|
Kisah Agen CIA Palsu Menyusup ke
Prabowo dan Elite Indonesia Adil Al Hasan : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 28 Juni 2026
|
· Gaurav Srivastava menjalin hubungan
dengan Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo sejak 2020. · Perusahaan Srivastava pernah menerima
surat pernyataan niat dari Kementerian Pertahanan senilai ratusan juta dolar
Amerika Serikat. · Srivastava diduga menipu Troost dan
mengalirkan uang US$ 51 juta ke rekening grup Arsari. PERJALANAN
Niels Troost dan Gaurav Srivastava menuju kediaman Presiden Prabowo Subianto
di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, berjalan mulus.
Troost, pengusaha minyak asal Belanda, masih ingat kunjungan bersama mantan
mitra bisnisnya pada pertengahan 2022 tersebut untuk memperkenalkan dirinya
kepada Prabowo yang saat itu masih menjadi Menteri Pertahanan. “Rasanya
istimewa karena kami diiringi kendaraan khusus yang membantu melewati
kemacetan,” katanya menceritakan perjalanan itu kepada Tempo dalam wawancara
pada Januari dan Februari 2026. Dalam
perjalanan ke Hambalang, Srivastava mengaku kepada Troost sering mengunjungi
dan menginap di sana. Ia mengatakan Prabowo menghormatinya karena ikut
memburu pelaku teror bom Bali. Dia juga mengklaim telah menghapus nama
Prabowo dari daftar hitam imigrasi Amerika Serikat setelah tercatat 20 tahun
akibat kasus pelanggaran hak asasi manusia saat menjadi Komandan Jenderal
Komando Pasukan Khusus Tentara Nasional Indonesia pada masa Orde Baru. Sebelum
tiba di kompleks Garuda Yaksa, Srivastava bercerita bahwa Prabowo memiliki
kebiasaan yang dianggap aneh lantaran membiarkan sarang laba-laba dan
serangga di seluruh rumah. Prabowo menganggap sarang laba-laba tak boleh
disingkirkan karena bagian dari alam dan harus dihormati. Troost
ingat warga sekitar Hambalang melambaikan tangan kepadanya dan Srivastava
sesaat sebelum sampai di kediaman Prabowo. Tiba di Garuda Yaksa, ia melihat
staf Prabowo menyambut hangat kedatangan Srivastava seperti kenalan lama.
Srivastava memeluk beberapa staf sembari menanyakan kabar dan kondisi
keluarga mereka. Sambil mengamati keadaan sekitar, Troost melihat banyak
jaring laba-laba seperti yang diceritakan Srivastava. Troost
terperangah melihat patung elang kayu raksasa di salah satu ruang tunggu di
Garuda Yaksa. Menurut pengakuan Srivastava kepadanya, patung elang itu bagian
dari penghormatan Prabowo terhadap Amerika Serikat dan Badan Intelijen Pusat
(Central Intelligence Agency/CIA). Srivastava mengaku bahwa ia yang
menghadiahkan patung itu kepada Prabowo. Kepada Troost, pebisnis Amerika
Serikat yang lahir di India itu juga mengaku sebagai agen CIA. Tapi
hubungan keduanya tak berlangsung lama. Setelah pertemuan di Indonesia itu,
Troost dan Srivastava pecah kongsi pada Mei tahun berikutnya. Pemicunya:
Srivastava ditengarai merekayasa aneka cerita untuk memeras puluhan juta
dolar dari perusahaan Troost, Paramount Energy & Commodities. Atas
kasus itu, Troost mengajukan gugatan hukum racketeer influenced and corrupt
organization atau RICO terhadap Srivastava atas dugaan penipuan, pemerasan,
dan kampanye fitnah di pengadilan California, Amerika Serikat, pada 21
Januari 2026. Ia memperbarui gugatan tersebut pada Juni 2026. Troost
menuding Srivastava sebagai penipu yang menyaru menjadi petugas tidak resmi
lembaga intelijen luar negeri Amerika Serikat. Banyak mata mulai tertuju
kepadanya karena ia diduga menipu di berbagai negara. Selama
lima bulan atau sejak Februari 2026, Tempo dan seorang jurnalis independen
mewawancarai lebih dari selusin narasumber di Indonesia dan luar negeri untuk
mengetahui sepak terjang Srivastava di Indonesia. Tim liputan ini juga
menyelisik dokumen, surat elektronik, foto, dan berkas pengadilan serta
menelusuri sumber terbuka. Selama
beberapa kali berkunjung ke Indonesia, Troost menjadi salah satu saksi mata
bagaimana Srivastava memiliki akses tingkat tinggi di jajaran elite bisnis
dan pejabat pemerintah. ••• PERKENALAN
Niels Troost dengan Gaurav Srivastava terjadi saat perusahaan pebisnis
Belanda itu terancam sanksi negara-negara Barat karena memperdagangkan minyak
Rusia ke Amerika Serikat. Kepada Troost, Srivastava berjanji bisa
menyelamatkannya dari sanksi tersebut. Srivastava juga memperkenalkan dirinya
sebagai agen tidak resmi (non-official cover) CIA. Rekaman
percakapan yang menjadi bagian dari aduan Troost ke pengadilan mengungkap
bahwa Srivastava mengaku sebagai agen tidak resmi bersama Elon Musk dan
Warren Buffett. “Saya bisa menghubungi delapan senator dalam sehari… dan
Presiden di Gedung Putih,” ujarnya kepada Troost dalam sebuah rekaman pada
Mei 2023. “Ini bukan main-main. Ini masalah serius,” dia menambahkan. Selama
di Indonesia, menurut empat narasumber, Srivastava juga menyamar sebagai agen
CIA. Sejumlah pejabat dan kalangan pengusaha di Indonesia pun mengenal
Srivastava sebagai mata-mata. Toh, banyak di antara mereka yang percaya dan
teperdaya. Para
narasumber ini mengatakan pengakuan Srivastava itu mudah diterima karena
pengusaha yang lahir di India ini pandai berbicara. Kedekatannya dengan
mantan Panglima Tertinggi Sekutu Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara
(NATO), Jenderal Wesley Clark; pejabat Gedung Putih; dan Prabowo Subianto
memperkuat klaim Srivastava. “Dia berbicara dengan Prabowo seperti Anda
berbicara dengan seorang teman,” tutur salah satu sumber tersebut. “Menurut
saya, itu adalah hubungan yang sangat dekat,” dia menambahkan. Kedekatan
Srivastava dengan Prabowo tidak hanya terbatas dalam pertemuan tertutup.
Dalam Forum Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Forum) di Bali pada
November 2022, Srivastava memperkenalkan Prabowo sebagai juara sejati serta
utusan perdamaian dan persatuan global. Dia pun memanggilnya sebagai sahabat
tersayang. Prabowo
membalas dengan ungkapan terima kasih sebelum bercanda, “Saya memanggilnya
Tuan G karena kadang sulit mengucapkan nama belakang Anda.” Dalam acara yang
sama, Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, menunjukkan gestur hormat kepada
Srivastava. Hubungan
antara Srivastava dan Prabowo tidak ujug-ujug terjalin. Berdasarkan
keterangan sejumlah narasumber dan aduan Troost di pengadilan, Srivastava
tiba di Indonesia pada pertengahan 2020 menggunakan jet Gulfstream dari
Inggris. Sebelum
Srivastava tiba di Indonesia, Chief Executive Officer Sky Petroleum Karim
Jobanputra meminta kenalannya di Indonesia mengantarkan pengusaha Amerika
Serikat itu bertemu dan menyerahkan surat undangan kepada Prabowo di
Kementerian Pertahanan. Karim
tak merespons permintaan konfirmasi yang diajukan Tempo melalui surat
elektronik. Prabowo juga tidak menanggapi permintaan konfirmasi perihal isi
undangan tersebut. Yang
jelas, beberapa bulan setelah menerima warkat dari Srivastava, Prabowo
melawat ke Washington, DC, pada Oktober 2020. Bagi Prabowo, perjalanan ini
penting sebagai Menteri Pertahanan era Presiden Joko Widodo, terutama setelah
ia dilarang masuk ke Negeri Abang Sam selama 20 tahun. Selain
berjumpa dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper di Pentagon
untuk membahas modernisasi militer Indonesia, Prabowo menggelar acara
presentasi untuk para kontraktor pertahanan di Hotel St. Regis. Lokasi hotel
bintang lima ini berada di kawasan Gedung Putih, rumah dan tempat kerja
Presiden Amerika Serikat. Dua
narasumber yang hadir dalam acara tersebut mengatakan para kontraktor
pertahanan terkemuka mempresentasikan portofolio mereka di depan Prabowo dan
rombongannya yang terdiri atas diplomat dan pejabat Amerika. Dalam
banyak sesi, Prabowo dan Srivastava duduk berdampingan. “Setelah mereka
selesai mempresentasikan proposal, para kontraktor langsung keluar. Kemudian
pintu dibuka lagi untuk presentasi berikutnya. Begitu terus berulang,” kata
narasumber ini. Rombongan
Prabowo dan Srivastava juga sempat berkunjung ke The Bombay Club, sekitar
lima menit berjalan kaki dari Hotel St. Regis. Perjalanan rombongan ini
sempat terhenti sekaligus terjebak di tengah kerumunan massa Black Lives
Matter—gerakan protes atas kematian George Floyd akibat kebrutalan
polisi—yang berdemonstrasi di depan Gedung Putih. Tidak
ada kesepakatan yang ditandatangani dalam acara di hotel kelas wahid itu.
Namun pembicaraan tentang pengadaan alat pertahanan berlanjut sebulan
kemudian antara Christopher Miller, pengganti Esper, dan Prabowo melalui
sambungan telepon pada November 2020. Beberapa
minggu kemudian, Miller terbang ke Jakarta. Pada 7 Desember 2020, ia
mendatangi Prabowo di Kementerian Pertahanan. Miller didampingi Kash Patel,
Direktur Biro Investigasi Federal (FBI), yang kala itu menjabat kepala staf
Miller. Selain
itu, dalam foto yang diperoleh Tempo terlihat Prabowo, Miller, dan Srivastava
bertemu di rumah Ketua Umum Partai Gerindra tersebut di Jalan Kertanegara,
Jakarta Selatan. Pertemuan itu antara lain membahas penjualan jet tempur
Amerika Serikat ke Indonesia. Menteri
Sekretariat Negara Prasetyo Hadi tak merespons permintaan wawancara Tempo
kepada Prabowo yang dikirim melalui pesan WhatsApp dan surat elektronik. Pada
Februari dan Juni 2026, Tempo juga mengirimkan surat fisik untuk meminta sesi
wawancara kepada Prabowo melalui Kementerian Sekretariat Negara. Hingga
liputan ini diterbitkan, Prasetyo belum menanggapi permintaan tersebut. ••• KURANG
dari dua pekan setelah kunjungan Christopher Miller di Indonesia, Kementerian
Pertahanan mengeluarkan tiga surat yang terdiri atas dua letter of agreement
dan satu letter of intent pada 22 dan 23 Desember 2020. Surat yang
ditandatangani Kepala Badan Pengadaan Pertahanan Kementerian Pertahanan
Marsekal Yusuf Jauhari itu ditujukan kepada tiga perusahaan milik Gaurav
Srivastava: Orbimo Corporation, Constentis Corporation, dan Zegasus
Corporation. Yusuf tak merespons pesan dan permintaan wawancara Tempo yang
dikirim melalui nomor telepon seluler pribadinya. Kepada
Orbimo Corporation, Kementerian Pertahanan menyatakan niat membeli 30 pesawat
UH-60 Black Hawk. Surat lain menunjukkan pernyataan niat kepada Zegasus
Corporation untuk membeli 36 pesawat F-15EX dan suku cadang serta perawatan
dan dukungan terkait. Adapun kepada Constentis Corporation, Kementerian
Pertahanan menyatakan keinginan membangun pusat komando dan kendali operasi
gabungan. Ketiga
surat tersebut diakhiri dengan catatan: “Surat perjanjian ini merupakan
kewajiban yang mengikat terkait dengan pengadaan yang dimaksud”. Surat ini
juga menyertakan nama Miller dan Heidi Grant, Direktur Badan Kerja Sama
Keamanan Pertahanan Amerika Serikat, sebagai “Cc” atau tembusan. Kepada
tim Tempo, Miller mengatakan baru menerima salinan surat-surat tersebut
beberapa tahun setelah peristiwa itu berlangsung. Demikian juga institusi
Heidi Grant, badan yang mengawasi penjualan aset pertahanan Amerika Serikat
kepada mitra keamanan dan calon sekutu. Miller
mengatakan anggota Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang berkunjung ke
Indonesia tidak berhubungan dalam penerbitan dokumen tersebut. “Kami juga
tidak memintanya dari Kementerian Pertahanan Indonesia baik secara resmi
maupun tidak resmi,” tuturnya pada Jumat, 5 Juni 2026. Meski
begitu, Miller membenarkan kehadiran Srivastava dalam pertemuan di Jakarta
itu, yang antara lain bertujuan membahas penjualan jet tempur Amerika
Serikat. Miller menambahkan, Srivastava memanfaatkan pertemuan tersebut untuk
tampil bahwa ia seolah-olah memiliki akses dan pengaruh agar mendapat
keuntungan. “Penilaian
saya, berdasarkan interaksi singkat dengannya dalam pertemuan yang Anda
sebutkan, dia hanyalah seorang penipu/orang asing yang selalu mengintai di
tepi interaksi semacam itu dan mencoba memanfaatkan kesan memiliki akses dan
pengaruh untuk keuntungan finansial pribadi,” katanya. “Dia tampak seperti
penipu biasa,” Miller menambahkan. Kepala
Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Rico Sirait membenarkan
adanya surat pernyataan niat tersebut. Menurut Rico, dokumen ini bukan
keputusan final dan mengikat secara hukum. Sampai saat ini, dia
mengungkapkan, tidak ada satu pun realisasi atas pernyataan niat Kementerian
Pertahanan dengan perusahaan tersebut. Rico
mengklaim setiap komunikasi awal, termasuk keputusan mengeluarkan surat
pernyataan niat, merupakan bagian dari dinamika dan penjajakan yang lazim
dalam hubungan antarpihak di bidang pertahanan. “Seluruh proses kerja sama
dan pengadaan pertahanan Indonesia selalu dilaksanakan secara hati-hati,
mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, serta sesuai dengan mekanisme
dan aturan yang berlaku,” ujarnya pada Senin, 25 Mei 2026. Meski
proses kerja sama dan pengadaan pertahanan diklaim hati-hati, penelusuran
terhadap dokumen ketiga perusahaan tersebut menunjukkan sebaliknya. Orbimo
dan Zegasus merupakan perusahaan yang berdiri di Negara Bagian Wyoming,
Amerika Serikat, pada hari yang sama ketika surat pernyataan niat itu
diterbitkan. Apabila perbedaan waktu Jakarta dengan Amerika Serikat adalah 13
jam, perusahaan tersebut baru berdiri setelah surat dari Kementerian
Pertahanan itu ditandatangani dan diterbitkan. Adapun Constentis menerima
surat pernyataan niat memasok pusat operasi dan komando gabungan hanya
beberapa hari setelah berdiri. Tiga
perusahaan yang dimiliki Srivastava itu hanya entitas fiktif. Dalam dokumen
ketiganya, korporasi tersebut tidak memiliki pendapatan dan catatan pengadaan
aset pertahanan berteknologi tinggi. Terlebih, ketika surat pernyataan niat
diterbitkan, Srivastava sudah memiliki riwayat penipuan dan pelanggaran
kontrak yang terdokumentasi di pengadilan. Langkah
Srivastava untuk mendapatkan kontrak dari Kementerian Pertahanan seperti tak
terbendung. Pada 7 Juli 2021, Sky Petroleum Inc, entitas yang terdaftar di
bursa Amerika Serikat, mengumumkan telah meluncurkan usaha patungan bersama
Srivastava bernama Unity Accipiter (UAC). Dari penelusuran tim Tempo,
perusahaan ini sebenarnya bernama Unity Accipiter Corporation yang terdaftar
di Wyoming atas nama Sharon Srivastava, istri Srivastava. Dokumen
yang diajukan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC)
menyatakan bahwa UAC telah menerima "surat pembelian definitif"
dari Kementerian Pertahanan pada Maret 2021 untuk memasok sejumlah helikopter
UH-60 (Black Hawk) yang telah diperbarui. Pemeliharaan selama lima tahun
termasuk dalam perjanjian senilai US$ 480 juta tersebut. Secara
spesifik, UH-60 yang diminta Kementerian Pertahanan bakal dilengkapi mesin
baru, kokpit kaca, dan sistem avionik canggih dengan masa perawatan,
perbaikan, dan perombakan (MRO) selama lima tahun. Selain itu, dokumen ini
menyatakan UAC bakal menerima 85 persen keuntungan. Adapun anak usaha Sky
Petroleum, Sastaro Limited, mendapat 15 persen. Sastaro
Limited sebenarnya tidak memiliki pengalaman dalam pemeliharaan alat
pertahanan. Sebab, anak usaha Sky Petroleum ini sebenarnya perusahaan minyak
dan gas. Perusahaan
patungan CEO Sky Petroleum Karim Jobanputra dengan Srivastava ini pun bubar
pada 1 Februari 2023 dengan catatan bahwa usaha tersebut diakhiri secara
mutual dan tidak ada aktivitas material dengan Kementerian Pertahanan. Temuan
lain dalam penelusuran ini menunjukkan UAC dalam pengajuan ke SEC disebut
berdiri di Delaware. Sedangkan UAC milik Srivastava terdaftar di Wyoming.
Dari pencarian menyeluruh di situs bisnis Delaware, tak ada korporasi bernama
Unity Accipiter Corporation. Narasumber
yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan perjanjian dengan UAC ini
terpisah dari surat pernyataan niat mengenai helikopter Black Hawk yang
dikirim Kementerian Pertahanan kepada perusahaan Srivastava lain pada
Desember 2020. Namun, apabila kontrak ini terwujud, potensi keuntungannya
bisa bernilai besar. Pada 10
Agustus 2022, pemerintah Amerika Serikat menyetujui kemungkinan penjualan 36
jet F-15ID senilai US$ 13,9 miliar untuk varian F-15EX yang dirancang khusus
buat Indonesia. Sebagian besar uang itu akan masuk ke pabrik jet Boeing. Meski
begitu, seorang rekan bisnis Srivastava mengungkapkan, Srivastava bungah atas
perkembangan ini karena berpotensi memperoleh cuan besar. “Dia ingin melihat
transaksi itu selesai. Itu akan menjadi capaian besar,” kata rekan bisnis
tersebut. Sembari
memperkuat kesepakatan di Indonesia, Srivastava membangun pengaruh politiknya
di Washington, DC. Ia menyumbangkan lebih dari US$ 1 juta kepada pemimpin dan
kandidat Partai Demokrat pada 2022 dan 2023. Ia berhasil berfoto dengan
Presiden Joe Biden dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat saat itu, Nancy Pelosi.
Langkah ini tak lain bertujuan mendongkrak citranya sebagai sosok yang
memiliki koneksi luas dan pengaruh di Negeri Abang Sam. Kesuksesan
Srivastava mendapat aneka pernyataan niat di Indonesia belum berhenti. Sebuah
foto yang diperoleh tim Tempo menunjukkan Srivastava, Prabowo Subianto, Yusuf
Jauhari, dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) Gita Amperiawan
berdiri di depan meja marmer emas dan putih dengan dua pena siap pakai serta
dua set dokumen di kedua sisi. Pada 22
Juli 2022, PT Dirgantara Indonesia rupanya meneken general operation
agreement dengan UAC milik Srivastava. Kerja sama ini meliputi MRO pesawat
C-130 atau Hercules senilai US$ 150 juta atau Rp 2,2 triliun apabila mengacu
pada kurs rupiah saat itu. Gita
Amperiawan menyatakan perseroannya telah menghentikan kerja sama dengan UAC
karena perusahaan tersebut tak lolos uji tuntas. Menurut dia, perjanjian itu
baru proses penjajakan. Gita tak membantah kabar bahwa perusahaan tersebut
bermasalah. Tapi ia tidak mendetailkan penyebab buyarnya perjanjian ini. Yang
jelas, PT Dirgantara Indonesia sudah melimpahkan MRO kepada PT Garuda
Maintenance Facility Aero Asia Tbk, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. “Kami
melihat (UAC) tidak strong. Maka kami membangun sinergi dengan ekosistem
dalam negeri,” tutur Gita. Corporate
Communications & CSR GMF AeroAsia menyatakan perseroan mendukung PT
Dirgantara Indonesia mengerjakan perawatan Center Wing Box Replacement 1
pesawat C-130. Namun dukungan ini tak berkaitan dengan pengalihan dari UAC.
“Tidak ada sangkut pautnya,” demikian pernyataan tertulis GMF pada Sabtu, 27
Juni 2026. ••• SEMBARI
mengejar kontrak di Kementerian Pertahanan, Gaurav Srivastava merajut
hubungan bisnis dengan Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto.
Dengan pendiri grup Arsari itu, Srivastava, melalui Harvest Commodities
SA—perusahaan komoditas milik Niels Troost—bertemu pada Agustus 2022 untuk
mengangkut 50 ribu ton pakan jagung dari Ukraina ke Indonesia melalui PT
Comexindo International. Kesepakatan
Srivastava dengan Hashim itu disaksikan Duta Besar Ukraina untuk Indonesia,
Vasyl Hamianin. Srivastava dikatakan sempat menawarkan bisnis kepada
Hamianin. Saat dihubungi Tempo pada Kamis, 2 April 2026, Hamianin menolak
berkomentar, termasuk atas kesulitan yang sedang dihadapi Srivastava
sekarang. Dia menyatakan Srivastava bukanlah teman ataupun rekan bisnisnya.
"Tanyakan kepada mereka yang mengirim informasi itu," ujarnya. Hubungan
Srivastava dengan Hashim berlanjut. Pada November 2022, Srivastava
merencanakan transfer sebesar US$ 51 juta dari Paramount Energy and
Commodities DMCC (PDMCC), perusahaan milik Niels Troost di Dubai, Uni Emirat
Arab, kepada grup Arsari dengan dalih untuk mendanai operasi rahasia CIA dan
investasi energi terbarukan. Srivastava dan timnya berkoordinasi dengan
petinggi Arsari untuk menyelesaikan transaksi ini. Sebulan
kemudian atau pada 2 Desember 2022, PDMCC mentransfer US$ 51 juta kepada PT
Arsari Pradana Utama. Di perusahaan yang berdiri pada Desember 2021 ini,
Hashim tercatat sebagai direktur utama dan pemegang saham mayoritas. Dalam
dokumen transaksi yang diperoleh tim Tempo, duit itu masuk ke rekening PT
Arsari Pradana Utama di Bank Bukopin sebesar Rp 755 miliar dan Rp 30,8 miliar
ke Bank Mandiri dengan keterangan sebagai modal kerja. Bukopin kini bernama
KB Bank. Corporate
Communication and Government Affair Division Head KB Bank Indonesia Komala
Sari menolak berkomentar ihwal aktivitas rekening Arsari Group. Dia
memastikan KB Bank telah menjalankan prinsip kehati-hatian serta mematuhi
ketentuan dan regulasi yang berlaku. “KB Bank berkomitmen menjaga kerahasiaan
dan perlindungan data nasabah,” tuturnya pada Senin, 20 April 2026. Yang
jelas, transaksi ini sekarang menjadi salah satu obyek yang dipersoalkan
Troost karena Srivastava telah menipunya. Sebab, sepekan setelah transfer,
duit sebesar US$ 25 juta kembali dikirim ke Srivastava untuk membeli rumah
mewah di Amerika Serikat seharga US$ 24,5 juta. Pesan
WhatsApp dan surat elektronik antara tim hukum Srivastava dan Maria Foley,
pejabat di Arsari, menunjukkan kedua pihak berupaya mencari celah untuk
menghindari kecurigaan petugas bank. Maria secara eksplisit mengusulkan
transfer tersebut disebut sebagai investasi saham untuk menghindari peraturan
perbankan. Tim
hukum Srivastava mengusulkan transfer dikirim langsung ke Birdsong Central
LLC, perusahaan afiliasi Srivastava yang tercatat di Negara Bagian Delaware,
Amerika Serikat, dengan skema surat utang sebesar US$ 10 juta dua kali dan
US$ 5 juta. Maria
menolak karena petugas bank tak bakal mengizinkan sehingga ia mengusulkan
transfer dilakukan melalui New Kapital Limited, entitas bisnis di British
Virgin Islands yang terhubung dengan Arsari. Sebelum
transaksi terjadi, tim hukum Srivastava meminta New Kapital Limited
memberikan kuasa kepada firma hukum Karlin & Peebles, LLP Attorneys at
Law. Tujuan pemberian kuasa ini adalah transfer dianggap sebagai pembayaran
kembali suatu pinjaman yang masih terafiliasi dengan grup Arsari. Pada 28
Desember 2022, PT Arsari Pradana Utama berhasil mentransfer US$ 25 juta ke
Karlin & Peebles menggunakan rekening kepercayaan pengacara atau interest
on lawyers' trust accounts melalui Bank Mandiri ke First Republic Bank dengan
keterangan “NKL Repayment”. Setelah
itu, uang tersebut langsung ditransfer ke Birdsong Central LLC untuk
pembelian rumah mewah buat Srivastava di 14180 W Sunset Blvd di lingkungan
Pacific Palisades, Los Angeles, California. Birdsong mengalihkan kepemilikan
kepada Srivastava melalui Aurora Point LLC pada 5 Januari 2023. Aurora Point
LLC merupakan perusahaan yang terdaftar di Negara Bagian Delaware pada 12
Oktober 2022 yang dimiliki keluarga Srivastava. Setelah
transaksi pertama berhasil, tim Srivastava masih mengincar sisa uang sebesar
US$ 26 juta. Sepanjang Februari-September 2023, tim Srivastava mendesak
Arsari dengan alasan yang berubah-ubah. Permintaan makin intensif ketika
Troost mendepak Srivastava dari PDMCC pada Mei 2023. Dalam
salah satu percakapan, pengacara Srivastava meminta Arsari mentransfer uang
untuk membayar jasa konsultasi yang diberikan Srivastava kepada Hashim pada
2018. Pengacara pun menawarkan jaminan pribadi Srivastava dan Sharon sebagai
lender dan Arsari selaku borrower agar mengembalikan uang ini. Pengacara
Srivastava juga meminta uang ditransfer ke Echo Grove LLC, perusahaan yang
terafiliasi dengan Srivastava. Maria sempat meminta penjelasan hubungan PDMCC
dengan Echo Grove sekaligus menyatakan bahwa setiap transfer otomatis
mengurangi jumlah utang pada Desember 2022. Tak
patah semangat, pengacara Srivastava mencari akal dengan mengedarkan draf
perjanjian novasi atau restrukturisasi utang yang menyatakan pinjaman US$ 51
juta PDMCC kepada Arsari dialihkan ke Cedar West Ventures LLC, perusahaan
yang juga terafiliasi dengan Srivastava. Secara paralel, novasi ini
menyebutkan sisa US$ 26 juta itu ditransfer secara bertahap setiap bulan
sebesar US$ 2 juta dari 30 September 2023 sampai 30 September 2024. Merasa
tak mendapat respons, Srivastava dan mantan Kepala Stasiun CIA, John Maguire,
yang sudah ia rekrut mengancam dengan tuduhan Hashim dan grup Arsari mendanai
terorisme yang bisa menurunkan elektabilitas Prabowo dalam pemilihan presiden
2024. Hingga saat ini, nasib uang US$ 26 juta di grup Arsari belum diketahui. Sebelum
Troost memecat Srivastava, Paramount sempat menugasi seorang penyelidik
swasta bernama Jonas Rey yang juga Direktur Athena Intelligence menelusuri
masa lalu pengusaha berdarah India itu. Srivastava,
yang berusia 36 tahun, memiliki riwayat penipuan dan pemalsuan. Rey heran
bagaimana Srivastava bisa meyakinkan mantan perwira CIA dan jenderal
berpangkat tinggi dengan cerita palsunya sebagai agen intelijen. “Kemudian
kami melihat jumlah besar sumbangan finansial yang telah ia berikan kepada
berbagai pejabat terpilih di Amerika dan tiba-tiba semuanya menjadi masuk
akal. Dia telah membeli akses yang jarang saya lihat,” kata Rey. Juru
bicara Paramount, perusahaan milik Troost, yang tak mau disebut namanya
mengatakan Srivastava merupakan penipu ulung dan harus dituntut atas berbagai
kerugian yang sudah ditimbulkan. Paramount berharap grup Arsari mengembalikan
sisa dana tersebut. “Kami yakin manajemen Arsari akan mematuhi kewajibannya
mengembalikan sisa dana yang dicuri,” tuturnya. Setelah
meneliti bukti dan dokumen, Kush Amin, pengacara yang memiliki spesialisasi
dalam bidang antikorupsi dan antipencucian uang, mengatakan Srivastava
seharusnya bertanggung jawab karena sudah menipu di Indonesia, terutama
menggunakan uang perusahaan Troost untuk membeli rumah di California. “Jika
telah melakukan tindak pidana pokok ini, dia juga mesti bertanggung jawab
atas pencucian hasil penipuan dari Indonesia. Jika memiliki hubungan dengan
kepemilikan rumah di California, dia juga harus bertanggung jawab atas
pencucian dana ke Amerika Serikat,” ujar mantan spesialis hukum di
Transparency International itu. Hashim
Djojohadikusumo tidak menanggapi surat permintaan wawancara yang dikirim ke
kantor grup Arsari pada 19 Februari 2026. Aryo Djojohadikusumo, Wakil
Direktur dan Kepala Operasional Arsari Group, juga menolak berkomentar dan
mengarahkan permintaan wawancara kepada Ariseno Ridhwan, juru bicara grup
Arsari dan Hashim. Ariseno tidak menanggapi surat dan pesan yang dikirim ke
nomor telepon seluler pribadinya sejak Februari hingga artikel ini terbit. Saat
ditemui di Kementerian Lingkungan Hidup pada 29 April 2026, Hashim menolak
berkomentar perihal keterlibatan Arsari dalam perkara yang menjerat
Srivastava. "Saya tidak ingin membahas itu,” katanya. Adapun
Srivastava tidak menanggapi pertanyaan yang dikirim ke alamat e-mail yang
tercantum di situs pribadi dan dua firma hubungan masyarakat yang pernah
bekerja untuknya. Dalam siniar YouTube miliknya, Srivastava menyebut
keterangan Troost sebagai “kebohongan besar”. Kepada
Financial Times, Srivastava mengklaim tidak pernah mengaku sebagai agen CIA
dan menduga rekaman yang dimiliki Troost dipalsukan oleh kekuatan asing. Ia
juga membantah kabar bahwa pinjaman dari Paramount ke Arsari yang ia terima
US$ 25 juta berasal dari perusahaan milik Hashim. Sementara
itu, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Ivan
Yustiavandana mengatakan institusinya sedang menyelidiki transaksi tersebut
dengan lembaga serupa atau counterpart di negara lain. Menurut Ivan, PPATK
memperhatikan semua fenomena yang menjadi perhatian publik apabila ada
kecurigaan dari pihak industri keuangan. Ia
mengatakan timnya bakal menyerahkan hasil analisis kepada penegak hukum
apabila ditemukan indikasi tindak pidana pencucian uang dalam transaksi ini.
“Masih menunggu jawaban lengkap dari counterpart di luar negeri,” ujar Ivan
pada Selasa, 23 Juni 2026. "Terus kami koordinasikan," dia
menambahkan. Dengan
adanya kasus hukum di California, citra Srivastava sebagai agen CIA mulai
runtuh. Orang-orang mulai menjauhinya. Di Amerika Serikat, mantan presiden
Joe Biden telah mengembalikan donasi dari Srivastava setelah cerita mata-mata
palsu ini mulai terbongkar. Saat
Partai Demokrat menjauhi, Srivastava mengalihkan haluan ke Partai Republik
dengan mengadopsi pendekatan "America First" seperti narasi yang
digaungkan Presiden Donald Trump. Sejak Juni 2025, ia muncul di siniar
kelompok konservatif, memberikan pidato di sebuah konvensi politik di Las
Vegas, dan mengunggah foto bersama Wakil Presiden James David Vance pada Juni
2025. Gugatan
hukum Troost di California yang diperbarui pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa
Srivastava menyumbangkan US$ 2 juta kepada The John F. Kennedy Center for the
Performing Arts, pusat budaya di Washington, DC, yang dikelola Trump. Pusat
seni ini pernah berubah nama menjadi The Donald J. Trump and The John F.
Kennedy Memorial Center for the Performing Arts. Perubahan nama ini menjadi
polemik karena melanggar aturan. Direktur
Utama PT Dirgantara Indonesia Gita Amperiawan mengatakan lega bahwa
perusahaan yang ia pimpin tidak melanjutkan kemitraan dengan perusahaan
Srivastava. Sumber-sumber
di bidang pertahanan di Indonesia mengungkapkan bahwa mereka terkejut ketika
penipuan itu terungkap. Empat sumber di Indonesia yang mengenal Srivastava
mengaku mereka awalnya mempercayai klaim Srivastava sebagai anggota CIA,
meskipun juga menemukan banyak kejanggalan saat berinteraksi dengan "Mr.
G". Selain
itu, beberapa rekan bisnis Srivastava menyatakan mereka merasa dimanfaatkan
untuk kepentingan pengusaha tersebut. Yang
masih menjadi misteri adalah sikap Prabowo Subianto dan Hashim
Djojohadikusumo. Pada masa lalu, keduanya terlihat mempercayai berbagai klaim
Srivastava. Hingga artikel ini terbit, Tempo belum menerima tanggapan dari
keduanya. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/prabowo-hashim-gaurav-srivastava-2272108 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar