|
Jejak dan Pengaruh Luas Asrul Sani
dalam Film Indonesia Aisha Shaidra : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 14 April 2026
|
· Asrul Sani, yang lahir pada 11 Juni
1927, bisa membuat film yang menghibur banyak orang tanpa kehilangan gagasan. · Tak semata menjadi praktisi, Asrul Sani
membangun infrastruktur kelembagaan sinema. · Asrul bisa menggunakan film untuk
membahas dinamika keluarga, ketimpangan sosial, hingga gegar budaya. AWAL
2000-an, saat industri film nasional baru menggeliat bangun dari mati suri,
Deddy Mizwar menghubungi Asrul Sani. Asrul, sastrawan Angkatan 45 dan salah
satu pilar berdirinya industri perfilman nasional, lahir di Rao, Pasaman,
Sumatera Barat, pada 11 Juni 1927. Ketika panggilan itu datang, dia berusia
sekitar 70 tahun dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena sakit. Deddy
meminta Asrul menulis skenario lanjutan untuk kisah Nagabonar. Film komedi
situasi berlatar perang kemerdekaan itu sukses besar dan mendominasi
penghargaan Festival Film Indonesia 1987, termasuk dalam kategori film
terbaik, pemeran utama pria oleh Deddy Mizwar, dan penulis skenario terbaik
oleh Asrul Sani. “Untuk meneruskan cerita kehidupan Nagabonar setelah perang
kemerdekaan,” ujar Deddy kepada Tempo pada Kamis, 11 Juni 2026. Jawaban
yang Deddy terima di luar dugaan. Asrul meminta Deddy menuliskan ide-ide
pokok cerita. "Nanti saya buat plotnya,” kata Deddy menirukan jawaban
Asrul. Bagi
Deddy, respons itu di luar kebiasaan sang maestro yang dianggap tahu
segalanya dan tidak pernah meminta arahan dari siapa pun. Asrul juga meminta
Deddy menunggu karena ia tengah merampungkan penulisan buku biografi
seseorang. Konon,
Asrul sempat menulis skenario lanjutan Nagabonar. Sayangnya, sebelum proyek
itu terwujud, pada 11 Januari 2004, Asrul berpulang. Dokumen yang ditulisnya
tidak pernah ditemukan. Akhirnya Deddy menggarap Nagabonar Jadi 2 pada 2007
dengan skenario yang ditulis Musfar Yasin dengan mempertahankan nuansa cerita
film pertama. Sepanjang
lima dekade berkarier, Deddy belum pernah diarahkan Asrul Sani sebagai
sutradara. Namun ia sempat membintangi sejumlah film yang skenarionya digarap
Asrul, yaitu Kejarlah Daku... Kau Ku Tangkap pada 1986, Nagabonar (1987),
Omong Besar (1988), serta Nada dan Dakwah (1991). “Selain detail yang sangat
kuat, deskripsinya sangat jelas sehingga karakter-karakternya terasa hidup.
Bahkan saya jadi bisa mengenali bahwa itu skenario yang ditulis Asrul,” tutur
Wakil Gubernur Jawa Barat 2013-2018 ini. Deddy
mencontohkan cara Asrul membuat karakter terbaca hanya dari penggambaran
ruangan tempat ia berada. “Dia sangat detail menggambarkan seperti apa
properti yang ada, gelas apa yang dipakai, bagaimana tata ruangnya. Semua itu
membantu menunjukkan siapa tokoh tersebut,” katanya. Kekuatan
detail pada cerita Asrul juga yang menumbuhkan mimpi seorang bocah di Medan
pada 1986. Joko Anwar kecil terkesima saat menonton Kejarlah Daku... Kau Ku
Tangkap di bioskop. Saking kuat ceritanya, banyak dialog garapan Asrul atau
kalimat-kalimat dalam film tersebut yang menempel di kepala Joko sampai ia
dewasa dan menjadi sutradara besar. Di mata
Joko, Asrul merupakan sineas langka yang mampu menyatukan tiga unsur mendasar
sinema: karakter, konflik, dan tema. “Banyak film punya cerita menarik, tapi
karakternya lemah. Ada yang punya gagasan besar, tapi gagal membangun konflik
yang meyakinkan," tutur Joko kepada Tempo. "Dalam karyanya, Asrul
bisa menghadirkan tiga unsur itu secara padu,” dia menambahkan. Ketajaman
naskah Asrul dirasakan betul oleh John H. McGlynn, penerjemah dan editor
berkebangsaan Amerika Serikat yang sering menerjemahkan sulih teks filmnya.
Menurut dia, detail dalam skenario kerap membantu penerjemahan. Sebab, pada
masa itu seorang penerjemah bahkan tidak bisa menonton film yang ia
terjemahkan. Namun,
hanya dari naskah, McGlynn bisa menangkap kegelisahan Asrul yang mendalam.
“Dia punya pandangan sedikit sinis terhadap pembangunan. Ada kegelisahan
terhadap arah perjalanan bangsa setelah kemerdekaan,” ujarnya. Asrul
memang menyukai cerita sejarah, tapi menghindari penokohan pahlawan yang
sempurna. Dalam Nagabonar, misalnya. lakon utama adalah mantan copet pengidap
malaria dan buta huruf. Bahkan, menurut Deddy Mizwar, Asrul pernah mengajukan
komplain saat mendapati karakter ciptaannya itu diperankan olehnya. “Di
kepala Asrul, Nagabonar itu jelek dan pendek. Ia ingin katana yang dibawa
Nagabonar menyentuh tanah. Sedangkan saya terlalu tinggi,” tuturnya. Asrul,
Deddy melanjutkan, menciptakan karakter yang mengundang tafsir dan membuat
penonton berpikir. Dalam Lewat Djam Malam, Asrul memperlihatkan luka-luka
yang ditinggalkan perang dan kekecewaan para pejuang setelah kemerdekaan. Ia
tertarik pada sisi manusiawi sejarah sehingga tak mencari tokoh tanpa cacat. Saat
film komedi Indonesia pada 1980-an didominasi lelucon fisik atau slapstick,
Asrul mendobrak pasar lewat komedi satire seperti Kejarlah Daku... Kau Ku
Tangkap dan Bintang Kejora pada 1986. Bambang Bujono, kritikus seni yang saat
itu bekerja sebagai jurnalis Tempo, mengungkapkan bahwa kerja sama Asrul
dengan sutradara Chaerul Umam sukses menyodorkan komedi yang berbeda. Bagi
Asrul, humor bukanlah tujuan akhir, melainkan media untuk membicarakan
dinamika keluarga, ketimpangan sosial, gegar budaya, hingga kemunafikan. Joko
Anwar menganggap warisan ini sebagai pelajaran terpenting yang ia tangkap
dari Asrul Sani. “Dia bisa membuat film yang menghibur banyak orang tanpa
kehilangan gagasan. Film dapat populer sekaligus bicara soal
persoalan-persoalan penting,” katanya. Menurut Joko, ini prinsip yang kini
sering luput ketika industri film terlalu sibuk mengejar tren pasar. Dedikasi
Asrul sebagai sineas tecermin dari produktivitasnya. Asrul terlibat dalam
sedikitnya 52 produksi film, yang selusin di antaranya ia sutradarai sendiri,
termasuk Pagar Kawat Berduri pada 1961 dan Apa jang Kau Tjari, Palupi? pada
1969. Di luar
layar lebar, Asrul menulis cerita untuk sekitar 22 lakon di televisi dan
menyutradarai tujuh pementasan teater, yaitu Burung Camar karya Anton
Chekhov, Pintu Tertutup (Jean-Paul Sartre), Montserrat (Emmanuel Robles),
Mahkamah (Asrul Sani), Abang Thamrin dari Betawi (Asrul Sani), Yerma
(Federico García Lorca), dan Caligula (Albert Camus). Lebih
dari semata praktisi, Asrul adalah pemikir yang melembagakan industri sinema.
Bersama Usmar Ismail dan Misbach Yusa Biran, dia membentuk Karyawan Film dan
Televisi (KFT) dan turut melahirkan Institut Kesenian Jakarta yang sebelumnya
bernama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Ia menjabat Ketua Dewan Kesenian
Jakarta pada 1976-1979, masuk Dewan Film Nasional (1980-1981), dan
menerbitkan dokumen Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Perfilman Nasional
serta Kode Etik Produksi Film Nasional. Napas
kesenian itu menjadi memori yang melekat bagi anak-anaknya. Anya Robertson
atau Safira Annur Sani, putri kedua dari pernikahannya dengan Siti Nuraini
Yatim, mengingat pengalamannya diajak menyaksikan sang ayah menyutradarai
pentas teater dan film. “Ketika
libur sekolah atau ada waktu luang, kami kerap diajak ke tempat latihan
teater, ke lokasi syuting, ke tempat ia bekerja, atau menonton pertunjukkan
bersama,” tutur Anya. Bahkan, jika proses syuting memakan waktu lama hingga
tengah malam, mereka biasa menumpang tidur di rumah karib sang ayah. “Jadi
sejak kecil kami terbiasa berada di lingkungan seperti itu,” dia menambahkan. Dari
sekian banyak kesibukan dan dunia kesenian yang digeluti ayahnya, Anya
mengingat ayahnya sebagai seorang pemikir. “Dia tidak pernah berhenti
berpikir. Selalu ada ide baru. Matanya selalu hidup, seolah-olah pikirannya
berjalan ke mana-mana,” ujarnya. Memori
serupa diingat Meezan Khalil Gibran Sani, putra ketiga Asrul dari
pernikahannya dengan Mutiara Sarumpaet. Sebagai anak bontot, Gibran nyaris
tak punya memori ayahnya sebagai penyair ataupun pemikir kebudayaan. Namun ia
cukup sering ikut ayahnya ke lokasi syuting dan diperkenalkan pada sejumlah
film. “Ayah selalu ngajarin saya, apa pun yang tampil di layar itu hanya
film. Itu karya seni, jadi harus diperlakukan sebagai karya seni. Bukan untuk
ditakuti,” kata Gibran. Warisan
pemikiran, kedisiplinan estetika, dan ketajaman naskah yang ditinggalkan
Asrul kini menjadi batu penjuru bagi generasi penerus sinema Indonesia.
Menatap seluruh rekam jejak panjang tersebut, Deddy Mizwar hanya bisa takzim.
“Perjalanan Asrul Sani ini menarik. Semuanya lahir dari pemikiran yang
cemerlang. Pemikiran yang selalu melihat ke depan,” tuturnya. ● Sumber : https://www.tempo.co/arsip/100-tahun-asrul-sani-film-indonesia-2269000 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar