Jumat, 19 Juni 2026

 

Tiga Versi Tahun Kelahiran Asrul Sani

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Tanggal 10 Juni merupakan hari kelahiran sastrawan dan seniman besar Asrul Sani.

 

·      Ada tiga keterangan yang menyebutkan tahun kelahirannya, yaitu 1925, 1926, dan 1927.

 

·      Terlepas dari perbedaan versi tahun kelahirannya, Tempo menyajikan laporan panjang tentang pujangga Angkatan 45 yang juga melahirkan sederet film legendaris ini.

 

SATU angka bisa menjadi urusan yang panjang. Tempo menyajikan laporan panjang soal Asrul Sani sebagai bagian dari peringatan hari kelahiran sastrawan dan sineas besar itu pada 10 Juni. Namun, sepanjang dua pekan mengumpulkan bahan, mewawancarai banyak narasumber, dan membaca setumpuk penerbitan, ada satu angka yang tak cocok: tahun kelahiran.

 

Ada tiga versi tahun kelahiran pujangga Angkatan 45 ini. Yang paling banyak tercatat adalah 1926. Dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Wikipedia Bahasa Indonesia, sampai ekonom Chatib Basri—keponakan seniman asal Pasaman, Sumatera Barat, itu—semua menyampaikan keterangan bahwa Asrul lahir pada 10 Juni 1926. Menurut versi ini, hari-hari sekarang pas betul untuk dirayakan sebagai “Satu Abad Asrul Sani”.

 

Versi kedua adalah 1925. Angka ini mengemuka dalam pameran “Jejak Langkah Asrul Sani” yang berlangsung di Perpustakaan Nasional di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, hingga 17 Juni 2026. Maka temanya merayakan “Seabad Setahun Asrul Sani”. Angka ini berasal dari keterangan keluarga. Mutiara Sarumpaet, istri Asrul, mendapat informasi mengenai tahun kelahiran sang maestro dari kakak iparnya.

 

Versi ketiga menyatakan sutradara film dan penulis skenario legendaris ini lahir pada 1927. Kepada wartawan Tempo, Aisha Shaidra, Syauki Sani (anak Asrul), menyebutkan angka itu berdasarkan kartu tanda penduduk ayahnya.

 

Keterangan senada ditemukan dalam catatan Ajip Rosidi, sahabat sekaligus pengumpul karya-karya Asrul. Dalam buku 70 Tahun Asrul Sani terbitan 1997, Ajip menuliskan, saat mendaftar sekolah, Asrul dianggap terlalu muda. Agar diterima masuk, dia dinyatakan orang tuanya lahir pada 1926.

 

Sejatinya, perbedaan angka tahun kelahiran banyak dialami generasi terdahulu. Ada yang memang lupa—saat itu sebagian besar orang tidak memegang akta kelahiran—ada juga yang sengaja mengubahnya untuk urusan administrasi.

 

Masalahnya, tulisan jurnalistik membutuhkan angka pasti. Tentu saja, kami tidak bisa menuliskan “Asrul Sani lahir pada 10 Juni antara 1925 dan 1927”. Menjelang tenggat, diskusi yang berlangsung di desk kami adalah menentukan tahun kelahiran itu.

 

Akhirnya kami memutuskan menggunakan 1927. Selain keterangan keluarga dan sahabat, pemilihan angka ini didasarkan pada wawancara khusus majalah Tempo dengan Asrul Sani dalam edisi 14 November 1999—lima tahun sebelum dia berpulang pada 11 Januari 2004.

 

Kami sempat hendak menyematkan tema “99 Tahun Asrul Sani”, menggantikan ide awal “100 Tahun Asrul Sani”. Niat itu kami urungkan untuk menghormati keyakinan keluarga mendiang.

 

Kami berharap ketiadaan tagline yang menyebutkan tahun tidak mengurangi keasyikan pembaca menikmati laporan panjang berikut ini.

 

Untuk mendapat gambaran lebih menyeluruh tentang kiprah Asrul Sani dalam membentuk sastra dan sinema Indonesia, Anda bisa membaca kolom “Asrul Sani: Sang Modernis Totok” dari Hikmat Darmawan dan “Warisan Arsitek Jiwa Asrul Sani dalam Film Indonesia” dari Fauzan Zidni.

 

Selamat merayakan hari lahir sang Pujangga. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-asrul-sani-2269177

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar