Senin, 29 Juni 2026

 

Siapa Berdusta dalam Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa-Bali

Praga Utama :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  28 Juni 2026

 

 

 

·      Menteri Energi Bahlil Lahadalia sempat membantah kabar bahwa pemadaman listrik disebabkan oleh seretnya pasokan batu bara.

 

·      Pemadaman listrik bergilir di Jawa dan Bali juga dipicu kerusakan sejumlah pembangkit listrik.

 

·      Kebijakan RKAB dan DMO menjadi pangkal seretnya pasokan batu bara ke pembangkit listrik.

 

RAPAT umum pemegang saham (RUPS) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) pada Kamis malam, 18 Juni 2026, menetapkan perubahan pada tujuh posisi direktur. Dalam rapat di kantor Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara itu, pemegang saham PLN juga sepakat menambah pos baru, yaitu wakil direktur utama yang dijabat Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN Yusuf Didi Setiarto. Satu yang tak diganti: Darmawan Prasodjo sebagai direktur utama.

 

Executive Vice President Komunikasi Korporat PLN Gregorius Adi Trianto menyatakan perombakan direksi tersebut merupakan bagian dari penguatan tata kelola perusahaan. “Serta untuk mendukung keberlanjutan transformasi PLN,” ujarnya seusai rapat.

 

Yang jelas, beberapa hari sebelum rapat pemegang saham, beredar daftar anggota direksi PLN yang berisi sejumlah nama baru. Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria sempat membantah keberadaan daftar nama yang beredar itu. “Kan, belum RUPS,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin, 8 Juni 2026.

 

Seusai RUPS, ada beberapa kesamaan dan perbedaan pada sejumlah nama dan jabatan direktur.

 

Kabar pergantian direksi PLN berembus setelah sejumlah daerah terkena pemadaman listrik bergilir pada pekan pertama hingga ketiga Juni 2026. Sebagai contoh, pada Selasa, 9 Juni 2026, tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Wonogiri, Sukoharjo, dan Karanganyar, mengalami pemadaman listrik selama tiga jam.

 

Di Jawa Timur, pemadaman listrik melanda sebagian wilayah Gresik dan Kabupaten Malang. Sedangkan di Jawa Barat, sejumlah wilayah di Bekasi, Bogor, dan Depok mati listrik beberapa hari.

 

Pemadaman listrik memicu keresahan masyarakat. Di media sosial, banyak warganet yang mengeluh. Dalam sejumlah percakapan virtual juga muncul isu bahwa pemadaman ini dipicu kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap.

 

Kepada Tempo, dua pejabat mengatakan mati lampu ini membuat pemerintah hendak mencopot Darmawan Prasodjo dari kursi Direktur Utama PLN. Usulan pencopotan Darmawan datang dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

 

Rupanya, menurut dua pejabat tersebut, Bahlil jengkel kepada Darmawan karena ia tidak transparan mengenai penyebab pemadaman listrik bergilir. “Tapi, 30 menit sebelum RUPS, perwakilan Istana menelepon, memerintahkan Darmo tak dicopot,” tutur pejabat itu.

 

Ketika ditemui di Jakarta Pusat pada Kamis, 25 Juni 2026, Bahlil tak menjawab pertanyaan Tempo tentang usulan pencopotan Darmawan. Kementerian Energi pun tidak merespons surat yang dilayangkan Tempo pada Rabu, 24 Juni.

 

Tempo juga meminta konfirmasi kepada Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai dugaan intervensi Istana dalam RUPS PLN, tapi mereka tidak menjawab.

 

Sebelumnya, pada Kamis, 11 Juni 2026, Menteri Bahlil menyatakan pemadaman listrik disebabkan oleh masalah pada pembangkit listrik. Ketika itu Bahlil membantah kabar bahwa masalah ini dipicu kelangkaan batu bara. “Penugasan sudah 170 juta ton,” katanya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

 

Pernyataan itu ia sampaikan setelah dipanggil Presiden Prabowo Subianto untuk membahas ketahanan energi dan percepatan pengembangan sumber energi alternatif. Setelah dipanggil Presiden, Bahlil sempat mengadakan rapat dengan direksi PLN sekitar lima jam.

 

Empat hari kemudian, dalam rapat kerja bersama Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi urusan energi, Bahlil mengungkapkan bahwa pemadaman listrik terjadi karena pembangkit listrik PLN kekurangan stok batu bara dengan kalori medium.

 

Pemicunya, kata Bahlil, selisih harga yang lebar antara harga jual batu bara untuk kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO) US$ 70 per ton dan harga ekspor US$ 120-130 per ton. Selisih harga ini membuat penambang batu bara emoh menjual produknya ke PLN. “Itu yang menjadi trouble,” ujar Bahlil.

 

Dalam rapat itu, Bahlil menyatakan kebutuhan batu bara PLN sebesar 154 juta ton per tahun. Pemerintah pun menetapkan DMO 190 juta ton. Tapi realisasinya kontrak pengadaan batu bara oleh PLN hanya mencakup 134 juta ton. “Artinya, kurang 20 juta ton yang belum dikontrakkan,” tutur Bahlil.

 

Kekurangan itu, menurut Bahlil, telah ia sampaikan kepada Presiden dalam rapat terbatas pada Ahad, 14 Juni 2026. Dalam rapat itu, Presiden Prabowo meminta Bahlil mengawasi pasokan energi primer pembangkit listrik, seperti batu bara, agar pemadaman listrik tak berkepanjangan.

 

Karena itu, Kementerian Energi membentuk tim pengadaan batu bara berkalori sedang, yang beranggotakan anggota direksi PLN, Inspektur Jenderal Kementerian Energi, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi, serta anggota Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. “Supaya tidak ada dusta di antara kita,” ujar Bahlil, berseloroh.

 

Di sisi lain, dalam konferensi pers pada Jumat, 19 Juni 2026, Darmawan Prasodjo menyatakan berupaya mempercepat penyelesaian kontrak dan pengaturan logistik dengan sejumlah perusahaan batu bara yang mendapat penugasan DMO. “Agar pasokan batu bara yang tersedia bisa segera masuk ke rantai pasok pembangkit,” katanya.

 

●●●

 

DUA bulan sebelum pemadaman listrik wilayah Jawa-Bali, Perusahaan Listrik Negara memberi sinyal adanya krisis pasokan batu bara. Dalam pemaparan di hadapan anggota Komisi XII DPR pada 13 April 2026, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan stok batu bara nasional untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) terjaga di level 15,9 hari operasi pembangkit (HOP).

 

Menurut dia, saat itu HOP masih dalam batas aman. Namun ia mengisyaratkan permintaan agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membantu menambah stok batu bara. “Kami mengapresiasi dukungan Kementerian ESDM agar tren HOP batu bara terus meningkat dalam rangka memperkuat keandalan pasokan listrik nasional,” tuturnya.

 

Mengacu pada paparan Darmawan, HOP pembangkit listrik di sejumlah daerah berada di bawah batas aman. Rinciannya, HOP wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mencapai 14,6 hari, Sulawesi 13,1 hari, dan Jawa-Madura-Bali 10,3 hari. Berdasarkan standar pemerintah dan PLN, batas ideal HOP PLTU berbahan bakar batu bara adalah 25 hari, batas aman 15 hari, dan batas kritis 10 hari.

 

Namun, menurut seorang pejabat di sektor energi, permintaan PLN kepada Kementerian Energi untuk membantu menambah pasokan batu bara tak terpenuhi. Menurut dia, PLN mengirim surat kepada Kementerian Energi lebih dari 20 kali. “Tapi tidak mendapatkan tanggapan,” katanya.

 

Akibatnya, pasokan batu bara untuk pembangkit listrik terus menipis dan pemadaman listrik bergilir di Jawa-Bali tak terhindarkan. Tempo berupaya meminta konfirmasi atas informasi tersebut, tapi Kementerian Energi tak menanggapi.

 

Adapun Executive Vice President Komunikasi Korporat PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan pemadaman listrik bergilir disebabkan oleh berkurangnya daya akibat kendala operasional pada sejumlah pembangkit listrik berkapasitas besar dalam sistem kelistrikan Jawa.

 

Menurut dia, ketika gangguan pada pembangkit itu terjadi, PLN melakukan manajemen beban pada sejumlah wilayah sambil mempercepat pemulihan pembangkit listrik. “Kami juga memperkuat pasokan energi primer, khususnya batu bara, sesuai dengan spesifikasi kebutuhan pembangkit,” ujarnya pada Jumat, 26 Juni 2026.

 

Menurut informasi yang dikumpulkan Tempo dari sejumlah pelaku industri energi dan pejabat pemerintahan, awal mula pemadaman bergilir dipicu kerusakan pada saluran gas di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1 berkapasitas 1.760 megawatt di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, pada awal Juni 2026.

 

Di tengah upaya pemulihan operasi PLTGU Jawa-1, PLN meminta operator PLTU Cilacap 4 di Jawa Tengah berkapasitas 1.000 megawatt untuk mengoptimalkan pasokan. Namun pembangkit listrik ini mengalami kendala pada komponen boiler atau bejana penghasil uap yang memutar turbin generator. Pembangkit listrik lain yang disiapkan untuk melapis pasokan, yakni PLTU Cirebon di Jawa Barat, mengalami masalah serupa.

 

Menurut mantan Komisaris PLN, Mohamad Ikhsan, kerusakan komponen PLTU adalah persoalan berulang karena spesifikasi batu bara yang tidak cocok. Menurut dia, kebanyakan mesin pembangkit listrik yang beroperasi di Indonesia membutuhkan batu bara berkalori menengah atau medium-rank coal. “Tapi pasokan batu bara dengan spesifikasi itu sedikit sehingga banyak pembangkit menggunakan batu bara berkalori rendah,” tuturnya pada Selasa, 23 Juni 2026. Ketidaksesuaian spesifikasi ini juga membuat daya listrik yang dihasilkan tak optimal.

 

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum Singgih Widagdo sepakat dengan pernyataan Ikhsan. Menurut dia, saat ini kebanyakan cadangan batu bara Indonesia berkalori rendah. Dari total cadangan 31,9 miliar ton, sebanyak 24,05 miliar ton adalah batu bara berkalori rendah. Sedangkan cadangan batu bara berkalori menengah hanya 4,5 miliar ton dan cadangan batu bara berkalori tinggi 3,35 miliar ton.

 

Ihwal tipisnya stok batu bara PLN, Singgih mengatakan penyebabnya adalah kebijakan pemangkasan target produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan tambang tahun 2026.

 

Pada awal tahun ini, Menteri Energi Bahlil Lahadalia memangkas target produksi batu bara nasional dari sekitar 800 juta ton tahun lalu menjadi 600 juta ton. Bahlil beralasan produksi dipangkas demi mendongkrak harga batu bara internasional ketika pasar mengalami kelebihan pasokan.

 

Alasan itu, menurut Singgih, tidak tepat. Sebab, pasar batu bara Indonesia sangat bergantung pada Cina dan India. Dua negara itu sebetulnya memiliki cadangan batu bara yang jauh lebih banyak dari Indonesia.

 

Karena itu, Singgih menambahkan, siasat menaikkan harga melalui pemangkasan produksi berisiko sia-sia karena Cina dan India tidak akan menerima harga yang terlalu tinggi demi menjaga daya saing industri manufaktur mereka.

 

Di satu sisi, Singgih menyoroti terlambatnya persetujuan RKAB 2026 sehingga menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Di sisi lain, PLN juga terlambat melaksanakan kontrak pengadaan batu bara.

 

Hingga akhir Maret 2026, persetujuan produksi baru mencapai 580 juta ton dari target 600 juta ton. Kondisi ini, menurut Singgih, diperparah kebijakan pemerintah yang mengubah masa berlaku RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun.

 

“Ketidakpastian ini membuat perusahaan tambang, kontraktor jasa pertambangan, hingga bank mengalami kesulitan dalam perhitungan bisnis dan pembiayaan,” kata Singgih. “Ketika perusahaan meributkan kepastian RKAB, biaya produksi justru melonjak tajam akibat kenaikan harga energi setelah terjadi ketegangan Amerika Serikat-Iran,” dia menambahkan.

 

Masalah lain yang mengganjal pasokan batu bara PLN adalah kebijakan domestic market obligation batu bara yang sudah delapan tahun tidak direvisi. Dengan harga US$ 70 per ton untuk batu bara berkalori tinggi dan US$ 44 per ton untuk batu bara berkalori menengah, banyak pemasok merasa terbebani dan enggan memenuhi kewajiban itu. “Bagi sebagian perusahaan, harga tersebut hanya cukup untuk menutup biaya produksi atau bahkan merugikan,” tutur Singgih. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/pejabat-pemicu-pemadaman-listrik-2272053

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar