Jumat, 19 Juni 2026

 

Bagaimana Oligarki Menguat Setelah Reformasi 1998

Friski Riana :  Jurnalis Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 14 Juni 2026

 

 

                                                           

·      Richard Robison lebih dari setengah abad meneliti oligarki.

 

·      Ia menjelaskan bagaimana para oligark sempat kocar-kacir menghadapi Reformasi 1998.

 

·      Robison juga membandingkan oligarki pada masa Prabowo Subianto dengan Joko Widodo.

 

LAKI-LAKI sepuh itu menerima saya dan jurnalis Desk Wawancara Tempo, Yosea Arga, di lobi Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, pada Kamis, 4 Juni 2026. Ia Richard Robison, peneliti oligarki di Indonesia asal Australia.

 

Robison berusia 83 tahun, dua setengah kali umur saya. Jalannya pelan. Saya pun mengurungkan rencana mengajak profesor emeritus Murdoch University, Australia, itu ke kedai kopi yang berjarak lima menit berjalan kaki.

 

Siangnya, Robison masih harus hadir di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Di situ ia akan merilis buku Oligarchy and the End of Reformasi in Indonesia. Buku itu ia tulis bersama guru besar studi Asia dari University of Melbourne, Australia, Vedi Hadiz.

 

Robison telah lebih dari 50 tahun meneliti oligarki di Indonesia dan Asia Tenggara. Ia berkunjung pertama kali pada 1972 untuk berkeliling. Dua tahun kemudian, ia datang untuk meneliti. Dia datang bersamaan dengan meletusnya peristiwa Malapetaka 15 Januari atau Malari pada 1974.

 

Meski sudah meriset sosok dan sebagian karya Robison, saya tetap deg-degan. Bagaimanapun ia malang melintang menjadi peneliti ekonomi politik—cabang ilmu yang berbeda dengan ekonomi atau politik. Kebayang, kan. Saya belum lahir, dia udah meneliti oligarki era Orde Baru.

 

Kali aja, ia akan memberikan jawaban yang membuat saya butuh waktu agak lama untuk loading, mencerna omongannya. Ini kekhawatiran semua jurnalis dalam wawancara: terlihat tidak paham masalah atau kureng di depan narasumber.

 

Kekhawatiran saya berlebihan. Robison memberi jawaban yang mudah saya pahami. Meskipun ilmunya setinggi langit—ia menulis lebih dari sepuluh buku—Robison tak menganggap remeh lawan bicara yang berusia jauh di bawahnya.

 

Selama sekitar satu jam, Robison menjawab berbagai pertanyaan soal oligarki di Indonesia. Ia menjelaskan bagaimana para oligark, yang sempat kocar-kacir menghadapi Reformasi 1998, survive dan menguat. Di sisi lain, para pendukung Reformasi gagal membentuk kekuatan baru.

 

Robison lalu membandingkan oligarki pada era Prabowo Subianto dengan Joko Widodo. Ia pun menjawab pertanyaan soal kehadiran “sembilan haji” sebagai pengganti “sembilan naga”. Robison juga menyampaikan analisisnya soal posisi Prabowo dalam sistem oligarki.

 

Seperti juga dalam wawancara dengan banyak narasumber, terutama dari kalangan akademikus, saya merasa selalu mendapatkan ilmu baru. Waktu satu jam bersama Robison terasa kurang lama. Namun ia bersedia menjawab pertanyaan tambahan secara tertulis.

 

Pembaca, wawancara dengan Richard Robison bisa Anda nikmati dalam artikel “Oligarki di Bawah Prabowo Makin Terpusat”. Selamat membaca.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/richard-robison-oligarki-reformasi-1998-2269107

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar