|
Kota
Merdeka Robertus Robet : Sosiolog
Universitas Negeri Jakarta. Ia salah satu anggota tim evaluator editorial
Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Kota tak sekadar menjadi lanskap yang
berisi orang bermukim, tapi juga menghidupkan elan citizen. · Itulah sebabnya Max Weber menyimpulkan
kota-kota di negara Barat melahirkan demokrasi yang tertib dibanding
peradaban Timur. · Kota yang menampung citizen
adalah wilayah dengan penduduk yang berdaya dalam deliberasi. PADA 25
April 1112 menjelang tengah hari, sekelompok Conjurationes memimpin masa
pemberontak. Mereka menyerbu, menjarah dan membakar rumah berbenteng Uskup
Gaudry, Uskup Kota Laon, sambil meneriakkan: Comune! Gaudry
sempat melawan, sebelum bersembunyi di dalam sebuah tong besar di gudang
anggurnya. Pada akhirnya, ia dipersekusi dan dibunuh dengan sabetan kapak
bermata dua. Jenazahnya dipamerkan kepada khalayak yang mencemoohnya. Api
melalap Kota Laon. Laon
adalah sebuah kota kerajaan sekaligus pusat perdagangan makmur sepanjang abad
11. Kedudukan uskup yang sekaligus comte (bangsawan penguasa wilayah)
menjadikan kota ini medan perebutan pengaruh berbagai faksi aristokrat. Pada
1106, setelah medapatkan restu Paus, Gaudry mulai berkuasa dengan pengaruh,
intrik, konspirasi, dan pembunuhan. Untuk mengisi kasnya, ia memberlakukan
pungutan dan pajak yang sewenang-wenang. Dalam kondisi itulah, para borjuis
kota (burges) menyuap elite di sekitar uskup. Saat
Gaudry keluar kota di tahun 1111, mereka menyusun piagam komune pertama yang
memberikan mereka hak mengucap sumpah, saling membantu demi keamanan serta
keringanan fiskal. Louis VI mengesahkan piagam tersebut. Gaudry yang marah
membatalkan Piagam Komune itu tahun berikutnya. Tindakan ini yang memicu
kemarahan dan mendorong terbentuknya Conjuration (persekutuan di bawah
sumpah) warga dan para borjuis yang meledakkan pemberontakan. Dalam
sejarah, Piagam Komune Laon menggariskan preseden paling awal dari
makna "city" dan "citizen". Sumpah, solidaritas, dan
pemberontakan adalah urat nadi utama kota dan warganya. Kisah Laon mendasari
terbentuknya makna sejarah kota dan warga. Dalam The
City, Max Weber membahas pertanyaan mengapa demokrasi dan kewargaan aktif
berkembang di Barat, sementara peradaban-peradaban besar di Timur tidak
menghasilkan tradisi yang sama? Menurut
Weber, perbedaan mendasar tidak terletak pada ukuran kota, melainkan pada
karakter politiknya. Ia menulis: “The city in the Occidental sense is a
settlement whose inhabitants possess a special political association.” Kota
Barat bukan sekadar tempat tinggal atau pusat perdagangan, melainkan
komunitas politik yang mampu mengatur dirinya sendiri. Weber
menunjukkan bahwa kota-kota Eropa abad pertengahan memiliki hukum,
pengadilan, administrasi mandiri, plus kemampuan mempertahankan diri melalui
milisi warga. Penduduk kota membentuk korporasi politik yang mengatur urusan
bersama. Dari pengalaman inilah lahir bentuk awal citizen. Sebaliknya,
kota-kota besar di Cina, India, Timur Tengah, dan berbagai kerajaan Asia
berkembang dalam konfigurasi yang berbeda. Kota-kota tersebut sering kali
lebih besar dan makmur dibandingkan kota-kota Eropa, tetapi tidak berkembang
menjadi komunitas politik otonom. Kota berada di bawah kontrol birokrasi
kerajaan. Penduduk kota menjadi objek administrasi, bukan sumber legitimasi
politik. Salah
satu unsur penting dalam analisis Weber adalah conjuration, sumpah
persaudaraan antarwarga. Melalui sumpah ini, hubungan politik tidak lagi
didasarkan pada darah, kesukuan, atau patronase feodal. Orang-orang asing
bisa menjadi sesama citizen karena mereka mengikat diri dalam komunitas
politik yang sama. Loyalitas kepada klan secara perlahan digantikan oleh
loyalitas kepada komunitas politik yang lebih inklusif. Weber
juga mengutip pepatah Jerman abad pertengahan: “Stadtluft macht frei”, udara
kota membuat manusia merdeka. Kota menjadi ruang pembebasan dari hubungan
dominasi tradisional. Dalam kota, individu tidak lagi semata-mata menjadi
bawahan seorang tuan tanah, melainkan anggota komunitas politik. Kebebasan
dan kewargaan berkembang secara bersamaan. Kosmopolitanisme kota dimulai dari
ini. Manusia
tidak lahir sebagai citizen; mereka menjadi citizen. Menjadi politis berarti
keluar dari posisi pasif sebagai objek dan tampil sebagai subjek yang
bertindak dalam ruang publik. Ketika individu menuntut hak, memprotes
ketidakadilan, membentuk organisasi, atau menciptakan ruang publik baru,
mereka sedang melakukan acts of citizenship. Dalam
perspektif itu, kota menjadi ruang utama yang mempertemukan manusia yang
berbeda-beda dan memaksa mereka bernegosiasi mengenai kehidupan bersama. Kota
tidak hanya menampung kehidupan sosial, tetapi memproduksi subjek politik. Citizen lahir dari pengalaman hidup dalam
ruang yang penuh konflik, perdebatan, dan negosiasi. Dari pengalaman
kota-kota oksidental ini, kita paham bahwa eksistensi warga tidak diturunkan
dari negara, melainkan dari pengalaman bersama dalam kota. Di
Indonesia warga itu selalu objek. Ia warisan lintas sejarah: feodalisme,
kolonialisme, dan negara otoriterian. Feodalisme menurunkan hubungan
kawula-gusti, kolonialisme menurunkan
hubungan koeli-majikan, negara pembangunan melahirkan warga sebagai sasaran
pembangunan. Itu
sebab Pemberontakan warga Pati kepada Bupati di bulan Agutus 2025 bisa
menjadi pelajaran penting: ia mengubah warga menjadi citizen. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/sejarah-kota-citizen-demokrasi-2271996 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar