|
Bagaimana
Oligarki Menguat Setelah Reformasi 1998 Friski Riana
: Jurnalis Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026
|
· Richard Robison lebih dari setengah
abad meneliti oligarki. · Ia menjelaskan bagaimana para oligark
sempat kocar-kacir menghadapi Reformasi 1998. · Robison juga membandingkan oligarki
pada masa Prabowo Subianto dengan Joko Widodo. LAKI-LAKI
sepuh itu menerima saya dan jurnalis Desk Wawancara Tempo, Yosea Arga, di
lobi Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia Richard
Robison, peneliti oligarki di Indonesia asal Australia. Robison
berusia 83 tahun, dua setengah kali umur saya. Jalannya pelan. Saya pun
mengurungkan rencana mengajak profesor emeritus Murdoch University,
Australia, itu ke kedai kopi yang berjarak lima menit berjalan kaki. Siangnya,
Robison masih harus hadir di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya,
Jakarta. Di situ ia akan merilis buku Oligarchy and the End of Reformasi in
Indonesia. Buku itu ia tulis bersama guru besar studi Asia dari University of
Melbourne, Australia, Vedi Hadiz. Robison
telah lebih dari 50 tahun meneliti oligarki di Indonesia dan Asia Tenggara.
Ia berkunjung pertama kali pada 1972 untuk berkeliling. Dua tahun kemudian,
ia datang untuk meneliti. Dia datang bersamaan dengan meletusnya peristiwa
Malapetaka 15 Januari atau Malari pada 1974. Meski
sudah meriset sosok dan sebagian karya Robison, saya tetap deg-degan.
Bagaimanapun ia malang melintang menjadi peneliti ekonomi politik—cabang ilmu
yang berbeda dengan ekonomi atau politik. Kebayang, kan. Saya belum lahir,
dia udah meneliti oligarki era Orde Baru. Kali
aja, ia akan memberikan jawaban yang membuat saya butuh waktu agak lama untuk
loading, mencerna omongannya. Ini kekhawatiran semua jurnalis dalam
wawancara: terlihat tidak paham masalah atau kureng di depan narasumber. Kekhawatiran
saya berlebihan. Robison memberi jawaban yang mudah saya pahami. Meskipun
ilmunya setinggi langit—ia menulis lebih dari sepuluh buku—Robison tak
menganggap remeh lawan bicara yang berusia jauh di bawahnya. Selama
sekitar satu jam, Robison menjawab berbagai pertanyaan soal oligarki di
Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana para oligark, yang sempat kocar-kacir
menghadapi Reformasi 1998, survive dan menguat. Di sisi lain, para pendukung
Reformasi gagal membentuk kekuatan baru. Robison
lalu membandingkan oligarki pada era Prabowo Subianto dengan Joko Widodo. Ia
pun menjawab pertanyaan soal kehadiran “sembilan haji” sebagai pengganti
“sembilan naga”. Robison juga menyampaikan analisisnya soal posisi Prabowo
dalam sistem oligarki. Seperti
juga dalam wawancara dengan banyak narasumber, terutama dari kalangan
akademikus, saya merasa selalu mendapatkan ilmu baru. Waktu satu jam bersama
Robison terasa kurang lama. Namun ia bersedia menjawab pertanyaan tambahan
secara tertulis. Pembaca,
wawancara dengan Richard Robison bisa Anda nikmati dalam artikel “Oligarki di
Bawah Prabowo Makin Terpusat”. Selamat membaca. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/richard-robison-oligarki-reformasi-1998-2269107 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar