Jumat, 19 Juni 2026

 

Jejak dan Pengaruh Luas Asrul Sani dalam Film Indonesia

Aisha Shaidra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN,  14 April 2026

 

 

 

·      Asrul Sani, yang lahir pada 11 Juni 1927, bisa membuat film yang menghibur banyak orang tanpa kehilangan gagasan.

 

·      Tak semata menjadi praktisi, Asrul Sani membangun infrastruktur kelembagaan sinema.

 

·      Asrul bisa menggunakan film untuk membahas dinamika keluarga, ketimpangan sosial, hingga gegar budaya.

 

AWAL 2000-an, saat industri film nasional baru menggeliat bangun dari mati suri, Deddy Mizwar menghubungi Asrul Sani. Asrul, sastrawan Angkatan 45 dan salah satu pilar berdirinya industri perfilman nasional, lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, pada 11 Juni 1927. Ketika panggilan itu datang, dia berusia sekitar 70 tahun dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena sakit.

 

Deddy meminta Asrul menulis skenario lanjutan untuk kisah Nagabonar. Film komedi situasi berlatar perang kemerdekaan itu sukses besar dan mendominasi penghargaan Festival Film Indonesia 1987, termasuk dalam kategori film terbaik, pemeran utama pria oleh Deddy Mizwar, dan penulis skenario terbaik oleh Asrul Sani. “Untuk meneruskan cerita kehidupan Nagabonar setelah perang kemerdekaan,” ujar Deddy kepada Tempo pada Kamis, 11 Juni 2026.

 

Jawaban yang Deddy terima di luar dugaan. Asrul meminta Deddy menuliskan ide-ide pokok cerita. "Nanti saya buat plotnya,” kata Deddy menirukan jawaban Asrul.

 

Bagi Deddy, respons itu di luar kebiasaan sang maestro yang dianggap tahu segalanya dan tidak pernah meminta arahan dari siapa pun. Asrul juga meminta Deddy menunggu karena ia tengah merampungkan penulisan buku biografi seseorang.

 

Konon, Asrul sempat menulis skenario lanjutan Nagabonar. Sayangnya, sebelum proyek itu terwujud, pada 11 Januari 2004, Asrul berpulang. Dokumen yang ditulisnya tidak pernah ditemukan. Akhirnya Deddy menggarap Nagabonar Jadi 2 pada 2007 dengan skenario yang ditulis Musfar Yasin dengan mempertahankan nuansa cerita film pertama.

 

Sepanjang lima dekade berkarier, Deddy belum pernah diarahkan Asrul Sani sebagai sutradara. Namun ia sempat membintangi sejumlah film yang skenarionya digarap Asrul, yaitu Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap pada 1986, Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), serta Nada dan Dakwah (1991). “Selain detail yang sangat kuat, deskripsinya sangat jelas sehingga karakter-karakternya terasa hidup. Bahkan saya jadi bisa mengenali bahwa itu skenario yang ditulis Asrul,” tutur Wakil Gubernur Jawa Barat 2013-2018 ini.

 

Deddy mencontohkan cara Asrul membuat karakter terbaca hanya dari penggambaran ruangan tempat ia berada. “Dia sangat detail menggambarkan seperti apa properti yang ada, gelas apa yang dipakai, bagaimana tata ruangnya. Semua itu membantu menunjukkan siapa tokoh tersebut,” katanya.

 

Kekuatan detail pada cerita Asrul juga yang menumbuhkan mimpi seorang bocah di Medan pada 1986. Joko Anwar kecil terkesima saat menonton Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap di bioskop. Saking kuat ceritanya, banyak dialog garapan Asrul atau kalimat-kalimat dalam film tersebut yang menempel di kepala Joko sampai ia dewasa dan menjadi sutradara besar.

 

Di mata Joko, Asrul merupakan sineas langka yang mampu menyatukan tiga unsur mendasar sinema: karakter, konflik, dan tema. “Banyak film punya cerita menarik, tapi karakternya lemah. Ada yang punya gagasan besar, tapi gagal membangun konflik yang meyakinkan," tutur Joko kepada Tempo. "Dalam karyanya, Asrul bisa menghadirkan tiga unsur itu secara padu,” dia menambahkan.

 

Ketajaman naskah Asrul dirasakan betul oleh John H. McGlynn, penerjemah dan editor berkebangsaan Amerika Serikat yang sering menerjemahkan sulih teks filmnya. Menurut dia, detail dalam skenario kerap membantu penerjemahan. Sebab, pada masa itu seorang penerjemah bahkan tidak bisa menonton film yang ia terjemahkan.

 

Namun, hanya dari naskah, McGlynn bisa menangkap kegelisahan Asrul yang mendalam. “Dia punya pandangan sedikit sinis terhadap pembangunan. Ada kegelisahan terhadap arah perjalanan bangsa setelah kemerdekaan,” ujarnya.

 

Asrul memang menyukai cerita sejarah, tapi menghindari penokohan pahlawan yang sempurna. Dalam Nagabonar, misalnya. lakon utama adalah mantan copet pengidap malaria dan buta huruf. Bahkan, menurut Deddy Mizwar, Asrul pernah mengajukan komplain saat mendapati karakter ciptaannya itu diperankan olehnya. “Di kepala Asrul, Nagabonar itu jelek dan pendek. Ia ingin katana yang dibawa Nagabonar menyentuh tanah. Sedangkan saya terlalu tinggi,” tuturnya.

 

Asrul, Deddy melanjutkan, menciptakan karakter yang mengundang tafsir dan membuat penonton berpikir. Dalam Lewat Djam Malam, Asrul memperlihatkan luka-luka yang ditinggalkan perang dan kekecewaan para pejuang setelah kemerdekaan. Ia tertarik pada sisi manusiawi sejarah sehingga tak mencari tokoh tanpa cacat.

 

Saat film komedi Indonesia pada 1980-an didominasi lelucon fisik atau slapstick, Asrul mendobrak pasar lewat komedi satire seperti Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap dan Bintang Kejora pada 1986. Bambang Bujono, kritikus seni yang saat itu bekerja sebagai jurnalis Tempo, mengungkapkan bahwa kerja sama Asrul dengan sutradara Chaerul Umam sukses menyodorkan komedi yang berbeda. Bagi Asrul, humor bukanlah tujuan akhir, melainkan media untuk membicarakan dinamika keluarga, ketimpangan sosial, gegar budaya, hingga kemunafikan.

 

Joko Anwar menganggap warisan ini sebagai pelajaran terpenting yang ia tangkap dari Asrul Sani. “Dia bisa membuat film yang menghibur banyak orang tanpa kehilangan gagasan. Film dapat populer sekaligus bicara soal persoalan-persoalan penting,” katanya. Menurut Joko, ini prinsip yang kini sering luput ketika industri film terlalu sibuk mengejar tren pasar.

 

Dedikasi Asrul sebagai sineas tecermin dari produktivitasnya. Asrul terlibat dalam sedikitnya 52 produksi film, yang selusin di antaranya ia sutradarai sendiri, termasuk Pagar Kawat Berduri pada 1961 dan Apa jang Kau Tjari, Palupi? pada 1969.

 

Di luar layar lebar, Asrul menulis cerita untuk sekitar 22 lakon di televisi dan menyutradarai tujuh pementasan teater, yaitu Burung Camar karya Anton Chekhov, Pintu Tertutup (Jean-Paul Sartre), Montserrat (Emmanuel Robles), Mahkamah (Asrul Sani), Abang Thamrin dari Betawi (Asrul Sani), Yerma (Federico García Lorca), dan Caligula (Albert Camus).

 

Lebih dari semata praktisi, Asrul adalah pemikir yang melembagakan industri sinema. Bersama Usmar Ismail dan Misbach Yusa Biran, dia membentuk Karyawan Film dan Televisi (KFT) dan turut melahirkan Institut Kesenian Jakarta yang sebelumnya bernama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Ia menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada 1976-1979, masuk Dewan Film Nasional (1980-1981), dan menerbitkan dokumen Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional serta Kode Etik Produksi Film Nasional.

 

Napas kesenian itu menjadi memori yang melekat bagi anak-anaknya. Anya Robertson atau Safira Annur Sani, putri kedua dari pernikahannya dengan Siti Nuraini Yatim, mengingat pengalamannya diajak menyaksikan sang ayah menyutradarai pentas teater dan film.

 

“Ketika libur sekolah atau ada waktu luang, kami kerap diajak ke tempat latihan teater, ke lokasi syuting, ke tempat ia bekerja, atau menonton pertunjukkan bersama,” tutur Anya. Bahkan, jika proses syuting memakan waktu lama hingga tengah malam, mereka biasa menumpang tidur di rumah karib sang ayah. “Jadi sejak kecil kami terbiasa berada di lingkungan seperti itu,” dia menambahkan.

 

Dari sekian banyak kesibukan dan dunia kesenian yang digeluti ayahnya, Anya mengingat ayahnya sebagai seorang pemikir. “Dia tidak pernah berhenti berpikir. Selalu ada ide baru. Matanya selalu hidup, seolah-olah pikirannya berjalan ke mana-mana,” ujarnya.

 

Memori serupa diingat Meezan Khalil Gibran Sani, putra ketiga Asrul dari pernikahannya dengan Mutiara Sarumpaet. Sebagai anak bontot, Gibran nyaris tak punya memori ayahnya sebagai penyair ataupun pemikir kebudayaan. Namun ia cukup sering ikut ayahnya ke lokasi syuting dan diperkenalkan pada sejumlah film. “Ayah selalu ngajarin saya, apa pun yang tampil di layar itu hanya film. Itu karya seni, jadi harus diperlakukan sebagai karya seni. Bukan untuk ditakuti,” kata Gibran.

 

Warisan pemikiran, kedisiplinan estetika, dan ketajaman naskah yang ditinggalkan Asrul kini menjadi batu penjuru bagi generasi penerus sinema Indonesia. Menatap seluruh rekam jejak panjang tersebut, Deddy Mizwar hanya bisa takzim. “Perjalanan Asrul Sani ini menarik. Semuanya lahir dari pemikiran yang cemerlang. Pemikiran yang selalu melihat ke depan,” tuturnya. ●

                                                                                         

Sumber : https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-asrul-sani-film-indonesia-2269000

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar