Jumat, 19 Juni 2026

 

Kembara Kata-kata, Dunia Sastra Asrul Sani

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Kekuatan karya Asrul Sani terletak pada kemampuannya menjembatani gagasan besar dengan realitas sehari-hari.

 

·      Sebelum tersohor sebagai penulis skenario serta sutradara film dan teater, Asrul Sani dikenal sebagai penyair Angkatan 45.

 

·      Menerjemahkan banyak mahakarya sastra dunia dan drama dengan sentuhan lokal Indonesia.

 

DUA hari berturut-turut, pada 19-20 Desember 2025, Jose Rizal Manua mementaskan karya dramawan Asrul Sani. Kali ini ia menggarap Nabila, adaptasi A Doll's House karya Henrik Ibsen yang ditulis Asrul pada 1987.

 

Pementasan tersebut ia produksi bersama Sanggar Pelakon yang dipimpin Mutiara Sarumpaet, istri Asrul. Meski ditulis Asrul hampir empat dekade lalu, Nabila belum pernah dimainkan. “Baru saya yang mementaskannya pertama kali,” kata Jose saat ditemui di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 6 Juni 2026.

 

Bagi Mutiara, Nabila bersifat personal. Dalam naskah tersebut, Asrul secara khusus menyiapkan peran utama untuk dia. “Kami bahkan sudah pernah berlatih. Tapi kemudian almarhum sakit. Jadi semuanya tertunda,” tutur Mutiara saat ditemui di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat, 5 Juni 2026. Asrul Sani wafat pada 11 Januari 2004 pada usia 77 tahun.

 

Dua dekade kemudian, Mutiara memutuskan menghidupkan kembali naskah yang teronggok lama itu. Menurut Mutiara, Nabila menunjukkan penghormatan Asrul terhadap perempuan. Karena itu, ia merasa penting memperkenalkan naskah tersebut kepada generasi baru.

 

Bagi Jose Rizal, Nabila merupakan naskah ketiga Asrul yang ia pentaskan. Sebelumnya, ia menyutradarai Mahkamah—salah satu lakon terbaik buatan Asrul—di TIM pada Maret 2007. Tiga bulan kemudian ia memainkan Abang Thamrin dari Betawi. Pengalaman itu mengukuhkan keyakinannya akan pentingnya posisi Asrul dalam sejarah teater Indonesia.

 

Menurut Jose, kekuatan Asrul terletak pada kemampuannya menjembatani gagasan besar dengan realitas sehari-hari. Dalam Nabila, misalnya, cerita yang berasal dari Eropa menjelma menjadi kisah yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. “Plot bagus dari Ibsen diadaptasi Asrul menjadi sangat Indonesia, kekinian, dan aktual,” ujar Jose. Maka, saat membawanya ke panggung, Jose tidak perlu melakukan banyak perubahan agar naskah tetap relevan.

 

●●●

 

JAUH sebelum tersohor sebagai penulis skenario, sutradara film, juga pembaru teater, Asrul Sani lebih dulu dikenal sebagai penyair Angkatan 45. Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia menerbitkan antologi puisi Tiga Menguak Takdir pada 1950, yang kemudian dianggap sebagai salah satu tonggak pembaruan puisi Indonesia modern.

 

Ketiganya mendorong puisi Indonesia keluar dari kecenderungan romantisisme lama menuju ekspresi yang lebih personal, reflektif, dan terbuka terhadap perkembangan sastra dunia.

 

Dalam Tanggapan Dunia Asrul Sani terbitan 1967, M.S. Hutagalung menulis bahwa para sastrawan Angkatan 45 menempatkan kebebasan dan kepribadian sebagai tema utama, yang dipengaruhi pengalaman penjajahan dan revolusi kemerdekaan. “Yang menjadi sasaran sorotan tidak terbatas dari pemimpin sampai rakyat gembel. Demikianlah latar belakang keadaan masyarakat yang mempengaruhi pandangan-pandangan Asrul Sani dalam karangan-karangannya,” tulis Hutagalung.

 

Menurut sastrawan Ajip Rosidi dalam pengantar Asrul Sani 70 Tahun terbitan Pustaka Jaya, minat Asrul terhadap sastra tumbuh sejak muda. Saat kembali ke Jakarta pada masa pendudukan Jepang dan bersekolah di Taman Dewasa Tamansiswa, pria yang lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, pada 10 Juni 1926 ini rajin membaca karya-karya penyair Eropa modern di Perpustakaan Museum Gajah, Jakarta Pusat. Sajak pertamanya, “Kekasih Prajurit”, dimuat di harian Pemandangan pada 1943 dan menjadi langkah awal karier kepenulisannya.

 

Di Tamansiswa, Asrul duduk sebangku dengan Pramoedya Ananta Toer. Pada saat itu pula ia bergaul dengan sejumlah tokoh muda yang kelak menjadi figur penting dalam kebudayaan Indonesia, seperti Chairil Anwar, Rivai Apin, Cornel Simanjuntak, dan Baharuddin M.S. Dari pergaulan dan diskusi-diskusi itulah lahir ketertarikannya yang lebih luas pada sastra, seni, dan kebudayaan.

 

Selain menulis puisi, cerita pendek, dan esai, Asrul menjadi redaktur kebudayaan di sejumlah media, antara lain Siasat, Mimbar Indonesia, dan Gema Suasana. Bersama Chairil dan Rivai, ia mengelola rubrik Gelanggang di majalah Siasat, yang kemudian menjadi ruang penting bagi lahirnya gagasan-gagasan kebudayaan pascakemerdekaan.

 

Perjalanan intelektual Asrul tampak pula melalui penerjemahan. Bagi dia, menerjemahkan bukan sekadar mengubah bahasa, melainkan juga memperkenalkan gagasan, nilai, dan tradisi kesenian dunia kepada pembaca Indonesia.

 

Goenawan Mohamad memuji produktivitas Asrul yang menerjemahkan banyak karya sastra, seperti novel dan naskah drama. Menurut sastrawan dan pelukis ini, Asrul melakukan alih bahasa terutama setelah membentuk Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia atau Lesbumi di bawah Nahdlatul Ulama dan menghadapi tekanan ideologis menjelang 1965. “Bagi orang seperti Asrul, yang menulis bukan sekadar sebagai keterampilan teknis, situasi itu tentu tidak nyaman. Namun setelah itu ia banyak menerjemahkan naskah dan lakon,” kata Goenawan. “Terjemahannya umumnya bagus."

 

Dari literatur Eropa, Asrul menghadirkan Laut Membisu terjemahan karya Vercors, novel tentang perlawanan terhadap pendudukan Nazi Jerman. Bersama Siti Nuraini, istri dari pernikahan pertamanya, ia pun memunculkan Pangeran Kecil terjemahan karya Antoine de Saint-Exupéry.

 

Yang tak kalah penting, Asrul menghadirkan Catatan dari Bawah Tanah karya Fyodor Dostoevsky, Pintu Tertutup (Jean-Paul Sartre), Julius Caesar (William Shakespeare), hingga Inspektur Jenderal (Nikolai Gogol). Dia membuka jalan bagi pembaca Indonesia untuk berkenalan dengan berbagai tradisi sastra dan teater dunia.

 

Ketertarikannya pada seni pertunjukan berkembang saat ia memperoleh beasiswa Stichting voor Culturele Samenwerking atau Sticusa, lembaga kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Belanda.

 

Di Amsterdam, pada 1952-1954, dia mempelajari teater modern secara lebih sistematis dan menyaksikan langsung praktik teater Barat yang sebelumnya hanya ia kenal lewat buku. Pengalaman tersebut menumbuhkan pemahaman baru Asrul akan teater sebagai seni yang punya disiplin dan metode tersendiri.

 

Begitu pulang, Asrul mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) bersama Usmar Ismail dan Djadoeg Djajakusuma pada 1955. Ia mempertebal ilmunya dengan memperdalam dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1955-1957.

 

Di sinilah kontribusi terbesar Asrul terhadap teater mulai terlihat. Menurut Jose Rizal Manua, Asrul adalah salah satu tokoh yang memperkenalkan pentas drama modern dunia ke Indonesia, termasuk teori dan metode akting Konstantin Stanislavski yang hingga kini menjadi rujukan utama pendidikan seni peran. “Metode itu belum tergantikan,” ujar Jose.

 

Stanislavski menuntut aktor menghayati tokoh secara utuh. Richard Boleslavsky mengembangkan pendekatan serupa melalui sistem pelatihan aktor yang lebih terstruktur. Lewat ATNI-lah, gagasan-gagasan tersebut mulai dipelajari secara akademis di Indonesia.

 

Penyair Esha Tegar Putra punya pandangan serupa. Menurut Esha, kontribusi Asrul Sani yang kerap luput dari perhatian adalah upayanya di ATNI untuk menghadirkan model pertunjukan baru melalui pengenalan dan pementasan naskah-naskah drama dari luar negeri.

 

Suyadi San, peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas di Badan Riset dan Inovasi Nasional, menilai kontribusi Asrul dalam dunia teater tertutupi oleh reputasinya sebagai penyair dan sineas.

 

Lewat ATNI, Asrul memperkenalkan pelatihan aktor, penyutradaraan, penulisan naskah, tata artistik, hingga manajemen pertunjukan dalam sistem pendidikan yang terstruktur. “Dia memperkenalkan tokoh-tokoh dunia dan ajarannya menjadi kurikulum di akademi teater,” tutur Suyadi.

 

Dari ATNI pula muncul Teguh Karya, Slamet Rahardjo, Nano Riantiarno, dan kawan-kawan yang kemudian membentuk wajah teater dan perfilman Indonesia modern. Meski ATNI telah tutup, pengaruhnya terus hidup, termasuk melalui Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kemudian berkembang menjadi Institut Kesenian Jakarta. Maka, Suyadi melanjutkan, warisan terbesar Asrul bukan hanya karya-karyanya, melainkan juga sistem dan tradisi pendidikan yang melintasi generasi.

 

Semua itu menjelaskan alasan Nabila terus hidup setelah hampir empat dekade. Menurut Mutiara Sarumpaet, pementasan karya drama itu pada akhir tahun lalu memunculkan permintaan dari komunitas dan perguruan tinggi di berbagai daerah. Panggung Nabila bisa menjadi pintu untuk memperkenalkan sang “Elang Laut”—merujuk pada salah satu puisinya—kepada generasi baru. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/arsip/dunia-sastra-asrul-sani-2269011

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar