|
Tiga Versi Tahun Kelahiran Asrul
Sani Reza Maulana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Tanggal 10 Juni merupakan hari
kelahiran sastrawan dan seniman besar Asrul Sani. · Ada tiga keterangan yang menyebutkan
tahun kelahirannya, yaitu 1925, 1926, dan 1927. · Terlepas dari perbedaan versi tahun
kelahirannya, Tempo menyajikan laporan panjang tentang pujangga Angkatan 45
yang juga melahirkan sederet film legendaris ini. SATU
angka bisa menjadi urusan yang panjang. Tempo menyajikan laporan panjang soal
Asrul Sani sebagai bagian dari peringatan hari kelahiran sastrawan dan sineas
besar itu pada 10 Juni. Namun, sepanjang dua pekan mengumpulkan bahan,
mewawancarai banyak narasumber, dan membaca setumpuk penerbitan, ada satu
angka yang tak cocok: tahun kelahiran. Ada tiga
versi tahun kelahiran pujangga Angkatan 45 ini. Yang paling banyak tercatat
adalah 1926. Dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Wikipedia Bahasa
Indonesia, sampai ekonom Chatib Basri—keponakan seniman asal Pasaman,
Sumatera Barat, itu—semua menyampaikan keterangan bahwa Asrul lahir pada 10
Juni 1926. Menurut versi ini, hari-hari sekarang pas betul untuk dirayakan
sebagai “Satu Abad Asrul Sani”. Versi
kedua adalah 1925. Angka ini mengemuka dalam pameran “Jejak Langkah Asrul
Sani” yang berlangsung di Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka
Selatan, Jakarta Pusat, hingga 17 Juni 2026. Maka temanya merayakan “Seabad
Setahun Asrul Sani”. Angka ini berasal dari keterangan keluarga. Mutiara
Sarumpaet, istri Asrul, mendapat informasi mengenai tahun kelahiran sang
maestro dari kakak iparnya. Versi
ketiga menyatakan sutradara film dan penulis skenario legendaris ini lahir
pada 1927. Kepada wartawan Tempo, Aisha Shaidra, Syauki Sani (anak Asrul),
menyebutkan angka itu berdasarkan kartu tanda penduduk ayahnya. Keterangan
senada ditemukan dalam catatan Ajip Rosidi, sahabat sekaligus pengumpul
karya-karya Asrul. Dalam buku 70 Tahun Asrul Sani terbitan 1997, Ajip
menuliskan, saat mendaftar sekolah, Asrul dianggap terlalu muda. Agar
diterima masuk, dia dinyatakan orang tuanya lahir pada 1926. Sejatinya,
perbedaan angka tahun kelahiran banyak dialami generasi terdahulu. Ada yang
memang lupa—saat itu sebagian besar orang tidak memegang akta kelahiran—ada
juga yang sengaja mengubahnya untuk urusan administrasi. Masalahnya,
tulisan jurnalistik membutuhkan angka pasti. Tentu saja, kami tidak bisa
menuliskan “Asrul Sani lahir pada 10 Juni antara 1925 dan 1927”. Menjelang
tenggat, diskusi yang berlangsung di desk kami adalah menentukan tahun
kelahiran itu. Akhirnya
kami memutuskan menggunakan 1927. Selain keterangan keluarga dan sahabat,
pemilihan angka ini didasarkan pada wawancara khusus majalah Tempo dengan
Asrul Sani dalam edisi 14 November 1999—lima tahun sebelum dia berpulang pada
11 Januari 2004. Kami
sempat hendak menyematkan tema “99 Tahun Asrul Sani”, menggantikan ide awal
“100 Tahun Asrul Sani”. Niat itu kami urungkan untuk menghormati keyakinan
keluarga mendiang. Kami
berharap ketiadaan tagline yang menyebutkan tahun tidak mengurangi keasyikan
pembaca menikmati laporan panjang berikut ini. Untuk
mendapat gambaran lebih menyeluruh tentang kiprah Asrul Sani dalam membentuk
sastra dan sinema Indonesia, Anda bisa membaca kolom “Asrul Sani: Sang
Modernis Totok” dari Hikmat Darmawan dan “Warisan Arsitek Jiwa Asrul Sani
dalam Film Indonesia” dari Fauzan Zidni. Selamat
merayakan hari lahir sang Pujangga. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-asrul-sani-2269177 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar