

Awalnya oligarki tidak mampu mencegah berbagai perubahan, seperti amendemen konstitusi, reorganisasi parlemen, serta pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi dan Mahkamah Konstitusi. Namun, di balik struktur politik yang tampak berubah, kekuasaan tetap berada di tangan oligarki. Secara bertahap, sistem oligarki kemudian mengkolonisasi institusi-institusi baru yang lahir dari Reformasi. Dewan Perwakilan Rakyat pun mulai dikuasai kepentingan oligarki.

 

Apa dampak terbesar jika oligarki menguasai institusi demokrasi?

 

Mereka memanfaatkan institusi demokrasi, seperti partai politik, pemilihan umum, serta parlemen, untuk melemahkan supremasi hukum dan hak-hak individu. Atau mengutamakan korporasi swasta alih-alih kepentingan publik, seperti dalam pelindungan lingkungan hidup. Institusi demokrasi dapat dengan mudah menjadi kendaraan bagi oligarki sebagaimana juga dapat menjadi sarana bagi reformasi liberal. Semuanya bergantung pada siapa kelompok kepentingan yang sedang berkuasa.

 

Anda melihat ada kegagalan dalam menjalankan agenda Reformasi karena oligarki tidak pernah hilang?

 

Sebagian agenda Reformasi berhasil dan masih bertahan hingga sekarang. Pemerintah tetap harus mengadakan pemilu dan memperoleh legitimasi melalui proses elektoral. Masalahnya, kekuatan-kekuatan Reformasi tak pernah berhasil membangun basis kekuasaan yang kuat karena mereka sendiri terfragmentasi dan tidak terorganisasi.

 

Pendukung Reformasi tidak cukup kuat membendung oligarki?

 

Kekuatan Reformasi tak pernah berhasil membangun basis kekuasaan yang kuat karena mereka terfragmentasi dan tidak terorganisasi. Mereka tidak memiliki aliansi politik yang kokoh dengan kelompok sosial lain. Tidak pernah terbentuk aliansi politik yang kuat antara kelas menengah pendukung Reformasi dan gerakan buruh. Trauma dan pelajaran dari peristiwa 30 September 1965 juga membuat pembentukan aliansi semacam itu sulit terjadi. Reformasi mampu menggerakkan massa ke jalanan. Namun demonstrasi saja tidak cukup.

 

Apakah kekuatan oligarki itu berkembang juga dalam pemerintahan Prabowo Subianto?

 

Saya kira sekarang mereka telah memasuki tahap baru dalam reorganisasi kekuasaan. Mereka menyadari bahwa sekadar mengkolonisasi institusi yang ada tidak cukup. Mereka perlu bergerak menuju bentuk kekuasaan yang lebih terpusat.

 

Mengapa mereka berupaya masuk ke kekuasaan yang terpusat?

 

Salah satunya, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada sektor sumber daya alam, terutama mineral dan pertambangan. Presiden seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan kini Prabowo Subianto melihat mereka harus mengendalikan sektor-sektor ekonomi tersebut kalau ingin membangun dan memperkuat kekuasaan. Karena itu, muncul berbagai kebijakan baru pertambangan, kepemilikan sumber daya, pembatasan ekspor bahan mentah, dan penghiliran industri. Melalui langkah-langkah itu, kekuasaan ekonomi mereka menjadi makin kuat.

 

Struktur kekuasaan oligarki masih didominasi aktor-aktor era Orde Baru?

 

Mereka masih memiliki pengaruh sangat besar karena telah membangun jaringan dan koneksi yang kuat. Jaringan-jaringan ini tetap bertahan. Misalnya sumber kekuatan oligarki dulu adalah penguasaan perdagangan komoditas melalui Bulog, Berdikari, dan berbagai perusahaan semacam itu. Lembaga-lembaga itu dikuasai negara atau orang-orang yang dekat dengan pemerintah. Itu memberikan kekuatan yang luar biasa kepada oligarki dan kekuatan seperti ini tidak mudah dibongkar.

 

Dulu ada “sembilan naga”, sekarang muncul istilah “sembilan haji”, pengusaha pribumi yang dekat dengan kekuasaan. Apakah Prabowo sedang menciptakan oligarki baru?

 

Saya tidak berpikir ia menciptakan oligarki baru. Ketika kekuasaan politik berubah, tokoh-tokoh baru akan muncul ke permukaan. Muncul figur seperti Haji Isam (Andi Syamsuddin Arsyad, pemilik grup usaha Jhonlin Group) yang awalnya beroperasi di daerah, lalu memperoleh konsesi tambang batu bara. Kelompok seperti Bintang Delapan juga berkembang. Tapi yang penting mereka berhasil melakukan transisi ke pusat kekuasaan.

 

Sebagai pengusaha dan politikus, apakah Prabowo termasuk kelompok oligarki?

 

Anggaplah oligarki sebagai sebuah sistem yang menyatukan kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan. Dalam konteks ini, Prabowo selalu berada di dalam sistem tersebut, pada titik pertemuan antara kekuasaan politik, otoritas militer, dan kekayaan pribadi. Oligarki bukan sekadar orang kaya, melainkan juga mereka yang menguasai kekuasaan dan kekayaan sekaligus.

 

Dengan kekuasaannya, Prabowo memberikan berbagai posisi kepada adiknya yang menjadi pengusaha, Hashim Djojohadikusumo. Bagaimana penilaian Anda?

 

Hashim Djojohadikusumo adalah pengusaha kaya raya sejak era Soeharto. Jadi ini merupakan kelanjutan sistem yang sudah ada. Ini adalah contoh bagaimana kekuasaan beririsan dengan kekayaan. Jika kita melihat keluarga-keluarga paling berkuasa di Indonesia, mereka memiliki kedua aspek tersebut.

 

Apa perbedaan kekuatan oligarki pada masa Jokowi dengan Prabowo?

 

Oligarki di bawah Prabowo makin terpusat dan terorganisasi. Badan usaha milik negara, Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara), dan proyek strategis nasional merupakan beberapa institusi utama yang memungkinkan terjadinya sentralisasi. Salah satu gagasan utama Prabowo adalah nasionalisme ekonomi atau memusatkan kendali atas kekayaan dan mendistribusikannya melalui kebijakan ekonomi nasionalis.

 

Apa tujuan kebijakan ekonomi nasionalis?

 

Nasionalisme ekonomi juga menjadi cara untuk menarik dukungan dari luar lingkaran oligarki. Itu menjadi basis dukungan politik Prabowo. Dia memiliki basis kekuatan militer dan jaringan kuat di kalangan dunia usaha dan kelompok berpengaruh lain. Jokowi tidak punya itu.

 

Basis dukungan Jokowi tidak cukup kuat?

 

Ketika berkuasa, ia tak memiliki basis kekuatan yang kuat. Untuk memperoleh dukungan dan sumber daya, ia membangun aliansi dengan kekuatan yang sudah mapan seperti PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) dan kelompok elite lain. Akibatnya, ruang geraknya terbatas. Jokowi memang punya hubungan dekat dengan sejumlah pengusaha besar, seperti Luhut Pandjaitan, yang sekarang juga dekat dengan Prabowo. Begitu pula tokoh seperti Surya Paloh. Orang-orang seperti ini pada dasarnya terus berpindah dan beradaptasi mengikuti pusat kekuasaan.

 

Bagaimana oligarki bekerja dalam Pemilu 2024?

 

Banyak pebisnis terlibat dalam pemilu karena politik uang masih sangat penting. Di situlah orang-orang yang kaya dan berkuasa dapat mempengaruhi hasil pemilu. Ini juga terjadi di negara saya. Tapi, salah satu persoalan di Indonesia, partai politik tak benar-benar dibangun di atas dasar ideologi. Apa perbedaan Gerindra, PDIP, atau partai lain? Dalam banyak hal, mereka merepresentasikan kelompok oligarki yang berbeda dan saling bersaing. Partai menjadi kendaraan bagi kekuasaan oligarki dengan mendistribusikan kekayaan dan kekuasaan melalui politik uang.

 

Politik uang ini ujungnya menguntungkan oligarki….

 

Orang bisa membeli dan menjual posisi kekuasaan serta hasil pemilu. Orang berupaya memenangi pemilu agar bisa memperoleh akses terhadap kekuasaan dan memperkaya diri. Pemilu dapat menjadi ajang persaingan berbagai agenda kebijakan atau pertarungan di antara kelompok yang bersaing memperebutkan monopoli, kontrak, izin usaha, dan pinjaman dari bank-bank milik negara. Orang yang berkuasa melihat posisi tersebut sebagai sumber dana.

 

Pola-pola seperti ini sudah lama ada. Bukan Prabowo yang memperkenalkannya. Semua itu, juga struktur-strukturnya, sudah ada sebelumnya. Banyak orang mengatakan erosi demokrasi sebenarnya sudah dimulai sejak politik uang menjadi penting.

 

Oligarki ini akan terus ada atau permanen?

 

Dalam bentuknya yang sekarang, oligarki tidak akan bertahan selamanya. Namun oligarki sering kali berubah bentuk. Di Inggris, misalnya, oligarki kini banyak berpusat pada sektor keuangan karena London tetap menjadi salah satu pusat keuangan dunia. Di Amerika Serikat, kekuatan oligarki kini bergeser ke sektor teknologi. Tokoh-tokoh dominannya bukan lagi industrialis besar, melainkan orang seperti Elon Musk (pemilik Tesla dan SpaceX), Peter Thiel (bersama Elon Musk mendirikan PayPal), Jeff Bezos (bos Amazon), dan perusahaan teknologi besar lain.

 

Bagaimana caranya mencegah kekuatan oligark?

 

Anda harus mampu merebut dan mengelola kekuasaan. Karena itulah gerakan Reformasi pada akhirnya tetap menjadi kekuatan yang relatif kecil dalam keseluruhan lanskap politik Indonesia.

 

Baru-baru ini muncul wacana reformasi jilid II. Bagaimana kemungkinannya?

 

Saya belum melihat adanya prospek yang nyata dalam waktu dekat. Sekalipun terjadi pergeseran di dalam konfigurasi kekuatan oligarki, hal itu belum tentu berarti akan melahirkan reformasi jilid II.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/richard-robison-oligarki-prabowo-2269041

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar