|
Kembara Kata-kata, Dunia Sastra
Asrul Sani Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Kekuatan karya Asrul Sani terletak pada
kemampuannya menjembatani gagasan besar dengan realitas sehari-hari. · Sebelum tersohor sebagai penulis
skenario serta sutradara film dan teater, Asrul Sani dikenal sebagai penyair
Angkatan 45. · Menerjemahkan banyak mahakarya sastra
dunia dan drama dengan sentuhan lokal Indonesia. DUA hari
berturut-turut, pada 19-20 Desember 2025, Jose Rizal Manua mementaskan karya
dramawan Asrul Sani. Kali ini ia menggarap Nabila, adaptasi A Doll's House
karya Henrik Ibsen yang ditulis Asrul pada 1987. Pementasan
tersebut ia produksi bersama Sanggar Pelakon yang dipimpin Mutiara Sarumpaet,
istri Asrul. Meski ditulis Asrul hampir empat dekade lalu, Nabila belum
pernah dimainkan. “Baru saya yang mementaskannya pertama kali,” kata Jose
saat ditemui di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada
Sabtu, 6 Juni 2026. Bagi
Mutiara, Nabila bersifat personal. Dalam naskah tersebut, Asrul secara khusus
menyiapkan peran utama untuk dia. “Kami bahkan sudah pernah berlatih. Tapi
kemudian almarhum sakit. Jadi semuanya tertunda,” tutur Mutiara saat ditemui
di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat, 5 Juni 2026. Asrul Sani
wafat pada 11 Januari 2004 pada usia 77 tahun. Dua
dekade kemudian, Mutiara memutuskan menghidupkan kembali naskah yang
teronggok lama itu. Menurut Mutiara, Nabila menunjukkan penghormatan Asrul
terhadap perempuan. Karena itu, ia merasa penting memperkenalkan naskah
tersebut kepada generasi baru. Bagi
Jose Rizal, Nabila merupakan naskah ketiga Asrul yang ia pentaskan.
Sebelumnya, ia menyutradarai Mahkamah—salah satu lakon terbaik buatan
Asrul—di TIM pada Maret 2007. Tiga bulan kemudian ia memainkan Abang Thamrin
dari Betawi. Pengalaman itu mengukuhkan keyakinannya akan pentingnya posisi
Asrul dalam sejarah teater Indonesia. Menurut
Jose, kekuatan Asrul terletak pada kemampuannya menjembatani gagasan besar
dengan realitas sehari-hari. Dalam Nabila, misalnya, cerita yang berasal dari
Eropa menjelma menjadi kisah yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat
Indonesia. “Plot bagus dari Ibsen diadaptasi Asrul menjadi sangat Indonesia,
kekinian, dan aktual,” ujar Jose. Maka, saat membawanya ke panggung, Jose
tidak perlu melakukan banyak perubahan agar naskah tetap relevan. ●●● JAUH
sebelum tersohor sebagai penulis skenario, sutradara film, juga pembaru
teater, Asrul Sani lebih dulu dikenal sebagai penyair Angkatan 45. Bersama
Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia menerbitkan antologi puisi Tiga Menguak
Takdir pada 1950, yang kemudian dianggap sebagai salah satu tonggak pembaruan
puisi Indonesia modern. Ketiganya
mendorong puisi Indonesia keluar dari kecenderungan romantisisme lama menuju
ekspresi yang lebih personal, reflektif, dan terbuka terhadap perkembangan
sastra dunia. Dalam
Tanggapan Dunia Asrul Sani terbitan 1967, M.S. Hutagalung menulis bahwa para
sastrawan Angkatan 45 menempatkan kebebasan dan kepribadian sebagai tema
utama, yang dipengaruhi pengalaman penjajahan dan revolusi kemerdekaan. “Yang
menjadi sasaran sorotan tidak terbatas dari pemimpin sampai rakyat gembel.
Demikianlah latar belakang keadaan masyarakat yang mempengaruhi
pandangan-pandangan Asrul Sani dalam karangan-karangannya,” tulis Hutagalung. Menurut
sastrawan Ajip Rosidi dalam pengantar Asrul Sani 70 Tahun terbitan Pustaka
Jaya, minat Asrul terhadap sastra tumbuh sejak muda. Saat kembali ke Jakarta
pada masa pendudukan Jepang dan bersekolah di Taman Dewasa Tamansiswa, pria
yang lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, pada 10 Juni 1926 ini rajin
membaca karya-karya penyair Eropa modern di Perpustakaan Museum Gajah,
Jakarta Pusat. Sajak pertamanya, “Kekasih Prajurit”, dimuat di harian
Pemandangan pada 1943 dan menjadi langkah awal karier kepenulisannya. Di
Tamansiswa, Asrul duduk sebangku dengan Pramoedya Ananta Toer. Pada saat itu
pula ia bergaul dengan sejumlah tokoh muda yang kelak menjadi figur penting
dalam kebudayaan Indonesia, seperti Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel
Simanjuntak, dan Baharuddin M.S. Dari pergaulan dan diskusi-diskusi itulah
lahir ketertarikannya yang lebih luas pada sastra, seni, dan kebudayaan. Selain
menulis puisi, cerita pendek, dan esai, Asrul menjadi redaktur kebudayaan di
sejumlah media, antara lain Siasat, Mimbar Indonesia, dan Gema Suasana.
Bersama Chairil dan Rivai, ia mengelola rubrik Gelanggang di majalah Siasat,
yang kemudian menjadi ruang penting bagi lahirnya gagasan-gagasan kebudayaan
pascakemerdekaan. Perjalanan
intelektual Asrul tampak pula melalui penerjemahan. Bagi dia, menerjemahkan
bukan sekadar mengubah bahasa, melainkan juga memperkenalkan gagasan, nilai,
dan tradisi kesenian dunia kepada pembaca Indonesia. Goenawan
Mohamad memuji produktivitas Asrul yang menerjemahkan banyak karya sastra,
seperti novel dan naskah drama. Menurut sastrawan dan pelukis ini, Asrul
melakukan alih bahasa terutama setelah membentuk Lembaga Seniman dan
Budayawan Muslimin Indonesia atau Lesbumi di bawah Nahdlatul Ulama dan
menghadapi tekanan ideologis menjelang 1965. “Bagi orang seperti Asrul, yang
menulis bukan sekadar sebagai keterampilan teknis, situasi itu tentu tidak
nyaman. Namun setelah itu ia banyak menerjemahkan naskah dan lakon,” kata
Goenawan. “Terjemahannya umumnya bagus." Dari
literatur Eropa, Asrul menghadirkan Laut Membisu terjemahan karya Vercors,
novel tentang perlawanan terhadap pendudukan Nazi Jerman. Bersama Siti
Nuraini, istri dari pernikahan pertamanya, ia pun memunculkan Pangeran Kecil
terjemahan karya Antoine de Saint-Exupéry. Yang tak
kalah penting, Asrul menghadirkan Catatan dari Bawah Tanah karya Fyodor
Dostoevsky, Pintu Tertutup (Jean-Paul Sartre), Julius Caesar (William
Shakespeare), hingga Inspektur Jenderal (Nikolai Gogol). Dia membuka jalan
bagi pembaca Indonesia untuk berkenalan dengan berbagai tradisi sastra dan
teater dunia. Ketertarikannya
pada seni pertunjukan berkembang saat ia memperoleh beasiswa Stichting voor
Culturele Samenwerking atau Sticusa, lembaga kerja sama kebudayaan antara
Indonesia dan Belanda. Di
Amsterdam, pada 1952-1954, dia mempelajari teater modern secara lebih
sistematis dan menyaksikan langsung praktik teater Barat yang sebelumnya
hanya ia kenal lewat buku. Pengalaman tersebut menumbuhkan pemahaman baru
Asrul akan teater sebagai seni yang punya disiplin dan metode tersendiri. Begitu
pulang, Asrul mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) bersama
Usmar Ismail dan Djadoeg Djajakusuma pada 1955. Ia mempertebal ilmunya dengan
memperdalam dramaturgi dan sinematografi di University of Southern
California, Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1955-1957. Di
sinilah kontribusi terbesar Asrul terhadap teater mulai terlihat. Menurut
Jose Rizal Manua, Asrul adalah salah satu tokoh yang memperkenalkan pentas
drama modern dunia ke Indonesia, termasuk teori dan metode akting Konstantin
Stanislavski yang hingga kini menjadi rujukan utama pendidikan seni peran.
“Metode itu belum tergantikan,” ujar Jose. Stanislavski
menuntut aktor menghayati tokoh secara utuh. Richard Boleslavsky
mengembangkan pendekatan serupa melalui sistem pelatihan aktor yang lebih
terstruktur. Lewat ATNI-lah, gagasan-gagasan tersebut mulai dipelajari secara
akademis di Indonesia. Penyair
Esha Tegar Putra punya pandangan serupa. Menurut Esha, kontribusi Asrul Sani
yang kerap luput dari perhatian adalah upayanya di ATNI untuk menghadirkan
model pertunjukan baru melalui pengenalan dan pementasan naskah-naskah drama
dari luar negeri. Suyadi
San, peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas di Badan Riset dan
Inovasi Nasional, menilai kontribusi Asrul dalam dunia teater tertutupi oleh
reputasinya sebagai penyair dan sineas. Lewat
ATNI, Asrul memperkenalkan pelatihan aktor, penyutradaraan, penulisan naskah,
tata artistik, hingga manajemen pertunjukan dalam sistem pendidikan yang
terstruktur. “Dia memperkenalkan tokoh-tokoh dunia dan ajarannya menjadi
kurikulum di akademi teater,” tutur Suyadi. Dari
ATNI pula muncul Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Nano Riantiarno, dan
kawan-kawan yang kemudian membentuk wajah teater dan perfilman Indonesia
modern. Meski ATNI telah tutup, pengaruhnya terus hidup, termasuk melalui
Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kemudian berkembang menjadi Institut
Kesenian Jakarta. Maka, Suyadi melanjutkan, warisan terbesar Asrul bukan
hanya karya-karyanya, melainkan juga sistem dan tradisi pendidikan yang
melintasi generasi. Semua
itu menjelaskan alasan Nabila terus hidup setelah hampir empat dekade.
Menurut Mutiara Sarumpaet, pementasan karya drama itu pada akhir tahun lalu
memunculkan permintaan dari komunitas dan perguruan tinggi di berbagai
daerah. Panggung Nabila bisa menjadi pintu untuk memperkenalkan sang “Elang
Laut”—merujuk pada salah satu puisinya—kepada generasi baru. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/dunia-sastra-asrul-sani-2269011 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar